
Beberapa saat berlalu, Arfan dan Zidan sudah pergi untuk melanjutkan pekerjaan masing-masing. Setelah menikmati makan siang bersama di kafe, ketiganya membubarkan diri dan Ayana kembali ke galeri.
Baru saja membuka pintu, ia disambut lengkungan bulan sabit dari kakak sambungnya. Ayana senang bukan main melihat Danieal datang berkunjung.
"Mas Danieal?" Panggilnya riang.
"Assalamu'alaikum, adiknya Mas yang cantik," balas Danieal memuji.
Ayana mengerucutkan bibirnya sedikit menyadari ada nada sindiran di dalamnya lalu melipat tangan di depan dada.
"Wa'alaikumsalam," jawab Ayana kemudian berjalan ke ruangan di sebelah kasir dan Danieal pun mengikutinya.
Setibanya di sana, Ayana kembali melanjutkan lukisan yang belum sempat digarap. Maha karyanya kali ini benar-benar membuat sang kakak takjub.
Dokter tampan itu berjalan pelan menuju kanvas besar tersebut berada. Kedua tangannya terulur seolah hendak menggapai gambar di dalamnya.
Dini hari tadi Ayana dan Zidan bersama-sama membawa lukisan tersebut ke galeri. Sang pelukis bermaksud untuk menyelesaikannya di sana dan sekalian memajangnya.
Merasakan keberadaan seseorang, Ayana menoleh ke samping kanan memandang kakak sambung menatap lekat karyanya satu ini.
"Bagaimana menurut Mas Danieal?" tanyanya kemudian.
Sekilas Danieal memandang adiknya lalu kembali ke depan.
"Ka-kamu benar-benar sudah menerima Zidan lagi? Apa dua bintang ini melambangkan kalian?" tunjuknya pada bintang berdampingan di hadapannya.
"Menurut Mas?" tanya balik Ayana.
Seraya mengembangkan senyum lebar Danieal menghadap wanita di sebelah menatap lekat sepasang jelaga.
"Kamu sudah jatuh cinta lagi padanya, apa Mas benar?" tanya Danieal lagi dan lagi.
Ayana mendengus pelan sambil melengkungkan sudut bibir. Kepala berhijabnya memindai lukisan yang hampir jadi dibuat.
__ADS_1
"Sangat sulit untuk mengatakan cinta lagi, apa mas Zidan tidak akan kecewa?" tutur Ayana begitu saja.
"Mas mengerti, trauma pada suatu kejadian tidak bisa diputuskan serta disembuhkan begitu saja. Terkadang akan ada bayang-bayang masa lalu yang hadir memberikan ketakutan."
"Rasa takut akan mengakibatkan diri tidak bisa berbuat apa-apa. Selain melawan ketakutan itu, kamu juga harus banyak-banyak berdoa dan mencoba melakukannya lagi," ungkap Danieal menasehatinya.
Ayana diam beberapa saat menyelami kata demi kata terlontar dari balik mulut menawan sang kakak. Di relung hati paling dalam, ia memang mengakui jika dirinya takut untuk mengucapkan kata cinta.
Pada saat itu ungkapan perasaan tulus terus berdengung, menandakan betapa Ayana sangat mencintai Zidan sepenuh hati.
Ia bahkan rela terluka untuk mencintainya, dan tanpa ia sadari kesiapan tersebut membuatnya jatuh terlalu dalam pada kubangan rasa sakit.
"Aku jatuh cinta padanya ... pada pandangan pertama. Waktu itu hanya mas Zidan yang mengisi hatiku dan tidak ada kesempatan untuk pria lain."
"Aku terus berdoa meminta pada Allah agar kami dipersatukan. Namun, pada saat itu aku serakah hanya mementingkan napsu semata tanpa meminta imam terbaik."
"Allah mengabulkan doaku sampai membuat kami menikah. Awalnya pernikahan kami baik-baik saja, meskipun aku sadar keluarga besar mas Zidan tidak menerimaku. Hanya ayah, ibu, dan Gibran saja yang membuka hati menganggapku dengan baik."
"Sampai pada akhirnya aku mengetahui ... mas Zidan terpaksa menikah dan mendatangkan Bella ke dalam rumah tangga kami."
"Mereka berdua pun merencanakan sesuatu untuk membuat anakku meninggal. Pada akhirnya janin yang aku kandung selama empat minggu harus pergi lagi. Aku-"
Ayana tidak kuasa melanjutkan ceritanya kala teringat rasa sakit di hari itu. Tidak ada yang paling menyakitkan selain kehilangan sang buah hati.
Berita yang disampaikan sang dokter bagaikan pedang menghunus dada. Rasa sakit itu berkali-kali lebih perih daripada pengkhianatan yang dilakukan Zidan.
Air mata kembali mengalir, menganak bagaikan sungai. Teringat pada kejadian keguguran membuat Ayana sangat terpukul dan begitu terluka.
Ia yang baru saja kehilangan anak harus menelan pil pahit lagi kala sang suami menyalahkan dirinya. Namun, pada kenyataannya semua itu adalah rencana mereka berdua.
Rasa sakit yang datang bertubi-tubi menghancurkan Ayana. Ia sudah kehilangan arah dan tujuan hingga pada akhirnya memutuskan untuk pergi sejauh yang dirinya bisa.
Ia pun datang ke Desa X dan kembali mendapatkan cobaan hampir dilecehkan pria tua tak bermoral. Sampai ia bertemu dengan Danieal dan diangkat menjadi anggota keluarga Arsyad.
__ADS_1
Anugrah tak ternilai yang bisa Ayana rasakan adalah balasan dari kejadian menyakitkan itu benar-benar luar biasa. Allah tidak pernah salah merencanakan sesuatu bagi setiap hamba. Ia menyadari jika ujian datang, sebab hanya dirinya yang mampu.
Meskipun, pada saat itu Ayana hampir menghabisi nyawanya sendiri. Penyesalan pun berkali-kali menghujaninya, membuat ia terus menerus taubat akan peristiwa tersebut.
"Kamu wanita yang kuat, Ayana. Kamu masih bisa berdiri menghadapai mereka. Kamu adikku yang sangat Mas sayangi, jadilah diri sendiri dan jangan berubah untuk siapa pun. Karena yang tahu dirimu hanya ... kamu sendiri," kata Danieal sembari menepuk lembut puncak kepalanya.
Ayana yang masih sibuk mengusap air mata mengangguk pelan. Ia lalu mendongak mendapati sepasang hazelnut memandanginya dengan hangat.
"Em, terima kasih banyak, Mas. Berkat bantuan Mas aku bisa bertahan sampai sejauh ini. Jika bukan karena Mas Danieal, aku tidak tahu bagaimana nasibku sekarang. Mungkin aku hanya tinggal nama saja," jawabnya diakhiri dengan kekehan.
Seketika itu juga Danieal menjitak dahi lebar Ayana membuatnya mengaduh pelan.
"Aw, sakit, apa yang Mas lakukan?" tanyanya mengusap bekas jitakan sang kakak.
"Apa yang kamu bicarakan tadi hah? Sama sekali tidak lucu." Danieal naik pitam, nada suaranya sedikit meninggi.
Ayana pun tergelak seketika, Danieal mendelik lalu melipat tangan di depan dada.
"Maaf-maaf, aku hanya bercanda. Bukankah aku memang sudah meninggal? Ayana Ghazella sudah tiada hampir dua tahun lamanya, sekarang aku Ghazella Arsyad." Ayana masih kukuh pada ucapannya seraya menggerakkan kedua tangan membentuk lengkungan.
Danieal kembali memandanginya melihat bibir ranum itu mengembang sempurna. Ia sudah mengenal Ayana sejak wanita ini benar-benar terpuruk.
Pada saat itu Ayana sudah kehilangan semangat hidup. Bagaikan raga tanpa nyawa, hari-hari yang dihabiskannya hanya dilalui dengan tangisan.
Ayana sering mengamuk, tidak bisa mengontrol diri sendiri seolah kejadian yang pernah dialami kembali datang menghantui.
Wanita itu berkali-kali menyayat-nyayat lengan sebelah kiri hingga mengeluarkan darah. Noda-noda merah tersebut berceceran di seprai rumah sakit.
Alhasil kain tersebut harus diganti berkali-kali. Danieal sampai kewalahan menghadapi Ayana yang terus melakukan hal sama berulang-ulang.
Danieal sebagai dokter pribadinya pun berusaha semaksimal mungkin untuk menyembuhkan Ayana. Sampai pada titik ini, wanita itu sudah menjadi bagian dalam hidupnya dan menjadi seorang pelukis ternama.
"Aku turut bahagia untukmu, Ayana. Mulai sekarang hiduplah dengan baik, jangan pedulikan masa lalu lagi," benaknya kemudian.
__ADS_1
Bola mata itu bergulir ke lengan sebelah kiri di mana di sana terdapat bukti seperti apa kejadian pada satu tahun lebih ke belakang.