
Permasalahan yang menimpa dua sejoli itu masih berlangsung. Sudah hampir satu minggu Ayana tidak pulang ke rumah suami dan lebih memilih tinggal bersama orang tuanya atau Bening.
Dua tempat itu menjadi tempat persinggahannya sementara guna melupakan kepelikkan melanda diri. Anak, kali ini permasalahannya adalah kehadiran sang buah hati yang begitu didambakan.
Bukan tidak menginginkan, tetapi keadaan Ayana jauh lebih berbeda dari sebelumnya.
Meskipun demikian Zidan selalu mendatangi sang terkasih berusaha untuk mengembalikan situasi tegang di antara mereka.
Sebagai seorang suami yang kini mencintai istrinya, Zidan tidak ingin Ayana larut pada kesedihan.
Sang pelukis yang menyadari jika suaminya sudah berbeda dari tahun-tahun sebelumnya pun mulai membuka hati lagi.
Ia tidak sedingin hari kemarin dan bisa menerima keberadaan Zidan.
"Malam ini kamu mau pulang kan, Sayang?" tanya Zidan yang kini mereka tengah menikmati makan siang bersama di kafe dekat galeri.
Ayana menoleh singkat dan berpaling ke sebelah memikirkan pertanyaan suaminya.
"Aku rasa ... bisa," balasnya kemudian dan memasukan kembali sesendok nasi ke dalam mulut.
Zidan tidak kuasa menahan kebahagiaan, bibirnya melengkung sempurna seraya mengusap noda makanan di sudut mulut sang istri.
"Terima kasih, aku sangat senang," ujarnya terharu, Ayana hanya mengangguk dan menghabiskan makanannya.
Kurang lebih dua puluh lima menit berselang, pasangan suami istri itu pun menyelesaikan pesanannya.
Ayana dan Zidan pun sedang berada di depan meja kasir hendak membayar makan siang.
"Ah, lebih baik Mas pergi saja duluan aku harus bertemu mas Arfan," kata Ayana sibuk dengan ponsel di tangannya.
"Apa? Arfan?" Zidan terkejut, tanpa sadar meninggikan suara.
Semua pasang mata yang ada di sekitar seketika tertuju pada mereka. Merasakan itu Ayana mengangkat kepala memandang sekeliling lalu berakhir pada suaminya.
"Apa yang Mas lakukan? Kenapa berteriak seperti itu?" tanya Ayana berbisik.
"Habisnya kamu mau bertemu pria lain." Bibir sang pianis mengerucut, sebal.
Ayana menghela napas kasar, memutar bola mata jengah. "Rekan kerja, Mas. Bukan pria lain-" Ia kembali fokus kepada ponselnya. "Bukankah Mas juga sama saja bekerja sama dengan Kirana?"
Pertanyaan itu pun langsung membungkam mulutnya. Zidan bergerak kaku mengeluarkan atm untuk membayar makanannya tadi.
Pelayan yang tengah berdiri di meja kasir pun berusaha menahan senyum melihat kelakuan putri dari sang tuan bersama suaminya.
"Totalnya jadi tiga ratus lima puluh ribu, pembayarannya menggunakan debit yah Pak," ucap wanita bertopi baret berwarna cokelat tua.
Zidan mengangguk dan tidak lama setelahnya menerima kembali kartu miliknya.
"Kalau begitu Mas pergi dulu, jangan macam-macam dengan Arfan," katanya memandang serius pada sang istri.
"Apaan sih Mas? Yah tidak mungkinlah," jawab Ayana lalu menyalami punggung tangannya singkat.
Zidan pun membubuhkan kecupan hangat di dahi lebarnya. Ia tidak peduli mereka akan menjadi pusat perhatian atau tidak, yang jelas ia ingin menunjukkan jika Ayana hanyalah miliknya.
"Sampai ketemu di rumah," katanya lagi, mengusap puncak kepala sang istri ringan dan meninggalkan kafe begitu saja.
__ADS_1
Sepeninggalan Zidan, seketika itu juga gelak tawa sang kasir menggelegar. Ayana yang sedari tadi bermain ponsel langsung menoleh ke samping.
"Aku tidak menyangka suamimu benar-benar kekanakan, Mbak," katanya kemudian.
Ayana mengulas senyum lembut, mengangguk setuju. "Begitulah, dia memang benar-benar kekanakan."
Kasir wanita itu berusaha menahan senyum, gemas menyaksikan tingkah Zidan tadi, sedangkan Ayana memandang lurus ke arah pintu masuk di mana suaminya menghilang dalam pandangan.
...***...
Ayana yang sedang duduk sendirian dekat jendela dikejutkan dengan kedatangan dua wanita dewasa.
Sedari tadi kepalanya menoleh ke samping pun kini mendongak menyaksikan ibu serta nenek mertuanya hadir.
Ia beranjak dari duduk sambil terbelalak lebar.
"Ma-Mamah? Apa yang sedang Mamah dan Nenek lakukan di sini?" tanya Ayana bingung menatap mereka bergantian.
"Ma-mamah," gugup Lina memandangi menantu dan ibu mertuanya.
"Sudahlah, Mah. Lebih baik kita pergi saja dari sini, jangan menambah keruh keadaan," lanjut Lina berusaha mengajak Basima keluar kafe.
"Lepaskan! Kamu tidak becus menjadi ibu mertua yang tegas untuk Ayana. Lihat! Dia semakin bertingkah seenaknya!" Basima berkata congkak.
"Kami mengetahui keberadaan mu di sini dari karyawan galeri. Katanya, kalian makan siang bersama? Di mana suamimu sekarang?" tanya wanita tua itu lagi.
"Mas Zidan baru saja pergi, Nek. Aku-"
"Lalu apa yang kamu lakukan masih berada di sini?" tanya Basmia lagi.
"Rekan kerja? Apa itu seorang pria?" Ayana mengangguk mengiyakan, "Kamu lihat itu, Lina?" Basima menoleh pada menantunya, "rupanya dia sudah terang-terangan bermain dengan pria lain di belakang suaminya. Apa yang kamu pikirkan, hah? Oh, pantas saja kamu masih belum punya anak. Bukankah ini teguran dari Tuhan karena mempermainkan pernikahan?"
"Kamu sudah hebat bisa bermain dengan dua pria sekaligus. Mamah tidak percaya jika kalian hanya rekan kerja." Basima terus meracau dan kembali memandangi Lina.
Ayana yang mendengar itu pun langsung menautkan kedua alis. Kedua tangannya saling mengepal atas tuduhan tidak mendasar tersebut.
"Mohon maaf sebelumnya, ada keperluan apa Nenek dan Mamah datang ke sini? Saya mohon maaf sebenar-benarnya, jika Nenek menganggap saya seperti itu, lebih baik kalian pergi. Saya-"
"Lihat! Dia bahkan sudah berani melawan Nenek mertuanya sendiri. Bagaimana orang tuanya mendidik dia? Tidak menghormati orang yang lebih tua." Basima memotong perkataan cucu menantunya cepat.
"Saya mohon maaf. Saya memang bukan lulusan sarjana seperti cucu-cucu Nenek, tetapi saya tahu mana yang harus dilakukan. Jadi, saya mohon jika Anda terus menerus akan memojokkan saya seperti ini lebih baik, Tetua Ashraf segera meninggalkan tempat ini," tegas Ayana.
Lina cengo, baru kali ini melihat menantunya seberani sekarang. Ia melihat reaksi Basima yang semakin menatap nyalang padanya.
Bibir merah itu menyeringai dan melipat tangan di depan dada.
"Kami datang ke sini ingin bertemu denganmu," ungkap Basima lagi.
"Saya?" Ayana menunjuk diri sendiri.
Basima pun duduk begitu saja di kursi seberang Ayana. Kedua kaki dan tangannya melipat tegas memandang nyalang sang pelukis.
Merasakan firasat tidak mengenakkan Ayana mengikutinya dan duduk kembali di kursi. Lina yang melihat itu pun mendaratkan diri di sebelah sang ibu.
"Mah, sudahlah jangan menambah masalah lagi. Ayana dan Zidan sekarang sudah baik-baik saja, kita hanya harus menunggu. Tidak bisakah-"
__ADS_1
"TIDAK!" sambar Basima cepat masih tetap memandang nyalang pada lawan bicaranya.
Ayana mulai memahami apa yang sebenarnya terjadi. Jari jemarinya bertautan satu sama lain di atas meja seraya menegakkan tubuh rampingnya.
"Apa ini masalah anak lagi? Harus berapa kali saya katakan jika anak-"
"Jika kamu memang belum bisa memberikan Zidan keturunan maka sangat disayangkan ... kalian harus berpisah dan kamu ... bisa bersama pria itu." Basima memberikan pernyataan telak.
"Apa?"
"MAMAH!"
Ucap Ayana dan Lina bersamaan. Mereka saling pandang terkejut mendengar kata-kata yang dilontarkan tetua Ashraf tadi.
"Sekali lagi saya mohon maaf yang sebesar-besarnya Tetua Ashraf ... meskipun saya banyak sekali kekurangan, tetapi saya tidak pernah bermain api di belakang cucu Anda," ucap Ayana lagi menegaskan.
Basima menyeringai seraya mendengus kasar.
"Apa kamu pikir saya akan percaya?" tanyanya pongah.
"Percaya atau tidak, itu tergantung apa yang Anda pikirkan," balas Ayana serius.
Para pelayan yang sedari tadi mondar-mandir menangkap pembicaraan ketiganya. Mereka saling pandang dan tersenyum singkat kagum pada tindakan yang Ayana berikan.
Lina menghela napas berat, menggenggam tangan ibu mertuanya kuat sambil memberikan tatapan memelas.
"Mah, hentikan. Jangan terus menerus ikut campur rumah tangga Zidan. Apa Mamah lupa? Bagaimana terpuruknya Zidan saat mengetahui Ayana pergi? Dan juga ... Ayana tidak mungkin bermain api di belakang suaminya, seperti ... Zidan."
Basima langsung menatap sang menantu tegas mengingat kelakuan cucunya beberapa tahun lalu.
"Itu karena wanita ini tidak tahu terima kasih. Sudah untung Zidan mau menikahinya, dia malah pergi begitu saja. Sekarang dia kembali bahkan terang-terangan disakiti oleh suaminya, apalagi kalau bukan mengincar harta. Buktinya sampai sekarang dia belum hamil lagi. Dia pasti tidak mau punya anak dari Zidan." Kata-kata Basima tepat mengenai sasaran membuka luka hati kembali mencuat.
Ayana cengo tidak percaya, bibir ranumnya terbuka dengan manik melebar. Ia mendengus sebal seraya menoleh ke samping singkat.
"Hanya satu yang ingin saya tanyakan kepada Anda." Basima pun kembali memandangi Ayana, terkesiap mendapati tatapan serius darinya.
"Apa yang akan Anda lakukan jika mendapati suami bermesraan dengan wanita lain? Apa Anda akan membiarkannya saja? Jadi, selama ini Anda menganggap saya seperti itu? Apa Anda percaya trauma itu nyata?" Ayana terus menghujaninya dengan pertanyaan.
Kedua tangan yang berada di pangkuan mengepal kuat, Basima memberikan sorot mata nyalang. Tubuh ringkihnya bergetar membuat Lina khawatir.
"Ayana, apa yang kamu katakan?" ucapnya berbisik dan sedikit mencondongkan tubuh ke depan.
"Kenapa? Apa Mamah lupa bagaimana kelakuan anak serta cucu kalian terhadap saya? Jika kalian masih ingat, saya keguguran waktu itu karena pembunuhan yang direncakan. Jika saya mau-" Ayana beranjak dari duduk lalu memandangi mereka. "saya bisa menuntutnya!"
Setelah mengetakan itu ia pergi dari hadapan ibu serta nenek mertuanya. Sudah tidak bisa ditahan lagi, rasa sakit semakin naik ke permukaan di relung hati terdalam.
Jika ia masih ada di sana, dikhawatirkan emosi tak terbendung itu bisa meledak kapan saja.
Pernikahan yang ia dambakan nyatanya tidak berjalan mulus. Dari arah samping, depan, belakang, masalah pun menghampiri.
Ayana sadar di balik rumah tangga tidak selamanya kebahagiaan itu bertahan. Akan ada ujian serta musibah yang datang untuk meyakinkan sang nahkoda serta penumpangnya guna mengarungi badai ombak.
Baru beberapa langkah Ayana meninggalkan meja tadi, seketika kakinya terhenti. Sepasang jelaganya memandangi manik kelam sosok yang kini berdiri tepat di hadapannya.
Ayana terbelalak, terkejut bukan main.
__ADS_1