
Sore menjelang, langit masih memperlihatkan awan kelabu enggan memberikan sejuknya senja.
Cakrawala memeluk erat kenangan bersama luka tersemat dalam dada. Gelenyar perih merangkul hangat mengiringi setiap peristiwa yang terjadi.
Masa akan mendatangkan kebahagiaan, dan mengembalikan kepedihan. Meskipun dengan jalan cerita berbeda, tetapi maknanya tetap sama.
Selepas menikmati riaknya air danau di taman luar kota, Ayana mendatangi galeri.
Jam sudah menunjukkan pukul setengah enam, sebentar lagi azan maghrib berkumandang.
Baru saja Ayana memarkirkan mobil, netra jelaganya langsung memandang ke depan. Ia terpaku menyaksikan sosok sang suami tengah memandanginya lekat.
“Ayana.” Panggil Zidan pelan dan menghampiri keberadaan istrinya.
Kini sepasang insan itu pun saling berhadapan, menyelami keindahan bola mata masing-masing.
Seperti saat pertama kali bertemu lagi setelah satu setengah tahun berlalu, Ayana memperlihatkan wajah datar.
Bak tanpa emosi, air mukanya benar-benar dingin, sedangkan Zidan tersenyum haru. Bulir demi bulir air mata merembes di balik kelopaknya, tetapi tidak sedikit pun membuat sang istri terpengaruh.
“Mas datang?” tanya Ayana kemudian.
Zidan terkesiap lalu membuang muka sekilas lalu mengangguk singkat.
“Em, aku datang,” balasnya.
Kini Ayana mengangguk beberapa kali, tanpa mengatakan apa pun lagi kedua kakinya melangkah meninggalkan Zidan begitu saja.
Melihat hal tersebut sang pianis lagi-lagi terkejut bukan main. Ia tidak menyangka sikap Ayana berubah dingin.
Ia merasa sang istri seolah tidak terjadi apa-apa. Perasaannya semakin tidak nyaman dan karuan, buru-buru Zidan menyusulnya ke dalam.
Di ruangan tersebut Ayana berusaha berkonsentrasi menuangkan imajinasi ke bentuk lukisan. Garis demi garis gradasi dasar mulai terlihat.
Meskipun kesulitan akibat tangannya terluka, ia tidak mempedulikan hal itu. Baginya sekarang adalah melupakan kepelikkan.
Tidak lama berselang indera pendengaran menangkap langkah kaki mendekat. Tanpa melihat ke belakang, Ayana tahu siapa orang itu.
“Sayang.” Panggil Zidan lagi sembari merangkul bahu sempit sang terkasih.
Ayana menghentikan pergerakan, tanpa sadar melepaskan kuas, jatuh begitu saja ke atas lantai. Ia terdiam kaku merasakan hembusan napas hangat menyapa kulit leher.
“Aku minta maaf. Kemarin kamu juga tidak pulang ke rumah, aku benar-benar khawatir, Sayang,” jelas Zidan.
__ADS_1
Secepat kilat Ayana melepaskan rangkulan sang suami lalu berbalik menghadapnya. Wajah datar itu masih terlihat membuat Zidan merenggut sedih.
“Ada apa dengan wajahmu, Mas?” tanya Ayana mendapati pipi sebelah kanannya membiru.
“Ah, ini-“
“Apa mas Danieal yang melakukannya? Tadi siang dia memberitahuku jika kalian bertemu.” Ayana mendengus pelan sambil menatap lekat pasangan hidupnya.
“Aku-“
“Harus yah Mas pergi bersama wanita lain? Dan memamerkan seorang bayi pada keluarga besar? Sedangkan Mas sendiri tahu bagaimana keadaan kita?”
“Oh atau Mas memang sengaja ingin mempermalukan ku lagi? Apa tidak cukup selama enam tahun kamu memberikan luka?”
“Apa Mas ingin aku pergi lagi?” tanya Ayana menggebu-gebu.
Zidan menggelengkan kepala berkali-kali seraya berusaha menangkup bahu sang istri. Sebelum itu terjadi Ayana menghempaskan tangannya begitu saja.
“Tidak Ayana. Aku tidak bermaksud untuk memperlakukanmu seperti itu. Justru aku ingin memberikan kejutan, jika-“
“Kenapa tidak membicarakannya lebih dulu denganku? Kenapa harus bersama wanita lain? Mas tahu pernikahan kita dulu dihinggapi orang ketiga, bagaimana akhirnya? Hancur berantakan.”
“Apa Mas tahu? Setiap hari selama dua minggu ini, aku sering diteror oleh keluarga besar mu. Mereka bertanya kapan aku punya anak? Apa rahimku bermasalah? Apa keguguran itu membuatku tidak bisa punya anak lagi? Apa sebenarnya aku mempunyai dendam dan ingin membalas keluargamu dengan memperlakukan kalian?”
Zidan terbelalak melihat air mata meluncur cepat di pipi. Dengan kasar Ayana menghapusnya bersamaan deru napas yang kian memburu.
“Sa-Sayang, Ayana.” Zidan berjalan perlahan mendekati sang pujaan.
Tangan kanannya terulur hendak menangkup pipi Ayana, tetapi lagi-lagi sang empunya menepisnya kasar.
“Lebih baik untuk sementara kita tidak usah bertemu. Melihatmu … mengembalikan luka masa lalu.”
Setelah mengatakan itu Ayana pergi lagi dari hadapan suaminya kembali. Zidan terpaku bak bongkahan es di tempatnya berdiri.
Ia tidak menyangka masalah akan mendatangi pernikahannya lagi. Sekarang bukan tentang orang ketiga, melainkan anak.
...***...
Ayana mendatangi masjid terdekat dan bergegas melaksanakan salat magrib sekaligus isya di sana.
Ia mencurahkan semua perasaan terdalam lewat air mata tanpa suara. Lagi dan lagi luka itu harus tumbuh tidak bisa dicegah.
“Ya Allah jika ujian kali ini semakin mendewasakan hamba … maka berikanlah kekuatan. Hamba percaya anak adalah anugerah yang Kau berikan pada setiap pasangan. Jika memang kami masih belum diberi kepercayaan maka berikanlah ketabahan bagi kami untuk menghadapi setiap pertanyaan menyulitkan itu,” monolog Ayana melambungkan doa pada sang pencipta.
__ADS_1
Saat jam menunjukkan tepat pukul delapan malam, Ayana meninggalkan pekarangan masjid. Ia berkendara membelah angin menuju suatu tempat.
Kurang lebih tiga puluh menit berselang, Ayana tiba di tujuan. Ia memarkirkan mobil di parkir bawah tanah dan langsung menaiki lift.
Pintu lift pun terbuka di lantai lima gedung tersebut. Ayana berjalan keluar dan mendatangi salah satu kamar di sana.
Selesai memberikan kombinasi kata sandi, ia membuka pintu dan masuk begitu saja.
“Assalamu’alaikum,” sapanya hangat.
“Oh ya Tuhan, kamu mengejutkanku Ayana. Wa’alaikumsalam,” balas sang penghuni.
Ayana melepaskan sepatu lalu bergegas mendekat. Ia melihat wanita itu membawa sekeranjang buah kemudian masuk ke salah satu ruangan.
Ayana mengulas senyum mengikutinya, setibanya di sana ia meletakkan tas dan melepaskan mantel cokelat di atas kursi.
“Kali ini apa lagi?” tanya sang lawan bicara.
Ayana bersandar di meja seraya melipat tangan di depan dada.
“Bisa Mbak bantu aku untuk mencari tahu seseorang?” Sang pelukis memandang pada Bening yang tengah memakan buah anggur di hadapannya.
“Itu memang pekerjaanku, Ayana. Siapa? Siapa sekarang?” tanyanya kembali.
Ayana mendengus pelan lalu mengalihkan pandangan ke depan. Sorot matanya berubah menjadi lebih serius nan tajam.
“Kirana Mahesa dan-,” ungkapnya.
“Ki-Kirana Mahesa dan-?”
Bening terbelalak mendengar empat suku kata tercetus dari celah bibir ranum wanita yang sudah dianggapnya sebagai keluarga ini.
Sebiji anggur yang tengah berada dalam genggamannya pun terlepas dan menggelinding ke bawah. Ia melihat sirat ketegangan di balik sorot mata Ayana.
Tanpa ba bi bu, Bening langsung mengeksekusi dua nama tersebut. Ia yakin seyakin-yakinnya rumah tangga Ayana tengah tidak baik-baik saja.
“Aku harus lebih dulu mengetahui siapa orang yang sedang bermain-main di atas cerita ini. Dongeng yang ku buat lewat lukisan nyatanya berubah menjadi nyata?” benaknya gamang.
Di tempat berbeda, Zidan sudah pulang ke rumahnya. Ia duduk termenung memandangi satu-satunya lukisan di studio.
Kedua alis tegasnya saling bertautan erat menyaksikan gambar pasangan yang dihinggapi sepasang manik di balik pohon besar.
“Kenapa Ayana melukis gambar seperti ini?” gumamnya.
__ADS_1