Bunga Air Mata

Bunga Air Mata
SEASON 2 CHAPTER 56


__ADS_3

Sendiri, menyepi, mengasingkan diri dari dunia kejam menjadi pilihannya saat ini.


Gundah gulana hati, kemelut bisiknya pikiran menerjang memberikan luka tak berkesudahan.


Kenyataan semakin mendewasakan jika diri sepenuhnya harus memasrahkan kepada Sang Pemilik Kehidupan.


Meskipun berat kehidupan yang harus dijalani, tetapi yakinlah tidak ada yang kekal abadi. Semua pasti berubah seiring berjalannya waktu. Kebaikan serta kebahagiaan itu akan menghampiri.


Ayana tengah berada di sebuah danau tidak jauh dari kantor kepolisian. Selepas menemui Basima, ia mencoba menjernihkan kepala di sana memandangi riak air berwarna hijau jernih.


Tangan yang berada disaku mantel lembutnya menggenggam sebuah liontin peninggalan sang ibu.


Ia mengeluarkannya dan menjulurkan ke depan tepat dalam pandangan.


Rantai kalung yang sudah berkarat serta bandul bunga air mata sedikit mengelupas menandakan seperti apa sengitnya kejadian waktu itu.


Ayana masih memperhatikannya lekat dan mengerenyitkan dahi menahan kepedihan.


Bak mendengar suara jeritan, ia menggelengkan kepala beberapa kali.


Setelah itu Ayana melemparkan liontin tadi ke danau membuat riak air sedikit terguncang.


Napasnya naik turun, tak terkendali. Emosi kian memuncak seiring bayangan dua puluh tahun lalu datang kembali.


Bak film kusut memori kelam itu terus berputar, bagaimana ngerinya keadaan ayah dan ibu pasca terbakar dalam lahapnya si jago merah.


Ia yang dulu sempat melihat keadaan mereka pun tidak kuasa menahan kepedihan.


Seketika ia ambruk, kembali menangis seraya meremas jari jemari dan memeluknya erat.


"Mamah, ayah, Ayana merindukan kalian. Ayana sangat menyayangi kalian. Maaf, Ayana baru bisa mengungkapkan kebenarannya sekarang. Semua benar-benar berakhir, tapi... tapi... kenapa masih terasa sakit?" racaunya di tengah keheningan.


Angin datang menerbangkan pepohonan di sekitar. Daunnya berguguran menghiasi air danau dan salah satunya mendarat tepat di depan Ayana.


Ia mendongak memandangi daun kering tersebut seraya mengusap air mata kasar.


"Bagaimanapun juga aku harus tetap bertahan dan bangkit dari segala keterpurukan, bismillah, aku yakin bisa. Ya Allah bimbinglah hamba," lanjutnya mendongak ke atas langit, yakin.


...***...


Di mansion keluarga Arsyad semua anggota keluarga tengah berkumpul bersama di ruang rapat.


Mereka duduk bersama menghadap meja persegi panjang.


Celia, Adnan, Danieal, dan menantu mereka Zidan tengah mengadakan sebuah pertemuan.


"Mamah sengaja mengumpulkan kalian ingin memberitahu satu hal, seperti yang kita ketahui akhir-akhir ini begitu banyak kejadian menimpa Ayana. Mamah yakin mentalnya sekarang tengah terguncang, untuk itu... Mamah minta pada kalian untuk memperlakukannya sebaik mungkin agar-"


"Mamah tenang saja, tidak usah khawatir. Tanpa diminta pun aku akan memperlakukan Ayana dengan baik dan juga... aku akan membahagiakannya. Karena bagaimanapun juga Ayana adalah istriku."


"Sudah menjadi tugas dan kewajibanku untuk membahagiakannya," kata Zidan lantang memutus perkataan ibu mertuanya.

__ADS_1


Celia mengulas senyum lembut memandang pada suami dan buah hatinya bergantian.


"Baguslah kalau begitu... itulah jawaban yang aku harapkan. Semoga kamu bisa membahagiakan Ayana terlepas dari kejadian yang menghampiri kalian. Lalu, bagaimana perasaanmu saat mengetahui orang yang sudah membuat orang tua Ayana meninggal adalah nenekmu?" tanya Danieal penasaran.


Zidan yang tengah berhadapan dengan kakak iparnya mendongak langsung bersitatap.


"Rasa sedih memang ada, tetapi bagaimanapun juga nenek harus mempertanggungjawabkan semua perbuatannya. Apalagi menyangkut nyawa sepuluh orang dan lagi... banyak kejahatan yang sudah dilakukannya, nenek harus merasakan buah dari perbuatannya sendiri," balas Zidan tidak gentar sedikitpun.


"Ayah yakin di balik ini semua ada hikmahnya, kita harus berpegang teguh pada apa yang telah Allah takdir kan. Tugas kita sekarang jangan lagi membuat Ayana sedih. Karena kita satu-satunya keluarga yang ia punya."


"Ayah tidak ingin kehilangan seorang putri lagi," timpal Adnan dijawab anggukan ketiganya.


Tidak lama setelah itu salah satu pelayan di sana mengabarkan jika Ayana sudah tiba.


Beberapa saat lalu Danieal sengaja meminta adiknya untuk pulang ke rumah.


Setelah menghabiskan kurang lebih satu jam di danau, Ayana bergegas pulang dan kini tiba di mansion orang tua angkatnya.


Mendengar pemberitahuan tersebut, Zidan, Danieal, Celia, serta Adnan bergegas keluar dari ruangan menyambut kedatangan Ayana.


Baru saja wanita itu mengganti sepatunya dengan sandal rumah, ia melebarkan kedua mata memandangi satu persatu dari keempat orang di sana.


Ia terkejut melihat senyum haru mengembang di wajah mereka.


"Assalamu'alaikum aku pulang," kata Ayana mengenyahkan keheningan.


"Wa'alaikumsalam selamat datang kembali di rumah, Sayang." Celia berlari kecil menghampiri sang putri dan memeluknya erat.


Ayana memeluk ibu sambungnya erat menyalurkan pengap dalam dada.


"Kamu berhasil, Sayang. Kamu benar-benar berhasil," ucap Celia lirih mengusap punggungnya pelan.


Beberapa saat kemudian pelukan mereka terlepas. Ayana beralih pada ayah dan kakaknya lalu berlarian kecil menerjang keduanya.


"Ayah... Mas Danieal," panggilnya pelan dengan suara gemetar.


"Iya Sayang, kamu anak Ayah yang luar biasa," balas Adnan.


"Mas bangga padamu, Ayana. Adik Mas memang luar biasa," lanjut Danieal mengusap puncak kepalanya haru.


Tidak lama setelah itu mereka melepaskan pelukan, Ayana menoleh ke samping di mana sang suami tengah merentangkan kedua tangan.


"Mas Zidan," rengeknya menerjang sang suami.


Pasangan suami istri itu pun saling berpelukan membagi keluh kesah bersama.


"Kamu berhasil, Sayang. Benar-benar berhasil, terima kasih sudah kuat sampai saat ini," ucap Zidan pelan.


Ayana mengangguk berulang kali tanpa membalas ucapannya. Zidan pun mengerti masih sulit bagi sang istri menghadapi semuanya.


Celia, Adnan, dan Danieal mengulas senyum menyaksikan kebersamaan mereka.

__ADS_1


Kini waktu sudah mengungkapkan semua rahasia yang terkubur selama dua puluh tahun lamanya.


Meskipun tidak mudah untuk dilewati, tetapi mereka bangga pada pencapaian yang telah Ayana raih.


Malam pun datang, Ayana dan Zidan memutuskan untuk menginap di kediaman orang tuanya.


Setelah menikmati makan malam bersama, kini mereka menghabiskan waktu berdua di ruang pribadi.


Sedari sepuluh menit lalu, Ayana berbaring nyaman di samping sang suami.


Dengan saling berpelukan, keduanya membagi kehangatan bersama.


Zidan terus mengusap surai lembut sang terkasih menyalurkan kekuatan.


Ayana menutup mata erat menikmati setiap sentuhan yang diberikan.


"Aku sangat mencintaimu, Sayang," ungkapan cinta pun kembali datang dari sang suami.


Ayana bergumam hm lalu setelah itu menerima kecupan hangat nan dalam di puncak kepalanya.


Detik demi detik berlalu, keduanya masih tetap saling mendekap mendengarkan irama degup jantung masing-masing.


Alunan detakkan itu bagaikan musik pengiring mengenyahkan kepiluan.


Sampai sedetik kemudian Ayana sadar dan terperanjat dari tidur.


Ia duduk menghadap pada Zidan membuat sang pianis ikut membuka mata.


"Ada apa, Sayang?" tanyanya panik.


"Raima... di mana putri kita, Mas?" tanya Ayana ketakutan.


Mendengar pertanyaan itu, sontak Zidan melebarkan pandangan.


Mereka terlalu disibukkan dengan berbagai macam persoalan sampai melupakan keberadaan putri angkatnya.


"Aku menitipkannya pada Kirana," jelas Zidan kemudian.


Kini giliran Ayana yang melebarkan manik jelaganya.


Jantungnya berdetak tak karuan mendengar penjelasan sang suami.


Ia pun langsung menyibakkan selimut dan menyambar mantel hitamnya. Setelah itu ia mengenakan hijab cepat dan bergegas keluar dari sana.


Melihat itu Zidan menautkan kedua alis. Ia bingung sekaligus heran atas tindakan sang istri.


"Sayang, kamu mau ke mana?" tanyanya mencengkram pergelangan tangan Ayana.


"Kita harus menjemput Raima sekarang juga!" tegasnya.


Menyaksikan hal tersebut membuat Zidan sadar dan hanya mengangguk mengiyakan.

__ADS_1


Mereka pun bergegas pergi dari sana hendak menuju kediaman Kirana berada.


__ADS_2