Bunga Air Mata

Bunga Air Mata
Chapter 42


__ADS_3

Masih di dalam toko Ayana, ketiganya dilingkupi sebuah permasalahan yang masih belum menemukan ujung.


Ayana duduk kembali di kursi kayu seraya melipat kaki anggun menyaksikan interaksi kedua orang masa lalu.


"Sungguh, tontonan yang sangat menarik," benaknya lalu mengambil green tea dalam paper cup dan meneguknya singkat.


"Katakan Bella, siapa yang kamu sebut tadi?" Zidan naik pitam membuat suaranya meninggi.


Bella terkekeh pelan dan mendongak pongah. "Apa Mas sudah lupa? Atau pura-pura hilang ingatan? Apa kalian tidak tahu siapa nama lengkap Ayana?" ujarnya merujuk kepada keluarga Ashraf.


Zidan terdiam mengingat kembali apa yang dikatakan sang mantan istri. Tujuh tahun lalu ia menikah dengan Ayana.


Ia mengucapkan ijab kabul dengan lantang dalam satu tarikan napas. Semua orang yang menjadi saksi di hari istimewa itu kagum atas kesungguhannya.


Namun, di baliknya terdapat dusta pada setiap wajah yang menyunggingkan senyum. Keluarga inti Ashraf yang hadir kala itu, hanya menampilkan senyum palsu semata. Mereka menghargai sang kakak yaitu, Arshan yang sudah mengizinkan sang putra menikahi wanita biasa.


Padahal mereka menganggap Ayana hanya aib semata. Anggota keluarga yang lain tidak suka jika di dalamnya terdapat orang berbeda.


Ayana hanya anak dari orang kepercayaan Arshan dan Lina saja. Mereka heran, sebab selama ini keberadaan putri Farhan dan Badriyah tidak pernah terlihat, dan bertemu saat Ayana serta Zidan hendak menikah.


Selama pernikahan berlangsung, Zidan mengucapkan Ayana dengan lantang beserta nama lengkapnya. Namun, seiring berjalannya waktu mereka lupa siapa nama di akhir Ayana.


Itulah kenapa baik Zidan, Gibran, Lina, dan Arshan tidak tahu saat pertama kali Ayana memperkenalkan dirinya dengan sebutan Ghazella.


Bagi mereka nama itu sudah hilang tersapu angin. Keberadaannya hanya sebatas pelengkap yang dianggap layaknya barang.


Di saat butuh mereka akan datang, dan di kala tidak mereka menjauh. Selama enam tahun pernikahan Ayana hanya berjuang seorang diri dan sesekali mendapatkan perhatian dari adik ipar serta kedua mertuanya.


Karena mereka lebih memilih menetap di luar negeri, Ayana benar-benar sendirian. Tidak ada seorang pun yang bisa menghiburnya di kala kepedihan itu datang menjerang.


Ia pun terus diberondong dengan pertanyaan, "kapan kami memiliki cucu?" tanpa ada perlakuan khusus. Di saat ia mendapatkannya, Lina dan Arshan pun hanya melihatnya sekejap. Setelah itu mereka kembali keluar negeri tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi.

__ADS_1


"Iya begitulah mereka. Orang-orang dengan kekuasaan tinggi mungkin menganggap jika semuanya bisa selesai dengan uang, harta, dan berbagai kemewahan lainnya. Namun, bukan itu yang aku harapkan ... kasih sayang, perhatian, dan juga dukungan ... itulah yang aku butuhkan. Nasi sudah menjadi bubur, aku tidak bisa melihat kembali ke belakang. Bagiku masa lalu hanyalah kenangan yang tidak usah diungkit lagi," benak Ayana yang jadi teringat mengenai pernikahannya.


Zidan masih setia mengatupkan mulut rapat. Bella berjalan mendekat, mendongak menatap sang mantan lekat.


Kurva di kedua sudut bibir melengkung sempurna. Ia membelai pipi Zidan pelan membuatnya menepis tangan itu kasar.


"Jangan menyentuhku," sarkas nya.


Ayana kembali terperangah menyaksikan hal tersebut. Ia masih diam apa yang akan terjadi selanjutnya. Ia berpikir jika Bella dan Zidan masih sepasang suami istri.


"Kenapa sikapnya berbeda sekali sekarang? Bukankah dulu mereka saling mencintai? Bahkan Mas Zidan terang-terangan bermesraan di depanku bersama Bella, apa mereka sudah berpisah?" monolog Ayana dalam diam.


"Nama Ayana sesungguhnya adalah-" Bella melirik Ayana yang sedari tadi memperhatikan mereka. "Ayana Ghazella." Lengkap dan lugas, Bella mengatakan nama itu lagi.


Zidan terbelalak dengan mulut menganga. Ia tidak percaya mendengar perkataannya barusan, kepala bersurai hitam legam itu menoleh ke samping di mana Ayana tengah menatapnya dingin.


Ia beranjak dari duduk lalu melipat tangan di depan dada. Air mukanya begitu datar tanpa ada satu ekspresi pun terlihat.


"Terlalu dangkal jika kalian berpikir seperti itu. Apa Anda berdua berpikir jika saya adalah wanita itu? Butuh bukti apa lagi agar kalian mau berhenti mengganggu kehidupan saya?" gertak Ayana menatap keduanya bergantian.


Bella berbalik melihat Ayana yang membalas tatapannya. "Oh, sepertinya kamu sudah berubah, Ayana."


Ayana berdecak sembari menoleh ke samping sekilas. "Tidak ada yang berubah, saya adalah saya. Sepertinya Anda keliru mengenali seseorang."


Bella tergelak mendengarnya, kedua wanita itu kembali saling melempar tatapan tajam. "Sepertinya kamu terlalu percaya diri Ayana. Apa kamu tidak ingat ini?"


Bella mengacungkan selembar foto usg di tangannya. Ayana diam beberapa detik masih mempertahankan muka datarnya.


"Kenapa dia tidak bereaksi? Seharusnya ... foto ini bisa menggoyahkan pendiriannya. Ayana, kamu Ayana, kan?" Bella terguncang kala mendapati rekasi wanita itu nampak biasa-biasa saja.


Ayana menyeringai semakin lebar. "Foto kehamilan siapa itu? Apa Anda sedang mengandung dan ingin memamerkannya pada saya?"

__ADS_1


"Apa?" ucap Bella dan Zidan bersamaan.


Pria itu pun berjalan ke hadapan Bella dan melihat gambar yang tengah diacungkannya. Ia menyambarnya cepat dan berganti posisi dengan sang mantan.


"Apa kamu hamil?" tanya Zidan kemudian.


"Ini foto usg Ayana waktu itu, Mas," jelasnya.


Zidan terkejut bukan main, lalu secara perlahan bergerak membalikan badan. Ia melihat Ayana yang menggulirkan bola mata kepadanya lagi.


"A-Ayana, i-ini foto bayi kita. Waktu itu kamu mengandung buah hati kita ... usianya kurang lebih baru empat minggu," ungkap Zidan semakin mempertegas.


"Yah, dan kamu sendiri yang membunuhnya atas rencana wanita licik itu," benak Ayana lagi.


"Lalu, apa yang harus saya perbuat sekarang? Apa saya harus ikut bahagia atas kehamilan istri Anda? Eh, bukankah beliau sudah meninggal? Em, saya turut berduka cita," kata Ayana masih dengan nada suara dingin.


Bella semakin tidak karuan, ekspetasi tidak sesuai realita. Ia berpikir jika dirinya menunjukan foto usg itu akan membuat Ayana menangis dan meraung seperti waktu itu.


"Ayana itu foto anak kamu!" Bella geram dan sedikit berteriak.


"Mohon untuk tidak berteriak di sini. Jaga sikap Anda jika tidak ingin saya mengusir kalian," tegas Ayana membuat Bella maupun Zidan terperangah.


Sosok di hadapannya ini bukanlah wanita sembarangan. Ayana yang sekarang tidak lemah dan tidak mudah dipermainkan.


Ayana sudah berubah menjadi sosok yang tangguh. Ia akan terus berjuang untuk membahagiakan diri sendiri, dengan menerima semua ketentuan Allah dan memperbaiki hubungannya dengan yang di atas.


"Kamu benar-benar batu, Ayana," ucap Bella lagi.


Kini giliran Ayana yang tergelak mendengarnya. "Saya mohon maaf yah, tetapi ... apa yang kalian ucapkan sedari tadi itu bukan untuk saya. Apa kalian mengerti apa yang sudah orang itu lewati dan apa yang sudah saya lewati? Kami dua orang berbeda, bagaimana saya harus berekspresi pada kejadian yang tidak pernah saya alami?"


Dalam diam Bella dan Zidan mengakuinya. Tanpa sadar mereka mengucapkan "benar juga," dalam benak masing-masing.

__ADS_1


Ayana menyunggingkan senyum penuh kemenangan. Situasi tadi hampir saja memojokkannya, tetapi berkat foto itu ia bisa terbebas lagi.


__ADS_2