Bunga Air Mata

Bunga Air Mata
SEASON 3 CHAPTER 33


__ADS_3

Jasmine tergelak canggung sekaligus kaku kala mendengar pertanyaan dari Ayana barusan.


Ia tidak menyangka akan mendapatkan hari di mana pertanyaan seperti itu diajukan.


Sang pelukis pun memandanginya lekat. Ia tahu pasti tidak mudah untuk percaya dengan semua pertanyaan yang mengarah ke jenjang lebih serius lagi.


Butuh mental yang cukup serta keyakinan yang besar guna melangkah ke sana. Karena tidak hanya mengandalkan cinta saja, seperti yang selama ini ia alami.


Cinta sepihak memberikan rasa sakit yang begitu mendalam.


Kedua tangan Ayana terulur menggenggam hangat jari jemari Jasmine melihat diamnya wanita itu.


"Aku tahu apa yang sedang kamu rasakan, tetapi percayalah di luar sana masih ada seseorang yang menginginkan mu, Jasmine," kata Ayana kemudian.


"Jujur, selama hidup dari umur lima tahun sampai sekarang... aku belum pernah berhubungan dengan siapa pun. Menyukai seseorang saja aku tidak berhak merasakannya."


"Karena dulu aku berpikir... memendam perasaan hanya buang-buang waktu saja, sebab aku tidak bisa untuk bersama mereka. Kamu tahu sendiri bagaimana aku."


"Dulu, setelah pulang kuliah aku selalu dikurung tanpa dibiarkan berinteraksi dengan orang lain. Puncaknya saat aku lulus, pria tua itu semakin tidak memperbolehkan ku keluar. Dia terus mengurungku di sana mengenyahkan semua mimpi yang aku punya."


"Aku sempat berpikir, jadi apa gunanya aku menuntut ilmu sampai sejauh itu? Aku sama sekali tidak mengerti," jelas Jasmine kembali.


Ayana mengangguk paham atas semua yang menimpanya.


"Aku mengerti... aku paham, Jasmine. Namun, tidak ada salahnya bagimu sekarang untuk membuka hati lagi. Juga, tidak ada salahnya menuntut ilmu. Karena ilmu tidak berat untuk kita bawa ke mana-mana. Dengan ilmu juga kita bisa terus belajar."


"Memang tidak mudah melakukan sesuatu yang tidak menjadi prioritas, tetapi kamu tahu... menikah juga penyempurnaan separuh agama," kata Ayana lagi.


Jasmine termangu, memandang ke dalam bola mata karamel di sampingnya. Ia benar-benar terkesima mendengar penuturan Ayana.


"Terima kasih yah, Ayana. Kamu adalah penolong dalam hidupku. Aku... akan mencoba untuk memikirkannya," balas Jasmine membuat senyum di wajah cantik Ayana semakin mengembang.


Sang pelukis pun memeluk tubuh rampingnya, hangat. Ia bisa bernapas lega setidaknya sang kakak masih mempunyai kesempatan.


"Sama-sama, Jasmine. Aku tidak bisa membiarkanmu terluka lagi. Kita sama-sama wanita yang pernah menjadi korban," ucap Ayana, Jasmine hanya mengangguk singkat.


Ayana membalas pelukan wanita itu tak kalah erat.


Ia teringat saat pertama kali menemukan Jasmine di pintu masuk galeri.


Penampilannya yang terkesan acak-acakan menarik simpati Ayana. Seiring berjalannya waktu semua kebenaran siapa Jasmine Magnolia Mahesa sebenarnya pun terungkap.


Dia adalah putri keturunan Mahesa yang memiliki bakat memahat. Kemampuannya itu hanya dimanfaatkan oleh sang paman untuk kepentingan pribadi.


Tanpa memikirkan perasaan sang keponakan, Alexa Mahesa menjadikannya boneka tak punya hati.


Kehidupan seorang Jasmine bukan menjadi miliknya lagi. Sejak melihat orang tuanya di bantai oleh Alexa, saat itu juga hidupnya bagaikan burung terkurung dalam sangkar.


Kebebasannya direnggut paksa oleh tangan tak berperasaan. Kedua kakinya dirantai membuat ia tidak bisa bergerak ke manapun.

__ADS_1


Hanya keheningan serta kesepian yang selalu memeluknya erat. Tidak ada yang namanya kasih sayang atau cinta dirasakan Jasmine.


Semua itu lenyap digelapkan oleh balas dendam serta kesenangan sementara.


Ayana memahami seperti apa peliknya hidup dalam bayang-bayang masa lalu mengerikan.


"Kamu pasti mendapatkan kebahagiaan juga," kata Ayana lirih Jasmine hanya kembali mengiyakan pelan.


...***...


Malam menjelang, selepas menikmati makan bersama, Ayana masuk ke dalam kamar.


Ia memandangi ruangan itu tanpa seorangpun di dalamnya. Ia menoleh ke samping kanan di mana di dinding terdapat pigura foto berukuran besar yang di dalamnya terdapat gambar Ayana dan sang suami.


Ayana melebarkan senyum memandangi foto pernikahannya ada di sana.


"Apa mas Zidan yang memasang foto ini? Kapan? Di mana dia mendapatkannya? Foto itukan diambil delapan tahun lalu. Apa dia masih menyimpannya?" racau Ayana berjalan pelan memandang potret bahagianya di hari itu.


"Namun, kebahagiaan pada saat itu hanyalah sementara. Semua hanya ilusi dan mimpi yang waktu itu tidak bertepi. Aku merasakan cinta bertepuk sebelah tangan yang pada akhirnya... mendatangkan luka," lanjut Ayana teringat kembali hari-hari yang telah lalu.


"Astaghfirullahaladzim, aku seharusnya tidak boleh mengingat itu lagi." Ayana menggelengkan kepala singkat mengenyahkan kemelut dalam dada.


"Meskipun waktu sudah berlalu, tetapi kenangan tersebut tetap ada. Iya aku tidak bisa menampiknya," lanjutnya lagi.


Hening melanda beberapa saat, Ayana menyelam dalam lautan ingatan.


Kesendirian membuat ingatan demi ingatan masa lalu terus berdatangan. Kelam menjadi satu kata menggambarkan semua kisah yang pernah terlewati.


"Astaghfirullahaladzim, sudah Ayana yang lalu biarlah berlalu," kata Ayana kembali menggelengkan kepala.


Ia terhenyak seolah sadar akan sesuatu.


"Oh iya, mas Zidan di mana?" tanyanya saat tidak mendapati suaminya di manapun.


Baru saja Ayana membuka pintu, baby sister yang beberapa bulan lalu dipekerjakan untuk mengurusi Raima mendatanginya.


Wajah ayu itu nampak khawatir sekaligus cemas memandangi Ayana.


"Bintang? Apa yang sedang kamu lakukan di sini? Ada apa? Kenapa wajahmu terlihat panik seperti itu?" tanya Ayana, penasaran.


"Raima, Mbak... Raima," katanya gugup.


"Raima kenapa?" Ayana semakin cemas.


"Raima dari tadi terus menangis dan juga tidak mau meminum susunya," jelas Bintang setelahnya.


"Apa?" Ayana langsung melesat menuju kamar putri angkatnya berada yang terletak tepat di samping ruangannya.


Ayana mendapati Raima tengah menangis di atas ranjang.

__ADS_1


Ia duduk memandangi kedatangan sang ibu seraya merentangkan kedua tangan menggapai-gapai Ayana.


Buru-buru Ayana berlarian mendekat dan langsung menggendongnya.


"Mama." Panggil Raima memeluk lehernya erat.


"Maaf, Sayang. Mamah dan ayah akhir-akhir ini sedikit sibuk. Kamu pasti merindukan Mamah, kan?"


Raima hanya terus berceloteh tanpa henti.


"Maaf Mamah tidak langsung menemui mu. Sekarang kamu tidur yah, ada Mamah di sini," kata Ayana membuat Raima perlahan-lahan mengehentikan tangisan.


Selang tiga puluh menit kemudian, Raima tertidur lelap dalam gendongannya.


Ayana pun menidurkan Raima di atas ranjang dan menyelimutinya hangat.


"Anak cantik, Mamah. Selamat malam, Sayang," ucap Ayana lembut mengusap puncak kepalanya berkali-kali.


Ia lalu memberikan kecupan dalam di dahi lebarnya.


Setelah Raima tertidur lelap, Ayana bergegas menuju ruang kerja sang suami berada.


Sesampainya di lantai satu, Ayana berdiri tepat di depan pintu ruang pribadi Zidan.


Ia pun menarik gagang pintu ke bawah dan membukanya pelan.


Sedetik kemudian sosok tampan suami tercinta terpampang jelas. Lengkungan bulan sabit terpendar di wajah cantiknya.


"Mas? Kamu masih kerja?" tanya Ayana mengejutkan.


Zidan mendongak dan semringah mendapati pasangan hidupnya.


"Sayang? Ah, iya masih ada beberapa jadwal manggung yang harus aku sesuaikan," balas Zidan.


Ayana mengiyakan dan berjalan mendekat. Ia duduk tepat di hadapan Zidan memandangi dokumen bertebaran di meja.


Ayana terus diam mengatupkan bibir rapat. Ia sudah banyak memikirkan apa yang harus disampaikan pada sang suami.


Ia pikir sudah waktunya untuk mendiskusikan satu hal yang menjadi permasalahan mereka berdua.


"Mas, apa kamu-" Ayana senagaja menjeda ucapannya dan mengangkat pandangan ke depan.


Zidan kembali membalas tatapan itu seraya mengerutkan kening, heran.


"Ada apa, Sayang? Apa ada sesuatu yang ingin kamu katakan?" tanya Zidan langsung.


"Aku pikir sudah waktunya kita memeriksakan diri ke rumah sakit," lanjutnya.


"Eh kenapa? Apa kamu sedang tidak enak badan?"

__ADS_1


"Bukan, tidakkah kamu penasaran kenapa kita belum punya anak lagi sejak kejadian itu? Aku... hanya penasaran apa ada sesuatu di antara kita?"


Sedetik kemudian Zidan tercengang mendengar perkataan istrinya. Ini pertama kali Ayana membicarakan masalah anak setelah sekian lama.


__ADS_2