Bunga Air Mata

Bunga Air Mata
SEASON 4 CHAPTER 22


__ADS_3

Ayana masih terlena dengan makanan manis di hadapannya. Sesekali ia akan tersenyum ceria, menikmati cake-cake maupun cookies buatan sang kakak ipar layaknya seorang anak kecil di manjakan oleh ibunya.


Jasmine yang berada di sampingnya pun ikut mengembangkan senyum, ia senang melihat Ayana begitu menghayati makanan manis hasil tangannya.


Perasaannya berkali-kali lipat lega, kerja kerasnya terbayar sudah hanya dengan menyaksikan reaksi Ayana.


"Aku tidak bisa menahan diri kalau bersangkutan dengan makanan manis seperti ini, apalagi kue buatan mu manisnya tidak terlalu kuat. Aku sangat menyukainya," jelas Ayana sembari merentangkan tangan di udara.


Jasmine terkekeh pelan dan kembali mengucapkan terima kasih berkali-kali.


Untuk beberapa saat Ayana mencoba menghabiskan hidangan di depannya dengan tenang. Sampai tidak lama berselang, pelukis cantik itu pun sudah terpuaskan dengan napsu makannya.


Ia lalu meneguk susu hangatnya hingga tandas dan kembali meletakkan gelas di atas meja.


"Alhamdulillah, terima kasih banyak Jasmine. Aku sangat menyukai makanan penutup buatan mu ini," ungkap Ayana lagi, perasaannya semakin bertambah dan bertambah baik.


Mood-nya sangat bagus untuk memulai aktivitas baru lagi.


"Alhamdulillah, aku senang mendengarnya," balas Jasmine singkat.


Beberapa saat kemudian keduanya sibuk dengan pikiran masing-masing. Manik jelaga Ayana memindai rak-rak di depan. Aroma buka begitu kuat menyengat, menemani kebersamaan mereka.


Ruang baca itu biasa digunakan oleh Adnan untuk meneliti hal-hal medis selama bertahun-tahun. Tempat tersebut juga menjadi ruang favorit mendiang Eliza.


Jendela yang memperlihatkan dunia luar ditutup rapat menggunakan gorden menghalangi pemandangan. Namun, suara serangga-serangga kecil berdengung mengenyahkan keheningan memberikan melodi khasnya sendiri.


"Jadi, apa ada sesuatu yang ingin kamu katakan denganku?  Aku tahu, tidak mungkin kamu hanya menghidangkan makanan manis begitu saja. Aku yakin pasti ada sesuatu," sindir Ayana halus.


Mendengar jika sang adik ipar mengetahui niat sebenarnya, Jasmine pun tergelak. Ia menyandarkan punggung rampingnya di kepala sofa lembut itu.


Kepala berhijab Jasmine mendongak, memandangi langit-langit ruangan. Perlahan tangan kanan merayap ke perut ratanya dan memberikan elusan pelan di sana.


"Kamu memang tahu saja apa yang sedang aku pikirkan," ucap Jasmine membuat Ayana terkekeh pelan.

__ADS_1


Jasmine pun kembali melanjutkan ucapannya. "Apa kamu pikir keputusan ku untuk mempertahankan anak ini adalah yang terbaik?" tanyanya, tanpa sedikitpun mengalihkan pandangan.


Melihat sang lawan bicara seperti itu, Ayana ikut menyandarkan kepala di sofa dan melihat ke atas menyelami ingatannya sendiri.


Ayana memahami seperti apa perasaan Jasmine yang sangat gamang saat ini. Ia tidak bisa memutuskan mana yang terbaik untuk kebahagiaan satu sama lain.


Mendengar sendiri seperti apa kondisi yang dialami sang kakak ipar beserta calon keponakannya, menimbulkan rasa sakit di hati Ayana juga. Namun, ia sadar apa pun yang terjadi tidak terlepas dari rencana di atas.


"Menurutku... tidak salah sama sekali. Karena bagaimanapun Allah menghadirkan buah hati ke setiap pasangan yang dikehendaki-Nya itu sudah pasti terbaik. Sekarang kita hanya harus bersabar dan bersungguh-sungguh dalam menghadapi serta menjalaninya."


"Anak adalah anugerah yang telah Allah berikan, maka dari itu jaga dia dengan sebaik-baiknya. Aku percaya kamu bisa melewati semua ini," ungkap Ayana kemudian.


"Itulah menurutku, tetapi semua kembali padamu," lanjutnya lagi.


Jasmine diam beberapa saat mencerna semua kata-kata yang disampaikan adik ipar. Dari dulu sampai sekarang Ayana selalu menjadi satu-satunya tempat berbagai segala keluh kesah, meskipun ia juga sadar apa pun yang terjadi harus mencurahkan semuanya hanya pada Allah semata.


Namun, ketika mengungkapkan atau mendiskusikannya dengan Ayana, Jasmine merasa ada keluarga yang begitu mengkhawatirkannya.


Suatu hal yang tidak pernah ia rasakan selama bertahun-tahun, kini tercurahkan sudah. Alhasil membuat Jasmine sangat terharu dan senang.


Allah sudah merencanakan semuanya dengan sangat baik dan tertata rapih. Dari suatu kejadian Jasmine bisa kabur dan mendarat di galeri Ayana serta menemukan kebebasan serta kebahagiaan sendiri.


Pada saat itu ia sangat bersyukur bisa bertemu dengan wanita hebat yang memiliki masa lalu sedikit mirip.


"Iya, kamu benar. Seperti yang sudah aku katakan pada mamah beberapa menit lalu... aku akan tetap mempertahankan anak ini," ungkap Jasmine.


"Tujuanku mengajakmu bicara di sini... aku ingin mengucapkan terima kasih. Karena kamu tetap berada di sampingku apa pun yang terjadi. Aku sangat senang dan bersyukur sekali Allah mempertemukan ku denganmu, Ayana."


"Sekali lagi terima kasih, Ayana." Jujur Jasmine, manik indahnya berkaca-kaca, sangat terharu terhadap apa yang terjadi.


Menyaksikan itu Ayana pun ikut hanyut dalam suasana. Ia langsung memeluknya erat dan sangat bersyukur sang kakak ipar bisa diberikan keturunan.


"Kamu tahu, Jasmine. Ketika Allah menguji setiap hamba... itu berarti Allah benar-benar menyayanginya. Karena itu bersyukurlah, Jasmine. Aku percaya jika sudah waktunya Allah akan memberikan kebahagiaan yang tidak pernah kita sangka-sangka."

__ADS_1


Kata-kata yang Ayana cetuskan kembali sampai ke relung terdalam. Hati dan perasaannya begitu tersentuh akan setiap kalimat yang adik iparnya berikan.


"Aamiin, terima kasih banyak, Ayana. Aku percaya. Karena itulah aku akan tetap mempertahankan anak ini bagaimanapun jalannya," balas Jasmine.


Di ruang baca itu Ayana serta Jasmine bersama-sama menghabiskan waktu di sana beberapa saat.


...***...


Malam semakin larut, Ayana pun telah kembali ke kamarnya sendiri. Ia lagi-lagi memandangi wajah menggemaskan kedua bayi kembarnya.


Perasaan seorang ibu baru begitu tergugah, terharu sekaligus bahagia mengemban tugas yang teramat mulia.


Di tengah kesendirian, tiba-tiba saja ponsel di atas nakas bergetar hebat. Buru-buru Ayana berbalik, menggapai benda pintar di sana.


Ia melihat satu pesan dari sang suami lalu membuka dan membacanya yang berisi: "Sayang, malam ini kemungkinan aku tidak pulang. Aku mendapatkan undangan baru untuk tampil di acara besar di kota sebelah, lebih tepatnya di kantor salah satu pejabat di sana. Hari ini rencananya aku mau kembali latihan bersama Haidan."


Ayana baru sadar jika beberapa saat lalu kekasih hidupnya mengatakan untuk pergi ke perusahaan milik sang ibu. Ia juga bilang ada sesuatu hal yang harus diurus dan tidak bisa ditinggalkan begitu saja.


Ayana pun mengizinkannya pergi dan sekarang ia mendapatkan pesan yang menjelaskan jika Zidan kemungkinan tidak bisa pulang.


Ia pun memberikan balasan agar sang suami jangan terlalu kecapean dan harus menjaga kesehatan.


Setelah memberikan balasan, Ayana kembali meletakkan ponsel di atas nakas dan berbaring lagi di tempat tidur. Manik bulannya memandangi langit-langit kamar.


Kedipan demi kedipan mata menemani isi kepala yang kain riuh.


"Kalau dipikir-pikir... ini pertama kali aku ditinggalkan oleh mas Zidan setelah kami bersama. Apa benar dia tidak akan pulang malam ini?"


"Konser? Pasti menyenangkan kalau kami bisa pergi bersama-sama menontonnya," racau Ayana sendu.


Lengkungan bulan sabit muncul di wajah cantiknya. Sedetik kemudian ia berbalik menghadap kedua buah hatinya lagi.


Memandangi wajah tenang Ghazali maupun Ghaitsa menenangkan sanubari. Dua sosok malaikat kecilnya sebagai sumber kebahagiaan seutuhnya bagi Ayana.

__ADS_1


"Terima kasih, Sayang sudah hadir di kehidupan Mamah dan memberikan kebahagiaan pada kami," lirih Ayana memberikan kecupan mendalam di dahi lebar bayi kembarnya.


__ADS_2