Bunga Air Mata

Bunga Air Mata
Chapter 54


__ADS_3

Di bawah langit kelam, dua insan yang dipersatukan oleh ikatan suci pernikahan itu pun berada dalam konflik lagi.


Zidan terkejut melihat wajah cantik wanita yang masih dianggapnya istri memerah menahan amarah. Tidak hanya muka saja, tetapi kedua maniknya merah padam.


Ayana mengepal kedua tangan erat atas apa yang baru saja terjadi. Tidak pernah terpikirkan jika kembali ke ibu kota akan mendapatkan ingatan itu lagi.


Tanpa mengatakan sepatah kata, Ayana bergegas menuju kendaraannya berada. Ia langsung tancap gas tidak peduli bagaimana air mata berlinang tak karuan.


Seperti de javu kejadian itu terulang kedua kali. Zidan diam mematung menyaksikan kepergian sang istri yang hilang dalam kegelapan.


"Aku benar-benar minta maaf, Ayana, tapi ... aku juga mencintaimu," gumamnya.


Isak tangis saling bersahutan dengan mesin mobil. Ayana berusaha menenangkan diri dari pengap yang terus menerus menahan pasokan oksigen masuk ke dalam paru-paru.


Ia melajukan kendaraannya kencang dan mendapatkan umpatan dari pengguna jalan lain. Ia tidak mempedulikannya, berharap bisa sampai ke rumah dengan aman serta selamat.


Namun, usahanya sia-sia belaka. Ayana semakin tidak bisa mengontrol diri sendiri, dan seketika membanting stir ke samping.


Ia menangkupkan wajah ke stir dengan napas tidak beraturan. Dadanya naik turun serta air mata mengalir, menganak bagaikan sungai.


Ayana merasa berada dalam posisi satu tahun lalu. Di mana dirinya harus di hadapkan pada sebuh depresi yang merenggut kesehatan mentalnya.


"Astaghfirullahaladzim, Astaghfirullahaladzim, Astaghfirullahaladzim." Ayana terus beristighfar mengenyahkan pengap dalam dada.


Di tengah kegentingan yang dirasakan, ponsel di atas dashboard bergetar kencang. Ayana mengangkat tangan kanan yang gemetaran dan meraba-raba di sekitar.


Tidak lama berselang ia pun berhasil mencapai benda pintar tersebut. Tanpa melihat siapa si pemanggil Ayana langsung menerimanya begitu saja.


Orang di seberang sana mengerutkan dahi kala hanya mendengar deru napas memburu. Ia menjauhkan ponsel sekejap dan kembali mendekatkannya pada telinga.


"Assalamu'alaikum Ayana? Ayana, apa kamu di sana?" tanyanya khawatir.


"Pu-lang. A-ku mau pulang. Aku i-ingin pulang. AKU MAU PULANG SEKARANG JUGA." Ayana berteriak kencang membuat orang di balik ponsel terkejut seketika.

__ADS_1


"A-Ayana kamu tenang yah. Okay kita pulang, sekarang kamu ada di mana?" tanyanya lagi.


"A-ku habis bertemu dengan pria brengsek itu. Aku tidak mau bertemu dengannya lagi. Aku habis makan malam bersama mantan mertuaku-" Ayana tertawa miris membuat orang yang mendengarnya teriris-iris. "Bodoh seharusnya aku tidak pergi ke mansion Ashraf, kan?" Ayana semakin meracau tak karuan.


Orang di sana yang sudah tahu di mana posisi Ayana pun mengakhiri panggilan. Ia lalu bergegas pergi menemui sang pelukis itu berada.


Ayana tertawa masam, menjauhkan ponsel dari telinga dan menjatuhkan tangan di sebelahnya lagi. Benda pintar itu pun ikut terjatuh tanpa tahu siapa yang memanggilnya barusan. Ia tidak peduli, sungguh dirinya tidak peduli.


...***...


Beberapa saat kemudian mobil mewah berwarna hitam pun berhenti di belakang kendaraan roda empat Ayana.


Sang pengemudi buru-buru keluar dan berlarian mendekat. Ia mengetuk-ngetuk jendela mobil, tetapi orang yang berada di dalam sama sekali tidak mengindahkannya.


"Ayana buka pintunya. Ayana ini aku Arfan, buka pintu mobilnya sekarang. Ayana." Panggil Arfan berkali-kali seraya terus mengetuk jendela.


Namun, tidak ada sahutan apa pun. Arfan mendekatkan wajah mengintip dari balik jendela hitam di mana Ayana masih menangkupkan wajah di stir.


Ia lalu mengeluarkan ponsel mencoba menghubunginya lagi. Karena benda pintar itu tergeletak di bawah, Ayana tidak menyadari jika ada panggilan lain.


Ayana dengan malas menekan tombol membuat jendela itu terbuka setengah. Kepalanya yang masih bersandar di sana pun menoleh memperlihatkan wajah bengkak.


"Astaghfirullahaladzim, ada apa dengan wajahmu?" tanya Arfan terkejut. "Buka pintunya sekarang Ayana," titahnya lagi.


Ayana menggeleng pelan sambil berkata, "Aku mau pulang," jawabnya lemah nan lirih.


Ia menutup mata rapat membuat Arfan kelimpungan. Pria itu pun langsung memasukan tangan ke jendela dan membuka pintu mobil.


Tanpa meminta izin dari sang empunya ia langsung menggendong Ayana memindahkannya ke mobil belakang.


Ia tidak tahu jika Ayana sedikit membuka mata melihat wajah khawatir itu di sana. Ia lalu kembali menutupnya rapat di rasa tidak ada tenaga sedikit pun untuk berdebat.


"Ya Allah ampunilah hamba. Kenapa? Kenapa kamu memperlihatkan wajah seperti itu? Apa kamu kasihan padaku?" benak Ayana dan seketika itu kesadarannya menghilang.

__ADS_1


Arfan segera membawa Ayana pulang dan menghubungi seseorang untuk membawakan mobilnya di sana.


...***...


Kurang lebih setengah jam kemudian, mereka tiba di mansion Arsyad. Di perjalanan tadi Arfan sudah menghubungi Danieal jika Ayana pingsan.


Sang dokter pun langsung pulang dan menunggu kedatangan keduanya. Melihat adik serta anaknya tidak sadarkan diri di gendongan Arfan, Danieal dan Celia pun panik seketika.


Mereka bergegas membawa Ayana ke kamarnya yang berada di lantai dua. Setibanya di sana Arfan langsung meletakan pelukis itu di atas tempat tidur.


Danieal buru-buru memeriksa denyut nadi sang adik sambung yang terasa melemah. Ia bergegas memberikan infusan di pergelangan tangannya dan berharap Ayana cepat sadar.


"Apa yang terjadi? Kenapa putriku bisa seperti itu? Kenapa Ayana bisa pingsan? Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Celia memberondong pertanyaan pada Arfan.


Danieal yang melihat ibunya menahan tangis pun bangkit dari sisi ranjang. Ia merangkul bahu Celia dan membawanya keluar.


Setelah pintu tertutup mereka bebas berbicara. Di sana Danieal menatap langsung pada Arfan yang memandangi keduanya bergantian.


"Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa adikku bisa pingsan?" tanya Danieal kemudian.


Arfan menggeleng singkat. "Aku tidak tahu apa yang sudah terjadi pada Ayana. Tadi, aku mencoba menghubunginya untuk memberitahu jika ada seseorang yang berminat pada lukisannya. Namun, sebelum memberitahunya aku mendengar napas Ayana yang memburu."


"Ayana mengatakan jika dia sudah pergi ke mansion Ashraf dan bertemu dia. Mungkin dia yang Ayana maksud itu Zidan? Aku pun pergi menemuinya dan mendapati mobil Ayana di samping jalan. Ayana terus meracau ingin pulang dan pulang dan ... setelah itu dia pingsan," kata Arfan menjelaskan apa yang dialaminya.


Celia memandangi Danieal dengan mulut terbuka dan ditutupnya menggunakan tangan. Dokter muda itu pun membalas tatapan sang ibu.


Ia tahu apa yang terjadi pada Ayana. "Dia ... depresinya kembali," ucapnya singkat.


"Apa? Depresi?" tanya Arfan terkejut.


Danieal mengangguk mengiyakan, seketika itu juga Celia langsung memeluk putra pertamanya. Ia menangis mengingat kembali apa yang sudah dilihatnya satu tahun lalu.


Di mana pada saat itu kondisi Ayana masih benar-benar terpuruk. Ia terus mengamuk tak terkendali sampai-sampai harus berulang kali mendapatkan obat penenang untuk mengendalikan emosi.

__ADS_1


Celia tidak bisa melihat putri sambungnya kembali terpuruk. Ia takut kejadian yang menimpa Eliza dialami oleh Ayana.


__ADS_2