Bunga Air Mata

Bunga Air Mata
SEASON 4 CHAPTER 8


__ADS_3

Jam terus berputar memenuhi tugas sebagai pengingat waktu. Setiap menit yang terlewat mereka habiskan menikmati syahdunya malam.


Begitu tenang nan damai nuansa malam ini. Tidak begitu banyak suara terdengar, hanya sesekali serangga datang menjadi backsound kebersamaan.


Angin masih berhembus menemani dua wanita yang masih duduk di balkon kamar.


Kepala keduanya mendongak memandangi kilaunya harta karun yang bisa ditemukan di malam hari.


Hening, sepi, menjadi saksi bagaimana waktu yang mereka habiskan berdua.


Mereka yang semula tidak tahu satu sama lain, dipertemukan oleh keadaan dan menjadi satu keluarga.


Bintang berkelap-kelip menyapa keberadaan mereka. Bagaikan melambai pada keduanya yang tengah memandang lekat.


Kejadian yang kerap kali datang menghujani ulu hati begitu kuat. Kesengsaraan yang kian melanda terbentuk dari sebuah kata-kata lebih perih, daripada luka fisik dihasilkan benda tajam.


Meskipun terlihat, luka fisik bisa mengering dan sembuh seiring berjalannya waktu, tetapi luka batin, entah kapan bisa kembali seperti semula.


Bayangan demi bayangan yang memunculkan luka kadang kala selalu datang menghadang.


Sedari tadi Jasmine diam, membiarkan Ayana lebih dulu buka suara. Ia merasa tidak berdaya atas apa yang terjadi pada dirinya.


Ia tidak menyalahkan siapa pun atau keadaan, ia hanya kecewa pada diri sendiri yang tidak bisa memberikan keturunan pada sang suami.


Ia tidak tahu situasi yang terjadi padanya tanpa diduga. Keadaan berat itu pun membuatnya tak berdaya.


Ia bagaikan hidup tanpa raga, harapan untuk mendapatkan keluarga kecil harmonis seperti Ayana, pupus sebelum dibangun.


"Kamu tahu... memang tidak mudah menghadapi setiap permasalahan sendirian, terutama dihadapkan pada situasi yang sensitif."


"Kapan menikah? Kapan punya anak? Kapan dapat pekerjaan? Bukankah itu pertanyaan-pertanyaan yang sangat sensitif bagi seseorang?"


"Bahkan kita tidak pernah tahu apa yang dirasakan oleh si penerima dari pertanyaan tersebut. Terluka? Tentu saja, meskipun sang penanya tidak mengetahui apa yang dirasakan oleh si penerima," kata Ayana beruntun.


Pandangannya tidak sekalipun beranjak dari bintang di atas sana. Bilah bibirnya terangkat membentuk lengkungan bulan sabit.


Keindahannya pun menyaingi cahaya sang raja malam di atas sana.


Sedari tadi Jasmine memperhatikan sang adik ipar. Ia memandangi pipi berisi itu dihiasi semburat warna merah muda, terus menerus tertempa hembusan angin.


"Aku minta maaf masuk ke kamarmu begitu saja. Aku sempat meminta kunci cadangan ke salah satu pelayan yang mengurus perkakas rumah tangga."


"Karena aku ingin mendengarkan apa yang kamu rasakan, bukankah menyakitkan menerima pertanyaan kapan punya anak dari mertua sendiri?" tanya Ayana tepat mengenai sasaran.

__ADS_1


Jasmine melebarkan pandangan, jantungnya berdegup kencang dengan keringat dingin bermunculan.


Ia tidak menduga akan secepat ini bisa ketahuan mengenai perasaannya. Namun, ia berusaha menutupi apa yang sedang mengendap di dirinya saat ini.


"Kenapa? Kenapa kamu ingin mendengarnya Ayana? Juga, kenapa kamu mengatakan itu semua padaku?" tanya balik Jasmine, suaranya bergetar menahan tangis yang memenuhi dadanya hingga sesak.


Ayana mendengus pelan. "Karena aku juga pernah diposisi mu, Jasmine. Lagi dan lagi... bukankah kita sama?"


Pertanyaan Ayana mengambang tanpa mendapatkan jawaban langsung. Jasmine menarik diri lagi, mengalihkan pandangan ke bawah.


Kurva perlahan terbentuk di bibir ranum sang pemahat perhiasan. Ia sadari pertanyaan Ayana barusan sangat berbeda dengan kenyataan.


"Tidak, Ayana. Kita tidaklah sama, aku mempunyai penyakit yang tidak sembarang wanita dapatkan. Apa yang harus aku lakukan?" monolognya dalam benak.


Jasmine menyelami lamunannya sendiri, mengabaikan pertanyaan adik iparnya tadi.


Sang pelukis pun menautkan kedua alis pelan.


"Apa yang kamu pikirkan?" tanya Ayana lagi mencengkram pelan pergelangan tangannya.


Jasmine tersadar dan tersenyum gamang seraya melirik sekilas pada Ayana.


"Aku hanya-" Jasmine menjeda ucapannya sendiri, Ayana dengan setia menunggu apa yang hendak dikatakan sang kakak ipar lagi.


Semua kecurigaan tersebut berawal dari satu bulan lalu, di mana Jasmine nampak khawatir akan sesuatu.


Selama itu pula Jasmine menyembunyikan fakta mengejutkan yang terjadi di dalam rahimnya.


Kista-kista itu membuat ia tidak berdaya. Kadang kala gejala-gejala kecil datang menakutinya.


Ia juga takut dan khawatir Danieal sampai mengetahui kondisinya yang lama untuk punya anak.


Ketakutan itu setiap hari semakin menjadi-jadi. Terlebih kala sang ibu mertua menanyakan tentang kapan mereka punya anak.


Pertanyaan yang terlontar memberikan satu lubang besar di dasar hati paling dalam.


"Hanya apa Jasmine?"


Ayana kembali buka suara saat kakak iparnya seolah tidak ada niat lagi melanjutkan.


Kembali, Jasmine sadar dari alam bawah sadar.


"Aku hanya khawatir," ungkapnya kemudian.

__ADS_1


"Aku mengerti, sangat mengerti. Namun, yang harus kamu tahu Jasmine, anak adalah anugerah terindah dari Allah, tetapi... tidak semua pasangan bisa mendapatkannya."


"Ada yang diberikan anak laki-laki tidak bersyukur dan menginginkan anak perempuan, begitu pula sebaliknya. Namun, tanpa mereka sadari keberadaan buah hati membawa kebahagiaan sendiri, dan hal itu, sudah menjadi hak prerogatif Allah semata. Sampai... Allah juga mentakdirkan seseorang tidak punya anak."


"Seperti dalam surat Asy-Syura ayat empat puluh sembilan sampai lima puluh, Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:


"Milik Allah-lah kerajaan langit dan bumi; Dia menciptakan apa yang Dia kehendaki, memberikan anak perempuan kepada siapa yang Dia kehendaki, dan memberikan anak laki-laki kepada siapa yang Dia kehendaki, atau Dia menganugerahkan jenis laki-laki dan perempuan, dan menjadikan mandul siapa yang Dia kehendaki. Dia Maha Mengetahui, Maha Kuasa."


"Jadi, kamu jangan khawatir Jasmine. Semuanya atas kehendak Allah dan... Allah tahu apa yang terbaik untuk kita," ungkap Ayana dengan manik berkaca-kaca.


Jasmine terperangah, manik keabuan nya melebar sempurna. Ia sangat senang mendengar semua penuturan itu dari Ayana.


Bagaikan ada seseorang yang memberikan semangat lewat kata-kata memberikan kekuatan tersendiri.


"Bagaimana kamu-"


"Bagaimana aku sampai hafal ayat itu? Karena dulu dengan mengingat firman Allah yang satu ini bisa menguatkan ku dari banyaknya pertanyaan yang terus datang, kapan aku bisa punya anak? Iya, surat cinta Allah memang penyembuh serta penguat bagi kehidupan kita," jelas Ayana memotong ucapan Jasmine.


Lagi dan lagi wanita keturunan Mahesa itu terkesima akan kejadian yang pernah Ayana alami.


Pengalamannya sedikit menguatkan Jasmine untuk tetap menjalani hari-hari sebagai istri dari dokter Danieal.


Namun, ia juga sadar lambat laun rahasia yang selama ini disembunyikan bisa diketahui juga.


Sebelum hari itu tiba ia akan berusaha menata hati untuk lebih tegar menjalaninya.


"Terima kasih, Ayana. Kamu sudah membantuku lagi. Aku sangat berterima kasih."


"Sekarang aku lega bisa menghadapi permasalahan ini. Jujur, aku memang terluka setiap mendapatkan pertanyaan dari mamah kapan aku bisa hamil dan punya anak?"


"Aku berusaha menghadapinya dengan kuat dan berpura-pura tidak terjadi apa-apa, tapi tetap saja-" Jasmine tidak sanggup melanjutkan kata-katanya.


Ia kembali menangis, mengingat jika dirinya tidak bisa hamil dalam waktu dekat, atau kemungkinan terburuk ia tidak bisa memberikan keturunan untuk suaminya.


Isakkan kecil pun terdengar memilukan, Ayana terenyuh dan mengulurkan tangan menggenggam sebelah lengan Jasmine lagi.


Sang empunya terus menunduk menyembunyikan wajah berair nya.


"Yang sabar Jasmine, kamu harus percaya apa pun yang terjadi sudah menjadi kehendak Allah. Aku percaya Allah tidak akan membiarkan hamba-Nya terus terpuruk."


"Kamu juga harus mendiskusikan hal ini dengan mas Danieal. Karena suamimu berhak tahu apa yang sedang kamu rasakan. Karena dalam pernikahan kita tidak bisa berlayar sendirian saja, butuh nahkoda untuk menjalankannya," tutur Ayana lagi.


Jasmine mengangguk sekilas, mempertimbangkan perkataan adik iparnya barusan.

__ADS_1


__ADS_2