Bunga Air Mata

Bunga Air Mata
Chapter 94


__ADS_3

Sedari dua jam lalu, Ayana tidak beranjak dari depan layar laptop. Cahaya yang ditimbulkan menyoroti wajah putih bengkaknya.


Luka-luka akibat pukulan dari hasil kekerasan beberapa jam lalu masih terlihat jelas. Namun, ia sama sekali tidak gentar mencari tahu lebih dalam apa yang bisa digali dari seorang presdir Han dan juga Bella.


Setelah kejadian menimpanya kali ini yang mengakibatkan Zidan kembali mengalami koma, Ayana tidak bisa membiarkan mereka begitu saja.


"Minumlah teh ini dulu." Bening datang meletakkan segelas green tea.


Aroma menenangkan seketika membuatnya sedikit rileks. Ia melepaskan sejenak kesibukan dan menyesap minuman hijau tersebut pelan.


"Mbak tahu kamu sedang terburu-buru, tapi jangan lupa jaga juga kesehatanmu. Zidan pasti tidak akan suka melihatmu sakit," ucap Bening bersandar di meja kerja Ayana.


Saat ini mereka sedang berada di apartemen mewah di tengah ibu kota. Bangunan yang menjadi tempat tinggal Bening menjadi markas pertemuan keduanya.


Salah satu dari ruangan itu pun di sulap menjadi markas bagi mereka untuk menggali informasi.


Sejak pergi dari rumah sakit, Ayana menghubungi ibu dari mendiang Erina untuk menyiapkan segala sesuatunya.


Di meja itu pun terdapat beberapa laptop, alat-alat pendukung lain guna mencari fakta akurat.


"Em, terima kasih banyak, Mbak. Jika tidak ada Mbak aku tidak bisa bertahan sampai sekarang," balas Ayana mendongak menatap pada lawan bicaranya.


Lengkungan bulan sabit pun terpendar di wajah cantik Bening. Ia menyesap teh miliknya singkat lalu menatap lurus ke depan.


"Tidak, justru ini semua berkat kemampuanmu sendiri," jawabnya merendah.


Mereka pun saling pandang dan tersenyum manis. Hening melanda, keduanya menikmati minuman masing-masing dengan pikiran berkecamuk.


"Oh yah, Mbak mendapatkan ini dari orang kepercayaan. Dia berhasil mencari tahu apa yang kamu butuhkan. Setelah kamu menghubungi Mbak dua jam lalu ... Mbak langsung menghubungi orang hebat ini dan yah dia mendapatkan apa yang kamu inginkan." Bening mengulurkan tangan ke meja di hadapannya mengambil beberapa berkas tergeletak, lalu memberikannya pada Ayana.


"I-ini?" Ayana terbelalak kala melihat lembar demi lembar laporan tertuang di sana.


Tidak hanya itu, ada juga beberapa foto pendukung yang semakin menguatkan fakta tersebut.


"Presdir Han itu licik. Dia bisa memanipulasi orang-orang untuk kepentingan sendiri. Pada tahun seribu sembilan ratus sembilan puluh enam, dia berhasil menundukkan mafia. Kamu tahu bagaimana kekejaman mafia, kan? Yah pria tua itu berhasil menguasai mereka."


"Alhasil ketua mafia pun tunduk padanya, lalu setelah itu ia memanfaatkan mereka untuk mengalahkan pesaing-pesaingnya di dunia bisnis."


"Dunia kelam, dunia malam, dan dunia antah berantah sudah dilaluinya selama ini. Tidak heran jika kepolisian di negara kita tunduk padanya. Dia-"

__ADS_1


"Bagaimana mungkin? Ja-jadi kita tidak bisa membuat laporan?" tanya Ayana cepat.


Bening menoleh padanya, bibir merona itu melengkung kembali. "Tentu saja, sehebat apa pun orang bisa jatuh juga, bukan? Sepandai-pandainya tupai melompat, pasti akan jatuh juga. Semua orang punya kelemahan, kan?"


Ayana mengangguk ragu. Ia lalu melihat Bening membuka lembaran dokumen yang tengah di genggamnya.


"Lihat ini," titahnya kemudian.


Dengan kaku kepala berhijab itu menunduk ke bawah. Ayana melihat di sana terdapat sebuah foto terselip di antara kertas. Bola mata itu memindai keempat objek yang tertuang di dalam gambar tersebut.


Ia lalu mengambilnya serta mengamati mereka dengan seksama.


"Itu adalah foto keluarga presdir Han. Wanita yang berada paling samping itu istrinya dan dua gadis di depan mereka ... putri-putrinya. Namun, sayang salah satu anak kembarnya itu mengalami cacat sejak lahir."


"Presdir Han menyembunyikan mereka agar semua orang tidak mengejek kelemahan sang putri. Karena bagaimanapun bejadnya seorang presdir Han, dia tetap seorang ayah yang menyayangi buah hatinya dan ... keberadaan anak itu disembunyikan sangat rapat. Orang-orang tidak pernah tahu jika presdir Han mempunyai seorang anak yang cacat."


"Mereka hanya mengetahui jika presdir Han mempunyai seorang putri dan dua cucu. Untuk itu, kamu mengerti maksudku, kan?" Bening kembali menoleh pada Ayana.


Dalam diam sang pelukis menatap gambaran keluarga harmonis di foto tersebut. Ia melihat tidak ada kesalahan apa pun di sana, mereka terlihat bahagia satu sama lain.


"Em, aku tahu apa yang harus dilakukan. Jadi, di mana mereka berada?" tanya Ayana mendongak lagi.


...***...


Pada keesokan harinya, Ayana bergegas ke sebuah tempat yang dimaksudkan Bening kemarin malam. Ia melajukan roda kendaraannya kencang membelah angin musim dingin.


Pagi-pagi sekali setelah menyempatkan diri menjenguk Zidan sebentar ia pamit dalam diam pada suaminya untuk pergi ke suatu tempat.


Dengan segala keyakinan yang dimiliki, Ayana mendatangi alamat yang dimaksudkan.


Wajah yang masih dipenuhi luka lebam pun tertutup masker. Ia sama sekali tidak gentar untuk mendatangi tempat yang letaknya sangat jauh dari ibu kota.


Bening mengatakan butuh waktu kurang lebih seharian untuk tiba di sana. Ia juga membutuhkan fisik serta mental yang kuat.


Setelah menempuh perjalanan yang cukup melelahkan, Ayana pun tiba di alamat tujuan. Lokasi tersebut sangat hening, tidak ada siapa pun terlihat di sana.


Ia hanya melihat satu bangunan yang jauh dari keramaian berdiri di tengah-tengah ladang luas. Rumput hijau sintetis terlihat rapih memberikan kesejukan.


Ia lalu memarkirkan mobil tepat di depan bangunan minimalis yang terlihat sepi. Ayana pun keluar dari kendaraannya bersamaan dengan seseorang membukakan pintu.

__ADS_1


Mereka saling bertatap, wanita tua itu terkejut mendapati orang lain di sana. Buru-buru ia berusaha kembali menutup pintu.


Melihat hal tersebut Ayana berlari dan berhasil mencegahnya.


"Saya minta maaf sudah datang tiba-tiba. Saya datang ke sini ingin membicarakan sesuatu dengan Anda," ucapnya sopan. "Ini tentang ... Tuan Han ..."


Mendengar nama itu disebut wanita baya tadi terdiam. Kepalanya lalu mendongak menatap wanita muda di hadapannya.


Ayana lalu membuka masker memperlihatkan wajah penuh luka. Seketika wanita tadi terbelalak, entah kenapa membuat sang pelukis menyadari satu hal.


"Ah, sepertinya Nyonya ini sudah tahu apa yang terjadi," benaknya kemudian.


"Ti-tidak usah, silakan Anda kembali," jawab wanita itu dengan suara serak menolak kedatangan Ayana.


"Saya mohon Nyonya. Saya mohon ini juga untuk keadilan putri kalian, ..."


Wanita yang dipanggilnya nyonya itu pun menatap lekat pada Ayana. Ia terkejut kala wanita asing ini mengetahui keberadaan sang putri.


"Ba-bagaimana bisa Nona tahu-"


"Untuk itu biarkan saya bicara dengan Anda," pinta Ayana lagi.


Dengan ragu wanita baya tadi pun membukakan pintu. Ayana tersenyum lega dan mengikutinya masuk ke dalam.


Seketika aroma cendana terendus menyambut kedatangannya. Ayana terkagum-kagum dengan ruangan tidak terlalu luas itu dipenuhi dengan perabotan dari kayu membuatnya nyaman.


Ia tahu jika semua yang ada di sana pun memiliki nilai fantastis. Ia juga melihat banyak sekali foto-foto terpajang di dinding ruangan.


Sepanjang jalan, ia menyaksikan potret demi potret putri yang presdir Han sembunyikan mulai dari remaja hingga dewasa.


"Jadi, presdir Han benar-benar menyembunyikannya? Apa seorang anak cacat adalah aib baginya? Astagfirullah," benaknya kemudian.


Tidak lama setelah itu ia pun duduk di sebuah ruangan, di sebelahnya terdapat jendela besar yang memperlihatkan keadaan luar.


Ayana kembali dibuat terkesima dengan interior-interior yang terbuat dari kayu. Ia terus berdecak kagum saat mendapati berbagai piagam terpajang di sana.


"Silakan." Wanita tua tadi datang seraya meletakkan teh hangat padanya.


Ayana mengangguk singkat dan mengucapkan terima kasih. Kini mereka saling berhadapan siap untuk membicarakan suatu hal yang mendebarkan.

__ADS_1


__ADS_2