
Semua yang berarti bisa saja pergi meninggalkan. Tidak ada kata selamanya di dunia ini selagi waktu terus berputar.
Kesedihan maupun kebahagiaan akan terus bergulir sebagaimana semesta menuliskan. Kata tidak mungkin hanyalah sebuah praduga yang mendeteksi kekeliruan.
Sejatinya jika Allah sudah berkehendak tidak ada yang tidak mungkin. Hingga akhir waktu, jika napas masih berhembus semuanya bisa saja berubah.
Yakin dan percaya serta serahkan semuanya pada sang pencipta maka akan meringankan beban.
Jalanan ibu kota di sore hari dihiasi banyak sekali kendaraan. Roda empat terus berseliweran menuju tempat tujuannya masing-masing.
Salah satu di antara mereka, Ayana terus memindai mobil yang melaju tepat di depan. Tanpa ekspresi, ia terus mengikuti ke mana sosok itu membawanya pergi.
Kirana melajukan mobilnya dengan kecepatan lumayan tinggi. Kedua tangannya meremas kuat stir melampiaskan perasaan terdalam.
Sorot matanya yang tajam memandang lurus ke depan. Entah kenapa tiba-tiba saja kekesalan melingkupi diri.
Kurang lebih satu setengah jam kemudian, mereka tiba di sebuah taman. Tempat itu sudah berbeda kota dengan kediaman Ayana maupun Kirana.
Setelah memarkirkan mobil, keduanya turun dari kendaraan masing-masing lalu saling menoleh.
Kirana melengos melangkahkan kaki tidak sepatah kata pun keluar dari bibirnya. Ayana yang menyaksikan itu mengikutinya kembali.
Langkah demi langkah kedua wanita tersebut membawanya ke sebuah danau. Airnya sangat hijau, dihiasi pepohonan rindang serta rumput liar yang dirawat secara alami, memanjakan mata.
Kirana diam tepat di tepi danau, irisnya memindai lekat ke arah air jernih di tengah-tengah.
Tidak lama berselang, Ayana juga tiba tepat di sebelah wanita tersebut.
"Bertahun-tahun aku dan Eliza selalu menghabiskan waktu bersama di sini. Taman ini memiliki sejarah penting bagi kami berdua."
"Eliza gadis yang sangat baik, periang, manis ... banyak orang yang menyukai sifatnya itu. Terkadang aku juga iri dengan kehidupannya."
"Dia lahir dari keluarga baik serta harmonis. Orang tua dan kakaknya, begitu memanjakan ia layaknya seorang putri."
"Sampai ... sikap baik hatinya itu membuat salah satu dosen di tempat kita kuliah jatuh hati. Pria tidak bermoral itu melecehkannya membuat Eliza trauma dan depresi."
__ADS_1
"Kejadian itu benar-benar membuatku terpukul juga. Menyaksikan sahabat yang aku kasihi berubah total seratus delapan puluh derajat. Aku sangat membenci pria tua itu," tutur Kirana geram seraya menggenggam kedua tangan erat.
Ayana yang menyadari betapa berharganya Eliza bagi Kirana pun mengulas senyum manis. Sedari tadi ia terus memperhatikan sosok di sebelahnya yang menahan amarah.
"Aku mengerti apa yang kamu rasakan terhadap Eliza. Karena aku pun ... pernah mengalaminya. Tidak mudah memaafkan sang pelaku atas kelakuannya yang benar-benar tak bermoral."
"Aku juga turut sedih atas kepergian Eliza akibat kejadian mengerikan itu. Aku pun pernah memutuskan untuk mengakhiri hidup. Karena yah, tidak mudah menjalani kehidupan dengan bayang-bayang menyakitkan."
"Namun, berkat kebaikan mas Danieal dan orang tuanya ... membuatku sadar untuk terus melanjutkan hidup dan berusaha berubah menjadi lebih baik," balas Ayana menceritakan sepenggal kisah yang pernah dilalui.
Kirana menoleh seraya melebarkan pandangan tidak percaya. Ia kembali bertemu dengan sosok yang memiliki jalan kehidupan sama seperti Eliza.
Namun, sedetik kemudian ia memalingkan wajah lagi dengan menunduk dalam. Irisnya melihat ke bawah di mana kedua kakinya tengah menapak tepat di atas rumput hijau.
"Tidak, wanita ini bukan Eliza. Siapa pun tidak ada yang bisa menggantikannya," benak Kirana terus berkecamuk.
Merasakan tidak ada pergerakan apa pun di sebelah, Ayana memalingkan kepala berhijabnya lagi. ia mendapati Kirana tengah membungkam mulut rapat, dadanya naik turun seolah menahan amarah.
"Aku tahu apa yang kamu pikirkan."
Perkataan itu seketika menarik atensinya lagi. Kirana mendongak membalas manik jelaga sang lawan bicara.
"Kamu pasti berpikir aku sudah menggantikan posisi Eliza di keluarga itu, kan? Ah, atau ... kamu pasti mengira aku sudah merebut kehidupan Eliza dan seharusnya kamu yang berada di posisi ini, kan?" Senyum penuh makna pun mengembang di bibir ranum Ayana.
Kirana semakin mengeratkan kepalan tangannya, lalu menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan.
"Bagaimana kamu-"
"Semuanya terlihat jelas dari kedua matamu, Kirana," potong Ayana cepat.
Kirana semakin terperangah mendengar kata-kata wanita di hadapannya. Ia kembali diam memandangi sorot mata penuh makna itu.
"Siapa wanita ini sebenarnya? Apa yang dia miliki sampai-sampai keluarga Arsyad mengangkatnya sebagai anak? Bagaimana bisa dia tahu apa yang aku pikirkan?" benak Kirana masih memandangi Ayana.
"Jika sudah tidak ada lagi yang ingin kamu katakan, aku permisi dulu." Ayana menyadarkannya dari lamunan lalu berjalan menjauh.
__ADS_1
"Tunggu! Kenapa kamu buru-buru pergi?" Cela Kirana cepat membuat Ayana menolehkan kepala ke samping.
"Aku harus pulang ... sebelum suamiku tiba. Assalamu'alaikum," ungkapnya kemudian benar-benar pergi meninggalkan Kirana seorang diri sana.
"Jadi, dia sudah bersuami?" gumamnya kemudian.
...***...
Sepanjang jalan menuju kembali ke ibu kota, Ayana terus diam seribu bahasa. Di sekitarnya hanya terdengar deru mesin mobil yang saling bersahutan.
Sejak meninggalkan taman tadi, begitu banyak pikiran berkeliaran dalam kepalanya. Ia tidak menyangka bertemu dengan masa lalu sang kakak sekaligus sahabat Eliza.
Ia tidak pernah berpikir untuk merebut kehidupan orang lain ataupun menggantikan siapa pun. Ia hanya dipertemukan dengan orang-orang baik yang membantunya untuk kembali bangkit.
Langit sudah berubah menjadi gelap. Kepala berhijabnya mendongak sekilas memandanginya. Tidak ada bintang maupun bulan, hanya ada awan kelabu mendominasi.
"Eliza ... apa kamu pikir aku merebut kehidupanmu?" gumamnya kemudian.
"Apa yang aku rasakan ini benar-benar tidak nyaman. Entah kenapa aku seolah sudah merebut kehidupan orang lain."
"Kirana ... wanita itu sebenarnya menginginkan berada di posisiku. Menjadi anak dari tuan dan nyonya Arsyad, ya Allah, apa hamba salah sudah mengambil bagian di keluarga mereka?" ucapnya lirih.
Tanpa sadar air mata menetes tak tertahankan.
"Tidak, kamu tidak boleh cengeng Ayana. Kamu tidak usah menangis, selama ini kita baik-baik saja. Aku juga tidak tahu ada Kirana sebelumnya, jadi ... semua akan baik-baik saja," celotehnya menyemangati diri sendiri.
"Aku yakin tidak ada yang terjadi," lanjutnya lagi.
Namun, tidak ada yang tahu seperti apa esok hari. Kedatangannya hanya menjadi sebuah misteri memberikan kejutan tak terpikirkan.
Semua itu sudah menjadi bagian dalam takdir dan rencana Allah. Apa pun yang terjadi pasti ada kebaikan di dalamnya.
"Baiklah, kita hadapi saja apa pun yang terjadi nanti," kata Ayana kembali seraya menginjak gas melajukan kendaraan roda empatnya membelah angin malam.
Terkadang hidup yang kita jalani tidak seperti yang diharapkan. Air mata, kekecewaan, rasa sakit, terus membayangi jalannya kehidupan.
__ADS_1
Kadang kala amarah mengalihkan keinginan yang tidak tergapai. Egois membentuk kepiluan kala yang diharapkan tidak kunjung datang.
Namun, itu adalah cara Allah agar melihat siapa di antara hamba-Nya yang bersabar. Agar kelak Allah memberikan yang terbaik dan siap untuk menerimanya.