Bunga Air Mata

Bunga Air Mata
Chapter 118


__ADS_3

Cinta bisa saja datang dan pergi sesuka hati. Terkadang cinta jugalah yang memberikan duka nestapa tiada tara.


Namun, meskipun demikian cinta akan menuntun kembali pada takdir yang sudah digariskan. Jika Allah telah berkehendak apa pun bisa terjadi, termasuk membolak balikan hati setiap hamba.


Satu bulan berlalu, kejadian demi kejadian sudah terlewati begitu saja memberikan cerita mendebarkan. Kenangannya akan selalu terngiang dalam ingatan tidak bisa dilupakan dengan mudah.


Ayana kembali melanjutkan hidup sebagai istri dari pianis terkenal, Zidan Ashraf. Selain itu, ia juga masih giat melukis untuk menyalurkan hobinya sejak dulu.


Berbagai karya tercipta lagi di studio lukis dalam mansion tersebut. Ruangan itu sudah didekorasi meninggalkan jejak masa lalu.


Tidak hanya studio saja, tetapi semua isi bangunan megah itu diganti oleh yang baru.


Ayana maupun Zidan tidak ingin jejak Bella ada di sana dan mengingatkan kembali pada kejadian masa itu.


Awalnya Zidan menawarkan untuk pindah ke rumah baru, tetapi Ayana mengatakan sayang jika harus pergi dari kediaman tersebut. Karena bagaimanapun di sana mereka pernah mengukir sejarah bersama sampai hadirnya sang buah hati.


Ayana tidak ingin melupakan hari-hari beratnya kala mengandung janin yang belum sempat melihat dunia.


Sedari siang sampai sore Ayana terus berkutat di studionya. Sesekali ia keluar untuk melaksanakan kewajiban sebagai seorang muslim.


Setelah itu, Ayana akan berdiam diri di sana lagi untuk waktu yang tidak bisa ditentukan. Ia berada di dunianya sendiri tanpa mengindahkan sekitar, jika sudah berkutat dengan kuas dan kanvas.


Di hadapannya terpampang jelas kanvas berukuran sangat besar yang tingginya kurang lebih hampir sama dengannya dengan lebar dua meter.


Gamis berwarna putih yang ia kenakan berkali-kali terkena cipratan cat minyak menimbulkan bercak abstrak.


Kali ini Ayana melukis pemandangan malam dengan langit bertabur bintang dan bulan yang bulat sempurna.


Berkali-kali kedua sudut bibir itu melengkung kala menuangkan ide brilliant di dalam kepala berhijabnya.


Kurang lebih lima jam berkutat dengan pekerjaan tersebut, Ayana menghentikan aktivitas. Ia berjalan beberapa langkah ke belakang menyaksikan lukisan yang baru setengah jadi.


Seraya berkacak pinggang ia tersenyum lebar, mengangguk beberapa kali melihat mahakaryanya kali ini.


"Em, masyaAllah, indah sekali. Aku akan menamai lukisan ini rising stars," gumamnya kembali menggambar sebuah bintang besar di tengah-tengah langit malam.


Di tengah kesibukannya lagi, Ayana tidak menyadari kedatangan seseorang. Zidan membuka pintu studio menyaksikan sang istri tengah naik ke atas tangga kecil yang digunakan untuk melukis.

__ADS_1


Bibir menawannya tersenyum melihat karya menakjubkan ciptaan pujaan hatinya. Ia membeku di tempat menyaksikan kilauan wajah bening Ayana berkat keringat bercucuran.


Ia terpesona akan aura kecantikan yang Ayana pancarkan, jantungnya berdegup kencang baru kali ini melihat sang istri tengah melukis.


"Rising stars adalah kamu, Sayang. Bintang baru yang paling bersinar di hatiku," ungkapan tersebut seketika langsung membuat pergerakan Ayana terhenti.


Ia yang masih berdiri di anak tangga kecil itu pun menoleh ke belakang menyaksikan kekaguman dalam diri sang suami.


"Tidak, bintang baru adalah kita. Aku dan kamu menjadi satu membentuk bintang paling bersinar di langit malam, seperti lukisan ini." Ayana menolehkan kembali pandangannya ke arah kanvas yang sekarang sudah terpampang jelas dua bintang berukuran lebih besar dari lainnya berdampingan.


Zidan terpaku mendengar penuturan manis dari Ayana. Entah sadar atau tidak, ia melangkahkan kaki mendekat pasangan hidupnya.


Tepat setelah berada di bawah Ayana, Zidan mendongak melihat sosok wanita pujaan yang kini mengisi hati terdalam.


"Sayang." Panggil Zidan sembari merentangkan kedua tangan.


Ayana menoleh menangkap lengkungan bulan sabit bertengger indah di wajah tampannya. Dengan perasaan berdebar tak karuan seraya menggenggam kuas, sang pelukis melemparkan diri ke pelukan sang suami.


Zidan mengangkatnya perlahan serta semakin mendekap sang istri ke dalam pelukan.


Cahaya senja datang bersama kilaunya yang begitu menyejukkan. Lukisan Tuhan mencuat di ufuk Timur dengan semburat orange dan jingga sebagai peneman.


Dekapan hangat serta raksi menyebar dalam tubuh masing-masing menggambarkan lukisan yang tidak akan pernah bisa dicurahkan ke atas kanvas.


Degup jantung saling bertalu menggetarkan jiwa. Cinta dan kasih sayang bergelora menyamankan satu sama lain.


Akan aku cumbu dirimu dalam pelukku untuk selamanya. Akan aku ambilkan bintang maupun bulan untuk menghiasi malam-malam indah kita bersama.


Kata-kata tersebut menelisik ke relung kalbu berbisik lirih jika cinta sejati akan disambut dengan perasaan ikhlas dan ditujukan kepada Allah, Sang Pencipta.


Kenangan menyakitkan akan selalu ada dan membersamai setiap langkah yang di jalani. Namun, di balik itu masih ada masa depan cerah untuk disambut.


Setelah sekian lama saling mendekap satu sama lain, Zidan merenggangkan pelukan. Ayana yang masih mengalungkan kedua tangan di leher jenjangnya pun mengikuti pergerakan tersebut.


Manik jelaga mereka saling menatap satu sama lain lagi. Sorot mata hangat begitu mendamba kehadiran masing-masing.


Perlahan tapi pasti, wajah tampan terbingkai senyum manis mendekat. Ayana menyadari hal itu pun menutup kelopak mata erat.

__ADS_1


Sekian detik Zidan tersadar atas tindakannya sendiri dan kembali menjauhkan diri.


Ayana yang tidak merasakan kejadian apa-apa pun membuka mata lagi. Ia melihat sang suami tengah menatapnya khawatir.


"Kenapa?" tanya Ayana kemudian.


"Eh?" Zidan terkesiap mendengar satu kata berjuta pertanyaan terlontar dari bibir ranum pujaan hatinya.


"Kenapa Mas tidak melanjutkannya? Apa Mas tidak mau?" tanya Ayana kembali semakin mempertegas.


Iris bulan Zidan melebar sempurna, tidak menyangka mendapatkan pertanyaan tadi.


"Ma-maaf, aku tidak akan melakukannya jika kamu tidak mau. Aku-"


Perkataan Zidan pun terputus seketika saat Ayana melayangkan kecupan ringan di bibir menawannya.


Kedua mata sang pianis berkedip-kedip terkejut bukan main atas tindakan sang istri. Ayana yang melihat reaksinya itu pun tergelak pelan.


"Apa Mas benar-benar tidak mau melakukannya? Apa Mas tidak mau karena aku bukan Bell-"


Kini giliran Zidan yang memutuskan ucapan Ayana dengan merenggut benda kenyal semerah cherry milik sang terkasih.


Dalam penyatuan itu Ayana mengembangkan senyum lalu mulai mengikuti pergerakan dan permainan yang dilayangkan suaminya.


Kedua tangan rampingnya pun semakin merangkul erat leher sang pasangan hidup. Gerakan-gerakan impulsif memberikan tanda betapa mereka saling membutuhkan satu sama lain.


Perlahan Zidan menurunkan sang istri membuat kedua kaki Ayana kembali menapak di lantai. Dengan lembut ia menuntun separuh napasnya ke depan.


Tidak lama Ayana merasakan punggungnya menyentuh dinding yang semakin membuat penyatuan mereka menggila.


Sekilas Ayana membuka mata melihat wajah tampan sang suami begitu dekat.


"Ini first kiss yang benar-benar aku idamkan. Ternyata ... rasanya seperti ini? Ciuman dari seseorang yang mencintaimu dengan tulus ... sangat menenangkan."


"Dulu ... saat kami melakukannya itu hanyalah kewajiban dia sebagai seorang suami. Tidak ada ketulusan ataupun cinta di dalamnya, melainkan hanya napsu belaka."


"Sekarang aku menyadari betapa mendebarkannya sentuhan ini yang diberikan seseorang ... mencintaimu," monolog Ayana dalam benak.

__ADS_1


Di dalam studio lukis pasangan suami istri tersebut tengah saling menyatu. Bau cat minyak, alat-alat lukis yang tersebar, serta lukisan yang delapan puluh lima persen dibuat, menjadi saksi bisu bagaimana harunya penyatuan yang keduanya lakukan.


Cinta begitu bergelora menari indah dalam bayang-bayang semu mengikiskan kepedihan masa lalu. Ayana berharap setelah ini rumah tangganya bersama Zidan tidak diwarnai lagi dengan bunga air mata.


__ADS_2