
Teka-teki pada kehidupan masih berjalan menemukan titik terang.
Satu persatu kepingan puzzle di temukan yang hampir memberikan gambaran sempurna.
Meskipun di dalamnya terdapat genangan darah yang dihasilkan, tetapi tidak ada rahasia yang bisa disembunyikan selamanya.
Suatu saat masa akan memberikan fakta tersebut mencuat ke permukaan.
Sepandai-pandainya orang menyembunyikan bangkai di dasar tanah paling dalam pun, pasti akan tercium juga.
Begitulah takdir Allah berbicara, jika Sang Penguasa Alam menghendaki apa pun bisa terjadi.
Setidak mustahil apa pun, sesulit bagaimanapun, dan serumit apa pun jika tangan Allah sudah bekerja maka akan terjadi.
Tidak ada kejahatan menang di atas kebenaran. Jika sudah waktunya tiba, kebenaran akan mengungkapkan kejahatan tersebut.
Itulah yang saat ini tengah Zidan Ashraf lakukan. Sejak tadi pagi, ia mendatangi lokasi tempat kejadian dua puluh tahun lalu.
Bangunan perusahaan Nakazima sebagian besar hampir terbakar, hanya lantai satunya saja yang terlihat parah, sedangkan lantai dua dan tiga hanya tersambar sedikit saja.
Zidan langsung mendatangi tempat kejadian dan bergidik ngeri menyaksikan dengan kedua matanya sendiri bagaimana sisa-sisa bangunan yang masih berdiri kokoh.
"Sejak kapan... sejak kapan nenek bertindak jahat seperti ini?" geram Zidan menahan kesal dengan mengepalkan kedua tangan.
Gibran yang baru kembali dari acara launching karya terbarunya sebagai desainer pakaian pun ikut tidak menyangka saat mendapatkan kabar mengenai masa lalu sang nenek.
Setelah mendapatkan kabar jika tetua Ashraf melakukan tindakan kejam kepada orang tua Ayana, Zidan langsung menghubungi Gibran untuk meminta orang-orangnya membantu permasalahan yang baru terungkap sekarang.
"Kata mereka nenek melakukan itu memang gelap mata, dan kejahatannya terjadi sejak dua puluh tahun lalu. Nenek juga tidak segan-segan menyingkirkan lawannya dari dunia bisnis, terutama di bidang parfum sepertinya."
"Aku sangat terkesan pada kakak ipar yang masih sabar menghadapi pelaku yang sudah menghabisi nyawa kedua orang tuanya. Aku... sangat malu pada mbak Ayana," ungkap Gibran sembari meremas bongkahan yang tercecer di sana.
"Em, bahkan Ayana masih bisa tersenyum di saat fakta mencengangkan ini terjadi. Aku juga malu menghadapinya, bahkan kekayaan yang selama ini kita nikmati... ada jasa yang begitu besar dari kedua mertuaku. Aku benar-benar malu pada Ayana. Aku sangat tidak tahu malu," ungkap Zidan mengusap wajah gusar.
"Iya Mas benar, tetapi sebagai seorang suami... Mas harus tetap berada di samping mbak Ayana. Itulah yang saat ini dibutuhkannya, jangan sampai Mas mengkhianati kepercayaannya lagi. Sudah banyak luka yang keluarga kita berikan dari dulu," jelas Gibran kembali menggali luka lama.
Zidan mengangguk beberapa kali lalu menengadah melihat awan kelabu siang ini.
"Itu benar. Karena itulah aku akan melindunginya sejauh apa pun Ayana bertindak, sebab istriku berhak bahagia. Kalau perlu... kita memberikan kekayaan keluarga Ashraf padanya," ucapnya tulus.
"Em, aku setuju denganmu Mas. Karena berkat orang tua mbak Ayana kita bisa menikmati kejayaan keluarga Ashraf. Kita memang tidak tahu malu," balas Gibran lagi.
__ADS_1
Zidan kembali mengiyakan ucapannya tanpa mengatakan apa pun.
Iris kelamnya terus memandangi bangunan tua tersebut dan berusaha menahan amarah.
Emosinya semakin tidak terkendali bagaimana bengisnya orang-orang yang sudah neneknya perintahkan untuk membakar bangunan ini melintas jelas.
Ia juga tidak bisa membayangkan bagaimana teriakan para korban pada saat dipanggang hidup-hidup.
"Astaghfirullahaladzim."
Zidan terus beristighfar menenangkan diri, sedangkan Gibran melihat-lihat sekitar berusaha mencari petunjuk lain.
Mereka pun menyerahkan sekitar lima orang pria yang ahli di bidangnya untuk membantu pencarian bukti.
Sampai di tengah kesibukan itu dokter tampan di salah satu ibu kota mendatangi sang pianis.
"Aku menemukan ini." Ia menjulurkan pin bros berukuran kecil padanya.
Zidan yang sedang mencari bukti pun bangkit dan menghadap sang dokter yang merangkap beberapa tugas untuknya.
Kepala bersurai hitam lembutnya menunduk melihat pin bros tadi dalam genggaman pria di hadapannya.
"I-ini?" gugup Zidan tidak percaya seraya mendongak membalas tatapan itu. "Haikal, di mana kamu menemukan pin ini?" tanyanya lagi takut-takut.
"Astaghfirullahaladzim." Zidan kembali beristighfar sambil membawa pin bros tadi di tangan Haikal.
"Sepertinya pin itu membuatmu sangat terguncang?" tanyanya menyadari raut wajah masam Zidan.
"Pin ini-" Suara Zidan tercekat di tenggorokan "pin bros ini adalah pin keluarga Ashraf." Zidan meremas pin berbentuk tanduk rusa itu kuat.
"Hewan rusa dikenal sebagai hewan yang menonjolkan kekuatan dan kegesitan pada saat berlari dan... tanduk rusa digunakan untuk bertarung. Apa itu sebabnya keluargamu memilih rusa sebagai simbol pin keluarga kalian?" tanya Haikal kemudian.
"Hanya istri tetua Ashraf ketiga saja yang menyalah artikan simbol keluarga kami. Aku akan memberinya pelajaran." Sorot mata Zidan berubah kelam dan memerah.
Gibran yang menyaksikan mereka sedari tadi terkesiap dengan perubahan sang kakak.
Kini ia benar-benar menyadari jika Zidan sangat mencintai Ayana. Ia juga setuju pada tindakan yang hendak kakaknya lakukan.
"Karena bagaimanapun kejahatan harus diadili," benaknya dalam diam.
...***...
__ADS_1
"Hati-hati wanita tua itu sedari tadi menyuruh dua orang untuk mengawasi mu," ucap seseorang dari earphone terpasang di telinganya.
"Em, aku tahu. Kalian terus pantau apa yang mereka inginkan," balas Bening yang tengah menikmati makan siang di salah satu restoran.
Hari ini ia kembali bersiap guna menjalankan rencana yang akan digelar beberapa hari lagi.
Ia tidak menyangka jika wanita tua yang dianggap sebagai musuh dalam selimut sang adik bergerak cepat.
Sebelah sudut bibirnya menyeringai memandang siluet dua orang pria berbadan besar mengenakan jaket kulit sedari tadi mengawasinya.
"Ini semakin menarik," gumamnya memasukan satu sendok terakhir makan siangnya hari ini.
Selepas membayar makanannya, Basima bergegas meninggalkan restoran.
Baru saja ia hendak membuka pintu mobil, pergerakannya dicekal salah satu dari kedua pria tadi.
Basima menyeringai tajam seraya menghempaskan tangan pria itu kasar.
"Apa yang kalian inginkan?" tanyanya langsung.
"Apa nenek tua itu baik-baik saja?" tanya Basima lagi memandang mereka bergantian seraya melipat tangan di depan dada.
Kedua pria itu menautkan alis tajam.
"Apa-"
"Iya sekarang aku sudah mengirimkan lagi fakta baru mengenai apa yang sudah dilakukannya. Kalian mengawasiku sedari tadi ingin memperingatkan, bukan?" lanjut Basima memotong perkataan mereka.
Sebelum keduanya membalas ucapan Basima, salah satu ponsel mereka bergetar cepat.
Buru-buru sang empunya merogoh saku jaket dan mengeluarkan benda pintar di dalamnya yang tertera nama sang bos di sana.
Mendengar penuturan orang di seberangnya penerima panggilan tadi terbelalak. Ia tidak menyangka mendengar perkataan tuannya.
"Urusan kita belum selesai, awas kamu!" katanya sambil menunjuk tepat di depan muka Basima.
"Silakan!" balas wanita berhijab itu tanpa gentar.
Sepeninggal mereka, Basima menekan daun telinganya dan berkata dengan seseorang dari sana.
"Kamu sudah lihat hasilnya?" tanyanya kemudian.
__ADS_1
"Sudah, dan hasilnya sangat luar biasa," balas seseorang di sana.