Bunga Air Mata

Bunga Air Mata
SEASON 3 CHAPTER 40


__ADS_3

Tidak ada angin, tidak ada hujan, Jasmine dan Ayana yang masih berada di studio dikejutkan dengan kedatangan Danieal.


Pria itu membuka pintu kasar menyadarkan keduanya. Mereka menoleh ke arah yang sama mendapati Danieal dengan air muka serius menatap lurus pada Jasmine.


Ayana yang menyadari tujuan kedatangan sang kakak pun mengulas senyum lebar. Perlahan-lahan ia berjalan menjauh memberikan kesempatan pada Danieal untuk mengungkapkan semuanya.


Melihat kesempatan yang diberikan Ayana, Danieal mengangguk singkat kepada adiknya lalu berjalan mendekati Jasmine.


Sedari tadi wanita itu memperhatikan kakak beradik tak sedarah tersebut dalam diam. Dahi tegasnya mengerut menyakini jika ada sesuatu yang tengah mereka rencanakan.


Sampai tidak lama kemudian Danieal berdiri beberapa meter dari Jasmine. Sorot mata hangat nan teduh itu memandanginya lekat.


Ditatap se-begitunya membuat Jasmine tidak menentu, ditambah degup jantung yang tiba-tiba saja meningkat tajam terus menerus memberikan rasa tak karuan semakin menghampiri.


Di saat Jasmine hendak bergerak, perkataan Danieal yang langsung dilayangkan membuatnya terhenti.


"Jasmine, bisa kita bicara sebentar? Ada hal yang harus aku sampaikan padamu," kata Danieal menarik kembali atensi wanita di hadapannya.


Ayana yang terus diam di pojok ruangan tidak kuasa membendung kebahagiaan. Sedari tadi ia mencoba menahan senyum, gemas terhadap dua insan di hadapannya.


"Aku yakin saat ini Jasmine sedang kebingungan. Aku juga yakin jika Jasmine memiliki perasaan yang sama dengan Mas Danieal. Semoga mereka segera bersatu, bantulah mereka ya Allah," benaknya meracau seraya terus menjadi penonton setia.


Drama tepat di depan matanya sangat menarik perhatian. Niat untuk keluar dari studio diurungkan, ia ingin menjadi saksi nyata seperti apa ungkapan cinta yang hendak sang kakak labuh kan.


"Apa yang ingin Anda katakan?" tanya Jasmine formal.


"Aku- ah, begini... aku tidak bermaksud menghindari mu waktu itu, hanya saja... hanya saja hari itu aku sedang tidak baik-baik saja."


"Aku tidak ingin terlihat berantakan di hadapanmu. Karena-"


"Karena?" potong Jasmine cepat.


Danieal mengepal kedua tangan kuat berusaha menenangkan diri dari degup jantung yang semakin bertalu tak karuan.


Keringat dingin pun bermunculan, menambah ketegangan pernyataan cinta. Kedua kelopaknya menutup rapat seraya menarik napas dan menghembuskannya perlahan.


Di rasa sudah sedikit tenang, Danieal membuka matanya lagi dan menatap sepasang iris keabuan di depannya singkat lalu menundukkan pandangan.


Ia tidak ingin terjebak oleh perasaannya sendiri yang belum ada kepastian.


"Karena aku ingin membuatmu terkesan. Hari ini ada sesuatu yang ingin aku sampaikan padamu... aku tahu memendam perasaan tidak baik. Terlebih, aku takut jika hal itu bisa menjauhkan ku dari sang pencipta. Maka dari itu-"


"Kelamaan, kenapa Mas Danieal harus berputar-putar segala? Kenapa tidak langsung mengatakan aku mencintaimu saja?" Ayana ikut gemas melihat kelakuan sang kakak.

__ADS_1


Namun, ia juga sadar tidak mudah bagi seseorang untuk mengatakan rasa suka terhadap pujaan hatinya. Ayana pernah diposisi yang sama, tetapi pada waktu itu cintanya bertepuk sebelah tangan.


"Jasmine, aku... aku mencin-"


Belum sempat Danieal menyelesaikan ucapannya, tiba-tiba saja dari arah belakang suara seseorang muntah menarik perhatian.


Danieal dan Jasmine menatap ke pojok ruangan melihat Ayana tengah membekap mulutnya sendiri serta sebelah tangan memeluk perut.


"Sayang?" Zidan masuk saat mendapati istrinya seperti itu dan langsung merangkul bahu Ayana erat.


"Sayang, kamu tidak apa-apa?" tanya suaminya lagi.


"Ayana." Jasmine pun buru-buru mendekat, begitu pula dengan Danieal ingin melihat kondisi adiknya.


Ayana yang sadar sudah menjadi penghalang pernyataan cinta sang kakak pun mendongakkan kepala. Ia memandangi Danieal dan Jasmine bergantian dengan air muka menyesal.


"Aku minta maaf," sesalnya.


"Apa yang kamu katakan? Maaf untuk apa? Juga, apa yang terjadi? Kenapa kamu seperti orang yang mau muntah?" tanya Danieal beruntun, takut terjadi sesuatu pada sang adik.


"Aku tidak tahu, tiba-tiba saja... aku merasa mual dan juga pusing," kata Ayana bersandar ke dada bidang sang suami.


"Coba aku periksa." Danieal pun memeriksa denyut urat nadi Ayana dan sedetik kemudian dahi lebarnya mengerut dalam.


Ia memandangi Ayana lekat lalu berganti pada Zidan. Pasangan suami istri yang mendapatkan reaksi seperti itu pun tentu saja bertanya-tanya.


"A-aku kenapa Mas?" tanya Ayana gugup.


"Zidan, bisa kamu bawa Ayana ke kamarnya? Aku harus menghubungi rekanku," katanya seraya melengos pergi dari sana.


Jasmine yang sedari tadi menyaksikan kejadian barusan diam-diam melengkungkan kedua sudut bibir. Ia sangat terkesima atas tindakan yang diberikan Danieal.


Ia lalu mengikuti ke mana Zidan membawa Ayana pergi.


...***...


Kurang lebih satu setengah jam kemudian, Danieal kembali datang bersama rekan sesama dokter. Ayana yang tengah selonjoran kaki di atas tempat tidur di temani Jasmine pun terkejut melihat kedatangannya.


Tubuh rampingnya sedikit terlonjak mendapati seseorang yang dibawa oleh Danieal.


"Dokter Bintang? Kenapa Mas-" Ayana menghentikan ucapannya saat bola matanya bergulir pada sang kakak.


Danieal hanya mengangguk singkat membuat Ayana mulai mencari ujung benang dari kerumitan tersebut.

__ADS_1


"Aku sedang dalam perjalanan pulang, Danieal tiba-tiba saja menghubungiku meminta datang ke sini. Karena macet aku datang terlambat, maaf Ayana kamu harus menunggu," celoteh Bintang duduk di tepi tempat tidur.


"A-ah, tidak apa-apa, Dok. Jadi?"


"Jadi?" tanya balik Bintang.


"Kenapa Mas Danieal meminta Dokter Bintang ke sini? Apa ada yang salah? Bukankah konsultasi ku minggu depan?" tanya Ayana masih tidak mengerti.


"Baiklah, kalau begitu bisakah kalian keluar dulu?" Pinta Bintang pada orang-orang yang ada di dalam ruangan.


Ketiga orang yang tidak berkepentingan itu pun mengangguk dan mulai meninggalkan kamar, menyisakan Ayana serta Bintang.


"Kita langsung ke pemeriksaannya saja, yah," lanjut sang dokter dijawab anggukan oleh Ayana.


Di luar ruangan, Jasmine, Zidan, dan Danieal menunggu dengan harap-harap cemas apa yang terjadi di dalam.


Sedari tadi Jasmine terus termenung sembari meletakkan kedua tangan di atas besi pembatas. Pandangannya jatuh ke bawah melihat beberapa pelayan hilir mudik.


"Tenang saja, Ayana pasti baik-baik saja," kata Danieal membuatnya hanya mengangguk singkat.


Zidan memandangi keduanya bergantian, lalu berjalan mendekat pada Danieal seraya berbisik.


"Aku minta maaf mewakili Ayana sudah menggagalkan acara kalian," katanya.


"Apa yang kamu bicarakan? Kondisi Ayana lebih penting daripada apa pun," balas Danieal yang juga berbisik.


Zidan hanya mengiyakan tanpa mengatakan sepatah kata lagi. Mereka kembali menunggu dengan sabar hasil apa yang akan di dapatkan.


Beberapa saat kemudian, pintu di depan mereka dibuka. Dokter cantik bernama Bintang pun muncul dengan wajah berbinar-binar.


Ia mempersilakan mereka masuk dan memandangi ketiganya dalam diam.


"Apa kalian penasaran?" tanya Ayana yang berada di posisi sama seperti sebelumnya.


Dengan kompak ketiga orang di sampingnya mengangguk berkali-kali.


"Selamat yah, Anda akan menjadi seorang ayah," jelas Bintang memperlihatkan tes pack kepada Zidan. Tidak hanya satu, tetapi tiga sekaligus.


"Ayana sedang mengandung, kemungkinan usia kandungannya sudah memasuki tiga minggu. Untuk itu perlu pemeriksaan lebih lanjut. Saya harap kalian bisa datang ke rumah sakit besok," jelas Bintang yang membuat ketiga orang itu terkejut bukan main.


"Benar apa yang Mas rasakan tadi, kamu hamil Ayana. Itu sebabnya Mas menghubungi Bintang, dokter kandungan mu," kata Danieal menimpali.


"Sayang!" Zidan langsung memeluk istrinya erat dan terharu mendapatkan kabar menggembirakan tersebut.

__ADS_1


Dalam diam Jasmine juga ikut bahagia atas apa yang terjadi pada Ayana.


"Syukurlah, Alhamdulillah, terima kasih ya Allah," benaknya.


__ADS_2