
"Assalamu'alaikum," salam Ayana setelah memasuki bangunan megah tersebut.
Kedua kakinya melangkah semakin dalam hingga mendapati sang suami berada di ruang makan.
Merasakan keberadaannya, Zidan menoleh ke belakang dan seketika mengembangkan senyum.
"Kamu sudah pulang, Sayang?" ucapnya sembari berjalan mendekat.
"Em, aku baru saja pulang. Assalamu'alaikum," balasnya mengucapkan salam sekali lagi lalu menyalami punggung tangan Zidan singkat.
"Wa'alaikumsalam, kenapa baru pulang jam segini?" tanyanya lagi menolehkan kepala ke samping sekilas melihat jam menunjukkan pukul setengah delapan.
Ayana mengulas senyum canggung dan menggaruk pangkal kepalanya singkat.
"Banyak yang harus aku urus, Mas. Aku minta maaf, karena pulang terlambat setelah kamu," ujarnya menyesal.
Zidan mendengus pelan seraya melengkungkan bulan sabit lagi dan mengusap puncak kepala sang istri lembut.
"Tidak apa-apa, lain kali jika kamu pulang telat beritahu. Mas sangat khawatir," katanya lagi.
"Em, aku janji," jawab Ayana mengangguk cepat.
"Apa kamu sudah salat?" tanyanya kembali.
"Sudah, sebelum pulang aku mampir dulu ke masjid terdekat," balasnya membuat sang suami mengangguk mengerti.
Mereka pun memandangi manik masing-masing menyelami keindahannya sambil tersenyum manis.
"Aku minta maaf tidak mengatakan sebenarnya, Mas. Masalah Kirana ... biarkan nanti saja aku memberitahunya," lanjut batin wanita itu.
"Hei, kalian berdua! Mau sampai kapan berdiri terus di situ? Ayo cepat makan nanti keburu dingin." Suara nge-bass milik seseorang mengejutkan.
Ayana dan Zidan menoleh ke arah yang sama mendapati pria lebih muda dari mereka tengah berkacak pinggang.
"Gibran? Sejak kapan kamu tiba di sini?" Ayana berjalan mendekat dan melihat meja makan dipenuhi berbagai macam hidangan.
"Wah, masyaAllah, apa kamu yang memasak semua ini?" tanyanya kedua kali memandangi sang adik ipar.
"Tentu saja, sejak sore tadi aku sudah ada di rumah," balas Gibran bangga.
__ADS_1
Tidak lama berselang, Zidan datang dari belakang dan seketika memukul kepalanya begitu saja.
"Aw, sakit Mas. Apa-apaan sih Mas ini?" Gibran mengerucutkan bibir kesal mendapatkan pukulan kasih sayang dari kakaknya.
"Jangan berbohong pada Mbakmu," kata Zidan sambil duduk di kursi tempat kepala keluarga.
Mendengar hal tadi Ayana memicingkan kedua mata menatap Gibran. Adik iparnya itu pun menangkupkan tangan di depan dada.
"Aku hanya bercanda, sebenarnya para pelayan yang menyiapkan ini," jelas Gibran kemudian.
Ayana menghela napas pelan dan duduk di kursinya. "Sudah Mbak duga, dari mana kamu belajar memasak begitu banyak hidangan seperti ini? Lagi pula cara memasaknya pun tidak mudah ... jika tidak berusaha keras untuk seseorang?" Godanya kemudian.
Kini giliran Gibran yang menghela napas kasar dan mengikuti mereka duduk di seberang kakak ipar.
"Aku baru berpisah dari wanita itu," lanjutnya kemudian.
"Makanya jangan pacaran terus, sudah jelas tidak diperbolehkan. Beruntunglah Allah memisahkan mu dari wanita yang bukan mahram, itu artinya Allah ingin kamu memulai hubungan yang lebih serius ... yang benar-benar diridhoi Allah," cerocos Zidan menceramahi adik satu-satunya ini.
Gibran mengangguk beberapa kali sembari terus memasukan nasi ke dalam mulut. Acuh tak acuh ia mendengarkan kata demi kata keluar dari mulut keriting kakaknya.
"Iya, andai saja aku yang pertama kali bertemu Mbak Ayana ... pasti aku sudah menikah sekarang," balasnya cuek memandang lurus ke atas.
"Hei! Apa yang kamu bicarakan itu, hah? Dia kakak iparmu, jika kamu tidak lupa." Zidan naik pitam, mengacungkan sendok yang tengah digenggamnya pada Gibran.
Terlepas dari perseteruan mereka mengenai pengkhianatan suaminya, kini mereka sudah membuka hati satu sama lain lagi.
...***...
Langit masih memperlihatkan awan kelam. Udara semakin dingin membuat orang-orang lebih nyaman tinggal di kamar-kamar mereka bergelung nyaman di balik selimut.
Namun, Ayana memilih untuk menikmati keheningan malam seorang diri di balkon lantai satu. Kepala berhijabnya mendongak mengamati langit gelap.
"Apa yang aku katakan tadi itu beneran loh Mbak." Sang adik ipar datang membawa dua gelas teh kesukaannya.
"Ini." Gibran menjulurkan salah satunya.
Ayana pun menerima gelas tersebut dan hanya digenggamnya saja. Sensasi hangat seketika menyebar dari telapak tangan hingga ke tubuhnya.
"Jika kakakmu tahu dia benar-benar marah, loh," balas Ayana menimpali candaannya tadi.
__ADS_1
Gibran pun tergelak mendengar jawaban sang kakak ipar.
"Aku tidak tahu, mas Zidan tidak jauh berbeda dari anak kecil. Dia benar-benar kekanakan," ujarnya.
Ayana pun mengangguk setuju. "Itu benar, tapi Mbak bersyukur mas Zidan sudah benar-benar berubah."
"Iya, itu yang ingin aku katakan pada Mbak Ayana. Syukurlah sekarang mas Zidan sudah mencintaimu, Mbak. Dia benar-benar menyesal sudah menyianyiakan mu ... aku juga tidak percaya kalian bisa bersama lagi," lanjutnya.
Ayana hanya mengulas senyum sembari mengalihkan pandangan ke bawah.
"Aku benar-benar tidak menyangka kalian menjadi pasangan suam istri kembali. Aku tidak pernah melihat mas Zidan menangis sebegitu menyesalnya untuk seorang wanita."
"Mbak Ayana ... satu-satunya yang berhasil membuat dia seperti itu. Bella? Cih, wanita itu benar-benar tidak tahu malu," rutuk Gibran terus mengutarakan isi hati.
Ayana terkekeh pelan dan menoleh ke samping kanan. "Aku tidak percaya mendengarnya."
"Apa lagi aku, Mbak." Gibran menghela napas kasar lalu meremas besi pembatas di hadapan mereka.
"Secepatnya kalian berikan aku ponakan lucu-lucu, aku tidak sabar ingin bertemu mereka." Gibran merentangkan kedua tangan meregangkan otot-ototnya yang kaku, lalu melangkahkan kaki meninggalkan Ayana begitu saja.
Sang pelukis pun menoleh ke belakang mengikuti ke mana adik iparnya pergi. Senyum pun hadir, dan sedetik kemudian hilang seketika.
"Ponakan? Anak yah?" gumamnya kembali memandangi langit malam.
Ia terperangah kala melihat ada satu bintang muncul di balik awan gelap. Maniknya berkaca-kaca melihat satu-satunya lukisan Tuhan di sana.
Tanpa ia sadar air mata mengalir tak tertahankan. Ia pun menghapusnya kasar berusaha mengembangkan senyum.
Tangan kirinya yang bebas meremas besi pembatas kuat. Ia berusaha menenangkan diri kala perasaan sesak tiba-tiba saja datang.
Di rumah itu, di kediamannya, ia kehilangan harapan. Namun, itu dulu saat semuanya masih tidak baik-baik saja.
Sekarang ada sepercik harapan yang Ayana inginkan. Ia berharap bisa mendapatkan keluarga kecil harmonis bersama Zidan.
"Jika dulu kamu lahir, mungkin sekarang sudah berusia dua tahun, yah sayang? Ya Allah, apa yang hamba ocehkan? Sudah Ayana, yang lalu biarlah berlalu. Mari kita songsong masa depan yang lebih baik," gumamnya menyemangati diri sendiri.
Ia menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan. Ia berusaha melupakan masa lalu yang tidak pernah bisa lepas dalam ingatan.
Karena bagaimanapun juga masa lalu mempunyai tempatnya sendiri di hati kecilnya. Terutama sosok sang buah hati yang belum mendapatkan kesempatan melihat dunia.
__ADS_1
Ayana sadar jika semua itu sudah takdir dan ia tidak boleh terus menerus terpuruk pada keadaan tersebut.
"Aku harus bangkit ... aku percaya Allah akan memberikan yang terbaik untuk kami. Ya Allah hamba pasrahkan semuanya pada-Mu," gumamnya lagi kembali memandang langit gelap dan hanya ditemani satu bintang kecil di atas sana.