Bunga Air Mata

Bunga Air Mata
Chapter 68


__ADS_3

Di bawah langit yang gelap gulita hujan masih mengguyur ibu kota. Kejadian tidak diharapkan harus terjadi secepat kilat menyambar.


Bak dua mata pisau, peristiwa yang terjadi telah meluluh lantahkan segalanya. Rasa sakit yang bersemayam membunuh masa lalu.


Kini Ayana duduk di ruang tunggu sembari menggenggam air hangat dalam paper cup. Kepulan uap yang dihasilkan menyapu wajah sendunya.


Beberapa saat lalu Zidan di bawa masuk ke rumah sakit yang berada seratus meter dari tempat kejadian dan Ayana pun ditemukan oleh Danieal.


Ia membawa sang adik masuk yang sekarang sudah ada di depan ruang operasi. Ia duduk diam di sana tanpa melakukan aktivitas berarti.


Air hangat yang diberikan oleh kakak sambungnya hanya menjadi pajangan semata. Ayana layaknya patung, hanya berkedip dan bernapas tanpa mengeluarkan suara apa pun.


Danieal keluar dari ruangan masih mendapati Ayana dalam posisi yang sama. Ia pun mendekat dan duduk tepat di sebelahnya.


"Jangan khawatir, Zidan pasti akan baik-baik saja. Sejauh ini operasinya berjalan lancar," kata Danieal menjelaskan.


Ia turut prihatin melihat keadaan Ayana yang mirip mayat hidup. Sorot mata kosong menatap lantai rumah sakit dengan wajah pucat pasi.


Ia sadar jika kondisi Ayana pun masih jauh dari kata baik-baik saja. Mentalnya kembali terguncang akibat menyaksikan kecelakaan Zidan tepat di depan matanya.


Sekitar satu jam yang lalu ia menemukan Ayana dalam keadaan basah kuyup, wajahnya merah dengan air mata mengalir tanpa henti yang tersembunyi di balik guyuran hujan.


"Kamu harus kuat, jangan menyalahkan diri sendiri. Kejadian ini murni kecelakaan. Aku akan mengobati tanganmu dulu, tunggu di sini," kata Danieal lalu beranjak dari sana.


Sepeninggalan sang kakak air mata mengalir di kedua pipi, pikirannya melalang buana ke mana-mana. Di dalam kepalanya begitu berkecamuk dengan hal-hal yang menyudutkan diri sendiri sebagai pelaku kecelakaan itu terjadi.


"Jika bukan karena aku dia tidak mungkin tertabrak mobil. Kenapa? Kenapa harus berhasil menemukanku? Kenapa sampai sejauh ini mengorbankan diri sendiri untuk wanita sepertiku? Kenapa?" Perkataan tersebut terus menerus berputar dalam benak.


Ayana meremas paper cup membuat air di dalamnya membeludak ke atas membasahi tangannya.


Rasa perih yang dihasilkan oleh luka sayatan di telapak tangan sebelah kanan tidak ia pedulikan. Ayana terus diam seraya memandang lurus ke bawah. Pakaian pasien yang sudah basah pun tidak ia ganti dan terus dipakainya mengabaikan rasa dingin.

__ADS_1


Ayana terlalu terkejut, syok, tidak percaya atas apa yang baru saja terjadi hingga membuat mentalnya benar-benar terguncang hebat.


...***...


Danieal sudah kembali dan saat ini tengah mengobati luka di tangan Ayana. Ia meringis kesakitan kala memasukan jarum ke permukaan kulit sang pasien.


Ia berkali-kali mendongak menyaksikan Ayana tanpa ekspresi. Tidak ada raut kesakitan ataupun perih yang tergambar di sana, justru sebaliknya Danieal merasakan hal itu.


"A-Ayana apa kamu tidak kesakitan? Kenapa juga tidak mau di anestesi? Apa kamu tidak merasa sakit?" tanya Danieal di tengah-tengah pengobatan.


Ayana hanya menggeleng sekilas sebagai jawaban, Danieal menghela napas pelan dan segera menyelesaikan pekerjaannya.


Tidak lama berselang ia pun berhasil menjahit luka menganga di tangan Ayana. Ia juga tidak tahu kenapa sang adik bisa mendapatkan luka cukup dalam seperti itu.


Ingatannya pun kembali ke pagi tadi, di mana Ayana terlihat baru pulang dari kediaman Zidan. Ia mendengar dari rekan sesama dokter yaitu Haikal jika sang pianis ditemukan bersimbah darah.


Danieal berpikir jika Ayana melakukan sesuatu pada Zidan, hingga tanpa sadar ia pun memberi pertanyaan seolah menuduhnya sudah melakukan tindakan di luar akal sehat.


"Lebih baik sekarang kamu ganti pakaian, ada banyak baju pasien di rumah sakit ini. Setelah itu laksanakan lah salat isya," kata Danieal menyentak sanubari.


Ayana tersadar dan membulatkan kedua iris jelaganya. Ia lupa jika ada kewajiban yang harus dilaksanakan.


Ia pun pergi begitu saja meninggalkan Danieal sendirian di sana. Pria itu kembali menghela napas sembari melihat punggung Ayana yang terus menjauh.


Bersimpuh kembali di hadapan Sang Maha Kuasa, mengalirkan air mata lagi. Bulir demi bulir cairan bening meluncur tanpa henti.


Hanya hatinya yang berbicara tanpa mengucapkannya secara lisan. Kedua tangan menengadah meminta pertolongan Sang Maha Kehidupan.


"Ya Allah tolong sembuhkan lah mas Zidan, semoga tidak terjadi sesuatu yang buruk padanya. Ya Allah berikanlah kebaikan bagi kami, serta ... kuatkan hamba menjalani semua ini. Kuatkan mental, batin, serta fisik hamba. Hilangkan lah pikiran jelek dalam diri hamba ... meskipun hamba sangat lelah menghadapi ujian berat dari-Mu lagi ... tetapi hamba masih ingin mencoba bertahan. Ya Allah perkenankan lah doa hamba," benak Ayana terus berdoa dan meminta kepada Allah semata.


Sepi menjadi teman setia menyambut kedatangannya. Setelah melaksanakan kewajiban, Ayana kembali berjalan di lorong lantai sepuluh hendak melihat perkembangan sang pianis.

__ADS_1


Namun, sebelum tujuannya bisa tercapai seseorang tiba-tiba saja menariknya ke arah tangga darurat.


Ayana terkejut, jantungnya berdegup kencang, dan tubuhnya bergetar hebat. Ia sangat takut jika kejadian di kediaman presdir Han bisa terulang lagi.


Ia menutup kedua mata erat kala seseorang menekan lehernya menggunakan lengan. Posisi tersebut mengingatkannya pada beberapa bulan lalu di mana sang mantan madu mendatanginya.


"Apa sekarang kamu ketakutan, Ayana?"


Suara yang tidak asing lagi menyapa, perlahan Ayana membuka kelopak mata menyaksikan bibir merona itu melengkung sempurna.


"Be-Bella?" cicitnya pelan.


Bella terus menekan lengan di leher Ayana. Sang empunya merasa sesak dan berusaha bernapas dengan pasokan oksigen menipis.


"Lepaskan! Apa yang kamu lakukan?" Sekuat tenaga Ayana menghempaskan lengannya, Bella pun tersentak lalu mendengus kasar.


"Oh ternyata kamu masih punya kekuatan juga," ucapnya lagi.


"Apa maumu?" tanya Ayana langsung.


Bella berjalan mundur beberapa langkah ke belakang dan bersandar di pagar pembatas. Ia melipat tangan di depan dada lalu menatap pongah pada Ayana.


"Sederhana saja, aku ingin kamu mengaku kepada orang tua mas Zidan jika ... kamulah yang sudah membuat anaknya kecelakaan dan ... kamu juga orang yang mau membunuhnya di mansion mas Zidan," ungkap Bella.


"Kamu pasti sudah gila. Mana mungkin aku mau mengikuti keinginanmu ini." Ayana pun hendak melangkahkan kaki dari hadapannya sebelum suara Bella kembali menginterupsi.


"Oh, kalau begitu kamu setuju aku menyebarkan ini." Bella mengacungkan benda pintar miliknya yang memperlihatkan sebuah gambar gundukan tanah di sana.


"Aku dengar orang tua wanita ini menganggap kamu sebagai anaknya sendiri, tapi apa mereka tahu? Kalau kamu menggunakan jasad anaknya untuk menipu kami?" Bella menyeringai melihat reaksi Ayana.


Wanita itu terbelalak lebar sembari menatap nanar pada ponsel miliknya. Kini Bella sudah memegang kelemahan Ayana untuk memanfaatkan kondisinya yang tengah terguncang.

__ADS_1


__ADS_2