Bunga Air Mata

Bunga Air Mata
Chapter 76


__ADS_3

Setibanya Ayana di galeri, tempat itu sudah dikerubungi oleh para wartawan. Ia berhenti beberapa meter di belakangnya menyaksikan mereka dalam diam.


Ia pun mengeluarkan benda pintar miliknya dari tas selempang dan melihat banyak pesan serta panggilan tak terjawab.


Ia melihat pesan yang masuk satu persatu datang dari sang kakak sambung beserta suaminya. Ia mengangkat sebelah sudut bibir kala menangkap satu pemberitahuan masuk ke dalam email.


Ia mengklik dan melihat ada satu artikel tersemat di sana. Tanpa ba bi bu lagi, Ayana langsung membuka serta membaca kata demi kata tertuang di dalamnya.


Di tengah keseriusan membaca artikel, Ayana dikejutkan dengan panggilan masuk dari nomor tidak dikenal.


Tanpa ragu Ayana pun menjawab telepon asing tersebut. Ia mendekatkan ponsel ke daun telinga dan seketika suara hembusan angin tertangkap.


"Kamu tidak bisa masuk ke galerimu, kan? Aku beritahu sesuatu, mereka ingin mencari kebenarannya. Siapa kamu sebenarnya, siapa Ayana Ghazella dan siapa Ghazella Arsyad. Kamu sudah bermain dengan dirimu sendiri, Ayana. Sekarang orang-orang sudah tahu siapa kamu sebenarnya. Kamu, pelukis yang hanya mendongkrak popularitas dari kekayaan keluarga Arsyad dan juga ... mengaku sebagai orang lain dan ... memanfaatkan seseorang yang sudah meninggal. Jadi, intinya kamu dikenal sebagai pelukis sang manipulatif."


"Kamu ... nama baikmu sudah hancur sekarang. Apa lagi yang kamu inginkan? Aku sarankan agar kamu cepat pergi dari sini dan tinggalkan mas Zidan, agar mentalmu tidak kacau lagi," ucap seseorang di seberang telepon mengoceh tanpa henti.


Ayana menatap lekat ke depan, sudut bibirnya menyeringai tajam. Ia tahu makna di setiap kata yang diucapkan wanita ini ingin mempengaruhi kondisi psikisnya.


Bella kini benar-benar sudah menjadi lawan yang tangguh. Ayana tidak bisa membiarkan wanita itu terus bermain dan mempermainkan kehidupannya.


Tanpa menjawab sepatah kata, Ayana langsung mematikan panggilan tersebut membuat Bella menautkan kedua alis tajam.


"Berani-beraninya dia mematikan panggilanku," ucapnya geram.


Tidak lama setelah itu Bella melihat Ayana keluar dari kendaraannya. Dengan langkah penuh percaya diri sang pelukis berjalan mendekati toko galerinya berada.


Bella terperangah, tetapi sedetik kemudian bibir merahnya mengembang sempurna.


"Dia masuk ke dalam perangkap. Apa dia mau mempermalukan diri sendiri? Sungguh luar biasa," gumamnya terus memandangi ke mana Ayana pergi.


Setiap langkah yang ia ambil memberikan kekuatan tersendiri. Ayana berjalan penuh percaya diri memandangi satu persatu orang yang setia berada di tokonya.


Merasakan keberadaan sang owner, salah satu wartawan menoleh dan memberitahukan pada rekan-rekannya.

__ADS_1


Seketika itu juga cahaya kamera langsung menyoroti kedatangan Ayana. Sorot mata penuh makna bergulir ke setiap wajah penasaran.


Dalam diam Ayana menggenggam sebuah kebenaran yang bisa memberatkan dirinya. Ia tidak akan pernah terjebak dalam permainan Bella lagi setelah apa yang terjadi.


"Aku yakin ini bisa berbalik padanya," benak Ayana penuh harap.


Di tempat berbeda, Zidan, Danieal, Giban, serta Haikal yang sedang memantau CCTV dikejutkan dengan kedatangan asisten rumah tangga.


Melati, wanita paruh baya yang sudah bertahun-tahun bekerja di kediaman Zidan pun memberitahu jika ada nona muda di televisi.


Buru-buru keempat pria itu pergi ke ruang keluarga. Di dalam layar lebar tersebut terdapat Ayana yang tengah menjadi sorotan utama.


Di bawahnya terselip kata-kata berbunyi, Ayana Ghazella pelukis yang dikabarkan sedang terlibat dalam sebuah masalah.


"Apa benar Anda hanya memanfaatkan kekayaan keluarga Arsyad untuk mengangkat karier sebagai pelukis?"


"Apa benar Anda memanipulatif keluarga Arsyad guna mendongkrak popularitas mu?"


"Apa benar Anda memanfaatkan seseorang yang sudah meninggal untuk menipu banyak orang?"


Wawancara pun tengah dilakukan di depan galeri Ayana. Berita tersebut langsung menyebar ke segala penjuru kota membuat para penikmat seni heboh.


Bahkan beberapa akun yang mengagumi Ayana saling melempar kata-kata. Ada yang memojokkan ada pula yang mendukung. Semua itu bisa ditutup oleh perkataan yang hendak Ayana layangkan.


Di balik gemerlapnya lampu kamera serta riuhnya pertanyaan demi pertanyaan yang tidak ada habisnya, Ayana menengadah ke atas.


Langit pagi ini terlihat begitu cerah, sang raja siang menampilkan senyum ceria menebar cahaya menyilaukan. Sesekali angin datang memberikan kesejukan padanya, sebagai seseorang yang kini tengah terpojok Ayana nampak tenang.


Tidak jauh dari keberadaannya, Bella yang bersembunyi di kendaraan roda empatnya pun kembali menyeringai.


Ia senang, seolah permainan yang tengah dilakukannya berhasil.


"Kamu benar-benar bermain di atas penderitaanmu sendiri, Ayana." Bella tergelak senang melihat sang pelukis nampak kikuk di balik punggungnya.

__ADS_1


Namun, tanpa ia sadari Ayana mengembangkan senyum pada para wartawan. Mereka terperangah kala menyaksikan keramahan serta kedamaian pelukis baru tersebut.


"Bisakah kita melakukan wawancara eksklusif? Saya akan menyiapkan tempat untuk kalian."


Setelah mengatakan itu Ayana masuk ke dalam galeri di mana Seruni sedari tadi sudah ketakutan. Ia bersembunyi di ruang sebelah sembari menunggu kegaduhan itu pergi.


Tidak lama berselang ia mendengar suara pintu dibuka, buru-buru Seruni keluar dan mendapati Ayana tengah tersenyum manis padanya.


"Bisa kamu bereskan meja panjang itu? Kita akan kedatangan tamu," ucapnya lalu memberikan kerlingan mata bermakna dalam membuat ia terpaku.


Tanpa menolak Seruni buru-buru membereskan meja panjang yang terletak di pojok ruangan. Berbagai lukisan Ayana pun terpajang di belakangnya.


Sang pemilik berjalan ke sana kemari membuat suara heels bergema di sana. Pesonanya, bahasa tubuhnya, aura kharismatik yang menguar seketika membuat para wartawan saling pandang.


Mereka tidak tahu apa yang hendak Ayana lakukan setelah mengundangnya ke dalam. Orang-orang itu terus memperhatikan sang pelukis yang masih sibuk menata ruangan.


Ia pun meletakkan ipad di sisi meja pada posisi berdiri, bersandar pada sandaran tablet. Di sana juga terdapat bunga magnolia pada vas putih berukuran kecil di sampingnya.


Ayana memangku kanvas melukis berukuran sedang tepat di sebelah kursi yang nanti akan didudukinya. Dalam balutan gamis purple dengan kain tambahan layaknya apron melilit di pinggangnya, pelukis itu berjalan ke depan membukakan pintu galeri.


Seketika aroma bunga magnolia tercium memberikan ketenangan. Berita yang tadi tengah tayang pun harus di jeda terlebih dahulu.


"Silakan masuk," titah Ayana ramah.


Ia berjalan di depan mereka sembari menuntun para wartawan. Tidak lama setelahnya ia pun duduk di kursi yang sudah disediakan.


Orang-orang yang hendak meliputnya lagi juga duduk di kursi yang tersedia di sana. Mereka yang tadinya begitu antusias ingin mendapatkan pembenaran dari sebuah pertanyaan merasa tidak enak.


Perlakuan Ayana terhadapnya benar-benar di luar bayangan. Mereka pun kembali saling pandang membuat sang pelukis mengembangkan senyum lagi.


"Apa yang ingin kalian tanyakan tadi, silakan ajukan kembali. Saya akan menjawabnya satu persatu dan berharap bisa memenuhi ekspetasi kalian," jawabnya lugas.


Mereka kembali mengeluarkan catatan kecil dan menyiapkan kamera. Semua pasang mata tertuju pada Ayana yang tanpa gentar menghadapi wartawan yang kurang lebih ada lima belas orang.

__ADS_1


Sorot mata tegas terlihat jelas di balik manik jelaganya. Ayana kembali memandangi mereka satu persatu dengan jari-jemari saling meremas di atas meja.


__ADS_2