Bunga Air Mata

Bunga Air Mata
Chapter 84


__ADS_3

Harapan tinggallah harapan. Mati satu tumbuh seribu, adalah ungkapan yang benar-benar memberikan mimpi bagi setiap pejuang.


Kegagalan tidak semerta-merta membuat Ayana pantang arah dan menyerah. Justru dengan adanya kegagalan serta kesakitan itu ia terus berjuang dan berjuang untuk mendapatkan apa yang diinginkan.


Sampai Allah mendatangkan orang-orang hebat untuk membantu, dan salah satunya wanita yang saat ini tengah ia temui.


Wanita berhijab tadi mengulurkan amplop cokelat berukuran A4 ke hadapan Ayana. Pelukis itu pun mengambilnya dan melonggarkan seutas tali yang melilit di penutupnya.


"Apa ini?" tanya Ayana di tengah pergerakan.


"Seperti katamu semalam, wanita itu memang tidak mudah menyerah. Meskipun saat ini orang-orang sedang memperhatikan serta kariernya sebagai pianis mulai redup, tetapi ... dia terus mengawasi mu," ungkap sang lawan bicara.


"Benarkah?" Ayana tidak sabar melihat kejutan di dalam amplop tersebut.


Ia pun membuka dan mengambil beberapa lembar foto di sana. Ia menyebarkannya di meja dan memperhatikan satu persatu.


"Foto itu diambil sejak kejadian kamu mengungkapkan kebenaran. Malamnya wanita itu terus bertindak tanpa henti sampai sekarang. Jangan kamu pikir tidak ada kabarnya, Bella sudah mereda? Tentu itu tidak benar," balasnya lagi.


"Karena sedari awal targetnya adalah kamu," lanjut wanita itu menunjuk salah satu foto di dalamnya terdapat gambar Ayana yang tengah di wawancara.


"Dia benar-benar sudah menargetkan mu, Ayana. Mulai sekarang berhati-hatilah, dia semakin menjadi-jadi," ungkapnya kemudian.


"MasyaAllah, seistimewa itukah aku? Bu, apa ada cara untuk menyadarkannya?" tanya balik Ayana.


"Jangan panggil aku ibu. Sudah berapa kali aku katakan, panggil Kakak atau Mbak saja, umur kita tidak beda jauh, Ayana," katanya ngedumel.


Mendengar itu Ayana tergelak seketika, "Aku tertawa sampai mengeluarkan air mata," katanya sembari sibuk mengusap sudut mata.


"Baiklah-baiklah, aku akan memanggil Mbak sebagai gantinya. Aku benar-benar tidak menyangka jika Mbak ternyata mempunyai kemampuan melacak lawan? Erina sangat beruntung memiliki seorang ibu seperti Mbak Bening," jelas Ayana mengungkapkan identitas sang lawan bicara yang ini tengah menatap hangat.


Bening, wanita berusia tiga puluh sembilan tahun itu pun mengulas senyum lebar. Ia menyesap kopi pesanannya singkat dan menatap kembali Ayana yang sudah dianggap seperti saudara sendiri.


"Em, Mbak juga beruntung bisa melahirkannya dan membesarkan ia selama sembilan belas tahun. Mbak-"


"Eh? Se-sembilan belas tahun? Yang benar Mbak?" Ayana membulatkan sepasang hazelnut nya lebar.


"Itu benar, Mbak menikah muda waktu itu dan langsung dikaruniai seorang anak. Karena ... karena Erina sudah sakit-sakitan sejak kecil, ayahnya pun meninggalkan kami. Gerak-gerik itulah yang membuat Mbak tergerak untuk belajar melacak keberadaan seseorang serta bagaimana cara meretas," jelas Bening membuat Ayana tidak henti-hentinya dibuat kagum.


"MasyaAllah, tragedi membawa berkah yah Mbak," kata Ayana bangga.

__ADS_1


Bening mengangguk sekilas. "Benar, tapi pada kenyatannya setelah mengetahui fakta yang ada benar-benar sakit. Ayah Erina selingkuh dan lebih memilih bersama wanita lain."


Ayana menghela napas pelan lalu menopang dagu di atas meja. "Ternyata nasib kita sama yah Mbak dan ... aku benar-benar sudah memanfaatkan seorang anak. Ya Allah," racaunya memalingkan wajah ke samping jendela.


"Em, jangan menyalahkan dirimu sendiri, Erina benar-benar sudah menganggap mu seperti kakaknya sendiri."


Ayana menegakkan tubuhnya lagi, "Kalau begitu kita harus mewujudkan mimpi Erina. Aku kagum pada Mbak. Mbak adalah wanita hebat yang sudah membesarkan Erina menjadi anak yang luar biasa."


"Alhamdulillah, sang pejuang tangguh, itulah harapan Erina untuk menciptakan sesuatu," balas Bening lagi.


"Baiklah, aku akan mencoba menuangkannya dalam lukisan," lanjut Ayana.


Mereka pun banyak membicarakan hal di kafe tersebut. Tempat yang dekat dengan galery magnolia itu pun menjadi pertemuan pertama mereka di ibu kota.


Ayana tidak khawatir meninggalkan toko lukisannya, sebab masih terpantau dari sana.


...***...


Zidan kembali datang ke rumah sakit, sejak kedatangannya satu jam lalu ia terus berada di ruang fisioterapi.


Berkali-kali ia menjalankan segala rangkaian untuk bisa berjalan normal lagi. Jatuh bangun ia dapatkan dari latihan di sana.


"Ayo, Tuan Muda pasti bisa," ucapnya menyemangati.


Tanpa ragu Zidan pun mengangguk serius. Ia terus menggerakkan kedua kaki selangkah demi selangkah.


Di tengah keseriusannya, pintu ruangan tiba-tiba dibuka seseorang. Atensi kedua pria itu pun menoleh ke samping mendapati wanita berhijab tengah mengembangkan senyum.


Sontak hal tersebut membuat Zidan melebarkan kedua sudut bibir sempurna. Matanya menatap binar kehadiran sang pujaan.


"Sayang, kamu datang?" tanyanya langsung.


Ayana berjalan mendekat sembari melipat tangan di depan dada. Air muka cerah terus terpampang jelas di wajah ayunya.


"Iya, aku datang untuk menemanimu, Mas," jelas Ayana yang sudah berada tepat di sebelah sang suami.


Zidan semakin tidak kuasa menahan kebahagiaan. Kepala bersurai hitam legam itu pun mengangguk beberapa kali.


"Em, aku pasti bisa sembuh. Aku pasti bisa berjalan lagi," katanya yakin.

__ADS_1


"Aamiin, semangat belajar berjalannya, Mas," ucap Ayana lagi.


Zidan mengiyakan dan berjalan tertatih menuju ujung jalan. Ayana pun bergegas ke sana menggantikan Haikal yang sudah melipir ke samping memberikan kesempatan padanya.


"Ayo Mas, kamu pasti bisa," ujar Ayana kembali sembari bertepuk tangan layaknya mengajak seorang anak berusia satu tahun berlatih berjalan.


Zidan terkekeh menyaksikan tingkah laku pasangan hidupnya.


Kedua tangan Ayana pun terentang ke depan saat sang suami beberapa langkah lagi mendekatinya. Hingga sedetik kemudian, Zidan melemparkan diri menerjang pasangan halalnya.


Ayana pun menerima dengan senang hati serta melilitkan kedua tangan di leher jenjang Zidan.


Menyaksikan kebersamaan mereka, Haikal pun keluar dari ruangan memberikan waktu privasi bagi tuan dan nona mudanya.


Kini di sana hanya ada kedua insan yang sempat terpisah oleh jarak dan waktu. Raksi yang menyebar dari tubuh Ayana mengalirkan kecanduan bagi sang pianis.


Zidan memeluk tubuh ramping istrinya erat seolah tidak ingin melepaskan.


"Terima kasih sudah datang, Sayang," bisiknya lirih.


Ia menyembunyikan wajah haru di ceruk leher Ayana. Sang empunya terkesiap seraya menengadah melihat langit-langit ruangan.


"Em, apa pun," jawabnya begitu saja.


"Bukankah kamu mau membuka galeri? Kenapa bisa datang ke sini?" tanya Zidan penasaran.


Ayana diam beberapa saat mengingat kembali pertemuannya dengan Bening tadi. Setelah itu ia menerima kabar dari sang kakak jika Zidan akan melakukan terapi berjalan di rumah sakit.


Tanpa pikir panjang Ayana pun bergegas pergi ke sana untuk sekedar membantu dan menemani terapi orang yang sudah menyelamatkan hidupnya.


"Karena aku ingin," balas Ayana kembali singkat.


Zidan yang semula menutup mata, perlahan membukanya lagi. Ia menyadari jika saat ini Ayana sudah sangat berubah.


Jika dulu tanpa diminta pun, Ayana akan siap siaga untuk membantunya. Namun, sekarang ada perasaan asing yang Zidan tahu sejatinya masa lalu tidak bisa dilupakan begitu saja.


"Em, terima kasih," ucapnya lagi.


Ayana mengangguk singkat, mereka masing saling merengkuh satu sama lain mengalirkan kehangatan.

__ADS_1


Ada kerinduan yang tersimpan apik di balik kata-kata tak bersua. Ayana enggan untuk mengutarakan, sebab masih belum yakin jika keputusan yang dibuat benar adanya.


__ADS_2