Bunga Air Mata

Bunga Air Mata
Chapter 96


__ADS_3

Setelah Ayana memberikan memori card dari kamera Bella waktu itu, saat ini mereka tengah menyaksikan adegan kekejaman presdir Han.


Tidak henti-hentinya Yara menutup mata kala melihat kelakuan sang suami. Ia tidak menyangka pria yang sudah bertahun-tahun hidup bersamanya memiliki kepribadian seperti itu.


Presdir Han senang daun muda dan sudah bergonta ganti pasangan beberapa kali. Ia tidak peduli pada istri dan juga keluarganya.


Tentunya, menurut presdir Han uang bisa menggantikan kasih sayang. Namun, pada kenyataannya kasih sayang tidak bisa digantikan oleh apa pun, termasuk harta.


"Kekuasaan benar-benar sudah menggelapkan matanya. Dia ... sudah sangat jauh ke dalam lubang hitam," ucap Yara kemudian.


Ayana menoleh menyaksikan kilatan amarah di kedua matanya. Ia menyadari ada rasa sakit tersimpan apik di dalamnya.


Sebagai seorang istri dan calon ibu yang belum sempat melihat buah hatinya, Ayana tahu bagaimana perasaan Yara saat ini.


"Saya pernah di posisi Anda, bagaimana sakitnya melihat suami yang kita cintai terbutakan oleh orang lain. Saya bahkan kehilangan anak oleh ayahnya sendiri, pasang surut kehidupan telah merubah hidup. Jika saya tidak boleh terjebak oleh masa lalu dan harus bangkit merubah masa depan. Sampai ... saya menjadi Ayana Ghazella seperti ini, jadi Nyonya-" Ayana memutuskan kalimatnya lalu menatap ke samping sembari menggenggam hangat tangan keriput sang lawan bicara.


Yara lagi-lagi terkesiap menyaksikan kilatan penuh keyakinan di manik bulan Ayana.


"Anda tidak usah ragu untuk membuka kebenaran ini, meskipun sakit pada awalnya, tetapi ... akan ada kebaikan setelahnya. Ada Allah yang senantiasa membantu hamba-Nya," lanjut Ayana lagi.


Yara berkaca-kaca, ia tidak pernah tahu akan bertemu dengan wanita hebat seperti Ayana. Melihat dalam tayangan tadi seperti apa perjuangannya untuk melindungi diri sendiri telah membuka keyakinan.


Yara mengangguk cepat dan membalas genggaman tangan Ayana. Sang empunya mengulas senyum hangat seolah melihat ibunya sendiri.


Tatapan seorang ibu untuk memperjuangkan kebaikan buah hatinya membuat Ayana tidak kuasa membendung keharuan.


Ia berusaha menahan air mata untuk tidak tumpah detik itu juga.


"Tunggu, tadi Nona mengatakan ... nama Nona Ayana Ghazella? Apa Anda Ghazella Arsyad?" tanya Yara tiba-tiba.


Kedua alis Ayana saling bertautan lalu mengangguk ragu.


"MasyaAllah, apa ini sebuah kebetulan? Saida menyukai Anda, dia senang dengan lukisan yang Nona buat. Dia berharap suatu saat nanti bisa bertemu dengan Anda, Nona," ungkap Yara membuat Ayana terbelalak.


Ia tidak menyangka jika takdir rencana Allah benar-benar luar biasa. Ia tak menyangka putri kedua presdir Han pun menyukai seni.

__ADS_1


"MasyAllah, tidak ada yang serba kebetulan, Nyonya. Semua ini sudah menjadi bagian dari rencana Allah," ucap Ayana, "dan lagi ... tidak usah memanggil saya Nona, panggil Ayana saja," lanjutnya.


Yara mengangguk mengiyakan. "Baiklah."


"Kalau begitu bisakah saya bertemu dengan beliau?" pinta Ayana kemudian.


Mendengar itu tiba-tiba saja air muka Yara berubah. Ada ketakutan serta kekhawatiran tersimpan apik di balik sorot matanya.


Ayana pun kembali mengerutkan kening melihat perubahan tersebut.


"Apa Nyonya khawatir?" tanya Ayana langsung.


"Em, begitulah. Karena selama ini Saida tidak pernah bertemu orang lain, kecuali orang tuanya, kakak kandungnya, dan juga pihak medis," balas Yara menoleh pada wanita muda di sebelah.


"Saya mengerti, tetapi Anda tidak perlu khawatir. Nona Saida pasti akan baik-baik saja, buktinya beliau sudah memenangkan berbagai piagam lomba, kan?" Ayana menggulirkan bola mata ke arah rak yang diisi oleh berbagai macam piagam serta penghargaan.


"Lomba musik klasik? Nona Saida pintar bermain biola?" tanya Ayana kala menangkap penjelasan di sana.


Yara pun mengikuti arah pandangannya lalu mengiyakan. "Itu benar, Saida senang mengikuti lomba. Dia pandai bermain biola, tetapi ayahnya tidak setuju jika dia harus tampil ke khalayak ramai. Presdir Han tidak mau melihat Saida kembali dibully dan membuatnya malu."


"Dia merekam penampilannya sendiri, tetapi hanya biola dan kedua tangannya saja yang diperlihatkan. Saida tidak ingin mengecewakan ayahnya," lanjut Yara.


Ayana terkesima mendengar hal tersebut dan semakin penasaran siapa Saida ini sebenarnya. Ia yakin wanita itu pasti seorang anak yang luar biasa.


Terbukti dari berbagai perlombaan yang ia ikuti selalu mendapatkan juara ke satu.


"Saya tidak sabar ingin bertemu dengan wanita hebat ini," kata Ayana sembari mendongak menyaksikan piagam lain di atas lemari.


Yara menolehkan kepalanya melihat binar harap di dalam sorot mata Ayana. Kedua tangannya meremas kuat pakaian di atas pangkuan.


...***...


Danieal tiba di gedung apartemen yang dibeli Ayana untuk Bening. Ia menuju ke lantai sepuluh hendak menemui sang penghuni.


Setibanya di sana ia memasukan kata sandi dan melenggang masuk begitu saja. Layaknya rumah pribadi, Danieal mengedarkan pandangan ke segala arah.

__ADS_1


Ia sudah menganggap Bening seperti kakak kandungnya sendiri. Ia pun mulai mencari keberadaannya untuk menanyakan keberadaan sang adik.


Ia lalu membuka salah satu pintu ruangan di sana. Ia terkejut melihat Bening tengah duduk di depan tiga layar komputer yang dibentuk agak cekung.


Ia melihat punggung ramping itu terus bergerak ke sana ke mari menyaksikan isi di dalam layar.


"Mana salam mu? Apa kamu tidak ingin mengucapkan salam?" Suara Bening menginterupsi, Danieal sadar dari lamunan.


"A-ah, assalamu'alaikum, Mbak," ucapnya kemudian.


"Em, wa'alaikumsalam, Ayana tidak ada di sini." Bening kembali memberikan sebuah pernyataan yang membuat Danieal terkejut.


Dia seolah bisa membaca pikiran, ungkap sang dokter dalam diam. Danieal mematung di ambang pintu menyaksikan apa yang tengah dilakukannya.


Suara ketikan di keyboard pun mengenyahkan keheningan. Wanita itu nampak fokus pada pekerjaannya sendiri mengabaikan keberadaan dokter tampan tersebut.


"Apa kamu masih mau di sini atau pulang?" tanya Bening lagi.


Danieal sekarang mulai bergerak melangkahkan kaki ke dalam. "Apa yang sedang Mbak lakukan?" tanyanya kemudian.


"Seperti yang kamu lihat aku sedang melakukan pengintaian." Bening nampak serius melakukannya.


Danieal mencondongkan badan sedikit ke depan melihat apa yang ada dalam ketiga layar tersebut.


"Wah, Mbak benar-benar luar biasa. Bagaimana bisa dalam semalam Mbak bisa mendapatkan informasi sebanyak ini?" tanya Danieal terkesima.


"Itu mudah, sekarang kamera keamanan sudah ada di mana-mana," balas Bening menatapnya sekilas.


Danieal mengangguk berkali-kali. "Mbak melakukan ini untuk Ayana?" tanyanya lagi.


"Em, untuk siapa lagi? Sejak Erina meninggal ... Mbak ingin membantu Ayana sepenuhnya. Karena bagi Mbak ... Ayana sudah seperti anak sendiri. Wanita itu sudah banyak melalui kesedihan dan juga ... Ayana telah memberikan semangat pada Erina untuk tetap bertahan."


"Namun, kita hanya bisa berencana dan yang menentukan adalah Allah. Mbak senang melihat Erina tersenyum manis lagi di tengah penyakit yang dideritanya dan ... itu semua berkat Ayana." Bening mendongak membalas tatapan dokter muda itu.


Danieal tercengang lalu kembali menganggukkan kepala. "Pengaruh Ayana sungguh hebat. Aku bisa melihat ketulusan dalam dirinya."

__ADS_1


Bening pun mengiyakan, dan mereka bekerja sama untuk menyusun informasi yang didapatkan.


__ADS_2