
Pasang surut kehidupan terus berganti, ujian demi ujian datang menjadi sebuah pelengkap yang bisa mendatangkan kebaikan.
Air mata menjadi teman setia di kala kesusahan menghadang. Segala macam emosi berkeliaran membentuk sebuah angan dan harapan.
Luka masa lalu akan tetap ada, meskipun waktu berputar dan masa memberikan kenangan baru. Cerita di hari kemarin tidak bisa dihapuskan begitu saja, selamanya ada dan hanya bisa dilupakan serta digantikan menjadi lebih baik.
Kejadian yang menimpa Jasmine memberikan pelajaran berharga jika hidup harus banyak bersyukur. Apa pun yang terjadi, bagaimanapun kisah dilewati, tetap terima dengan baik. Karena itu semua sudah menjadi ketentuan Illahi Rabbi.
Langit sangat cerah siang ini, matahari bersinar terang menyinari setiap insan di bumi. Sesekali angin sejuk datang menambah keceriaan.
Di tengah hiruk pikuk aktivitas yang terjadi di luar sana, Ayana sedang menikmati kesendirian. Di temani segelas minuman dingin ia berada di taman belakang.
Ia duduk di bangku memandangi tanaman hias tumbuh subur di sana. Bibir ranumnya melengkung sempurna melihat bunga-bunga bergoyang ke sana kemari tertiup angin layaknya tengah menari.
"Terlalu banyak kisah yang terjadi. Terlalu berat ujian jika dilihat dari satu sisi, terlalu kias cobaan untuk menyadarkan. Sejatinya, hidup tidak lepas dari tuntutan dan cobaan, tetapi ketika melihat di sisi yang lain ada kebaikan menyertai."
Ia menghela napas pelan lalu mendongak melihat awan berarak di atas sana.
"Terima kasih ya Allah sudah memberikan kejadian demi kejadian yang mendatangkan keajaiban. Engkau Maha Pengasih dalam memberikan kebaikan," racaunya lagi.
Ia menutup mata menikmati keheningan kian menyapa. Kepala berhijabnya menyandar pada kepala kursi kayu membiarkan pikiran relaks sejenak.
Di tengah kesendirian, langkah demi langkah seseorang perlahan mendekat. Sosok sang pujaan hadir berjalan ke belakang istri tercinta.
Ia memberikan kecupan lembut di benda kenyal ranum nan manis pasangan hidupnya.
Seketika itu juga manik bulan Ayana membulat lebar. Tatapan mereka pun saling beradu menyelami keindahan masing-masing.
Bibir menawan sang suami melengkung sempurna, kedua tangan tegapnya menangkup pipi Ayana hangat.
Tidak ada satupun dari mereka yang mengalihkan pandangan. Seperti waktu berhenti detik itu juga memberikan kesempatan kepada pasangan suami istri tersebut menikmati keharmonisan.
"I love you."
Tiga kata mengalun, menelisik indera pendengaran, hingga sampai ke relung terdalam. Ayana tidak bisa berkata-kata menyaksikan sorot mata teduh nan memuja pria idamannya.
__ADS_1
Degup jantung kedua insan itu pun saling bertalu kencang. Suaranya mengalun memberikan ketenangan, bersahut-sahutan dengan angin yang menerbangkan pepohonan di sekitar.
Perlahan, tapi pasti kepala bersurai lembut Zidan kembali mendekat. Seakan mengerti keinginan suami tampannya, sepasang jelaga Ayana menutup lagi.
Sedetik kemudian penyatuan terjadi. Di awali dengan sentuhan lembut berubah menjadi liar. Dengan posisi seperti itu memberikan tantangan tersendiri bagi keduanya.
Sang surya dan alam sekitar menjadi saksi bisu seperti apa syahdunya penyatuan yang mereka lakukan. Lama kelamaan gerakan-gerakan impulsif tersebut menjadi lebih sensual.
Beberapa saat kemudian, pertarungan benda kenyal mereka berakhir. Keduanya kembali saling tatap dengan lengkungan bulan sabit menghiasi wajah tampan dan cantik mereka.
Zidan mengusap bibir merah Ayana pelan seraya mengangguk-anggukan kepala.
"Sangat manis," gumamnya.
Ayana tidak kuasa menahan malu, wajah putihnya merona, kedua matanya berkedip-kedip menggemaskan.
Zidan pun berjalan ke hadapannya dan bersimpuh seraya menggenggam tangan sang kekasih hati.
"Aku ingin menua bersamamu, Sayang. Bagiku... mendapatkan kamu kembali adalah anugerah tak ternilai. Allah sangat baik menjadikan kamu sebagai istriku. Maaf, sempat memberikan luka di hatimu," kata Zidan mengungkapkan isi hati terdalam.
Ayana tidak kuasa menahan kebahagiaan, sedari tadi sudut bibirnya melengkung membentuk kurva sempurna.
Sedetik kemudian Ayana melemparkan diri memeluk erat tubuh kekar Zidan. Aroma maskulin yang begitu ia dambakan kembali membuatnya nyaman.
"Aku sangat mencintaimu. Terima kasih sudah menerima semua kekuranganku. Aku... minta maaf tidak bisa menjadi istri sempurna bagimu. Karena aku... belum juga memberikan keturunan. Aku-"
Secepat kilat Zidan menarik tubuh istrinya dan memandanginya dalam.
Ditatap sebegitunya oleh sang suami, Ayana tercengang, tidak percaya. Ini pertama kali ia melihat Zidan seserius itu serta ada guratan kesedihan di dalamnya.
"Jangan berkata seperti itu... kamu sempurna di mataku, Sayang. Aku kembali padamu bukan semata-mata untuk mendapatkan keturunan, tetapi... aku ingin menua bersamamu."
"Tidak... bukan hanya menua saja, tetapi aku ingin kita sama-sama berada di jannah-Nya. Semoga Allah meridhoinya," ungkap Zidan lembut nan halus.
Ayana kembali tercengang, menyaksikan keseriusan sang suami. Jantungnya terus menerus bertalu kencang mendapatkan pengakuan tersebut.
__ADS_1
"Aamiin, terima kasih banyak. Aku akan berusaha menjadi istri terbaik untukmu. Aku juga ingin menua bersamamu... dan berada di jannah-Nya denganmu, Mas," aku Ayana jujur.
Zidan mengulas senyum haru dan menarik pelan istrinya lagi ke dalam pelukan.
Mereka saling berpelukan erat menyalurkan kasih sayang lewat sentuhan.
Tanpa keduanya sadari, sepasang jelaga melihat ungkapan tersebut dari lantai dua.
Seorang wanita berhijab putih tersenyum hangat menyaksikan adegan drama suami istri itu dalam diam.
Perasaannya ikut senang dan bahagia atas cinta yang mereka miliki.
Sedetik kemudian kepalanya mendongak menyaksikan langit siang ini.
"Ya Allah, terima kasih atas segala nikmat yang Engkau berikan. Berkahilah rumah tangga Ayana dan mas Zidan, semoga mereka bisa menjadi suami istri terbaik. Serta berikanlah keturunan yang sholeh dan sholehah, aamiin."
Sebait doa pengharapan dari Jasmine terucap dari bibir tipisnya. Angin mengambil alih dan menerbangkannya ke angkasa lepas.
Ia kembali tersenyum mengingat perjuangan Ayana agar dirinya bisa melihat warna-warni dunia sesungguhnya.
Sekarang ia bisa melihat semua itu berkat bantuan Ayana dan juga orang-orang di sekitarnya.
"Ayana... wanita hebat yang berhasil menarik ku dari kegelapan. Aku masih tidak bisa membayangkan jika di balik ketegaran serta ketangguhannya, menyimpan masa lalu kelam."
"Em, aku percaya semua orang mempunyai kisah kehidupan berbeda-beda. Darinya kita bisa belajar bersyukur dan mendapatkan kebaikan."
"Namun, ada pula yang mendatangkan sebaliknya. Mereka terpuruk dan terus terpuruk hingga pada akhirnya jatuh ke dalam lubang hitam."
"Beruntunglah jika Allah masih memberikan kesempatan hidayah untuk berubah. Tidak ada yang tahu seperti apa masa depan, jadi... percayakan dan serahkan semuanya hanya kepada Allah semata."
"Allah tahu yang terbaik untuk kita, sedangkan... kita hanya bisa berencana. Ya Allah, terima kasih atas perjalanan hidup yang telah Kau berikan," gumam Jasmine masih dengan memandang langit di atas sana.
Bibirnya melengkung meluapkan kelegaan serta kesenangan yang ia dapatkan. Hidayah itu sangat berharga dan butuh keistiqamahan luar biasa.
Jasmine Magnolia Mahesa, beruntung bisa merasakan dan mendapatkan kesempatan kedua yang telah Allah berikan.
__ADS_1
"Jasmine!"
Teriakan itu mengejutkannya, Jasmine menunduk kembali ke bawah melihat Ayana melambaikan tangan. Ia pun membalasnya membuat mereka saling melebarkan senyuman.