
Semua tamu undangan sudah hadir, banyaknya orang membuat Ayana sedikit kelimpungan. Ia terus mengikuti ke mana Danieal pergi tanpa memberikan sang kakak kesempatan untuk menjauh.
Danieal pun dengan hati-hati menjaga adiknya agar tidak lepas dari pengawasan. Entah kenapa ia merasakan sebuah firasat kurang mengenakan pada pesta tersebut.
Kurang lebih lima belas menit kemudian, lantunan musik lembut menyambut. Ayana dan Danieal yang tengah berdiri tidak jauh dari depan panggung pun menolehkan pandangan.
Netra bening wanita berhijab itu terfokus pada satu sosok di sana. Sudah dua bulan lamanya sejak ucapan cinta terlontar Zidan tidak pernah mengganggunya lagi.
Namun, detik ini di tempat yang sama, saat itu juga Ayana menyaksikannya kembali. Zidan tengah memberikan performancenya yang seketika menarik atensi para tamu.
"Bukankah itu Zidan? Dia juga ada di sini? Jadi Presdir Han mengundangnya untuk bermain piano? Wah, kebetulan macam apa ini?" racau Danieal memperhatikan pria yang tengah duduk berhadapan dengan musik klasik tersebut.
Ia lalu melihat ke samping di mana sang adik terdiam bak bongkahan es.
"Ayana," panggilnya pelan. Ayana sama sekali tidak menyahut, perhatiannya terus tertuju ke depan dengan sorot mata tak karuan.
"Ayana."
"Hoi, Ayana."
"AYANA."
Danieal berulang kali memanggilnya dan seketika meninggikan suara membuat Ayana tersentak. Ia menoleh pada sang kakak yang tengah menatapnya lekat.
"Apa yang sedang kamu lakukan? Apa kamu terpesona dengan penampilan suamimu?" Goda Danieal sembari mengangkat kedua alis ke atas dan ke bawah.
"Apaan sih Mas? Tidak juga. Siapa yang terpesona? Aku muak!" kata Ayana balik badan dan meninggalkan Danieal begitu saja.
Sang dokter tampan itu pun tergelak seketika. Setahun lebih mereka bersama, Daneial sudah tahu seperti apa adik sambungnya tersebut.
Ia bisa melihat jika di balik mata penuh luka untuk pria masa lalunya, masih terdapat benih-benih perasaan yang tertinggal.
Namun, ia tidak ingin dan tidak bisa menyinggung hal tersebut. Danieal tidak mau mengambil resiko dengan membangkitkan depresinya lagi.
"Ayana tunggu, jangan pergi dari Mas. Dasar anak itu tidak pernah mendengarkan apa kata Kakaknya," dumel Danieal menyusul kepergian Ayana.
Di atas panggung, sedari tadi Zidan memperhatikan sosok istrinya dalam diam. Jantungnya berdebar kencang melihat wajah yang sangat ia rindukan selama ini.
__ADS_1
Ia berusaha untuk tidak mengganggunya lagi dan melepaskannya begitu saja. Namun, di keheningan malam ia selalu meminta pada Sang Pemilik Hati agar membukakan kembali pintu maaf istrinya.
Bagaimanapun ia sudah menerima ganjaran atas apa yang diperbuat. Ia merasakan sakit teramat dalam atas pengkhianatan cinta dari Bella, kariernya sempat meredup, dibenci keluarganya, mengalami halusinasi serta depresi.
Ia mengerti seperti apa rasa sakit yang pernah ditorehkan pada Ayana, hingga membuatnya merasakan hal sama dan semua berbalik padanya.
"Ayana," benaknya dalam diam.
...***...
"Dasar Mas Danieal itu selalu saja menggodaku. Apa dia tidak tahu jika aku tidak suka digoda sepert itu? Benar-benar," racau Ayana yang kini sudah berada di balkon.
Bangunan yang mirip seperti istana itu membuat Ayana terpaku. Ia menyapukan pandangan ke sekitaran di mana banyak sekali tanaman tumbuh subur di sana.
Kepalanya lalu menoleh ke sebelah kanan, mendapati lorong panjang yang di sisinya di pagar tembok sebatas punggung orang dewasa.
"Wah, tempat ini luasnya tidak main-main. Aku seperti berada di dunia dongeng saja," gumamnya terpesona akan tempat tersebut.
Cahaya remang-remang dari lampu ruangan di dalam serta sinar bulan menemani kesendirian. Ayana berjalan mendekat ke arah pembatas dan bertumpu di sana.
Ia mendongak menyaksikan indahnya langit malam. Bibir ranumnya melengkung sempurna merasakan dingin angin menerpa.
"Maaf?" ujarnya bingung.
"Cuacanya sedikit dingin, saya membawakan Anda teh hijau untuk menghangatkan tubuh. Ah, tenang saja saya tidak mencampurnya dengan racun," katanya mengulas senyum simpul.
Mendengar itu Ayana pun mendengus pelan. "Saya tidak berpikiran sampai ke sana. Terima kasih," balasnya menerima minuman yang dibawakan. Ia meyakini jika orang itu adalah pelayan yang bertugas sebagai pemberi minuman kepada para tamu.
Ayana lalu berjongkok untuk menyesap teh kesukaannya itu. "Em, enak sekali. Saya memang penggemar teh hijau," ucapnya lagi dan bangkit berdiri.
Pria yang tidak tahu siapa namanya itu pun kembali melengkungkan kedua sudut bibir. Ia senang melihat Ayana meminum minuman yang diberikan.
"Syukurlah, saya senang mendengarnya. Kalau begitu silakan di nikmati, saya harus kembali ke dalam," ungkapnya kemudian.
Ayana hanya mengangguk beberapa kali mempersilakan pria itu pergi. Setelah kembali sendirian ia pun duduk di pagar pembatas seraya bersandar ke tiang yang ada di sana.
Sembari menikmati teh hijau ia melihat langit malam yang bertabur bintang. Perasaannya berangsur-angsur membaik dan juga tenang.
__ADS_1
Ia melupakan kehadiran Zidan di sana dan menghabiskan waktu sendirian. Ia mengasingkan diri serta juga melupakan keberadaan sang kakak.
"Rasanya nyaman sekali berada di sini," gumamnya lagi.
Sampai beberapa saat berlalu, Ayana yang sudah menghabiskan minumannya pun merasa ada yang salah dengan dirinya.
"Kenapa tiba-tiba aku merasa panas?" lirih Ayana turun dari pagar pembatas, meremas tangannya mencoba fokus.
Namun, seiring waktu berlalu, ia pun semakin tidak karuan. Sensasi panas yang dihasilkan menjalar ke seluruh tubuh.
Ayana berusaha berjalan mencari udara segar guna menghilangkan perasaan sesak dalam diri. Napasnya bergemuruh seperti orang yang menahan sesuatu.
"Ya Allah, ada apa ini? Kenapa tubuhku tiba-tiba saja begini?" lirih Ayana sembari berjalan tertatih.
Ia pun tiba di ujung lorong dan melihat ke kanan dan ke kiri terdapat jalan lain yang tidak tahu ke mana arahnya.
Sekuat tenaga Ayana menelan salivanya kuat membasahi tenggorokan yang terasa kering. Ia meremas dada sebelah kiri menghalau keinginan yang bertambah besar.
"Ya Allah lindungilah hamba," bisik Ayana lagi.
Ia mengerti dan sangat paham apa yang tengah tubuhnya alami. Ia berusaha berjalan sejauh mungkin dari orang-orang agar tidak mendapatkan masalah.
Meskipun keinginan itu sangat besar, tetapi ia tidak bisa berhubungan sembarangan. Ia harus menjaga kehormatan serta kesuciannya dengan baik.
Ayana melangkah tergopoh-gopoh berusaha mencapai pintu keluar. Usahanya pun sia-sia belaka, jalan yang diambilnya malah membuat ia semakin masuk ke dalam.
Tidak ada siapa-siapa di ujung lorong yang ia ambil tadi. Keadaannya gelap gulita tanpa ada secercah cahaya sedikit pun.
Ayana bersandar pada tembok dan seketika itu juga tubuhnya merosot ke bawah. Ia menahan diri untuk tidak mengeluarkan suara yang bisa membuatnya membenci diri sendiri.
Dengan kesadaran di ambang batas, Ayana terus menahan sesuatu yang terus menerus merangseknya untuk melakukan itu.
Tanpa ia sadari dari arah samping sepasang sepatu pantofel mengkilap dengan harga fantastis berjalan mendekat.
Kedua sudut bibir itu melengkung menyaksikan ikan memakan umpannya. Sosoknya pun terus melangkahkan kaki mendekati Ayana.
Tidak lama berselang ia berdiri tepat di samping wanita itu. Ia merunduk dan mengelus pelan pipi kanan sang pelukis.
__ADS_1
Seketika itu juga Ayana melenguh tanpa sadar.