
Sedari tadi Ayana terus diam di bangku penumpang sebelah pengendara. Ia lebih banyak memandang ke arah luar menghindari tatapan lawan bicaranya.
Ia menopang dagu pada jendela sebelah tanpa mengucapkan sepatah kata semakin mengundang rasa penasaran.
“Apa yang sedang mengganggumu kali ini?” tanya sang kakak, “tidak biasanya kamu meninggalkan mobil di rumah sakit dan ikut Mas,” lanjutnya lagi.
Ingatan Ayana berputar pada kejadian beberapa saat lalu di mana Mega masih memberikan kata-kata menyakitkan.
“Maaf yah, Tante. Sepertinya masalah pribadi ini Tante tidak usah ikut campur. Anak adalah anugerah dan kami memiliki rencana sendiri untuk itu tanpa memberitahu orang lain,” jawab Ayana tegas.
“Oh yah? Mau sampai kapan? Sampai Zidan menikah lagi? Dengar yah Ayana keluarga besar sudah membicarakan ini, jika sampai kalian tidak punya anak maka sangat disayangkan perusahaan keluarga akan jatuh ke tangan pewaris lain dan Zidan … dia tidak akan mendapatkan apa pun.”
Setelah mengatakan itu Mega melangkahkan kaki seraya sengaja menubrukan bahunya pada Ayana.
Sang pelukis pun sedikit oleng lalu berbalik melihat kepergian sang bibi.
“Tidak ada, Mas,” balas Ayana berbohong.
Danieal menghela napas singkat seraya fokus menyetir.
“Kamu tidak pandai berbohong Ayana. Kamu pikir kita menjadi keluarga baru kemarin sore?” gertak Danieal membuat Ayana berganti posisi menghadap ke depan.
“Mas selalu saja tahu apa yang sedang menggangguku,” balasnya mendelik ke arah sang kakak.
Danieal terkekeh pelan dan mengusap puncak kepala adiknya sayang.
“Kamu tidak bisa menyembunyikan apa pun dari Mas,” kata Danieal lagi. Ayana berdecak sebal, melipat kedua tangan di depan dada.
“Jadi, ada apa kali ini? Sejak datang ke rumah sakit wajahmu tidak enak dipandang,” ujarnya menjahili.
Ayana menghela napas berat dan menopang dagu kembali.
“Entahlah Mas sulit bagiku. Maaf, aku belum bisa terbuka lagi untuk saat ini … biarkan aku menghadapinya sendiri dulu,” balas Ayana ada kegetiran di balik suaranya.
Danieal hanya berdehem “hm” sebagai jawaban. Ia mengerti tidak mudah bagi Ayana terbuka pada orang lain.
Sama seperti dua tahun yang lalu, butuh waktu berbulan-bulan agar Ayana mau menceritakan kejadian sebenarnya.
Pada waktu itu Danieal menawarkan jika keluarganya hendak mengangkat Ayana sebagai anak. Tidak lama setelahnya, sang pelukis pun terbuka.
__ADS_1
Danieal pun bisa fokus mengobati Ayana ketika sudah tahu apa yang dialaminya selama itu.
“Jangan menanggungnya sendiri, ingat kamu punya keluarga dan suami untuk berbagi. Terutama ada Allah yang selalu bersama kita,” ujar Danieal menenangkan, Ayana hanya mengangguk singkat.
...***...
Ayana mematung di tempat, kala manik jelaganya memandangi sang suami bersama wanita lain. Ia yang baru saja tiba dengan Danieal terpaku menyaksikan keakraban mereka.
“Ayo, masuk,” ajak Danieal selepas mengunci mobil.
“A-ah, iya,” gugup Ayana mengikuti jejak sang kakak.
Selang beberapa saat kemudian dokter tampan itu pun menghentikan langkah membuat Ayana yang tengah berjalan sambil menunduk menubrukan kening pada punggung kekarnya.
Sontak hal tersebut membuat adik sambungnya mengaduh. Danieal menoleh ke belakang melihat Ayana tengah mengusap-usap dahi lebarnya.
“A-Ayana?” Panggil Danieal bergantian ke depan dan belakang.
“Oh, Sayang kamu sudah datang?”
Suara seseorang dari jarak sedikit jauh dari mereka pun menginterupsi. Ayana menggeser tubuhnya ke samping Danieal menangkap Zidan tengah berjalan mendekat.
“Tidak banyak pekerjaan yang harus diselesaikan, makanya Mas datang lebih dulu. Kebetulan Kirana juga ingin mengunjungi orang tua mendiang sahabatnya, jadi sekalian saja. Bukankan menyenangkan kita bisa makan malam bersama?” ungkap Zidan menjelaskan mengenai kedatangannya bersama Kirana.
“Ah, begitu. Baiklah, kalau begitu ayo kita masuk,” ajak Ayana menggandeng lengan kekar suaminya memperlihatkan pada siapa pun jika pria itu adalah miliknya.
Ia melangkahkan kaki melewati Kirana seraya sekilas mengangguk untuk menyapanya. Manik berlensa wanita itu mengikuti ke mana mereka pergi.
Entah sadar atau tidak ia mengepalkan tangan erat. Air mukanya datar tanpa bergerak sedikit pun.
“Jangan kamu berpikir untuk mengganggu mereka.”
Suara baritone tiba-tiba saja menyapa indera pendengaran. Kirana memalingkan wajah ke samping mendapati sang mantan tunangan di sana.
“Apa yang Mas pikirkan tentangku? Apa aku sepicik itu di matamu?” tanyanya dengan emosi membuncah.
Danieal menatap tegas wanita di depannya seolah tengah memberikan peringatan. Kirana semakin mengeratkan kepalan tangan seraya mendongak bertatap langsung.
“Aku tidak pernah memandang mu seperti itu. Bukankah kamu sendiri yang memperlihatkannya?” Danieal mengulas senyum lembut lalu melangkahkan kaki ke dalam.
__ADS_1
Dengan cepat Kirana melihat kepergian dokter tampan tersebut. Ia menghentakkan kaki kanannya kuat hingga menimbulkan suara nyaring yang dihasilkan dari sepatu berheelsnya.
“Kenapa semua orang berubah? Seolah-olah aku adalah pengganggu. Ini karena wanita itu yang sudah masuk ke keluarga mereka, dia … membawa pengaruh yang tidak baik. Eliza … kamu tenang saja, aku tidak akan membiarkan dia melakukan seenaknya.”
“Dia harus keluar dari keluarga ini bagaimanapun caranya. Ayana … tidak akan pernah bisa menggeser posisimu, Eliza,” geramnya menahan kekesalan.
Jam sudah menunjukkan pukul setengah delapan malam. Selepas salat isya berjamaah, mereka mulai menikmati santapan yang telah disajikan para pelayan.
Anggota keluarga Arsyad, Zidan, dan Kirana pun duduk bersama di meja makan berbentuk persegi panjang tersebut.
Beberapa maid pun melayani mereka satu persatu hingga makanan ada tepat di depannya.
“Sebelum makan, alangkah baiknya kita berdoa terlebih dahulu,” kata sang kepala keluarga, Adnan.
Kelima orang lain yang ada di hadapannya pun mengangguk lalu menengadahkan tangan.
Tidak lama setelah memanjatkan doa makan, mereka langsung menikmatinya bersama-sama.
Dengan penuh perhatian, Ayana mengupas kulit udang lalu diberikan pada suaminya.
Tidak hanya itu ia juga memberikannya pada sang kakak yang tengah duduk berseberangan dengannya.
“Eh? Sejak kapan Mas suka makan udang?”
Pertanyaan langsung dari Kirana pun menghentikan pergerakan Ayana. Sepasang irisnya beralih pada sang model dan bergantian pada Danieal.
“Aku pikir Mas Danieal memang suka udang,” kata Ayana meletakan lagi udang kupasannya di atas nasi sang kakak.
Tanpa mengatakan apa pun, Danieal memakan dalam sekali suapan. Sontak hal tersebut membuat Kirana yang tengah duduk di sebelahnya melebarkan kedua mata.
“Mas kan alergi udang,” ucap Kirana tidak menyangka melihat mantan tunangannya memakan udang besar.
Ingatannya pun berputar ke beberapa tahun lalu di mana ia, Eliza, dan Danieal makan di salah satu restoran.
Tidak sengaja Kirana memesan udang di atas nasi goreng untuk Danieal. Di saat pria itu selesai makan, kedua lengannya ditumbuhi bintik-bintik merah.
Dari sana Kirana sadar jika Danieal alergi udang. Namun, sekarang tepat di depan mata kepalanya sendiri sang tunangan menikmati hasil laut tersebut.
“Ba-bagaimana mungkin?” cicitnya masih dengan membulatkan mata sempurna.
__ADS_1