
Satu bulan dua minggu berlalu, musim semi tengah mendatangi ibu kota negara tersebut. Aroma bunga sakura merebak menerbangkan setiap pengharapan bagi jiwa-jiwa pemimpi.
Langit terlihat cerah siang ini, waktu yang cocok untuk menghabiskan hari bersama orang terkasih. Banyak pejalan kaki yang berjalan di trotoar menikmati hembusan angin musim semi.
Saling bergandengan tangan, mereka menebarkan senyum kebahagiaan. Celotehan demi celotehan ringan berdengung satu sama lain.
Di tengah hiruk pikuk orang-orang yang berlalu lalang, di antara mereka seorang wanita berjalan menggunakan dua kruk di masing-masing tangannya pun menelusuri jalanan.
Berkali-kali orang-orang di sekitar membicarakannya. Tanpa mengindahkan mereka ia terus melangkahkan kaki seraya menebalkan muka.
Tidak lama kemudian ia tiba di tempat tujuan dan berdiam diri kurang lebih sepuluh meter dari bangunan di depannya.
"Bukankah itu Bella?"
"Eh, dia Bella, kan?"
"Kenapa penampilannya jadi seperti itu?"
"Ya, aku dengar dia mendapatkan karma dari perbuatannya."
"Aku tidak menyangka dia pianis yang sangat curang."
"Selama ini dia memanfaatkan ketenaran pianis Zidan untuk mendongkrak popularitasnya sendiri. Padahal permainannya sangat buruk."
"Aku dengar dia juga sudah berbuat tidak baik pada pelukis Ayana."
Pembicaraan mengenainya pun terus berdengung. Bella berusaha menahan sekuat tenaga untuk tidak membalas mereka.
Ia menggenggam kruk-nya kuat menyalurkan kekesalan hingga tidak lama berselang orang-orang yang membicarakannya tadi pergi begitu saja.
Sendiri, sepi, nan hening, Bella sudah merasakan akibat perbuatan yang telah dilakukan.
Manik kelamnya menangkap siluet seseorang di balik galeri magnolia. Wanita berhijab itu tengah tertawa riang bersama orang-orang yang datang berkunjung ke sana.
Tanpa sadar air mata menetes tak tertahankan, Bella menghapusnya kasar dan menarik napas panjang lalu menghembuskannya perlahan.
Lama ia diam di sana menyaksikan sang pelukis itu tengah menebar kebaikan pada para pengunjung. Hingga tidak lama setelah itu Bella melihat mereka keluar dan buru-buru pergi dari sana.
Namun, baru saja berbalik tidak sengaja ia menubruk seseorang hingga membuat kegaduhan. Wanita yang tadi ia senggol pun menghentikan langkah dan memberikan tatapan tajam.
__ADS_1
"Kalau jalan lihat-lihat! Apa kamu tidak punya mata? Dasar orang tidak tahu diuntung," ucap wanita itu sarkas mengundang atensi orang-orang.
Bella hanya menganggukkan kepala berkali-kali tidak membalas sepatah kata. Pertengkaran singkat itu menarik para pengguna jalan lain yang ikut memberikan tatapan tak suka.
Ayana yang mengantarkan customer-nya ke pintu keluar tidak sengaja melihat ke depan di mana kegaduhan itu terjadi. Kedua maniknya menyipit memandang seorang wanita ber-mantel cream berambut panjang tengah memunggunginya.
Seakan mengenai sosok itu, Ayana melangkahkan kaki menyebrangi jalan sampai tiba di dekat kafe. Ia melihat wanita tadi melangkahkan kaki menggunakan alat bantu.
"Bella," panggilnya begitu saja.
Sang empunya nama berhenti seketika, jantungnya berdegup kencang mengenali suara itu. Ia pun diam membeku tidak bergerak sedikit pun.
Ayana berjalan ke hadapannya dan seketika itu juga terkejut jika wanita ini benar-benar Bella, mantan madunya sekaligus teman sekelas.
"Bella? MasyaAllah, kamu sudah bisa keluar dari rumah sakit? Em, apa kamu datang ke sini untuk menemui ku? Kenapa tidak datang saja ke galeri, kamu-"
"Aku minta maaf, Ayana. Aku benar-benar minta maaf." Bella bersimpuh di depan Ayana yang membuat para pejalan kaki memandangi mereka.
Ayana yang tidak nyaman menjadi pusat perhatian pun membantu Bella untuk tidak melakukan hal itu.
Bella pun bersikukuh hingga Ayana meminta bantuan pelayan kafe untuk membantunya pergi ke galeri.
Seruni menghidangkan dua gelas teh hijau kesukaan sang owner dan makanan manis. Perhatian Bella tertuju pada minuman tersebut, menatapnya lekat.
"Dari dulu ... kamu menyukai teh hijau. Kenapa? Kenapa Ayana?"
"Karena aku suka dengan rasa pahitnya," balas Ayana begitu saja kemudian menyesap minumannya singkat.
Bella mengangkat kepala, sorot matanya sayu memindai wajah cantik sang lawan bicara yang tengah mengembangkan senyum lembut.
"Kenapa? Kenapa Ayana?" Kembali ia memberikan pertanyaan yang sama.
Ayana terkesiap tidak mengerti. "Aku sudah memberitahumu tadi kan, jika-"
"Bukan itu," potong Bella cepat.
Kedua alis tegas sang pelukis saling bertautan erat. Ia benar-benar tidak mengerti apa yang hendak disampaikan Bella.
Bibir ranumnya mengatup rapat menunggu dengan setia apa yang hendak disampaikan sang sahabat lagi.
__ADS_1
"Kenapa kamu mau membantuku yang jelas-jelas sudah menyakitimu berkali-kali? Aku malu ... aku malu Ayana," ungkap Bella kemudian.
"Eh? Apa yang kamu bicarakan?" tanya Ayana masih tidak mengerti.
"Jangan berpura-pura tidak tahu, kamu sudah meminta mas Danieal untuk membantu menyembuhkan ku, kan?"
Ingatannya pun berputar ke satu bulan dua minggu ke belakang. Pada saat itu Bella terakhir kali bertemu dengan Ayana di rumah sakit.
Sepeninggalan Ayana, Bella benar-benar terpukul. Ia pun menyadari jika hubungan mereka pada masa-masa sekolah dulu bisa dibilang sangat baik.
Di satu sisi Bella sudah menganggap Ayana layaknya saudari sendiri. Ke mana-mana mereka selalu bersama hingga membagi suka dan duka berdua.
Tiga hari kemudian, di saat Bella tengah berusaha menikmati sarapan, tiba-tiba saja pintu inapnya dibuka.
Ia melihat seorang pria berjas putih menyembul masuk, memandanginya lekat. Bella kembali fokus pada makanan mencoba mengabaikan keberadaan sang dokter.
"Jujur, jika bukan karena adikku ... aku tidak mau menjadi dokter yang menangani pasien sepertimu. Bukannya aku tidak profesional, hanya saja-"
"Saya mengerti, silakan jika memang Anda tidak mau menjadi dokter yang menangani-"
"Untuk itu aku akan mengobati mu sampai menjadi lebih baik. Karena kesembuhan hanya Allah yang bisa memberikan."
Sambar mereka saling memotong pembicaraan, tidak ingin kalah satu sama lain.
"Setelah kecelakaan yang menimpamu, Ayana menghubungiku untuk menjadi dokter pribadi bagimu. Setibanya di rumah sakit, Ayana memohon dengan menangis padaku untuk membantu mengobati mu. Kemarin dia juga melakukanya lagi saat mengetahui aku mencoba mengalihkan mu pada dokter yang lain."
"Ayana memohon dengan sangat agar aku bisa mengobati mu, Bella. Aku ... sudah mendengar dari Ayana bagaimana hubungan kalian di masa lalu. Aku turut menyesal atas apa yang terjadi hingga membuat pertemanan kalian menjadi seperti ini."
"Ayana benar-benar menganggap mu seperti keluarganya sendiri. Untuk itu aku akan berusaha semaksimal mungkin menjadi dokter terbaik bagimu, demi Ayana," tutur Danieal membuat Bella tercengang.
...***...
"Sejak saat itu kakakmu terus memberikan pengobatan terbaik untukku. Dia juga sering memberikan nasehat-nasehat yang membuatku sadar ... begitu banyak kesalahan yang sudah aku perbuat padamu, Ayana."
"Aku malu ... benar-benar malu. Kenapa kamu masih mau membantuku? Bahkan sampai kondisiku membaik seperti sekarang itu berkat bantuanmu yang sudah mendorong mas Danieal. Aku benar-benar minta maaf," racau Bella menundukkan kepala dalam menyembunyikan air mata berlinang.
Ayana mengulas senyum lembut, terharu dengan perubahan yang dialami Bella. Ia meremas kedua tangan di atas pangkuan seraya memindai lawan bicaranya lekat.
Ingatan demi ingatan kejadian yang sudah wanita itu lakukan padanya terus berkeliaran. Air mata merembes keluar dari kelopaknya dan mengalir begitu saja. Ayana terus menatap lekat Bella yang tengah terisak dalam tangis.
__ADS_1