Bunga Air Mata

Bunga Air Mata
SEASON 2 CHAPTER 59


__ADS_3

Hari demi hari berlalu, sampai tidak terasa dua bulan bergulir dengan cepat.


Musim pun sudah berganti menghadirkan harapan baru.


Masa yang telah terjadi bagaikan angin lalu tidak usah dikenang lagi. Seperti sebuah catatan lebih baik ditutup jangan dibuka kembali.


Waktu terberat sudah usai dilewati. Hari kemarin bagaikan duka nestapa tiada akhir.


Kenyataan memberikan tamparan begitu kuat, melayangkan fakta mencengangkan.


Orang yang menghadirkan luka tidak lain dan tidak bukan adalah orang terdekatnya.


Namun, semua hanyalah masa lalu. Ayana sudah tidak ingin mengungkit hal yang baru saja terjadi.


Sekarang ia kembali fokus kepada kehidupannya lagi. Sebagai seorang istri dan pelukis membutuhkan banyak waktu untuk mengerjakan keduanya.


Selama dua bulan ia mengabdikan diri sebagai istri terbaik dan menerima beberapa pesanan dari penikmat seni.


Sama seperti hari ini, ia kembali bekerja di galeri.


Banyak pengunjung terus berdatangan, terlepas dari kejadian menerpa berkah yang didapati Ayana sungguh luar biasa.


Galerinya mendapatkan pengunjung dua kali lipat lebih banyak dari sebelumnya. Ia sampai kewalahan menghadapi para customer.


Di balik itu semua, Ayana sangat bahagia bisa merasakan hikmahnya.


Sedari tadi ia terus berkutat di ruangan samping kasir. Cat demi cat minyak bertebaran di sana sini kembali memberikan gradasi khas pada abaya putihnya.


Ia senang bisa berada di dunianya sendiri lagi, bagaikan tersedot ke dalam cerita dongeng, guratan demi guratan kuas menari indah di atas kanvas.


Lengkungan bulan sabit pun menemani suka cita mengantarkan serta menuangkan imajinasi lewat lukisan.


Di tengah kesibukan, seseorang masuk ke dalam ruangan. Ayana sedikitpun tidak terusik akan suara pintu terbuka di belakangnya.


Ia terus berkonsentrasi kepada pekerjaannya mengabaikan semua hal.


"Em, Mbak... Mbak Ayana." Panggil Seruni, tetapi tidak ada satupun yang mendapatkan jawaban.


"Mbak Ayana!" Panggilnya lagi seraya menepuk pundak sang empunya pelan.


Sontak Ayana pun tersentak dan sedikit berteriak.


"Astaghfirullahaladzim, Seruni? Ada apa?" tanyanya setelah sedikit tenang.


Seruni terkekeh pelan dan meminta maaf sudah mengejutkannya.

__ADS_1


"Di depan, Mbak. Di depan ada seorang wanita sedang menggendong bayi menanyakan Mbak Ayana," jelasnya.


"Wanita menggendong bayi? Siapa?" tanya Ayana mengerutkan dahi dalam.


"Aku juga tidak tahu, Mbak. Sepertinya aku belum pernah bertemu dengan wanita itu," ungkap Seruni meletakkan jari telunjuk di bawah dagu seraya menerawang ke atas.


Ayana lalu bangkit dari kursi melukisnya dan meletakkan kuas di dudukan kanvas.


"Baiklah kalau begitu aku akan ke depan," ungkapnya melepaskan apron melukis.


Setelah itu Ayana berjalan ke luar ruangan menemui wanita yang tadi disebutkan Seruni.


Tidak lama berselang ia menangkap siluet seseorang tengah berdiri memunggunginya.


Ayana berjalan perlahan-lahan mencapai sosok tersebut.


"Apa ada yang bisa saya bantu?" tanya Ayana ramah.


Sedetik kemudian wanita itu pun berbalik dan mengulas senyum lebar.


Kedua mata Ayana terbelalak dengan bibir ranumnya terbuka. Ia menunjuk ke arah sang wanita berusaha berbicara agar tidak terdengar kaku. Namun, tetap saja rasa tidak percaya itu membuatnya gugup.


"Ki-Kirana?" Panggilnya pelan.


Kirana, wanita itu nampak berbeda dengan memangkas rambut panjangnya menjadi sepundak.


Sejak malam itu, Kirana meminta izin kepada Zidan dan Ayana untuk membawa Raima menemui istri dari mantan kekasihnya, Ihsan.


Karena mengetahui alasannya, baik Ayana maupun Zidan mengizinkan putri angkat mereka dibawa oleh ibu kandungnya.


Keduanya juga berharap hubungan mereka bisa berjalan baik-baik saja dan bisa bekerja sama membesarkan Raima.


Namun, setelah hari itu Ayana dan Zidan tidak lagi mendengar kabar apa pun darinya.


Setelah dua bulan berlalu, Kirana kembali datang mengejutkannya begitu saja.


...***...


Kafe yang berada tepat di depan galeri magnolia menjadi pilihan keduanya untuk menetap di sana.


Semua pelayan yang berada dalam naungan keluarga Arsyad pun kembali berjaga-jaga kerap kali Ayana mengajak seseorang datang ke sana.


Sudah menjadi kebiasaan, mereka akan waspada kepada siapa pun orang yang bersama tuannya.


Kali ini Ayana meminta pada mereka untuk tidak terlalu memfokuskan diri kepadanya, sebab sang pelukis pikir Kirana bukanlah musuh yang harus ikut digulingkan.

__ADS_1


"Jadi, ada apa kamu menemui ku?" tanya Ayana penasaran lalu menyesap teh hijaunya pelan.


Raima yang sudah berusia tujuh bulan pun berceloteh ringan. Melihat itu Ayana tidak sanggup untuk tidak tersenyum, hingga sang bayi merentangkan kedua tangan ke hadapannya minta digendong.


Ayana pun langsung mengambil alih Raima yang kini tengah duduk di pangkuannya.


"Dua bulan sudah berlalu, Ayana. Apa kabarmu?" tanya balik Kirana tanpa membalas pertanyaan tadi.


"Alhamdulillah, aku dan mas Zidan baik-baik saja," balas Ayana begitu saja.


"Alhamdulillah, syukurlah aku senang mendengarnya," jawab Kirana.


Mendengar perkataan itu seketika membuat Ayana terpaku.


Ia sadar jika saat ini baik penampilan Kirana maupun sikapnya sudah sangat berbeda.


Ia tahu sesuatu telah terjadi.


"Kamu? Bagaimana denganmu?" tanya Ayana lagi.


Kirana mengulas senyum lalu melepaskan kontak mata, memandang ke samping jendela.


"Sejak ayah Raima mengakuinya sebagai anak, hidupku banyak berubah. Aku bersyukur kamu hadir di kehidupanku dan memberikan harapan baru."


"Setelah aku meminta Raima untuk menemui istri mas Ihsan, pada saat itu aku memang menerima cercaan serta makian yang dilayangkannya. Dia menamparku kuat dan juga mas Ihsan."


"Tetapi, setelah kami menjelaskannya Moana, istri mas Ihsan mau menerima keberadaan Raima. Bahkan tidak hanya beliau saja, dua keluarga mereka juga menerima Raima dengan baik," lanjut Kirana kembali mengulas senyum lembut.


Mendengar penjelasan tersebut Ayana turut senang dan mengecup pipi gembul Raima.


"Alhamdulillah, aku senang mendengarnya. Semoga Raima bisa tumbuh dalam lingkungan baik," kata Ayana melengkungkan kedua sudut bibit membentuk kurva sempurna.


"Semua berkatmu, Ayana. Aku mendatangi mu ke sini ingin meminta maaf."


"Maaf aku pernah punya niat untuk menghancurkan rumah tangga kalian. Aku sadar kamu... bukanlah wanita yang bisa aku hadapi. Karena kamu wanita kuat yang bisa melawan setiap hal mengganggu kehidupan mu. Aku-"


"Tidak Kirana, semua adalah rencana Allah. Kebaikan apa pun yang kamu lihat dariku itu datangnya dari Allah dan... segala bentuk keburukan yang terlihat dariku itu murni... dari diriku sendiri," potong Ayana cepat membuat Kirana terpaku.


"Kamu... benar-benar luar biasa. Aku sadar saat melihatmu menghadapi tetua Ashraf. Jujur saja, wanita tua itu sempat memintaku untuk memisahkan kalian, tetapi aku sadar jika kamu bukanlah wanta yang mudah disingkirkan."


"Juga, aku juga menyadari... aku hanya dimanfaatkan saja oleh wanita tua itu," celoteh Kirana lagi.


Ayana kembali mengulas senyum mendengarkan semua ucapannya.


"Em, aku juga sadar, tetapi semua yang sudah berlalu anggap saja sebagai mimpi di siang bolong tidak usah diungkit-ungkit lagi," balas sang pelukis.

__ADS_1


Kirana mengangguk paham, mengerti akan semua yang sudah mereka hadapi.


__ADS_2