Bunga Air Mata

Bunga Air Mata
SEASON 2 CHAPTER 60


__ADS_3

"Bisakah aku meminta satu hal padamu?" Pinta Kirana memberikan sorot mata penuh minat.


Ayana terpaku lalu mengangguk mengiyakan. Sembari membetulkan letak Raima yang masih berceloteh riang, wanita berprofesi pelukis itu pun menunggu kata selanjutnya dari Kirana.


"Apa yang ingin kamu minta dariku?" tanyanya setelah sekian lama wanita di depannya tidak mengatakan apa-apa.


Kepala berhijab Ayana mendongak kembali mencari sepasang iris berlensa abu yang tengah menunduk.


"Kirana?" Panggil Ayana pelan.


Wanita itu terkesiap dan mengulas senyum simpul.


"Sebenarnya aku tidak bisa membiarkan mereka mengasuh Raima. Aku takut tidak bisa bertemu dengannya lagi. Karena aku sadar, meskipun mereka menerima Raima sebagai anggota keluarga, tetap saja anak ini... anak ini bukan lahir dari orang tua sah."


"Aku takut hak asuh diambil sepenuhnya oleh mereka. Karena bagaimanapun juga mereka begitu berkuasa, apa pun bisa dilakukan agar nama baik keluarganya bisa tetap terjaga, jadi-"


"Jadi maksudmu... kamu ingin aku tetap membesarkannya seperti anak kandungku sendiri?" ujar Ayana cepat.


Tanpa diduga sang model mengangguk mengiyakan. Sorot mata penuh harap terpancar jelas.


Ayana melengkungkan bulan sabit sempurna dan kembali melayangkan kecupan di kedua pipi bulatnya.


"Aku hanya bisa mempercayakan Raima kepada kalian, juga bukankah kamu dan mas Zidan sudah mengadopsinya?" tanya Kirana lagi.


"Tunggu, kenapa kamu menginginkan Raima diasuh oleh kami? Memangnya kamu mau ke mana?" tanya Ayana lagi, penasaran.


Kirana pun diam beberapa saat tidak menjawab pertanyaan Ayana langsung.


Wajahnya berubah sendu dan seketika air mata mengalir begitu saja.


"Aku rencananya mau kembali ke Negara I. Aku mau belajar lagi di sana dan merenungkan kesalahan yang pernah diperbuat. Aku merasa bukan ibu yang baik untuk Raima," katanya lirih.


"Sampai waktunya tiba, maukah kamu menjaganya untukku? A-aku tidak tahu harus bagaimana," lanjutnya dengan suara bergetar.


Ia pun mengusap liquid beningnya kasar dan menarik napas panjang.


"Kamu ibu yang baik, tidak semua orang bisa menerima kehadiran anak di luar pernikahan. Kamu sudah mengambil keputusan yang tepat dalam mempertahankan Raima," kata Ayana lagi ramah.


"Anak tidak salah apa pun, yang harus kamu sesali adalah perbuatan masa lalu. Minta ampunlah, sebab Allah Maha Pengampun," lanjut sang pelukis itu lagi.


Kirana sudah tidak bisa menahan sesak di dada. Ia menangis sejadi-jadinya menyembunyikan wajah di kedua telapak tangan.


Ia sadar benar-benar sadar setelah mendengar perkataan Ayana.


Semua pelayan yang berada di area kafe terus menerus menatap ke arah meja mereka.

__ADS_1


Diam-diam sang pelukis memberikan kode untuk tidak terlalu mencolok memperhatikannya.


Para pelayan pun mengiyakan dan sibuk kembali ke pekerjaannya.


"Kenapa kamu menangis?" tanya Ayana kembali.


"Aku menyesal... aku benar-benar menyesal," aku Kirana menangis sesenggukan.


Raima yang melihat ibunya seperti itu pun terkejut dan ikut menangis. Ayana menimang-nimang sampai bayi berusia tujuh bulan itu jatuh terlelap.


Kirana sadar akan penyesalan yang mendatangi dirinya.


"MasyaAllah, sebelum aku bertindak pun, Allah sudah membukakan hatinya. Semoga setelah ini Kirana benar-benar berubah," benak Ayana memandang pada Kirana yang masih menangis.


...***...


Jam menunjukkan pukul setengah empat sore. Selepas menikmati makan siang bersama di kafe dan menjalankan kewajibannya, kini Ayana dan Kirana tengah menuju sebuah pemakaman.


Setelah mereka melaksanakan salat ashar di masjid terdekat, Kirana meminta Ayana untuk menemaninya ke makam sang sahabat.


Tanpa menolak Ayana pun menyanggupi permintaan tersebut dan mengiringinya ke tempat peristirahatan terakhir Eliza.


Sesampainya di sana, Kirana kembali menangis, meraung, menyesali segala bentuk pengkhianatan yang pernah dilakukan.


Ayana terkejut mendengar dari mulut Kirana sendiri seperti apa kejahatan yang pernah ia berikan kepada Eliza.


Mereka pun menabur bunga bersama dan memberikan doa-doa untuk mendiang Eliza.


Selesai dari makam, Kirana pun mempunyai permintaan lain lagi, yaitu datang ke kediaman keluarga Arsyad.


Ayana sadar jika penyesalan yang tengah diterima Kirana telah membuatnya terpuruk.


Ia ingin mendapatkan pengampunan dari orang-orang yang telah disakitinya.


Tidak lama kemudian mereka tiba di kediaman keluarga angkat Ayana.


Sang pelukis memarkirkan mobil di garasi dan masuk bersama Kirana serta Raima ke dalam.


Baru saja pintu dibuka, sepasang manik cokelat susu menyambut kedatangan mereka.


Ayana buru-buru menyalami tangan sang ibu dan menjelaskan kedatangan Kirana.


"Mah, Kirana datang ke sini ingin-"


Belum sempat ia menyelesaikan ucapannya, Kirana pun langsung bersimpuh di depan ibu mendiang sahabatnya.

__ADS_1


Seraya memeluk Raima ia menangis kembali meminta pengampunan.


"Tante, Kirana minta maaf sudah membuat Eliza terluka. Kirana melakukan itu semua, karena Kirana iri terhadap apa yang dimiliki Eliza. Selama ini Kirana hidup sebatang kara tanpa kehadiran ayah dan ibu."


"Setelah bertemu Eliza, dia memberikan rasa itu melalui kalian. Namun, aku salah... sudah memanfaatkannya dan membuat dia terluka."


"Aku mengkhianati kepercayaannya dengan merebut tunangannya yaitu mas Ihsan. Aku hanya ingin Eliza juga merasakan betapa tersiksanya sebuah kesepian, tetapi... sekarang aku sadar. Aku sudah berbuat jahat padanya, bahkan... aku dan mas Ihsan mempunyai seorang ajak," aku Kirana menggebu-gebu sambil sesekali terisak menahan pengap.


Celia memperhatikan dalam diam. Ia sama sekali tidak terkejut, sebab sudah tahu semua situasi wanita di depannya ini.


Raima yang sedari tadi tertidur kini menjadi terbangun dan kembali menangis akibat raungan dari ibunya.


Seketika itu juga Ayana langsung mengambil alih dan menimang-nimangnya lagi, sedikit menjauhi mereka berdua.


Dalam diam Ayana juga memperhatikan sang ibu yang tengah mengepalkan kedua tangan.


Ia mengerti bagaimana hancurnya perasaan seorang ibu kala mendapati orang yang sudah menghancurkan sang buah hati.


Memang tidak mudah memberikan maaf begitu saja, tetapi Ayana percaya Celia mampu berpikir secara bijak.


Wanita paruh baya itu menarik napas dan menghembuskannya perlahan.


"Tante... sudah memaafkan mu. Karena bagaimanapun kejadian itu sudah lama berlalu. Juga, meskipun Tante tidak memaafkan mu Eliza tidak akan bisa kembali bersama pada kami."


"Apa pun yang terjadi biarkan menjadi pelajaran berharga bagimu untuk tidak mengusik siapa pun lagi. Tante harap kamu juga tidak menyakiti Ayana." Final Celia memandang pada Ayana sekilas.


Kirana mendongak dan menggelengkan kepala beberapa kali.


"Tidak Tante. Aku tidak bisa melakukan itu pada Ayana. Karena aku sadar Ayana wanita tangguh yang tidak bisa aku usik. Aku sadar saat berusaha menyakitinya, juga... berkat kemurahan serta kebesaran hati Ayana, aku sadar akan segala kesalahan." Jujur Kirana berjalan menggunakan lutut mendekati Celia.


"Tidak Kirana, justru Allah-lah yang sudah menyadarkan mu. Bersyukurlah Allah masih memberikan hidayah-Nya agar kamu tidak melanjutkan kesalahan," timpal Ayana memandangi wanita itu.


Kirana pun menoleh padanya dan mengiyakan. Setelah itu ia kembali beralih pada Celia.


"Bahkan tidak hanya pada Eliza, aku juga sudah menyakiti mas Danieal. Aku benar-benar minta maaf, Tante," ujarnya lagi menyesali segala bentuk kesalahan.


Celia yang menyadari ketulusannya pun menangkup kedua bahu Kirana lalu menariknya untuk berdiri.


"Sudahlah kita tidak usah membahasnya lagi. Tante sudah memaafkan mu. Karena manusia tidak akan pernah luput dari kesalahan. Berjanjilah untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama," balas Celia.


Kirana terkesiap dan mengangguk-anggukan kepala lagi.


"Bisakah... bisakah aku memeluk Tante untuk terakhir kali?" Pinta Kirana kemudian.


Tanpa mengatakan apa pun Celia merentangkan kedua tangan dan Kirana langsung menerjangnya kuat.

__ADS_1


Kata-kata maaf pun terus berdengung. Ayana yang menyaksikan itu hanya mengulas senyum hangat ikut senang akan perubahan Kirana sekarang.


__ADS_2