Bunga Air Mata

Bunga Air Mata
SEASON 2 CHAPTER 58


__ADS_3

Di tengah kemelut malam dengan indahnya gemerlap cahaya bulan, suhu udara cukup hangat menyambut dua insan sedang duduk saling berdampingan.


Semilir angin menyapa, menyapu orang tua yang hanya terikat seorang anak.


Buah hati terlahir dari sebuah hubungan terlarang kini beranjak menjadi putri yang sangat cantik.


"Jadi, maksud Mas Ihsan, Ayana yang sudah menyadarkan mu untuk menerima Raima?" tanya Kirana selepas bungkam beberapa saat.


Ihsan yang sedari tadi memandangi keduanya mendongakkan kepala melihat langit bertabur bintang.


"Bisa dibilang seperti itu, Ayana... wanita yang luar biasa kuat. Kamu lihat di persidangan? Seharusnya dia bisa mengamuk, menyalurkan emosinya kepada pelaku pembunuhan orang tuanya, tetapi... yang bisa ia lakukan adalah duduk diam dengan tenang. Bahkan dia juga mengatakan sudah memaafkan pelaku."


"Begitu besar kelapangan hatinya, aku hanya membantu sebisaku saja. Jika tidak bertemu Ayana, mungkin aku-" Ihsan menjeda kalimatnya lalu menggendong Raima.


Bayi berusia lima bulan itu merengek, terkejut mendapatkan pergerakan secara mendadak.


Ihsan bangkit dan menimang-nimang sang buah hati hingga Raima kembali terlelap.


Pemandangan tersebut seketika membuat Kirana tersenyum lembut. Perasaannya menghangat melihat sang buah hati berada dalam pelukan ayah kandungnya.


Hampir satu tahun lebih ia berjuang mempertahankan Raima sendirian kini mendapatkan akhir yang baik.


Tidak jauh dari keberadaan mereka, tiga pasang mata menyaksikan semuanya.


Ayana, Zidan, dan Danieal yang tengah duduk di dalam mobil melihat kebersamaan mereka.


"Aku... tidak menyangka jika Kirana sudah punya anak. Sebelum keberangkatan ku keluar negeri... aku sempat mendapatkan informasi dia pernah mengandung dan melahirkan, dan anak itu... menjadi alat untuk menghancurkan kalian," ucap Danieal masih melihat ke arah luar.


Ayana menoleh ke belakang melihat ada sorot mata kekecewaan di sana.


"Mas beruntung Allah memisahkan kalian. Kirana, mungkin bukan wanita terbaik untukmu. Yakinlah suatu saat nanti ada seseorang yang telah Allah siapkan untukmu," ujar Ayana menarik atensi sang kakak.


Danieal menegakkan tubuh ke depan bersitatap dengan adiknya.


"Kamu benar. Kamu tahu, betapa aku khawatirnya saat mendengar jika Kirana akan menghancurkan rumah tangga kalian melalui anaknya itu?" Danieal menghela napas kasar, "Aku tidak bisa berkonsentrasi dan ingin cepat pulang. Karena aku tahu bagaimana sifatnya selama ini. Terutama memperlakukan Eliza, bahkan saat berhubungan denganku dia tetap berkomunikasi dengan pria itu," ungkap Danieal seraya memandang keluar jendela lagi.


Ayana mengulas senyum singkat ikut memandang ke arah yang sama.


"Aku harap saat ini hubungan mereka bisa baik-baik saja," balas Ayana kemudian.


"Jadi, apa kamu masih mau menemui mereka?" tanya Zidan setelahnya.


Ayana diam beberapa saat hingga kepala berhijabnya menggeleng singkat.


"Aku rasa belum saatnya, iya kan Mas?" tanya Ayana pada Danieal.

__ADS_1


Dokter tampan itu hanya bergumam hm sebagai jawaban.


"Baiklah, kalau begitu kita pulang lagi saja." Final Zidan membalikan mobilnya lagi.


Sebelum pasangan suami istri itu pergi dari mansion, Danieal yang baru menyelesaikan pekerjaannya di lantai satu memergoki mereka.


Ia bertanya ke mana Ayana dan Zidan hendak pergi, mereka pun menjelaskan semuanya.


Dari sana Danieal memaksa ikut dan mereka pun mendapatkan pemandangan yang mendebarkan.


...***...


Pagi menjelang, Ayana kembali disibukkan dengan tugasnya sebagai seorang istri.


Ia tengah menyiapkan sarapan untuk suami tercinta.


Di tengah kegiatannya, sepasang lengan kekar terulur dari belakang dan melilit di perut ratanya.


Aroma maskulin menyapu penciuman dan kecupan hangat mendarat di puncak kepalanya.


"Rasanya sudah lama aku tidak memelukmu seperti ini," ujar Zidan meletakkan dagu di bahu kiri sang istri.


"Aku senang. Karena tidak ada yang menempel padaku seperti ini," goda Ayana senang.


Ayana terkekeh dan melepaskan pelukannya lalu berlari menuju meja makan.


Tidak lupa Zidan mematikan kompor dan mengikuti ke mana istrinya pergi.


Sampai aksi kejar-kejaran pun terjadi membuat para pelayan ikut tersenyum menyaksikannya, terutama Helena.


Wanita itu senang melihat wanita yang sudah dianggap seperti keluarganya mendapatkan kebahagiaan terlepas dari permasalahan menimpa.


"Awas kamu yah, Sayang," ucap Zidan seraya terus mengejar Ayana.


"Tangkap saja kalau bisa," balas pelukis itu menantang suaminya.


"Awas yah kalau aku bisa menangkapmu... aku tidak akan melepaskan mu," balas Zidan terus mengitari meja mengejar sang terkasih.


Hingga tidak lama kemudian ia bisa menjangkau Ayana dan memeluknya kembali.


Ia mengangkat tubuhnya dan memutarnya beberapa kali.


Suara gelak tawa pun berdengung dan bergema di ruang makan.


Para pelayan yang tadi menyaksikan drama romantis tepat di depan matanya pun melipir ke belakang tidak ingin mengganggu kebahagiaan pasangan harmonis tersebut.

__ADS_1


Tidak lama kemudian, Zidan mendudukkan sang istri di atas meja dan mengukungnya di kedua tangan.


Ayana mengulas senyum lebar seraya mendongak mencari sepasang onyx di depannya.


Sorot mata hangat nan mendamba memancar memberikan tanda sebagai ketulusan.


Sebelah tangan terulur, mengelus pelan pelipis pasangan hidupnya penuh kasih sayang.


Ayana semakin melebarkan senyum dan menangkup wajah pujaan hatinya hangat.


"I love you," ungkap Ayana melayangkan kecupan pelan di benda kenyal kemerahan sang suami.


Zidan terpaku, terdiam bak ukiran patung yang baru selesai dipahat.


Matanya berkedip-kedip berusaha menyadarkan diri sendiri dari keguncangan melanda.


"Kenapa Mas? Kenapa Mas diam?" goda Ayana membelai wajahnya berkali-kali.


"Kalau begitu-" Ayana menarik wajah tampan suaminya lagi dan memberikan kecupan di dahi, kedua mata, hidung, pipi, dagu, dan terakhir di bibir menawannya lagi.


"Terima kasih sudah setia menemaniku sampai sekarang. Aku beruntung memilikimu, Sayang. Aku mencintaimu," ungkap Ayana menggebu-gebu masih dengan menangkup wajah menawan sang pianis.


"Em... Kenapa Mas diam saja? Apa Mas-"


Sebelum Ayana menyelesaikan ucapannya, Zidan lebih dulu membungkam mulut ranumnya cepat.


Penyatuan pun terjadi membuat kepala mereka bergerak ke sana kemari mengikuti permainan.


Rasanya begitu melenakan, mengikis setiap keluh kesah yang mendera.


Kejadian demi kejadian yang telah berlalu berkelebatan layaknya film kembali diputar ulang.


Bayangan menyakitkan itu terkikis akan kedekatan yang terus mereka layangkan.


Seperti ada kupu-kupu beterbangan, kesakitan menguap ke angkasa lepas dan hanya menyisakan kenangan yang tidak akan pernah diingat lagi.


Karena bagaimanapun juga sesakit apa pun kejadian menimpa, seperih apa pun fakta yang ada, memang seperti itulah takdir berjalan.


Sekuat apa pun diri mencoba untuk tidak menerimanya, jika rencana Allah sudah menuliskan hal itu maka akan mendatangi juga.


Karena tidak ada yang lebih menguatkan selain berpegang teguh pada Sang Pemilik Kehidupan.


Allah Maha Mengetahui apa yang terbaik bagi setiap hamba-Nya. Karena Allah memberikan ujian tidak terlepas dari kemampuan hamba-Nya.


Ketika sedang diuji, dengan cobaan yang begitu kuat, maka yakinlah Allah sudah memilih kita untuk mengembannya. Karena dari sana Allah juga akan memberikan kebaikan yang tidak pernah disangka-sangka.

__ADS_1


__ADS_2