Bunga Air Mata

Bunga Air Mata
SEASON 3 CHAPTER 77


__ADS_3

Setiap orang mempunyai kisah sedihnya masing-masing. Ada yang ditinggalkan oleh orang tercinta, ada yang ditimpa musibah tak berkesudahan, ada pula terkena musibah oleh alam.


Apa pun yang menimpa menjadi ujian tersendiri dan hanya air mata sebagai bentuk rasa sakit kian meluap.


Emosi yang terbentuk dari kepelikkan kehidupan pun semakin merajalela. Setiap hari bisa saja mengundang kesedihan dan air mata.


Hanya isak tangis sebagai pelampiasan untuk sekedar meredakan rasa sakit dalam dada kala lisan tidak bisa mengatakan apa-apa. Karena terkadang menangis menjadi tempat pelarian terbaik saat tidak ada telinga yang bisa mendengarkan.


Jasmine masih melampiaskan kekesalan dengan mengangkat senjata dan meletakkannya di atas kepala Hana.


Ayana yang melihat itu tidak menduga sama sekali. Ia membekap mulut menganganya menggunakan kedua tangan tidak percaya menyaksikan sang kakak ipar bisa melakukan hal tersebut.


"Ja-Jasmine, apa-"


"Aku tidak akan membiarkan siapa pun menyakiti keluargaku lagi. Sudah cukup orang tuaku dan orang-orang kami menjadi korban keegoisan kalian." Jasmine menoleh pada Bagus membuat pria baya itu terkesiap bukan main.


Sebelah bibirnya masih terangkat kuat seraya memberikan tatapan nyalang. Ayana pun tercengang melihat kakak iparnya seperti ini.


Sedetik kemudian ia kembali pada Hana yang berusaha tenang dari kungkungan Jasmine.


"Saya mohon... Jasmine. Jangan Hana, saya mohon. Dia tidak tahu apa-apa. Dia-"


"Lantas bagaimana dengan orang tua dan keluarga ku? Apa mereka melakukan kesalahan? Hingga kamu tega menyiksanya sampai meninggal. Di mana hati nurani mu saat itu?" Jasmine semakin tidak terkendali dan terus naik pitam mengingat kenangan yang telah lalu.


Ayana yang sadar jika kakak iparnya tidak terkontrol panik bukan main. Ingatan yang berusaha Jasmine kubur mencuat ke permukaan begitu saja membuatnya tidak karuan.


Kenangan menyakitkan itu membentuk rasa sakit teramat dalam hingga menjadikan seorang Jasmine mati rasa. Ia tidak peduli apa yang akan terjadi nanti dan hanya ingin menyalurkan rasa sakit semata.


"Jasmine, aku mohon jangan lakukan apa pun, okay? Aku baik-baik saja, sungguh baik-"


Belum sempat Ayana menyelesaikan ucapannya tiba-tiba saja dari arah samping Bagus menyerangnya.


Perhatian sang pelukis yang teralihkan pada Jasmine tidak menyadari adanya tindakan tersebut.


Pergerakan sekejap mata itu pun membuat Ayana jatuh hingga menimbulkan rasa sakit teramat kuat di perut.


Mendengar suara berdentum di belakang, Jasmine menoleh dan mendapati Ayana sudah duduk di atas lantai kayu seraya menahan sakit dan mencengkram perutnya.


Menyaksikan hal itu Jasmine mematung, bola matanya bergulir menyaksikan pria tua menyeringai lebar padanya.

__ADS_1


Seketika Jasmine naik pitam, amarah yang tak bisa terbendung itu membentuk kemarahan kian memuncak.


Tanpa ampun ia berbalik melayangkan pukulan demi pukulan pada Hana. Pria yang tadi membawa wanita itu keluar pun bergegas membantunya.


Hingga terjadilah sebuah pertikaian yang tidak bisa terelakan. Melihat adegan tersebut emosi Bagus pun terus menerus meradang.


Ia hendak menyakiti Ayana kedua kalinya. Sang pelukis yang menyadari hal itu pun berusaha menggapai senjata api di balik punggung sebagai bentuk pembelaan diri.


Namun, pergerakannya tak kalah cepat dengan Bagus. Pria tua itu hampir saja memberikan bogem mentah di wajah cantik Ayana, tetapi pergerakannya terhenti saat pintu rahasia menuju kamar itu terbuka menampilkan dua orang tidak diundang.


Mereka adalah Zidan dan Bening yang berhasil menemukan keberadaan Ayana serta Jasmine.


Melihat istrinya tidak berdaya dan hendak dianiaya, sang pianis langsung memberikan pukulan telak membabi buta. Ia tidak peduli siapa yang menjadi lawannya jika sudah menyakiti Ayana maka tidak ada ampun baginya.


Ayana yang mendapati suaminya seperti itu pun terkejut bukan main. Ia tidak bisa mengatakan apa-apa selain diam membisu.


Bening membantunya berdiri dan berusaha mengajaknya keluar. Namun, pergerakannya terhenti saat Ayana mencengkram kuat pergelangan tangan.


Gesture itu membuat sang informan mengerutkan dahi dalam. Ia lalu menunduk ke bawah dan menyaksikan darah mengalir dari kedua kaki Ayana.


"ASTAGHFIRULLAHALADZIM, ZIDAN, AYANA... ZIDAN!"


Mereka terbelalak, terkejut menyaksikan cairan merah kental itu terus mengalir. Ayana yang sedari tadi menahan sakit seketika ketakutan.


Tubuhnya bergetar hampir terjatuh jika tidak sigap Zidan mengambil alih. Tanpa mengatakan apa pun ia menggendong istrinya keluar dari sana.


Bening menyuruh Jasmine untuk menyusul mereka dan membiarkan masalah di sini biar ia saja yang mengurusnya.


Mendapatkan perintah itu mau tidak mau Jasmine mengiyakan dan segera menyusul Ayana serta Zidan pergi.


...***...


Sepanjang jalan Ayana terus menangis tanpa henti di pangkuan Zidan. Sebelah tangannya meremas kuat pakaian sang suami kencang dan tangannya yang lain menggenggam jari jemari pasangan hidupnya erat.


Ayana tidak menyangka mendapati darah mengalir dari selangkangannya. Ia takut benar-benar takut sesuatu terjadi pada buah hati mereka.


"Ba-bagaimana ini Mas? Apa anak kita akan baik-baik saja?"


"Aku tidak mau... aku tidak mau jika dia sampai kenapa-kenapa."

__ADS_1


"Aku tidak bisa kehilangannya lagi, Mas. Aku tidak bisa jika harus kehilangan anak kita untuk kedua kalinya."


Ayana terus meracau tanpa henti. Ketakutan sebagai seorang ibu yang kembali hamil untuk kedua kali serta pernah kehilangan sang buah hati menjadi pukulan telak.


Ayana sangat terpukul mendapatkan kejadian mengerikan terjadi padanya lagi.


"Hei Sayang. Tidak apa-apa, semua akan baik-baik saja. Bayi kita pasti bisa bertahan, dia pasti baik-baik saja," kata Zidan mencoba menenangkan.


Ia terus memberikan kecupan hangat nan mendalam di punggung tangan sang istri serta dahinya. Ia pun merasakan hal yang sama dengan Ayana saat menyaksikan darah berasal dari pujaan hatinya.


Namun, ia harus lebih kuat agar Ayana bisa bertahan.


Jasmine yang tengah duduk di depan berdampingan dengan supir pribadi Zidan pun menyaksikan keduanya lewat kaca spion di atas.


Sepanjang jalan ia terus berdoa meminta kepada Allah agar bayi mereka baik-baik saja. Ia pun ikut terpukul atas apa yang menimpa Ayana.


"Ya Allah, hamba mohon selamatkan lah bayi mereka. Hamba tidak ingin melihat Ayana dan Mas Zidan bersedih," benaknya tulus.


Beberapa saat kemudian mereka tiba di rumah sakit. Di sana Danieal dan Bintang sudah menunggu sedari tadi setelah mendapatkan panggilan dari Zidan.


Melihat siluet Ayana, keduanya langsung membawa ibu hamil tersebut ke ruang tindakan. Bintang akan mengerahkan sekuat tenaga guna memberikan yang terbaik.


Jasmine memandang sendu kepergian adik iparnya yang sudah menghilang di balik pintu. Ia diam di tengah lorong seraya memandang lurus ke depan.


Ia mengigit-gigit ibu jari dan jari telunjuknya kuat melampiaskan rasa sakit. Air mata mengalir tak tertahankan dengan tubuh bergetar tak karuan.


Tidak lama berselang Danieal keluar ruangan dan menyerahkan sepenuhnya sang adik pada dokter kandungan.


Ia mendapati sang istri diam mematung dengan berlinang air mata, sedangkan adik iparnya menunduk dalam di kursi tunggu.


Menyaksikan Jasmine yang sepenuhnya terpukul, Danieal berjalan cepat dan langsung memeluknya erat.


Seketika itu juga tangisan Jasmine pecah. Ia meraung, menyalahkan diri sendiri atas apa yang menimpa Ayana.


"Salahku... ini salahku, Mas. Aku tidak bisa menjaganya dengan baik," katanya terus menerus.


"Shut, Sayang. Ini semua bukan salahmu, kejadian yang menimpa Ayana murni kecelakaan. Kamu jangan terus menyalahkan diri sendiri, yah. Tenang saja, aku yakin mereka akan baik-baik saja. Serahkan semuanya pada Allah," ucapnya mencoba menenangkan.


Perlahan Jasmine luluh dan meremas kuat jas bagian belakang sang suami. Ia masih sesenggukan teringat keadaan Ayana beberapa saat lalu.

__ADS_1


__ADS_2