Bunga Air Mata

Bunga Air Mata
SEASON 2 CHAPTER 26


__ADS_3

Kembali pada satu titik yang sama membangkitkan luka masa lalu kembali tumbuh.


Bunga air mata nyatanya masih melekat dalam diri tidak bisa dihempaskan begitu saja. Benihnya hadir lagi mengalirkan jalan cerita berbeda.


Kemelut dalam diri tidak bisa diputuskan begitu mudah. Akan selalu ada masalah demi masalah untuk menguji siapa di antara hamba-Nya yang bertahan.


Selepas kepelikkan itu pergi, Allah pasti akan menghadirkan kebahagiaan tiada tara.


Hari ahad kali ini mereka habiskan bersama keluarga Arsyad. Selepas sarapan, Ayana dan Zidan duduk bersama di ruang keluarga menikmati waktu luang.


Ditemani beberapa potongan buah yang sudah disiapkan sang maid, pasangan itu terlihat harmonis.


Ayana dan Zidan tengah memandang televisi besar memperlihatkan sebuah pertunjukan biola.


Ayana terkejut kala mendapati Saida Badia Bose kembali tampil di layar. Ia ikut senang saat mengetahui kondisi keluarga mereka jauh lebih baik.


Saida dan Sabina pun menjadi saudari kembar layaknya seorang keluarga serta mengenai kondisi Presdir Han, hanya mereka saja yang tahu.


"Kalian suka di sini?" tanya Celia tiba-tiba.


"Ya Allah Mamah," kata Ayana sedikit loncat dari sofa.


Celia terkekeh pelan dan meminta maaf sudah mengejutkan keduanya.


"Mamah punya dua tiket pesawat untuk kalian." Celia meletakan tiket tersebut di atas meja tepat di depan anak dan menantunya.


"Tiket pesawat? Kenapa Mamah memberikannya pada kami?" tanya Zidan tidak mengerti seraya memandang pada istrinya.


"Mamah ingin kalian berlibur. Ayana, Zidan, pergilah dulu lupakan kesedihan di sini. Mamah berharap setelah nanti kalian kembali semuanya sudah lebih baik," jelas Celia memandangi keduanya bergantian.


"Mamah sudah me-reservasi sebuah tempat di Negara X untuk kalian. Negara itu terkenal dengan bunga-bunganya yang tumbuh subur. Tidak hanya satu jenis saja, tetapi banyak sekali. Mamah tahu kamu sangat menyukai bunga, kan Sayang? Maka dari itu pergilah bersama suamimu, nikmati bulan madu kedua kalian," lanjutnya lagi.


Ayana terkejut bukan main, seketika itu juga maniknya berkaca-kaca. Ia langsung mendekati sang ibu dan memeluknya erat.


"Terima kasih, Mah. Terima kasih banyak, Ayana sayang Mamah," ucapnya lirih.


"MasyaAllah, Mamah juga menyayangimu, Sayang," balas Celia memeluknya tak kalah erat.


Zidan menatap pada dua tiket pesawat itu lekat. Ia tidak menyangka mendapatkan ibu mertua penuh perhatian seperti Celia.

__ADS_1


Ia sadar keluarga Ayana sudah mengetahui perihal rumah tangga keduanya. Namun, mereka lebih baik tutup mulut tidak ikut campur untuk menghindari permasalahan lebih dalam.


Tindakan Celia kali ini benar-benar membuat Zidan terharu. Keluarga Arsyad berbeda jauh dengan keluarga besarnya, mereka terlalu tegas pada sebuah aturan yang menyakiti perasaan seseorang.


...***...


Dua hari kemudian, rombongan keluarga Ayana dan Zidan mendatangi bandara. Tepat sore hari ini pasangan suami istri tersebut hendak bertolak ke Negara X.


Mereka menyetujui usulan Celia untuk liburan keluar negeri meninggalkan sejenak problematika di tanah air.


Danieal, Celia, Adnan, Lina, Arshan, dan Gibran pun mengantar Ayana serta Zidan ke penerbangan.


Mereka berhadap-hadapan sebelum pesawat kedua insan itu lepas landas.


"Jaga putri Mamah di sana yah, Zidan. Bahagiakan dia jangan memikirkan apa pun lagi, tinggalkan saja semua masalah kalian di sini," ucap Celia menggenggam hangat tangan Ayana.


"Mamah tenang saja, aku akan menjaga Ayana dengan baik dan membahagiakannya. Terima kasih sudah memberikan liburan ini pada kami," balas Zidan disertai senyum lembut.


Celia mengangguk haru mendengar jawaban sang menantu.


"Kalian harus lebih baik lagi sepulang dari liburan. Jangan memikirkan perkataan Nenek yah Sayang," kata Lina kemudian.


"Bersenang-senanglah di sana," timpal Adnan.


"Jangan lupa pulangnya bawa oleh-oleh yang banyak," ujar Gibran.


"Jaga kesehatan dan jangan kecapean. Aku titip Ayana padamu," ucap Danieal setelahnya.


Satu persatu mereka memberikan petuah dan wejangan bagi keduanya. Ayana dan Zidan terus mengiyakan dan mengucapkan terima kasih.


"Sebentar lagi pesawat kami akan lepas landas, kalau begitu sampai jumpa lagi," kata Zidan mengingatkan.


"Aku dan Mas Zidan pergi dulu yah Mah." Ayana pun memeluk sang ibu dan ibu mertuanya bergantian.


Setelah ucapan perpisahan selesai pasangan suami istri itu pun berjalan meninggalkan mereka.


Lambaian tangan dari sanak keluarga pun mengiringi kepergian pasangan suami istri tersebut.


"Mamah harap ada kabar baik," benak Celia dalam diam.

__ADS_1


Tidak lama kemudian pesawat mereka pun lepas landas. Ayana dan Zidan duduk tenang mengudara di angkasa lepas.


Sedari kedatangannya ke sana Ayana terus menoleh keluar jendela. Hanya ada awan putih yang bergumpal-gumpal sejauh mata memandang.


Tanpa ia sadari, sang suami yang duduk di sebelahnya melengkungkan bulan sabit sempurna.


Zidan menggenggam tangan kanan Ayana membuatnya menoleh. Pandangan mereka bertemu menyelami kembali iris jelaga masing-masing.


"Kita saling bertatapan lagi, rasanya ... sudah lama sekali aku tidak menghabiskan waktu bersamamu, Sayang," ujar Zidan dengan suara rendah.


Ayana terkesiap kala menyaksikan manik suaminya berkaca-kaca. Ia lalu memberikan kecupan mendalam di punggung tangannya membuat Zidan terkejut.


"Sayang." Panggil pianis itu lembut.


Ayana mengangkat kepalanya cepat menemui sepasang onyx kelam di sampingnya.


"Aku minta maaf beberapa hari ini tidak pulang ke rumah. Aku-"


"Tidak, Sayang. Jangan minta maaf, itu semakin membuatku bersalah. Justru aku yang harusnya minta maaf, membiarkan mereka terus menerus memojokkan mu terutama ... aku dan Kirana datang ke panti tanpa memberitahumu. Aku-"


"Shut!" Jari telunjuk Ayana tepat mengacung di bibir suaminya. "Jangan bicarakan itu lagi. ingat apa pesan mamah tadi? Kita harus melupakan segala problematika di sana dan tidak usah membawanya."


Zidan mengangguk mengerti lalu menggenggam hangat pergelangan tangan sang istri dan menjauhkannya.


"Aku akan membuat perjalanan kita kali ini benar-benar berharga. Aku sangat mencintaimu, Sayang," akunya lagi dan memberikan ciuman hangat di masing-masing jari jemari Ayana.


Sang empunya terpaku, terkesima akan tindakan manis pasangan hidupnya. Sejenak ia bisa melupakan masalah demi masalah yang menimpa.


Perjalanan mereka pun masih berlangsung beberapa jam ke depan. Itu adalah liburan pertama bagi Ayana dan Zidan setelah sekian tahun berlalu.


Dulu, Zidan sama sekali tidak pernah mengajak Ayana ke manapun. Ia terlalu disibukan dengan konser maupun Bella.


Ia lebih senang membawa selingkuhannya dari pada sang istri. kegelapan yang dulu menutupi mata hati kini menghilang berganti cahaya terang.


Zidan sudah bisa membedakan mana yang baik dan sebaliknya. Ia akan berusaha menjadi suami terbaik bagi Ayana dan menghapus rasa sakit di masa lalu dengan kebahagiaan.


"Namun, aku juga sadar sebagai manusia kita tidak bisa lepas dari namanya salah. Ya Allah, bantu hamba untuk membahagiakan Ayana," gumamnya menoleh ke samping di mana kepala berhijab sang istri tengah bersandar nyaman di bahu kirinya.


Ia pun mengecupnya hangat dan dalam sebagai tanda betapa Zidan sangat mencintai sang istri.

__ADS_1


Ayana yang tengah menutup kedua mata pun terkesiap dan berpura-pura tertidur. Rasa hangat dari genggaman sang suami yang berada di telapak tangannya menjalar hingga ke relung terdalam.


__ADS_2