Bunga Air Mata

Bunga Air Mata
SEASON 3 CHAPTER 63


__ADS_3

Dua insan kembali dipersatukan oleh waktu. Banyak kisah terajut membentuk sebuah asha yang kian melambung tinggi.


Cerita hanyalah tinggal cerita, masa lalu menjadi kenangan yang tidak akan bisa terulang. Meksipun keberadaannya hanyalah tinggal memori, tetapi ingatan itu akan tetap ada selamanya.


Kadang kala membutuhkan kesabaran ekstra juga kala ingatan itu kembali datang.


Butuh banyak masa untuk menyembuhkan luka, terkadang membutuhkan waktu seumur hidup guna melupakannya.


Kelam menjadi satu kata yang menggambarkan segalanya. Tidak ada  cahaya sedikitpun untuk bisa keluar dari masalah.


Hanya rasa sakit dan perihnya luka menggerogoti kebahagiaan tersisa.


Ayana Ghazella, seorang anak sebatang kara sejak usia remaja tidak mendapatkan perjalanan hidup yang begitu mulus.


Apa pun yang menjadi keputusannya untuk melangkah mendatangkan luka. Selalu saja ada halangan serta hambatan menghadang di tengah jalan.


Awalnya ia sangat bahagia bisa bersanding dengan pianis menawan serta terkenal Zidan Arshan. Pria tampan nan rupawan itu layaknya pangeran dari dunia dongeng yang keluar ke kehidupan nyata.


Namun, bukan dongeng dengan akhir bahagia yang ia dapatkan, melainkan hanya malapetaka.


Kejadian demi kejadian hampir merenggut nyawa di tangannya sendiri. Seluk beluk luka yang mendera menjadi cikal bakal rasa sakit itu berasal.


Cinta yang dikhianati, kehilangan seorang anak, serta hampir dilecehkan menjadikan seorang Ayana Ghazella murka.


Kepercayaan diri hilang membutakan mata hati kian mengejutkan diri lebih berani dalam melakukan hal-hal negatif.


Itulah yang pernah merundung Ayana. Di lengan sebelah kirinya terdapat sayatan tepat di atas urat nadi.


Jari jemari sebelah kanan mengelusnya perlahan mengantarkan lengkungan bulan sabit terpendar penuh makna.


"Ya Allah telah banyak luka yang hamba rasakan, bisakah kali ini... hamba mendapatkan kebahagiaan?"


"Itulah kata-kata yang pernah aku cetuskan. Memang tidak instan untuk bisa berada di situasi ini, tetapi... balasan dari segala kesabaran memang luar biasa."


"Ya Allah ampuni hamba jika hari kemarin penuh dengan kesalahan. Bahkan... hampir menyalahi ketentuan dari-Mu. Bagaimana bisa aku... menyayat diri sendiri dan menyalahi takdir dari-Mu? Ya Allah hamba sangat berdosa sekali."


"Terima kasih atas kesempatan kedua yang Kau berikan," racau Ayana di studio lukis miliknya di mansion sang suami.


Ruangan itu menjadi saksi bisu seperti apa amukan yang pernah Ayana layangkan.


Tidak ada yang tahu dan tidak seorang pun bisa memahami situasinya. Hanya diri sendiri dan derai air mata menjadi teman setia.


Suami pergi bersama wanita lain tanpa rasa bersalah sedikitpun selepas membunuh anak kandungnya sendiri.


Di depannya terdapat lukisan besar seorang bayi yang tengah tertidur pulas beralaskan awan putih.


Sosoknya bagaikan terapung di langit terbawa angin siang.

__ADS_1


Kedua sudut bibir ranum Ayana melengkung samar mengingat kembali kejadian mengerikan hari itu.


Sebelah tangannya mengelus pelan perut membuncitnya sendiri.


"MasyaAllah, setelah sekian tahun kamu hadir, sayang. Terima kasih, karena akan menjadi pelengkap keluarga kami," bisiknya lirih menunduk dalam.


Tidak lama berselang pintu studio terbuka, sepasang kaki jenjang berjalan perlahan mendekati sang pujaan.


Kedua tangannya bertumpu pada bahu Ayana dan ikut memandangi lukisan di depannya.


"Kenapa kamu ada di sini dan melihat lukisan ini lagi? Bukankah lukisannya sudah kamu bawa ke galeri?" tanya Zidan heran.


Ayana mendongak sekilas dan tersenyum simpul.


"Aku membawanya kembali beberapa hari lalu. Aku... hanya sedang mengenang anak pertama kita saja," balas Ayana kemudian.


Zidan menegang dan perubahannya di rasakan Ayana.


"Tenang saja, Mas. Aku tidak akan mengungkit apa yang sudah terjadi. Aku hanya... ingin melihat lukisan ini saja," kata Ayana lagi.


Zidan beralih ke hadapannya lalu bersimpuh seraya menggenggam kedua tangan pujaan hatinya.


"Aku benar-benar minta maaf. Bagaimana bisa waktu itu aku buta dan tuli? Tidak bisa melihat dan mendengar mana yang baik. Aku sangat menyesal, andaikan waktu bisa diputar aku berharap tidak bertemu Bella."


"Wanita itu-"


"Jangan berkata seperti itu. Apa pun yang terjadi sudah menjadi ketentuan dari Allah. Kita lupakan saja apa yang telah berlalu. Kita songsong masa depan lebih baik," kata Ayana lembut dengan sorot mata hangat.


Zidan terharu seketika memeluk tubuh istrinya erat. Ia meletakkan kepala bulatnya di perut membuncit Ayana.


Dengan sayang sang empunya mengusap rambutnya halus.


Tidak lama berselang tendangan kuat dari sang jabang bayi mengejutkan kedua orang tuanya.


"Aw." Ayana sedikit meringis ngilu mendapatkan hal luar biasa dari pergerakan sang buah hati.


Zidan mendongak kembali bertatapan dengan Ayana.


"Mas merasakannya? Dia menendang kuat sekali," jelas Ayana antusias.


"Kamu benar, Sayang. Tendangannya sangat kuat." Zidan kembali beralih ada perut pasangan hidupnya.


"Sayang... jangan menendang terlalu keras, kasihan Mamahnya kesakitan," ujar Zidan berusaha berkomunikasi dengan jabang bayi sambil mengusap-usapnya pelan.


Ia lalu memberikan kecupan hangat nan dalam dipermukaan perut Ayana.


Menyaksikan hal manis dari suaminya membuat sang pelukis terharu. Kehamilan keduanya jauh berbeda dari yang pertama.

__ADS_1


Kehamilan pertama penuh tantangan dan hambatan. Tidak ada yang berjalan mulus seperti bayangan.


Ia pikir dengan dirinya hamil sang suami bisa berubah, tetapi nyatanya hanya angan-angan semata.


"Sudah malam, lebih baik kita segera istirahat," ajak Zidan langsung menggendong Ayana menuju kamarnya berada.


Dengan senang hati pelukis itu pun mengalungkan tangan di sekitar leher sang suami.


Aroma mint menguar membuatnya nyaman.


Kepala berhijab itu bersandar di bahu tegas Zidan, menyembunyikan wajah di ceruk sang pianis.


Napas hangat yang berhembus dari Ayana membuatnya tidak bisa berpikir jernih.


Buru-buru ia membawanya ke tempat tidur dan membaringkannya di sana.


Pandangan mereka saling bertubrukan, seakan menginginkan hal yang serupa keduanya menutup mata bersamaan.


Penyatuan pun tercipta seiring berjalannya waktu. Zidan semakin gencar melancarkan aksinya pada Ayana.


Sampai tidak lama berselang, bayangan beberapa tahun silam mengejutkan sang pelukis cepat.


Tangan tegap sang suami yang tengah bermain di kaki rampingnya membuat ia terkejut bukan main.


Tanpa sadar ia mendorong dada bidang Zidan hingga membuatnya tersungkur.


Ayana bangkit dari berbaring dengan napas tersengal-sengal. Sorot mata dalam nan tajam memandangi sang suami seolah tengah melihat musuh.


Zidan yang menyaksikan istrinya seperti itu sangat terkejut. Maniknya melebar sempurna dengan jantung berdebar kencang.


"Sa-Sayang... apa yang terjadi? Bu-bukankah selama ini-"


"Tidak! Aku mohon... jangan sentuh aku. Aku tidak ingin kehilangan anak lagi. Jangan! Aku mohon jangan!" Ayana meracau histeris dengan keringat dingin bermunculan di pelipis.


Dalam diam Zidan memperhatikan Ayana dan sedetik kemudian menyadari apa yang tengah terjadi padanya.


"Hei, Sayang... dengarkan aku-"


"Tidak! Berhenti mendekatiku. Aku tidak mau disentuh olehmu lagi." Ayana memotong ucapan Zidan cepat, menolak keberadaan suaminya yang tengah merangkak mendekat.


"Baiklah-baiklah, aku tidak akan mendekatimu. Sekarang kamu tidur, yah dan jangan terbawa emosi. Kasihan anak kita, Sayang," ucap Zidan lembut.


Hal tersebut membuat Ayana perlahan melunak. Ia menerima keberadaan Zidan lagi yang kini membantunya berbaring dan menyelimutinya sebatas dada.


"Selamat malam, Sayang. Kalau kamu masih tidak nyaman aku akan tidur di sofa."


Zidan melayangkan kecupan hangat di dahi lebarnya dan setelah itu membawa selimut tipis ke sofa panjang. Ayana pun memandanginya dalam diam berusaha menenangkan diri sendiri.

__ADS_1


"Astaghfirullahaladzim, apa yang barusan aku lakukan?" bisik Ayana.


__ADS_2