
Semesta memberikan kejutan tak pernah terduga.
Misteri akan selalu datang pada saat yang sudah ditentukan.
Masa tidak akan pernah salah membongkar setiap kebohongan yang ada.
Suara gebrakan meja terdengar sangat kuat di ruang bawah tanah mansion utama keluarga Ashraf.
Sang tetua begitu emosi melihat bukti konkrit yang dikirimkan oleh Bening tadi pagi.
Wajah tuanya merah padam menahan segala bentuk amarah dalam dada.
USB yang diberikan dilemparkan kuat ke lantai hingga retak. Dadanya naik turun menahan gejolak emosi membuncah.
"Apa yang mereka lakukan? Bagaimana bisa mereka mendapatkan rekaman itu?" geramnya mengamuk melemparkan barang-barang yang ada di atas meja.
Tidak jauh dari mansion, Ayana yang sedari tadi mengawasinya menyeringai lebar.
Ia puas mendapatkan hasil yang diinginkannya.
"Bukankah kejutannya sangat bagus, aku tidak sabar apa yang akan terjadi beberapa hari lagi," gumamnya.
Seperti yang sudah dijadwalkan pagelaran pameran seni internasional di tanah air pun digelar.
Sekarang banyak sekali pelukis ternama baik di dalam maupun luar negeri ikut memeriahkan.
Lantunan tuts-tuts piano begitu indah mengalir menemani setiap langkah penikmat seni yang berdatangan.
Satu persatu tamu undangan hadir melihat-lihat karya pelukis berbakat.
Ayana yang tengah mengenakan gaun brukat berwarna hitam mengkilap senada dengan hijabnya begitu menawan.
Ia bersama Arfan menyapa setiap tamu undangan yang datang.
Di sana juga terdapat panggung kecil khusus musisi yang diundang.
Saat ini Zidan Ashraf tengah memberikan performance-nya di acara sang istri.
Bisikan demi bisikan terdengar betapa serasinya pasangan pelukis dan pianis tersebut.
"Suami Anda sangat bagus sekali, ini pertama kalinya saya melihat pertunjukkannya secara langsung."
"Anda pasti bahagia bisa didukung langsung oleh suami."
"Saya bahkan sampai terkesan, owh sungguh pasangan yang sangat serasi."
__ADS_1
Itulah perkataan yang tercetus dari wanita-wanita sosialita berpengaruh di negaranya.
"Alhamdulillah, terima kasih banyak Nyonya sekalian. Saya harap Anda semua bisa menikmati pameran kami kali ini," balas Ayana mengulas senyum menawan.
Setelah menyapa ketiga wanita anggun tadi, ia melanjutkan langkah menyapa yang lain.
Ia juga mendatangi para penikmat seni dari kalangan bergengsi semua.
Di tengah kesibukan yang melanda kedatangan tetua Ashraf mengundang atensi.
Pemilik perusahaan parfum terbesar di negara itu pun mengambil alih perhatian.
Banyak dari mereka adalah istri dari pengusaha yang sudah akrab dengan wanita baya itu.
Mereka saling menyapa, berbincang-bincang, dan memuji satu sama lain.
"Anda pasti bangga mendapatkan cucu menantu pelukis berbakat seperti Ayana. Lukisan yang dibuatnya berharga fantastis bahkan saat ini sudah bekerjasama dengan pelukis luar negeri," ucap salah seorang wanita bersanggul di sana.
Basima tersenyum manis sembari mengangguk pelan.
"Begitukah? Tetapi, wanita itu tidak sempurna. Mungkin dia sempurna sebagai pelukis, tetapi cacat sebagai wanita bersuami. Dia tidak bisa memberikan keturunan dan lebih mementingkan karier semata," balas wanita tua itu menjelek-jelekkan sang cucu menantu.
Keempat wanita baya yang mendengarnya saling pandang, tidak percaya.
Menyaksikan reaksi keempat teman-temannya, Basima tersenyum puas.
"Kamu pikir... kamu bisa menjatuhkan ku, Ayana? Kamu salah sudah mengundangku datang ke sini," benak Basima tersenyum penuh kemenangan.
Ayana yang berdiri tidak jauh dari sana mendengar semuanya. Ia sudah menduga jika Basima akan melakukan hal seperti itu.
"Nenek, Anda sudah datang?" tanya Ayana mendekati mereka.
"Oh Ayana, senang bertemu denganmu," sapa teman Basima.
"Halo Tante, Anda cantik sekali," puji Ayana membuat wanita tua itu tersipu.
"Apa Nenek sudah melihat kejutan yang aku berikan? Apa Nenek tidak keberatan jika aku memberitahu mereka?" tanya Ayana yang seketika mengundang rasa penasaran.
Keempat wanita dari kalangan atas itu kembali saling pandang lalu beralih pada Ayana lekat.
Sebelum pameran itu digelar, Ayana sudah lebih dulu mencari tahu siapa saja orang-orang yang berhubungan dengan Basima.
Ia dan Bening pun menemukan fakta baru jika Basima mempunyai sebuah grup sosialita yang terdiri dari istri-istri pengusaha maupun wanita bergengsi lainnya.
Ayana sengaja mengundang mereka untuk melancarkan aksinya. Selain bekerjasama dengan Arfan, ia juga mengatakan kepada pihak penyelenggara guna membongkar kebusukan Basima.
__ADS_1
Karena ia mendapatkan hal baru yang kembali mencengangkan membuat Ayana semakin bersemangat.
"Kamu harus tetap waspada jangan membuatnya curiga," ucap seseorang dari earphone di telinganya tertutup hijab.
Ayana berdehem sebagai jawaban mengiyakan.
Tidak jauh dari sana tepatnya di lantai paling atas, empat orang yang terdiri dari dua orang wanita dan pria pun sedari tadi memantau jalannya acara.
Basima, Gibran, Haikal, dan satu lagi wanita bersanggul duduk berdampingan bersama.
"Nyonya Ratu, saya tidak menduga Anda pernah terlibat skandal dengan tetua Asraf," kata Bening memandangi wanita paruh baya di sebelahnya.
Ratu pemilik gedung seni pusat kota itu pun mengembangkan senyum.
"Tidak usah terlalu formal begitu, kita punya jalan yang sama," balasnya kemudian.
"Sebelum bertemu Ayana, saya tidak punya keberanian untuk mengungkapkan fakta ini, tetapi setelah bertemu dengan wanita luar biasa itu... saya ingin menegakan keadilan."
"Sebelum membangun gedung seni ini, saya mempunyai bisnis sama sepertinya yaitu parfum. Pada tahun itu bisnis kami saling pesat-pesatnya dan saling tarik menarik. Namun, pada satu waktu parfum yang saya produksi mengalami peningkatan yang signifikan. Tetua Ashraf tidak terima dan memfitnah bisnis kami sampai membuat perusahaan gulung tikar."
"Tidak hanya sampai di sana saja, beliau juga bahkan sampai menjelek-jelekkan keluarga kami sampai suami saya meninggal dunia akibat terkena serangan jantung mendadak."
"Pada saat itu saya bersumpah menjadi wanita sukses untuk bisa membangun kekuatan melawannya," ungkap Ratu mengenang masa-masa sulit yang pernah dirinya alami berkat tangan kotor Basima.
Wanita tua itu sangat kejam, tidak peduli siapa pun asalkan tujuannya didapatkan, maka sejauh apa pun jalan ditempuh akan ia lakukan.
Ratu adalah salah satu korban keegoisan serta keserakahan yang dimilikinya.
Bening, Gibran, dan Haikal yang mendengar cerita tadi menghela napas berat.
Ketiganya tidak menduga kebengisan Basima sangat kejam.
"Saya minta maaf jika kelakukan nenek sangat merugikan Anda. Saya-"
"Saya tidak butuh maaf dari cucunya atau siapa pun. Karena saya hanya ingin wanita tua itu mengakui kesalahannya, sebab kata maaf tidak akan mengembalikan suami saya yang sudah meninggal," balas Ratu menyerobot ucapan Gibran.
Pria muda itu hanya mengangguk mengerti.
Bening menggenggam tangan Ratu hangat berusaha menyalurkan kekuatan.
"Nyonya tenang saja, Ayana pasti bisa mengembalikan rasa sakit hati kalian. Karena wanita tua itu sudah membuat kehidupan Ayana menjadi sengsara. Kejahatan tidak ada yang abadi, suatu saat pasti terbongkar juga," ucap Bening.
Ratu mengangguk sembari mengusap cairan bening yang mengalir tak tertahankan di kedua pipi.
Netranya memandang ke layar memperlihatkan rekaman CCTV di segala penjuru ruangan, khususnya yang merekam Ayana.
__ADS_1