Bunga Air Mata

Bunga Air Mata
SEASON 3 CHAPTER 91


__ADS_3

Kita tidak pernah tahu apa yang terjadi keesokan hari. Sang raja siang pun tidak menduga jika hujan akan mengambil alih tempatnya.


Air yang turun dari langit itu tiba-tiba saja hadir tanpa peringatan.


Malam pun tidak tahu jika ada cahaya bulan yang meneranginya dari kegelapan. Laut pun tidak menduga akan mendapatkan keindahan di balik ombak besar datang menerjang.


Semua sudah ada takarannya masing-masing. Di sisi negatif pasti ada sisi positif yang bisa diambil. Hikmah dari segala kejadian memberikan sebuah pembelajaran jika apa pun yang terjadi tidak luput dari rencana Allah.


Bersabar, yakin, serta percaya, menjadi kuncinya. Karena tidak ada yang menempati satu titik sama selamanya.


Jalani saja apa yang sudah diberikan, serta syukuri apa pun hasilnya, maka kebaikan serta kebahagiaan bisa diraih begitu saja.


Setelah pertemuan hari itu, satu minggu kemudian Hana, Ayana, juga beberapa orang terlibat melaksanakan apa yang sudah disepakati bersama.


Di mansion Zidan, tepatnya di lantai atas di studio lukis Ayana, Hana melakukan streaming untuk menceritakan apa yang sebenarnya terjadi.


Pengakuannya tersebut disiarkan di channel milik jaksa tampan, Haidan Abizar. Sebelum acara tersebut dimulai, Bening memberitahukan secara online mengenai hal itu yang seketika mendapat antusias besar dari masyarakat.


Baru saja kamera dinyalakan, sudah banyak penonton berdatangan. Bahkan tidak sedikit dari mereka langsung memberikan komentar.


Tentunya pro dan kontra tidak luput dari suatu permasalahan.


Melihat antusiasme para warga, Hana seketika gugup, pucat pasi. Ayana yang melihat itu langsung menggenggam tangannya erat dan mengusap punggungnya berkali-kali.


"Tenang, tidak akan terjadi sesuatu. Kamu harus percaya diri dan menghadapi semuanya agar masalah ini cepat selesai. Tenang saja, kali ini berbeda dari jumpa pers kemarin."


"Kamu harus meluruskan kesalahpahaman mereka jika... kamu sama sekali tidak terlibat apa pun atas kesalahan yang dibuat oleh ayahmu."


"Apa kamu siap?" tanya Ayana kemudian.


Hana mengangguk sekilas dan dituntun oleh Ayana serta Jasmine duduk berhadapan dengan kamera menyala.


Sesampainya di sana, Ayana berbisik lirih tepat di telinganya. "Jangan takut... kami semua ada di sini. Kamu... tidak sendirian. Anggap saja kamu hanya sedang berhadapan dengan kami saja."


Degup jantung Hana bertalu kencang, saat pandangan mereka bertemu Ayana mengulas senyum manis yang memberikan ketenangan.

__ADS_1


Seperti yang dikatakan Ayana, arah pandang Hana hanya berpusat pada orang-orang yang sudah diketahuinya beberapa hari ini.


Di sana ada Ayana, Jasmine, Bening, Zidan, Danieal, Haidan, serta Haikal. Tidak ada siapa pun selain mereka yang berada dalam pandangannya.


Hana semakin tenang, tidak banyak orang serta kamera seperti jumpa pers tempo hari. Keadaan itu lebih menenangkan baginya. Ia tidak takut langsung diberondong pertanyaan demi pertanyaan yang menambah ketakutan padanya.


Sebelum membuka mulut, Hana lebih dulu menutup mata dan menarik napas lalu menghembuskan nya perlahan.


Sedetik kemudian, ia membuka kelopaknya lagi dan menatap pada satu titik, yaitu kamera yang tengah menyala langsung menyoroti wajah cantiknya.


"Selamat malam semuanya, saya Hana Tsubaki."


Keadaan hening, tidak ramai seperti hari itu. Hana bertambah tenang dan lebih rileks dari pertemuan dengan para awak media.


"Saya adalah putri kandung dari Bagus Prakasa yang selama tiga periode memimpin negara kita tercinta."


"Beliau adalah sosok luar biasa sebagai seorang pemimpin. Beliau mampu memberikan kesejahteraan bagi masyarakatnya dan banyak dari kalian yang menjunjung tinggi keberadaanya."


"Namun, ada noda yang beliau lakukan di masa lalu hingga membuatnya harus berada di tempat seharusnya. Hukuman... iya, saya mengerti akan kemarahan kalian, sebab merasa sudah dibohongi oleh beliau."


"Bagus Prakasa, beliau adalah saudara kembar dari ayah saya. Namun, kehidupan mereka sangat bertolak belakang. Sampai pada akhirnya membangkitkan kemarahan dalam diri ayah saya."


"Kalian juga setuju hingga pada akhirnya beliau menjabat sebanyak tiga periode. Itu artinya masyarakat semua percaya pada potensi beliau."


"Sangat disayangkan noda di masa lalu menutup kebaikannya selama ini. Saya tidak membela beliau karena kami berhubungan darah, tidak sama sekali."


"Di sini... saya berbicara ingin meluruskan semuanya jika... saya tidak terlibat sedikitpun akan kebohongan yang dilakukan beliau."


"Masyarakat semua, mau percaya atau tidak, itu terserah kalian. Karena kalian juga punya hak untuk percaya ataupun sebaliknya, serta menyikapi apa yang saya sampai kan ini."


"Satu yang pasti... saya sama seperti kalian berharap Bagus Prakasa mempertanggungjawabkan perbuatannya. Karena kita semua tidak akan selamat dari apa yang telah kita perbuat."


"Maka siapa pun yang menuntut Tuan Bagus Prakasa dihukum sesuai perbuatannya, saya sangat setuju."


Hana terus mengungkapkan perasaan terdalamnya selama ini. Dengan kedua tangan mengepal di atas pangkuan, ia berusaha tenang dan menahan air mata untuk tidak tumpah begitu saja.

__ADS_1


Namun, sekuat apa pun ia mencoba menahannya, bendungan di kedua mata hancur juga dan cairan bening meluncur di kedua pipi.


Banyak komentar berdatangan dan memberikan spekulasi baru. Jika Hana Tsubaki memang tidak bersekongkol dengan ayahnya.


Bahkan dengan keberanian Hana speak up mengundang perhatian banyak orang. Mereka memberikan dukungan semangat padanya.


Hana mengusap air mata itu lembut dan kembali tersenyum di hadapan kamera. Ayana yang menyaksikan itu pun ikut mengulas senyum, lega pada akhirnya wanita ditemuinya di rumah sakit Desa X bisa bangkit juga.


"Terima kasih pada kalian semua yang sudah percaya pada kata-kata saya. Karena... saya tidak bisa membuktikan apa pun atas apa yang terjadi."


"Satu lagi... keberadaan saya selama ini hanya menjadi ketakutan beliau. Hanya itu yang bisa saya katakan, terima kasih sekali lagi untuk dukungan dan pendapat kalian bagi saya."


Hana menganggukkan kepala singkat dan setelahnya melengkungkan bulan sabit sempurna.


Sedetik kemudian siaran langsung itu berakhir. Semua orang yang ada di studio bertepuk tangan, bangga pada keberanian Hana sebab berhasil menghadapi ketakutannya sendiri.


Ayana, Jasmine, dan Bening pun berjalan mendekat lalu memeluknya begitu saja. Hana menerimanya dan mereka menangis bersama-sama.


"Syukurlah, Alhamdulillah, aku senang melihatmu bisa menghadapi rasa takut," kata Ayana memuji.


"Aku harap setelah ini akan ada kebaikan menyertaimu, Hana," lanjut Jasmine.


"Semoga kamu bisa menggapai mimpi yang sempat tertunda," timpal Bening.


Hana hanya mengangguk-anggukan kepala sebagai jawaban. Ia sangat bersyukur dipertemukan orang-orang hebat seperti mereka.


Ternyata pesta yang Hana usulkan mendatangkan keberkahan. Sebelum acara itu berlangsung, ia meminta sang ayah untuk melakukan sesuatu baginya.


Siapa sangka Bagus menerima dan mengadakan pesta teh. Hana pula lah memberikan tanda sayap di ujung undangan yang hendak diberikan pada Ayana sebagai simbol jika dirinya masih ada.


Di samping itu Hana meminta bantuan dengan simbol sayap tersebut kepada Ayana untuk mengungkap siapa sang ayah sebenarnya. Siapa sangka rencana yang ia inginkan berjalan lancar dan jauh dari harapan.


Awalnya ia pikir sang ayah akan menolak, mengingat pasti banyak orang yang datang ke istana putih. Namun, setelah Hana mengatakan jika itu permintaan pertama dan terakhirnya, Bagus pun mengiyakan.


Siapa sangka semua itu menjadi boomerang baginya. Fakta yang selama ini ia sembunyikan harus dibongkar begitu saja akibat permintaan sang buah hati.

__ADS_1


Hana lega, setidaknya rahasia kelam sang ayah bisa terbongkar sudah dan membuat orang-orang tidak dibohongi olehnya lagi.


"Terima kasih ya Allah atas kebaikan yang telah Engkau berikan," benaknya bersyukur.


__ADS_2