
Ketika suara tak lagi didengar maka tangisan akan menggantikannya.
Ketika lisan tak sanggup berbicara maka tulisan akan mengutarakan semuanya.
Ketika tidak dihargai, maka pergi menjadi jawabannya.
Semua membutuhkan kepastian. Karena tidak ada tempat bagi kesia-siaan tanpa sebuah kejelasan.
Jangan menyesal apa yang sudah terjadi. Karena semuanya atas kesalahan sendiri.
Pergi dan datang menjadi dua hal yang saling berdampingan. Ada yang datang lalu pergi, begitu pula sebaliknya.
Hukum alam akan selalu terjadi sebagaimana semesta berjalan.
Kita hanya butuh seseorang yang bisa menemani di kala senang dan sedih, tanpa peduli apa pun itu.
Setia menjadi sebuah sikap langka yang tidak bisa didapatkan dari semua orang. Terkadang rumput tetangga lebih menggoda dan meninggalkan seseorang yang selama ini ada.
Maka selagi masih ada hargai dan syukuri, sebab jika sudah tiada baru terasa sepi nan sunyi nya.
Di saat waktu berputar penyesalan tiada berarti. Hanya orang yang berhati seluas samudera memberikan kesempatan kedua pada mereka yang telah menyakiti.
Tidak ada manusia yang sempurna, tetapi ada hati sekuat baja menghadapi setiap permasalahan.
Tentunya Allah yang Maha Menguatkan dan memberikan kesabaran juga ketabahan pada setiap hamba yang berserah.
Setiap insan sudah pasti diuji dengan berbagai macam cobaan. Ada yang tenggelam dalam musibah, ada pula yang bersabar hingga mendapatkan keberkahan.
Semua keputusan pasti ada resikonya masing-masing. Jalani apa yang sudah didapatkan, semua itu adalah rencana terbaik dari Allah.
Sang Maha Pencipta tahu mana yang terbaik. Kita hanya bisa berencana tanpa tahu yang terbaik kedepannya.
Zidan Ashraf menjadi salah satu dari sekian banyak manusia di bumi yang mendapatkan cobaan demi cobaan datang menghampiri.
Ia pernah mendapatkan sebuah penyesalan yang teramat besar. Kesalahan yang telah ia perbuat memberikan penyesalan teramat dalam.
Kesalahan yang pernah diperbuat membuat Zidan terpukul dan terpuruk dengan sangat. Hingga ia memperbaiki diri dan menjadi suami seutuhnya bagi Ayana.
Ia menjadi pendamping yang setia dan selalu siaga.
Kehidupan layaknya sebuah ombak di lautan luas. Pasang surut yang terjadi memberikan dampak berarti.
Kadang kala penyesalan mendatangkan pembelajaran berharga.
"Danieal? Sedang apa kamu di sini?" Zidan terkesiap mendapati kakak iparnya.
Danieal menghela napas kasar seraya melipat tangan di depan dada.
"Seharusnya aku yang bertanya, sedang apa kamu di depan kamar istrimu sendiri? Kurang kerjaan sekali, apa kamu-"
Belum sempat Daniel menyelesaikan perkataannya, Zidan lebih dulu menarik tangan sang ipar cepat dan memperlihatkan dua wanita di dalam kamar.
"Lihat, adik dan ibumu. Apa aku bisa masuk ke dalam dan mengganggu mereka?"
__ADS_1
Pertanyaan Zidan membungkam Danieal. Dokter tampan itu termangu, menarik diri lagi.
"Benar juga. Lebih baik kita biarkan saja mereka. Ayo ikut aku," ajaknya dijawab anggukan sang pianis.
Kedua pria itu melangkahkan kaki dari sana menuju meja makan di lantai bawah.
Di sana beberapa pelayan dan juga Jasmine tengah menyiapkan makanan ringan.
Mereka kompak menata makanan demi makanan di sana.
Jasmine mengangkat kepala dan mendapati suami dan juga adik iparnya turun dari tangga.
"Kalian mau makan siang dulu?" tawarnya kemudian.
Danieal menarik salah satu kursi meja makan, begitu pula dengan Zidan.
"Nanti saja, Sayang. Tolong buatkan kopi saja buat kami," pinta Danieal.
"Baiklah, tunggu sebentar." Jasmine langsung melangkahkan kaki dan bergegas membuatkan dua kopi untuk mereka.
Beberapa pelayan tadi yang membantu Jasmine membubarkan diri kala dua tuan muda di sana.
Di ruangan itu menyisakan Danieal dan Zidan yang saling duduk berhadapan.
"Jadi, apa kamu tidak tahu kalau Ayana diundang ke pesta teh?" tanya Daniel memulai pembicaraan lagi.
Zidan mengangkat pandangan dan membalas sepasang iris kelam di depannya.
Kepala bersurai hitam lembut pianis berbakat itu menggeleng pelan.
Kali ini Zidan menghela napas pelan sambil menautkan jari jemari kuat di atas meja.
"Ayana hanya mengatakan dia mau pergi ke pesta saja. Aku tidak menyangka jika tujuan kita sama, gedung putih dan pesta teh," kata Zidan lemah.
Danieal hanya mengangguk mengerti dan diam beberapa saat.
"Apa alasan Ayana menyembunyikannya?" tanyanya lagi.
Baru saja Zidan membuka mulut, kedatangan Jasmine dan ucapannya menghentikan.
"Ayana, ingin membuat kejutan untukmu, Mas. Katanya setelah dia pulang dari pesta akan memintamu menjemputnya, dan yah... Mas bisa membayangkan sendiri kan kejutan yang dimaksudkan?"
Zidan melebarkan pandangan sekilas. Ia tidak menyangka jika Ayana pun memikirkan hal yang sama.
Ia tidak mengatakan pada istrinya hendak melakukan konser di istana putih. Karena Zidan juga ingin memberikan kejutan pada Ayana.
"Benarkah itu? Kami memang sehati, maa syaa Allah," gumam Zidan yang masih bisa didengar Jasmine dan Danieal.
Pasangan suami istri yang duduk berdampingan saling menatap satu sama lain.
Bibir keduanya melengkung simpul dan kembali berpaling pada Zidan.
"Iya kalian memang pasangan sehati. Untuk itu alangkah baiknya sekarang kamu lebih memperhatikan Ayana lagi. Bukan untuk dirinya saja, tetapi buah hati kalian," lanjut Danieal.
__ADS_1
Zidan mengangkat pandangan lalu mengangguk singkat dengan lengkungan bulan sabit terpendar di wajah tampannya.
Selang beberapa saat keheningan menyambut mereka. Ketiganya saling bungkam tidak mengatakan sepatah kata.
Detik demi detik berlalu begitu signifikan. Para pelayan masih hilir mudik melakukan tugasnya.
Di tengah keriuhan itu suara halus Jasmine kembali terdengar.
"Hana Tsubasa... apa Mas tahu siapa dia? Aku dengar wanita itu sempat berada di rumah sakit Desa X, tempat Ayana dan mbak Bening bertemu," ungkapnya lagi.
Danieal menautkan sepasang alisnya kuat. Ia menjatuhkan pandangan menyelami ingatan yang sudah lama tersemai.
"Hm... sepertinya aku pernah mendengar nama itu. Hana Tsubaki... Hana... Hana-"
"Katanya dia mengidap skizofrenia." Jasmine mencela perkataan suaminya cepat.
"Ah! Jadi wanita itu? Hana Tsubasa yang katanya mengidap skizofrenia?" Danieal menegaskan.
"Katanya? Apa penyakit mentalnya itu main-main?"
Jasmine mengerenyit, heran.
"Ada ada ini? Apa kamu kenal wanita itu?" Zidan angkat suara ikut ke dalam pembicaraan.
Danieal kembali ke adik iparnya mulai menceritakan siapa itu Hana Tsubasa.
Zidan dan Jasmine menatap sepenuhnya pada sang dokter. Wajah tampan nan rupawan itu berubah serius menambah kharisma.
Sorot mata tegas menjadi pertanda sesuatu telah terjadi tiga tahun lalu di Desa X.
"Hana Tsubasa, sebenarnya tidak pernah mengidap skizofrenia. Dia-"
"APA? APA YANG MAS KATAKAN BENAR?"
Teriakan seseorang mengejutkan ketiganya. Mereka menoleh ke arah sama mendapati Ayana berdiri tepat di belakang tangga.
Zidan bangkit dari duduk langsung mendekati sang istri.
"Sayang? Apa yang kamu lakukan di sini? Kenapa kamu turun?" tanyanya khawatir.
Ayana mendongak membalas sepasang iris kelam pasangan hidupnya.
"Aku bosan di kamar sendirian. Makanya aku turun ke bawah didamping mamah tadi dan... tidak sengaja aku mendengar perkataan Mas Danieal," jelasnya melirik sang kakak singkat.
"Kalau begitu kita pindah ke ruang keluarga saja, agar Ayana bisa bersandar di sofa panjang," ajak Danieal disetujui oleh yang lain.
Dua pasang suami istri itu pindah ke ruang keluarga. Mereka duduk bersama dengan Ayana selonjoran di sofa panjang.
Di samping pujaan hatinya ia siap mendengarkan apa yang hendak Danieal sampaikan.
Menyaksikan perubahan kakak sambungnya Ayana mengerutkan kening dalam.
Ia sadar ada sesuatu yang dulu pernah terjadi. Ayana tidak tahu jika teman yang ditemuinya di rumah sakit mempunyai misteri sendiri.
__ADS_1
Pandangannya terus menatap Danieal lekat, siap mendengarkan apa yang hendak disampaikan.