Bunga Air Mata

Bunga Air Mata
Chapter 102


__ADS_3

"Astaghfirullahaladzim, aku tidak menyangka Bella bisa melakukan perbuatan kejam seperti itu? Pantas, pada anak sendiri saja setega itu apalagi pada orang lain? Ia tidak segan-segan memberikan ide gila pada mas Zidan untuk menggugurkan kandunganku." Ayana tersulut emosi saat tahu bagaimana keadaan Bella satu tahun lalu.


Bening memutar kursi kerjanya untuk berhadapan dengan Ayana. Ia menganggukkan kepala sembari menggenggam berkas lain.


"Begitulah, wanita itu bisa melakukan apa pun untuk kepentingan diri sendiri. Wanita workaholic, memang sangat menakutkan," balasnya.


Ayana mengangguk singkat, masih terkejut sekaligus terguncang akan tindakan yang dilakukan Bella.


Ia sangat tidak percaya ada seorang calon ibu melakukan tindakan keji dengan menghilangkan anak sendiri. Ia tidak habis pikir apa yang Bella pikirkan pada saat itu.


"Mbak pun sampai membaca berulang kali saat informasi ini sampai. Mbak terkejut sangat terkejut mendapatinya. Bella ... benar-benar wanita tidak berperasaan," lanjut Bening.


"Bahkan Mbak masih sakit hati saat Erina pergi dan dia-" Kepala berhijab hitam itu menggeleng beberapa kali. "Dia malah membunuh anaknya sendiri."


"Mbak benar, aku pun merasakan hal yang sama. Bella-" Ayana tidak kuasa melanjutkan ucapannya dan menahan tangis dalam diam.


Masih jelas dalam ingatan bagaimana wanita itu memeluk suaminya di sebuah ruangan rahasia seraya menatapnya lekat.


Senyum mengejek yang hadir waktu itu sebagai tanda jika Bella berhasil memanipulasi sang suami untuk mengugurkan kandungannya.


Sampai kejadian tidak diinginkan pun harus terjadi, Ayana mengalami pendarahan sampai kehilangan calon bayinya.


Detik ini ia mendapatkan kabar jika Bella sengaja menggugurkan janin tidak bersalah itu.


"Maafkan ibumu yah, nak. Ya Allah berikanlah kesadaran pada Bella," benak Ayana penuh harap.


"Dan kamu tahu-" Bening kembali berujar, Ayana yang tengah melamun tersadar seketika dan menatap lawan bicaranya lagi.


"Mbak sudah melancarkan rencana kita. Mbak juga menambahkan boneka bayi sebagai efek jera, dan ... Bella sangat terguncang," lanjut Bella lalu menggeser dirinya untuk memperlihatkan sesuatu dalam layar.


Atensi Ayana pun seketika mengarah pada layar komputer tidak jauh dari keberadaannya. Ia melihat sebuah rekaman yang memperlihatkan reaksi Bella pada saat mendapatkan sebuah paket dikirim langsung oleh Bening melalui rekannya.


"Astaghfirullah, pasti siapa pun terkejut mendapatkan hal itu. Mbak benar-benar-" Ayana takjub pada pergerakan yang dilakukan Bening.


Wanita itu tergelak hingga membuat suaranya bergema di ruangan.


"Setelah ini apa yang akan kamu lakukan? Bukankah kamu akan menggelar pesta syukuran di mansion Zidan atas kembalinya kalian berdua dan ... kesehatan suamimu?" ujar Bening lagi.


Ayana mengiyakan, "Mbak harus membantuku, di sana ... aku akan memberikan pertunjukkan terakhir." Sorot mata serius nan tajam hadir.


Bening terkesiap lalu mengulas senyum senang. "Mbak akan membantumu sebisa mungkin."

__ADS_1


...***...


Besoknya, Ayana kembali membuka galeri. Sudah terlalu lama ia meninggalkan toko itu dan menyerahkan pada Seruni sementara.


Melihat kedatangan sang owner wanita itu senang bukan main. Ia bergegas mendekati Ayana yang baru saja masuk.


"Alhamdulillah, akhirnya Bos datang juga," keluh Seruni bergelayut di lengan kanan Ayana.


"Hei, sudah berapa kali aku katakan? Jangan panggil Bos, panggil Kakak saja," oceh Ayana menjitak pelan dahi tegasnya.


Seruni terkekeh lalu melepaskan genggamannya. "Baiklah-baiklah, Kak Ayana."


Sang empunya nama pun mengembangkan senyum. Ia berjalan ke arah tempat kerjanya di samping etalase.


Ia meletakan tas bahu lalu melepaskan mantel yang memeluk tubuh rampingnya.


"Bagaimana keadaan galeri akhir-akhir ini?" tanya Ayana yang menghidupkan laptop.


"Alhamdulillah, lancar banyak customer yang ingin bertemu. Katanya mereka ingin memesan lukisan, ini daftar mereka." Seruni menjulurkan beberapa kertas yang terjepit sebagian di papan dada.


Ayana pun mengambilnya dan melihat lembar demi lembar nama tertuang di atasnya.


Wanita itu mengangguk seraya mengambilnya lalu meninggalkan Ayana untuk melanjutkan pekerjaan.


Selang tiga puluh menit setelah galeri di buka, Ayana mendapatkan satu pengunjung pertama di hari itu.


Aroma parfum bermerk terkenal seketika menyapa indera penciuman.


Ayana yang sedari tadi fokus pada laptopnya pun mendongak. Ia melihat seorang wanita elegan masuk ke dalam toko.


Wajah cantik terbingkai kacamata hitam itu pun semakin menambah daya tarik. Di bahunya yang terbuka tersampir mantel bulu yang bernilai fantastis.


Gaun merah muda sebatas paha memperlihatkan kaki jenjangnya yang begitu mulus. Ayana terpaku dan terkesima akan gaya feminim yang dilakukannya kali ini.


Ia pun bangkit dari duduk menyambut kedatangan sang tamu.


"Selamat datang di galeri magnolia, apa ada yang bisa saya bantu? Oh, ada apa lagi kali ini? Bukankah kita baru saja bertemu di rumah sakit?" tanya Ayana ramah.


"Tidak usah basa-basi, aku datang ke sini ingin mengajukan tuntutan." Wanita itu langsung mencela.


Ayana menyeringai mendengarnya. "Maaf, tuntutan? Apa yang Anda katakan, Bella?"

__ADS_1


Bella membuka kacamatanya memperlihatkan wajah cantik tanpa noda.


"Kamu kan yang sudah meneror ku dan memberikan benda-benda ini?" Bella menunjukan ponsel miliknya pada Ayana.


Sang pelukis itu pun menghela napas dan menolehkan pandangan ke samping sekilas.


"Anda datang ke sini itu artinya ... Anda takut?" tanya Ayana kemudian.


"Takut? Bukankah seharusnya yang takut itu kamu? Aku akan membuat laporan jika kamu sudah meneror dan mengancam ku," gertak Bella.


Ayana kembali mendengus kasar. "Bella-Bella, apa kamu tidak sadar apa yang sudah kamu lakukan saat ini? Di sini? Di galeriku? Di hadapanku?"


Bella menautkan kedua alis terukir halus itu. Ayana mengangkat sebelah sudut bibirnya lagi dan sedikit mencondongkan badan ke depan.


Ia lalu berbisik, "Kamu ... terlihat bodoh."


"A-apa? Berani-beraninya kamu mengatai ku bodoh?"


"Apa kamu datang ke sini untuk mengakui perbuatan kejam mu ini? Aku tidak bermaksud mengumbar atau menggali aibmu, Bella. Hanya saja ... aku membutuhkan itu untuk membuatmu jera. Sudahlah Bella akhiri ... akhiri perbuatan tidak manusiawi mu ini. Allah pasti akan memberikan kesempatan padamu untuk berubah. Kamu-"


"Siapa kamu yang berhak menasehati ku, HAH?" Bella meninggikan suara tidak suka mendengar kata-kata Ayana.


"Aku memang bukan siapa-siapa. Aku juga hanya manusia yang tidak luput dari silap dan salah, tetapi sebagai sesama muslimah ... aku berhak menasihatimu."


"Begitu banyak kesalahan yang sudah kamu buat, mulai dari menusukku dari belakang, membuat anakku meninggal, dan sekarang ingin merebut kembali kehidupanku?"


"Aku hanya ingin kamu sadar sebab ... aku tidak mau melihatmu terus menerus terjerat pada dunia kelam," tutur Ayana panjang.


Bella semakin tersulut emosi, tidak terima mendengar ucapan Ayana untuk kebaikannya sendiri.


"Aku ... turut berbelasungkawa atas janin yang kamu bunuh," lanjut Ayana.


Seketika Bella membola, tidak menyangka jika orang yang sudah mengiriminya terror adalah Ayana. Ia tidak bisa membiarkan wanita itu mengetahui kelemahannya, atau bisa-bisa karier yang selama ini dirinya perjuangkan akan sia-sia.


"Apa urusanmu? Aku mau mengugurkan kandungan atau tidak, itu bukan urusanmu." Bella semakin berang.


"Memang bukan urusanku, tetapi aku sangat kasihan pada buah hati kalian." Ayana memberikan tatapan iba.


"Aku menggugurkan kandungan, itu tidak ada urusannya denganmu."


Mendengar kata-kata itu Ayana tersenyum lebar. "Eh, aku tidak menyangka akan secepat ini," batinnya kemudian.

__ADS_1


__ADS_2