Bunga Air Mata

Bunga Air Mata
SEASON 4 CHAPTER 9


__ADS_3

Berharap dan terus berharap keajaiban akan datang menerjang. Ada kalanya misteri menghampiri menyuguhkan ketegangan berarti.


Tidak ada yang tidak mungkin jika Allah sudah berkehendak. Percayalah dan yakinlah sesuatu yang sudah Allah berikan itu pasti terbaik dan mendatangkan keberkahannya sendiri.


Apa pun yang terjadi, bagaimanapun keadaan menghadang, semua telah menjadi ketentuan dari-Nya.


Selepas berbicara empat mata dengan kakak iparnya, kini Ayana sudah berada di kamarnya sendiri memandangi kedua buah hati tengah terlelap di tempat tidur.


Lengkungan bulan sabit hadir menambah kecantikan. Sebagai seorang ibu baru Ayana begitu bersyukur dan bahagia mendapatkan buah hati dua sekaligus.


Kesenangan, kegembiraan, suka cita kian meluap tidak bisa digambarkan oleh kata-kata.


Kehilangan anak pertama kali menjadi pukulan telak yang tidak mudah dilupakan begitu saja. Rasa sakit masih tetap ada, walaupun keadaan keluarga mereka sudah jauh lebih dari baik.


Namun, kini kejanggalan lain datang dari keluarga kecil kakak sambungnya.


"Apa Jasmine baik-baik saja yah? Kenapa aku masih merasa dia menyembunyikan sesuatu? Seperti... rahasia yang tidak boleh diketahui siapa pun," gumam Ayana sambil mengelus dahi Ghaitsa.


Ia berbaring menyamping dan bersandar ke kepala ranjang.


"Apa yang kamu gumam kan, Sayang?"


Pertanyaan dari suara baritone di belakang punggung mengejutkan. Ayana bangkit dari setengah berbaring lalu menoleh mendapati suaminya masuk.


"Oh... Mas sudah pulang?" tanya Ayana menyambut kedatangan sang suami.


"Em, assalamu'alaikum," salam Zidan berjalan mendekat.


Ayana bangkit dari tepi ranjang lalu menyalami tangannya singkat.


"Wa'alaikumsalam, Mas sudah makan malam? Mau aku siapkan?" tanyanya lagi seraya membantu Zidan membuka jas kerja.


Aroma parfum yang sangat ia kenali menyapa indera penciuman. Harumnya begitu menenangkan dan membuat perasaan damai seketika.


"Aku sudah makan tadi bareng rekan kerja baru kami," balas suaminya lagi.


Ayana hanya mengangguk dan melangkahkan kaki menuju keranjang cucian terletak tidak jauh dari pintu kamar mandi dan meletakkan jas sang suami di sana.


Tidak lama kemudian ia kembali berbalik melihat Zidan tengah memperhatikan kedua buah hatinya.


Senyum mengembang di wajah tampan sang pianis, merasa tenang mendapati Ghazali dan Ghaitsa tidur dengan lelap.


"Mas mau mandi dulu? Aku siapkan air hangat," ucap Ayana lagi.


Perkataan itu pun menarik atensi Zidan untuk menghadap sang istri. Ayana tepat berada di depannya membuat ia langsung melingkarkan tangan di pinggang berisi nya.


Setelah mengandung bobot tubuh Ayana meningkatkan tajam dan belum kembali seperti semula.


Terkadang Zidan gemas, senang memainkan pipi berisi sang kekasih hati.


Senyum yang masih setia mengembang di wajah tampannya terpampang nyata membuat Ayana pun ikut melakukan hal sama.

__ADS_1


"Apa yang tadi kamu gumam kan? Sebelum masuk, aku tadi tidak sengaja mendengar ucapan mu," kata Zidan kembali ke topik awal.


"Itu... aku hanya mengkhawatirkan Jasmine," serunya.


"Jasmine kenapa lagi memangnya, Sayang?" Zidan ikut penasaran.


"Mas tahu sendiri bukan? Mamah sering menanyakan kapan mereka punya anak? Tadi, saat kami makan malam bersama... Mamah kembali bertanya seperti itu."


"Mas juga tahu jika pertanyaan tersebut sangat sensitif, aku tahu apa yang sedang Jasmine rasakan sekarang. Pasti tidak mudah melewati itu semua. Juga Mamah menanyakan apa mereka ikut program hamil?"


"Tapi aku merasa... Jasmine lebih terluka bukan karena pertanyaan mamah, tetapi ada hal lain yang ia sembunyikan dan aku tidak tahu itu," ungkap Ayana menceritakan apa yang terjadi pada kakak iparnya.


Zidan termangu, merenung sejenak setelah mendengar penjelasan sang istri. Bola mata kelamnya melihat ke atas dengan pikiran melalang buana.


"Em, menurut Mas pasti ada sesuatu yang Jasmine sembunyikan. Di samping sakit hati dengan pertanyaan mamah ada hal yang tidak bisa ia bagikan dengan siapa pun, termasuk suaminya sendiri, Danieal."


"Dan itu... ada kaitannya dengan kandungan? Pasti seperti itu," balas Zidan mengutarakan pendapat.


Kini giliran Ayana yang merenung beberapa saat, sampai, "Aku juga sempat berpikir seperti itu, tapi... apa yang Jasmine sembunyikan? Apa memang seberat itu? Apa mungkin-"


Perkataannya berhenti begitu saja, dikejutkan dengan pikirannya sendiri.


"Apa mungkin apa Sayang?" tanya Zidan, kembali dibuat penasaran.


"Jasmine-" Ayana menunduk membalas sepasang onyx di bawahnya. "Dia menyembunyikan sesuatu mengenai kewanitaannya?"


Manik jelaga Zidan melebar mendengar pertanyaan Ayana barusan.


"Em, aku harus mencari tahu tanpa menyinggung perasaannya," tekad Ayana, serius.


"Itu bagus, aku ingin melihat mereka tidak terus menerus di hadapkan pada permasalahan anak dan anak," ucap Zidan lagi.


Ayana hanya mengangguk dan memeluk suaminya erat.


...***...


Untuk kesekian kali, Jasmine muntah-muntah di kamarnya lagi. Ia sangat tersiksa dengan kondisinya yang terasa begitu lemas.


Ia kembali merasa tidak berdaya pada situasi yang didapatinya saat ini. Begitu sulit dan terjal jalan yang harus dilalui.


Ia merasa tidak sanggup lagi jika harus berhadapan dengan sang suami. Ia terluka, tidak hanya fisik, tapi juga batinnya.


Ia takut, sangat khawatir tidak bisa memberikan keturunan untuk suaminya.


Terlebih usia keduanya yang telah memasuki kepala tiga membuat Jasmine benar-benar khawatir.


Kristal bening kembali berjatuhan di wajah putih pucat nya. Kesedihan yang kian meluap menambah rasa sakit semakin merundung.


Ia kembali memukul-mukul sedikit kuat tembok kamar mandi membuat punggung tangannya memerah lagi.


"Sampai kapan?" gumamnya lirih.

__ADS_1


Tidak lama setelah itu Jasmine keluar dengan penampilan acak-acakan. Rambut panjangnya lepek, kedua mata bengkak, hidung merah, dan bibir yang selalu semerah cherry kini memucat.


Baru saja ia membuka pintu kamar mandi, gerakannya terhenti begitu saja. Ia membeku mendapati sang suami berdiri menghadapnya.


Bagaikan de javu, kejadian tadi malam kembali terulang.


"Ah, mereka memang saudara," benaknya.


Jasmine melangkahkan kaki lagi, berpura-pura seolah tidak terjadi apa-apa.


"Mas sudah pulang? Sudah sarapan? Mau aku siapkan? Atau mau mandi dulu?" tanya Jasmine beruntun.


Danieal tidak mengatakan apa pun, tetapi terus memandangi lekat kekasih hatinya.


"Tidak usah." Hanya dua kata yang diberikan Danieal.


Jasmine mengulas senyum simpul lalu kembali melangkahkan kaki.


Di saat hendak melewati sang suami, tiba-tiba saja dokter tampan itu mencengkram kuat pergelangan tangannya sedikit kencang.


Mereka berdiri berdampingan, lalu kepala keduanya bergerak secara bersamaan hingga menatap satu sama lain.


Sorot mata Jasmine menyendu, kedua celah bibirnya melengkung, memperlihatkan jika dirinya benar-benar lelah.


Ia tidak mengatakan apa pun dan terus menerus berpura-pura tidak terjadi apa-apa.


Dalam diam keduanya hanya bisa saling menatap satu sama lain.


Tidak lama setelah itu Danieal menghela napas kasar dan memeluk istrinya begitu saja.


Sontak Jasmine terkejut bukan main mendapati suaminya memeluk begitu kuat.


Manik keabuan nya melebar sempurna dengan jantung bertalu kencang.


"Ma-Mas Danieal?" Panggilnya bimbang.


Kedua kalinya Danieal menghela napas berat. Jasmine hanya bisa diam, menunggu apa yang hendak dikatakan sang suami.


"Aku minta maaf. Benar-benar minta maaf," kata Danieal kemudian.


Kata maaf yang dilontarkan sang pasangan hidup membuka luka menganga semakin melebar. Air mata mengalir tak tertahankan kala kenyataan serta pertanyaan-pertanyaan menyakitkan kembali merundung.


Sakit, layaknya tersayat-sayat sembilu, luka tak kasat mata makin datang menerjang.


Jasmine membalas pelukannya sambil meremas kuat kemeja bagian belakang Danieal.


"Kenapa Mas minta maaf?" tanya Jasmine kembali berbohong tidak tahu apa-apa.


"Maaf. Karena aku tidak ada di sampingmu. Aku tahu saat ini kamu sedang memendam rasa sakit, bukan?" tanya Danieal lagi.


Jasmine bungkam seketika, tidak bisa mengatakan apa pun lagi. Karena apa yang dimaksud sang suami adalah pertanyaan dari ibunya, Celia Arsyad.

__ADS_1


__ADS_2