Bunga Air Mata

Bunga Air Mata
Chapter 48


__ADS_3

Awan kelabu kembali berarak mengantarkan pada sebuah cerita lain. Tanpa ada angin, pepohonan di sekitar berdiam diri menyaksikan perseteruan dua insan di sana.


Keadaan masih diselimuti kekecewaan, Ayana terus diam tidak mau ikut campur. Ia melihat Bella semakin banyak mengeluarkan air mata.


Wanita itu menangis dan menangis tanpa mengucapkan sepatah kata. Ia lalu menoleh pada Arfan yang memperlihatkan raut muka bersalah.


Ia tahu tidak mudah melepaskan seseorang begitu saja, terlebih sudah banyak kenangan terajut bersama.


Bukan hanya setahun atau dua tahun mereka bersama, tetapi selama delapan tahun lamanya. Pasti sudah banyak pengorbanan yang dilakukan Arfan untuk Bella.


Entah alasan apa hingga membuat pasangan itu memutuskan untuk berpisah. Ayana juga tidak percaya jika Bella bermain api di belakang Zidan.


"Jadi, selama ini Bella membohongi mas Zidan? Dia benar-benar wanita luar biasa," benaknya lagi.


"Baiklah, saya akan memberikan kesempatan pada kalian untuk berbicara. Kalau begitu saya-" Belum sempat Ayana selesai bicara, tiba-tiba saja Arfan mencengkram pergelangan tangannya membuat ia berhenti.


Ayana terbelalak dan mencoba melepaskan diri. Namun, Arfan tidak membiarkannya dan terus memegang lengannya kuat.


"Jangan pergi, aku mohon." Suara lirih sarat akan permintaan terdengar jelas.


Bella menghapus air mata kasar memandangi dua insan di hadapannya. Ia menyaksikan tatapan hangat sang mantan kekasih mengarah pada Ayana.


Bibirnya bergetar melihat keakraban mereka. Ia tahu jika kini Arfan tengah mendambakan wanita lain. Rasa sesak dalam dada semakin bertambah kuat kala ia melihat sendiri bagaimana Ayana juga meresponnya.


Tanpa mengatakan apa pun, Bella pergi dari sana membawa kepedihan. Melihat hal itu Arfan cepat melepaskan pegangannya.


"Aku minta maaf," katanya menyesal, Ayana mengangguk mengerti.


...***...


Satu persatu pengunjung datang meramaikan kembali gallery magnolia. Sang pemilik tengah duduk bersama sang pengusaha sekaligus pelukis tampan di sudut ruangan di temani dua gelas green tea.


Aroma harum dari minuman hijau itu pun menenangkan keresahan. Arfan menyesapnya singkat dan meletakkannya kembali.

__ADS_1


"Aku benar-benar minta maaf. Aku tidak bermaksud untuk menyentuhmu. Aku sangat menyesal." Arfan menunduk dalam tidak sanggup harus bertatapan dengan lawan bicaranya.


Ayana memperhatikannya dalam diam. Ia tahu apa yang diinginkan pria itu, tetapi dirinya tidak menyangka harus bersentuhan dengannya.


"Tidak apa, aku mengerti. Terima kasih juga sudah membelaku tadi," kata Ayana menarik atensinya lagi.


Arfan pun terharu seketika, "Aku benar-benar minta maaf."


"Sudah tidak apa-apa," balas Ayana tidak ingin membahasnya lagi.


Keramaian semakin tercipta kala beberapa dari pengunjung membicarakan apa yang sudah terjadi semalam.


Berita mengenai siapa itu Ghazella Arsyad tersebar luas di mana-mana. Tak jarang mereka menanyakannya langsung dan tanpa mengelak Ayana menjawab semua rasa penasaran itu.


"Jadi, kamu benar-benar mantan istri dari Zidan Ashraf? Ja-jadi selama ini kamu masih hidup dan dalam keadaan sehat?" tanya Arfan tidak kuasa membendung rasa penasaran.


Ayana mengangguk mengiyakan tanpa ragu. "Iya itu benar, aku belum meninggal dan masih dalam keadaan sehat wal'afiat." Ia pun menyesap teh hijaunya singkat.


"Kenapa? Kenapa kamu memalsukan kematian?" tanya Arfan lagi.


Arfan menatap lekat Ayana menunggu dan menunggu apa yang hendak diucapkan wanita itu selanjutnya.


"Kedua pianis itu," lanjutnya singkat.


"Jadi ... kamu ingin membalas dendam pada mereka?" Arfan kembali mengajukan pertanyaan lain.


Kini Ayana mendengus kasar dan kembali menatap padanya. Melihat sorot mata yang berubah menjadi serius nan dalam, sang pengusaha itu pun terperangah.


"Balas dendam? Apa hakku untuk membalas mereka dengan kedua tangan ini?" Ayana mengangkat tangannya begitu saja.


"Aku hanya ingin membalas pada diri sendiri yang dulu begitu lemah dan mudah sekali ditindas. Aku ingin membuktikan pada diri sendiri jika ... aku bisa kuat dan bertahan pada setiap ujian yang datang. Aku tidak ingin melihat mereka di atas penderitaanku lagi," tegas dan jelas rasa sakit yang ditanggungnya tersampaikan di balik kata-kata.


Arfan terkejut, pikirannya gamang dengan jantung berdegup kencang. Ia tidak menyangka jika selama ini ikut terlibat dalam permasalahan mereka.

__ADS_1


Ia lalu menunduk dan menghela napas panjang. Ayana mengerutkan dahi dalam tidak mengerti atas perubahan sikap sang lawan bicara.


"Mas kenapa?" tanyanya kemudian.


Arfan pun kembali menarik diri lalu mengusap wajah gusar. "Kamu tahu, selama kamu menikah dengan Zidan, secara tidak langsung aku terlibat di dalamnya."


"Aku membantu Bella untuk memanfaatkan suaminya. Namun, dengan bodohnya dia termakan permainan yang dilakukan Bella."


"Zidan masuk ke dalam rencana jahatnya tanpa memikirkan apa pun. Bella memanfaatkan kepopulerannya untuk membuat ia tenar."


"Sampai mereka digadang-gadang sebagai pasangan serasi dari dunia musik klasik. Kamu tahu ... selama itu sebenarnya Bella menjalin hubungan denganku. Mungkin tadi kamu juga sudah dengar, jika kami bersama sudah delapan tahun."


"Selama itu pula dia memanfaatkan ku juga untuk membantu finansial nya. Meskipun dia juga sebenarnya orang berada, tetapi aku tidak memikirkan hal itu. Karena dulu aku sangat mencintainya dan tidak peduli apa yang dilakukannya." Arfan menceritakan masa lalu yang membuatnya terlihat bodoh hanya terhasut oleh cinta semata.


"Aku tidak tahu jika ... aku juga ikut menyakitimu," ungkapnya lagi. "Aku hanya tahu jika Zidan sudah mempunyai istri bernama Ayana tanpa tahu siapa kamu sebenarnya."


Mendengar hal itu bibir ranum Ayana melengkung sempurna. Ia menyaksikan raut penyesalan di wajah tampan itu.


Ia juga bisa membayangkan bagaimana terpuruknya di posisi Arfan, saat wanita yang ia cintai malah mengkhianati.


"Tidak apa-apa, semua sudah berlalu. Aku juga sedang belajar untuk melupakan seutuhnya ... aku juga sadar jika tidak mudah melupakan kesalahan seseorang begitu saja. Namun, yang jelas saat ini aku tidak peduli lagi."


"Terlalu banyak kesalahan yang diperbuat mereka, tetapi ... aku juga tidak luput dari khilaf dan salah. Mungkin saat itu Allah sedang menegurku saja untuk tidak terlalu berhadap pada selain-Nya. Sampai ... Dia mengambil anakku lagi, tidak ... anakku pergi sebab dihilangkan oleh ayahnya sendiri." Air mata tidak bisa dibendung.


Setiap kali membicarakan sang anak, Ayana akan menangis dan menangis. Ia masih bisa merasakan bagaimana sakitnya mendapatkan kabar tidak mengenakan tersebut. Keguguran, adalah sebuah kata paling menyakitkan layaknya pedang menusuk-nusuk hati terdalam.


Di tambah dengan sang suami yang hanya menyalahkannya saja semakin memperparah rasa sakit. Sampai ia pun tahu kebenarannya yang mana rencana itu dilakukan oleh Zidan dan Bella.


Rasa perih nan sakit terus menerus bertambah kala tidak ada seorang pun yang bisa mengobati luka di dasar hati paling dalam.


Orang-orang di sekitar hanya sibuk dengan kehidupannya masing-masing. Keputusan untuk pergi meninggalkan segalanya di ibu kota menjadi pilihan terbaik.


Sampai tahun berganti, Ayana kembali dan menjadi sosok yang lain. Ia berharap dengan perubahannya itu tidak ada lagi orang yang bisa merendahkan atau mempermainkannya lagi.

__ADS_1


Ia berharap sang anak pun bisa ditempatkan di sisi terbaik dan melihat perjuangan ibunya di atas sana. Karena tidak ada yang bisa Ayana harapkan lagi sejak buah hatinya pergi.


__ADS_2