Bunga Air Mata

Bunga Air Mata
SEASON 3 CHAPTER 4


__ADS_3

Di salah satu kediaman mewah di sisi utara ibu kota, seorang pria berusia lanjut menggebrak meja kuat.


Suaranya bergema di ruangan yang hanya diterangi cahaya lampu berwarna kuning.


Pencahayaan yang minim itu memperlihatkan satu sosok berkuasa tengah menghadap dua pria tinggi kekar di depannya.


Ia yang duduk di kursi kebesarannya sampai bangkit, menatap nyalang pada mereka.


Ia pun melemparkan cerutu yang sedari tadi dihisapnya ke salah satu kedua pria itu.


"Apa yang kalian lakukan, HAH?" gertaknya menahan amarah.


"Kenapa kalian sampai kehilangan wanita itu? Kalian tidak becus mengurusi satu wanita saja. Bahkan dia sama sekali tidak punya kekuatan apa pun, bagaimana bisa kalian?" Pria tadi menjeda ucapannya berjalan keluar meja dan mendekati mereka.


Salah satu pria yang ada di sisinya memberikan tongkat dengan kepala ular tengah melebarkan mulutnya.


Pria berkuasa itu pun menerima dan menghentakkan nya ke lantai memberikan suara bergema cukup kuat.


"Apa kalian mau berakhir malam ini?" tanyanya mematuk-matukkan kepala ular di tongkatnya ke dada para pria itu.


"Ti-tidak Tuan, kami minta maaf. Kami sudah kehilangan nona muda," jawab salah satu dari mereka.


"Kami tidak sengaja membiarkannya kabur," timpal yang satunya lagi.


"Omong kosong."


Pria tua tadi pun langsung menusukkan ujung tongkat runcingnya ke atas kaki kedua orang suruhannya.


Mereka pun berteriak kesakitan meminta pengampunan.


"Bereskan mereka," lanjut sang penguasa membuat orang-orang yang ada di sisi kanan kirinya langsung menyeret dua pria tadi.


Mereka berteriak meminta belas kasih yang tidak didengar olehnya.


Ia menyeringai lebar dengan sorot mata nyalang lurus ke depan seolah apa pun bisa hancur hanya dengan tatapannya saja.


"Jasmine, beraninya dia-" geramnya menggertakan gigi.

__ADS_1


...***...


"Aku kabur dari rumah... karena sudah tidak tahan terus menerus dipaksa untuk melakukan hal yang tidak aku sukai."


"Mereka memaksaku bekerja dan bekerja tanpa memberikan kesempatan untuk istirahat. Bahkan-" Jasmine menahan tangis kala menceritakan apa yang dialami.


"Bahkan mereka hampir melecehkan ku. Beruntung aku bisa kabur dari jeratannya, keadaanku sekarang menjelaskan apa yang terjadi. Aku-"


Jasmine tidak kuasa menahan tangis dan memutuskan ceritanya begitu saja. Ia menangis sejadi-jadinya, isakan itu terdengar memilukan membuat Ayana menepuk pelan pundaknya berkali-kali.


"Shut, jika memang tidak sanggup jangan dilanjutkan. Aku... mengerti apa yang sudah menimpamu. Untuk sementara kamu bisa tinggal di sini. Karena galeriku aman dari gangguan apa pun," kata Ayana menenangkan.


Jasmine mengangguk singkat lalu setelahnya mendongak membalas tatapan Ayana lagi.


Dari tatapannya, Jasmin begitu mengagumi sosok Ayana. Ia tidak menyangka bisa melihat dan bertemu secara langsung dengan pelukis terkenal ini.


Tanpa ada kata terlontar, bulir demi bulir liquid bening terus meluncur bebas di pipi. Jasmine berusaha menahannya, tetapi tidak bisa dilakukan.


"Jangan menahannya, jika kamu ingin menangis... maka menangis lah. Tidak ada yang melarang, sampaikan semua rasa sakit mu lewat tangisan," kata Ayana lagi.


Mendapatkan dukungan, Jasmin menangis sejadi-jadinya meluapkan segala emosi terpendam. Seruni yang menyaksikannya pun ikut iba atas kejadian mengerikan menimpa wanita itu.


Ia tidak ingin membuat ibu dari pekerjannya itu khawatir. Namun, Seruni bersikeras untuk bersama mereka di galeri dan membantu apa pun yang dirinya bisa, tetapi Ayana tidak mengizinkan dan memaksanya untuk tetap pulang.


Mendapatkan paksaan dari atasannya, mau tidak mau Seruni pun mengikuti permintaannya dan kini di ruangan itu hanya ada Ayana dan Jasmine.


"Apa sekarang kamu sudah mau menceritakan semuanya? Aku tahu tadi kamu pasti merasa canggung... karena ada Seruni di sini, kan? Asal kamu tahu dia wanita yang baik, tidak mungkin mengatakan sembarangan apa pun yang bukan menjadi ranahnya. Jadi-"


"Iya kamu benar. Aku memang sedikit khawatir tentang wanita itu, maaf," potong Jasmin cepat.


Ayana pun mengulas senyum lalu menggenggam tangannya lagi.


"Tidak apa-apa, aku mengerti. Aku bisa merasakan semua kekhwatiran yang sedang kamu rasakan. Karena-"


"Bagaimana? Bagaimana bisa kamu merasakan apa yang sedang aku rasakan? Aku hampir di perkosa Ayana... kehormatan ku hampir direnggut. Tangan-tangan mereka bahkan-"


"Shut, tenang Jasmine. Orang-orang itu sudah tidak ada di sini, kamu aman bersamaku." Ayana menangkup bahunya erat seraya mengguncangnya pelan.

__ADS_1


Jasmine yang semula menunduk ke bawah sambil menangkup kedua tangan pun mendongak bertatapan lagi dengan sepasang manik bening di depannya.


"Jangan takut, semua akan baik-baik saja," kata Ayana menenangkan.


Seketika air mata meluncur lagi, Jasmine menangis kembali mengingat peristiwa yang baru saja terjadi.


Sekitar pukul setengah tujuh malam, Jasmine yang berada di ruangannya tengah mengerjakan projek lain pun dikejutkan dengan kedatangan tiga orang pria.


Mereka tersenyum penuh minat menatapnya dari atas ke bawah. Jasmine yang tengah berdiri berhadapan dengan objeknya pun mundur mengetahui niat busuk itu.


Sampai tidak lama kemudian mereka mulai meluncurkan aksinya. Kedua pria itu memegang tangan kanan-kiri Jasmine sedangkan pria satunya menggerayangi tubuh rampingnya untuk melepaskan pakaian yang tengah dikenakan.


Jasmin berteriak kencang, meminta mereka berhenti. Dengan berlinang air mata ia berusaha melepaskan cengkraman pria-pria itu.


Ia pun mengigit tangan salah satu dari mereka lalu menendang pria di hadapannya. Ia lalu membantingkan alat kerjanya yang mengenai satu dari ketiganya.


Mendapatkan celah, Jasmine kabur dari bangunan megah bernuansa kelam itu secepat mungkin. Tanpa memikirkan apa pun ia terus berlari menjauhi rumah yang sudah memberikan duka nestapa.


Ia pun menaiki taksi untuk kabur semakin jauh, tetapi tanpa diduga ketiga pria tadi mengejarnya.


Setelah kurang lebih empat puluh menit berlalu, Jasmine meminta supir taksi itu untuk menurunkannya. Ia membayarnya menggunakan cincin berlian yang melingkar di jari manis.


Sang supir taksi yang menyadari jika harga cincin tadi sangat tinggi pun tersenyum lebar. Ia tidak mempedulikan ke mana wanita muda itu pergi dan langsung menancap gas meninggalkan lokasi.


Jasmine kembali berlari dan sangking ketakutannya, ia tersungkur jatuh pada kubangan air lalu langsung bangkit melanjutkan aksi kaburnya.


Sampai ia berhenti di galeri Ayana dan mereka pun bertemu satu sama lain.


Sang pelukis terkejut, tidak menduga mendengar semua rentetan kejadian menimpa Jasmine.


Ia mengusap punggungnya berulang kali seraya terus memberikan kata-kata semangat. Ayana benar-benar merasakan apa yang tengah di rasakan Jasmine.


"Aku pernah berada di posisimu, Jasmine. Jadi, aku mengerti apa yang kamu rasakan," balas Ayana mengembangkan senyum lembut.


Jasmine yang mendengar serta melihat ekspresi Ayana pun terkejut. Ia tidak percaya wanita yang sudah mempunyai karya di mana-mana juga mempunyai masa lalu kelam.


Ia sesenggukan sembari menatap lekat pada Ayana yang masih memberikan lengkungan bulan sabit penuh makna.

__ADS_1


"Aku tidak percaya di balik senyum manisnya terdapat air mata penuh luka," benak Jasmine terpekik.


__ADS_2