Bunga Air Mata

Bunga Air Mata
SEASON 3 CHAPTER 31


__ADS_3

"APA?"


Teriak dua orang di sana terkejut menerima pengakuan dari buah hati pertamanya.


Hari ini keluarga Arsyad tengah mengadakan pertemuan di ruang khusus. Mereka duduk begitu rapih layaknya sedang melakukan rapat penting.


Situasi di sana pun terasa formal dengan kepala keluarga duduk tepat di ujung meja.


Sudah menjadi kebiasaan di kala ada pembicaraan penting mereka selalu mengadakan pertemuan keluarga guna mencapai musyawarah mufakat.


Para anggota keluarga duduk berhadapan menerima pengakuan seseorang.


"A-apa benar yang kamu katakan barusan, Danieal?" tanya kepala keluarga tidak percaya.


"Ayah, Mas Danieal itu sudah mengatakan perasaan sebenarnya padaku kemarin. Dia benar-benar, sungguh-sungguh jatuh cinta pada pengrajin patung itu-"


"Bekas pengrajin patung, Ayana. Kalau kamu tidak lupa," jelas Danieal memotong ucapan adiknya yang tengah menikmati hidangan ringan.


Makanan manis itu selalu ada di setiap pertemuan layaknya sebuah keharusan dan sebagai tradisi keluarga yang telah diterapkan bertahun-tahun.


Sang pelukis tersenyum lebar memperlihatkan deretan gigi-gigi putihnya dan kembali memasukan sesuap kue basah berukuran kecil ke dalam mulut.


Ia menikmati makanannya acuh tak acuh. Danieal mengangkat sebelah bibirnya lalu beralih ke ayah dan ibu.


"Itu benar, Ayah. Mas Danieal memang sedang jatuh cinta. Entah wanita itu menyukainya atau tidak, kita belum tahu," lanjut Zidan menjelaskan.


"Tumben manggil Mas. Eyy, terdengar geli di telingaku." Danieal mengelus-elus daun telinganya beberapa kali mengenyahkan panggilan dari adik iparnya tadi.


Zidan dan Ayana tertawa melihat reaksinya, sedangkan Adnan serta Celia saling pandang.


Orang tua itu senang sekaligus masih tidak percaya mendengar jika anak sulung mereka bisa jatuh cinta kembali.


Sudah terlalu lama Danieal tidak mengatakan apa pun mengenai perasaannya untuk lawan jenis.


Kekhawatiran itu kerap kali menghantui Celia dan Adnan. Karena semenjak berakhirnya hubungan Danieal dengan Kirana, sang buah hati cenderung menghindari pembahasan mengenai sebuah perasaan.


Mereka takut Danieal trauma atas apa yang menimpanya dan juga Eliza. Sebagai seorang kakak, ia juga sangat terpukul atas pengkhianatan yang dilakukan Kirana.


"Benarkah apa yang kamu rasakan ini Danieal? Maksud Mamah apa ini bukan semata-mata kasihan atau iba?" tanya sang ibu yang duduk tepat di sebelahnya, meyakinkan.


Tangan hangat itu menggenggam lembut jari jemari putranya. Sang empunya menoleh menyaksikan raut muka penuh arti Celia.


Tanpa gentar Danieal menganggukkan kepala.

__ADS_1


"Aku yakin, Mah. Perasaan ini bukan iba ataupun kasihan... aku telah jatuh cinta pada, Jasmine. Wanita yang selama ini menjadi pasienku."


"Memang awalnya kasihan dan iba itu merundung diriku, tetapi... seiring berjalannya waktu, tanpa sadar aku... jatuh cinta padanya."


"Aku ingin menjaganya di sisa umur yang Allah berikan. Tidak hanya jatuh cinta saja, aku... ingin menjadikannya pasangan hidup, penyempurnaan agama," jelas Danieal mengungkapkan isi hati.


Celia tersenyum haru mendengar semua pengakuan yang diberikan putra pertamanya.


Adnan pun merasakan hal sama. Ia tidak menyangka dan menduga mendapatkan hari di mana jagoan kecilnya kini tumbuh menjadi seorang pria bertanggungjawab.


Menyaksikan kekaguman di wajah orang tuanya, Ayana pun ikut tersenyum. Ia bisa merasakan apa yang tengah dirasakan oleh Celia dan Adnan.


"Mamah senang kamu bisa menemukan pengganti Kirana. Mamah kira... setelah kejadian kemarin, kamu sudah mati rasa dan tidak mau memulai hubungan baru lagi," balas Celia sembari menepuk-nepuk punggung tangan Danieal.


"Ayah, merestui apa yang akan kamu lakukan Danieal. Asalkan jangan pernah langgar perintah Allah lagi. Mungkin kejadian kemarin sebagai pengingat bagi kita untuk tidak memulai sebuah hubungan tanpa dasar ikatan suci," lanjut Adnan.


Bola mata cokelat bening Danieal bergulir pada sang ayah. Ia memberikan senyum haru seraya mengangguk singkat.


"Ayah benar... terima kasih banyak," lirih Danieal.


"Mamah juga akan merestui apa pun yang ingin kamu lakukan. Lamar Jasmine sesuai kepercayaan kita," kata Celia lagi.


"Itu yang aku pikirkan, Mah. Aku tidak ingin sekedar pengakuan, tetapi kejelasan. Jika Jasmine memiliki perasaan yang sama aku tidak akan berlama-lama lagi untuk melamarnya, tetapi jika tidak... itu juga tidak masalah," aku Danieal serius.


Ayana dan Zidan yang sedari terus memperhatikan drama keluarga tepat di depan matanya pun ikut mengulas senyum bahagia.


"Alhamdulillah, aku senang mendengarnya. Semoga Jasmine juga mempunyai perasaan yang sama denganmu, Mas," timpal Ayana membuat perhatian sang kakak kembali padanya.


Dokter tampan itu pun mengiyakan dengan melengkungkan kedua sudut bibir sempurna.


"Jadi, langkah selanjutnya adalah kita harus segera melamar Jasmine," lanjut Zidan membuat Danieal terbelalak.


"Se-sekarang juga?" tanyanya tercengang.


"Tentu saja, kamu pikir kapan lagi waktunya? Nanti keburu Jasmine diambil orang," ancam Zidan kemudian.


"A-apa, baiklah kalau begitu-" Danieal langsung beranjak dari duduk memandangi anggota keluarganya bergantian.


Wajahnya terlihat cemas sekaligus panik.


"Mamah, Ayah, ayo cepat!" ajaknya seperti seorang anak yang menginginkan sebuah perjalanan panjang.


Celia, Adnan, Ayana, dan Zidan pun saling pandang. Setelah itu mereka tertawa kencang menyaksikan kelakuan Danieal.

__ADS_1


"Oh ya Allah, apa yang akan kamu lakukan tanpa persiapan Danieal? Apa kamu akan melamar anak orang hanya dengan modal nekad saja? Tidak bukan?" Zidan memegang perut sixpack nya menahan ngilu akibat banyak tertawa.


"Mas-Mas, sabar sedikit bisa? Tenang saja Jasmine tidak akan pergi ke mana-mana," lanjut Ayana kembali tergelak.


"Sabar anakku yang tampan, wanita itu pasti akan menolak mu jika seperti ini caramu melamarnya," kata Celia mendongak memandangi Danieal.


"Sabar wahai anak muda," timpal Adnan ikut menggodannya.


"Ka-kalian-" Danieal sadar jika saat ini sedang menjadi bahan tertawaan.


Ia pun langsung menoleh pada Zidan yang tengah tertawa sambil memandanginya.


"Kamu-" tunjuknya kepada sang adik ipar.


"Kamu yang merencanakannya bukan? Dasar, aku jadi bahan bully-an kalian." Danieal mencak-mencak seraya berkacak pinggang memandangi mereka satu persatu lagi dan kembali pada Zidan.


Kedua netra kelamnya melotot, penuh amarah. Napasnya bergemuruh menahan emosi dengan mulut kemerahan mengerucut.


Zidan bersembunyi di balik punggung Ayana, menghindari tatapan amarah sang kakak ipar.


"Sudahlah, Mas. Mas Zidan tidak sengaja," bela Ayana, hal tersebut membuat Zidan menjulurkan lidah, mengejeknya senang.


"Kamu!" Danieal kembali menunjuk tepat di depan wajah tampan itu.


Zidan kembali menyembunyikan diri di punggung sempit sang terkasih.


Danieal mendengus kasar seraya memalingkan muka ke samping kanan.


"Kalian ini, seperti anjing dan kucing saja, dasar kakak beradik yang sangat akur." Kedua tangan Celia bertumpu di atas meja dan meletakkan dagu di telapaknya melihat mereka, senang.


Kepala berhijab simple itu menggeleng beberapa kali menyaksikan kedua putranya.


"Senang melihat kalian akur seperti ini," lanjut Adnan lagi mengikuti gaya sang istri.


Ayana tertawa kembali, senang melihat suami dan juga kakaknya bisa akur.


Meskipun mereka saling mengejek satu sama lain, tetapi Ayana tahu itu adalah bentuk dari pengungkapan kasih sayang keduanya.


Ayana menatap keluarganya bergantian, bahagia mendapatkan kehangatan serta keakraban yang sudah lama hilang.


Kehampaan serta keheningan yang kerap kali menghantui, kini kembali menerjang.


Keharmonisan keluarga yang dulu begitu didambakan, sekarang memeluk eratnya lagi.

__ADS_1


Meskipun di dalam hati ada kesepian serta kerinduan lain. Sebagai seorang istri dan calon ibu yang pernah kehilangan anak, Ayana mengharapkan keberadaan buah hatinya lagi.


"Astaghfirullahaladzim, apa yang aku pikirkan? Ada Raima Ayana. Ada putri kecilmu yang harus diperhatikan," benaknya tersenyum ringan.


__ADS_2