Bunga Air Mata

Bunga Air Mata
Chapter 56


__ADS_3

Seminggu setelah kejadian itu, Ayana kembali fokus kepada galerinya. Ia kembali menuangkan imajinasi kepada lukisan.


Beberapa kali ia mendengar telepon di meja kasir berdering. Satu-satunya karyawan yang ia punya pun kewalahan menerima panggilan tersebut.


"Kita kebanjiran pesanan, Mbak," katanya menoleh ke belakang.


Ayana yang tengah memegang kuas pun tersenyum lebar. "Benarkah? Seruni, apa benar mereka memesan lukisan kita?"


Seruni, wanita berusia dua puluh lima tahun itu mengangguk mengiyakan. "Itu benar Mbak. Bahkan akhir pekan nanti mereka akan datang ke gallery kita."


"MasyaAllah, sungguh berkah yang luar biasa," balas Ayana lagi.


"Iya Mbak, Alhamdulillah. Semangat melukisnya, Mbak. Aku mau melayani pengunjung dulu," katanya membuat Ayana mengiyakan.


Ia pun kembali pada pekerjaannya membuat lukisan baru lagi. Ia terus berkonsentrasi tidak ingin melewatkan satu hal pun. Ia melukis dengan detail membuat hasilnya pun menarik peminat.


Sejak mengungkap siapa jati diri yang sesungguhnya, Ayana semakin kebanjiran pesanan. Ia terus mendapatkan pelanggan dari berbagai kalangan.


Keberadaannya diterima dengan baik tanpa mempedulikan masa lalu. Justru kebalikannya banyak orang yang menghujat kedua pianis itu.


Ayana tidak begitu mempedulikannya dan menganggap tidak ada yang terjadi. Ia hanya berharap Zidan bisa secepatnya menandatangani surat perpisahan mereka.


Ia ingin segera terbebas dari pria itu secara resmi dan tidak lagi dibayang-bayangi masa lalu.


"Selamat siang." Suara orang asing menyapa.


Ayana yang masih melakukan pekerjaannya pun terusik seketika. Ia menyadari jika Seruni tidak ada di tempat dan masih bertugas membimbing para pengunjung.


Ia pun bangkit dari kursi kayu berjalan beberapa langkah ke depan. Ayana mendapati seorang pria bertopi hitam memeluk buket bunga.


"Selamat siang, apa ada yang bisa saya bantu?" tanya Ayana ramah.


"Saya dari toko Camelia ingin memberikan buket bunga ini pada Ayana," jelasnya membuat sang empunya nama mengerutkan dahi.


"Saya Ayana, tetapi saya tidak merasa memesan buket bunga ini," balasnya tidak mengerti.


"Saya hanya menyampaikannya saja," kata si kurir tersebut.


Merasa tidak enak Ayana pun menerimanya begitu saja. Pria itu mengucapkan terima kasih dan bergegas pergi dari sana.

__ADS_1


Ayana memandangi buket yang terdiri dari dua jenis itu bingung. Bunga mawar merah serta anyelir merah muda pun mengingatkan ia pada satu orang.


"Mas Zidan, apa lagi yang dia inginkan?" gumam Ayana meremas ujung buket tersebut.


"Wah Mbak dapat buket bunga dari siapa?" Seruni datang mengejutkan.


Ayana seketika menjulurkannya pada Seruni. "Bukan dari siapa-siapa, kamu mau?"


"Mau-mau Mbak. Aku tidak pernah mendapatkan buket seperti itu," ucapnya senang.


"Kalau begitu ambillah."


Dengan cepat Seruni pun mengambil buket dari genggaman Ayana. Ia tersenyum senang dan membawanya ke belakang.


...***...


Sejak hari itu buket ataupun karangan bunga lain terus berdatangan. Setiap harinya Ayana mendapatkan bunga-bunga tersebut dari orang yang sama.


Ia pun juga terus memberikannya pada Seruni atau pada pelanggan yang datang. Ia tidak menerima satu pun buket atau karangan dari sang pianis.


"Mbak ka-li ini sa-ngat besar." Seruni membawa masuk buket bunga yang diberi vas cantik sebagai wadahnya.


"Letakkan saja di sana," titahnya.


Seruni pun menurut dan segera meletakan vas bunga tidak jauh dari pintu masuk. Ia memijat bahunya yang terasa ngilu.


"Terima kasih sudah membawakannya," kata Ayana.


"Sama-sama, Mbak. Sebenarnya siapa yang terus-terusan memberikan bunga-bunga ini? Apa mungkin seorang penggemar?" tanya Seruni penasaran.


"Tidak ada, hanya orang asing saja," balas Ayana seraya memperhatikan kedua jenis bunga dalam satu wadah tersebut dan mendapati selembar kertas terselip di dalamnya.


"Seharusnya Mbak senang ada penggemar yang rutin memberikan bunga. Ini sudah dua minggu dan dia terus mengirimkannya. Atau jangan-jangan dia pria yang diam-diam mencintaimu, Mbak. Ah, harusnya Mbak senang bisa dicintai sebegitu nya." Seruni terus meracau tanpa tahu jika Ayana menahan gejolak dalam dada.


Mendengar kata-kata tadi, wanita pelukis itu pun menyeringai lebar. Tanpa melihat ke arah Seruni, ia masih memandangi benda mati di depannya.


"Seruni, bisa kamu membereskan peralatan melukis di etalase? Aku melihat banyak sekali debu di dalamnya," ungkap Ayana.


"Ah, benarkah? Oh tidak sayang sekali jika peralatan sebagus itu rusak." Seruni yang gila kerja dan sangat menyayangi peralatan melukis pun bergegas pergi dari sana.

__ADS_1


Ayana yang melihatnya tersenyum dan berjongkok setelah kepergian Seruni. Tangannya pun terulur membawa selembar kertas yang sedari tadi sudah mencuri perhatian.


Ia membuka lipatan itu dan mendapati tulisan tangan yang tidak asing lagi.


"Ayana, apa kamu suka bunga dariku? Aku berharap kamu mau memaafkan atas semua kesalahanku di masa lalu maupun sekarang. Aku sengaja memberikan bunga mawar merah dan anyelir merah muda ini padamu sebagai tanda jika ... aku benar-benar menyesal dan ... aku sangat mencintaimu.­_ Zaidan Ashraf."


Ayana mendengus kasar dan meremas kertas itu menjadi gulungan kecil. Ia bangkit lalu pergi dari sana membiarkannya begitu saja.


...***...


Tidak pernah Ayana bayangkan jika tepat hari ini ia harus bertemu kembali dengan sang pianis. Baru saja membuka pintu keluar hendak pulang dan mengistirahatkan tubuh letih nya, ia di hadapkan pada sebuah permasalahan.


Ia menghela napas kasar dan memandangi pria itu sekilas. Ia mendelik tajam dan melangkahkan kaki tanpa memberikan kesempatan pada Zidan untuk berbicara.


"Ayana apa kamu suka dengan bunga yang aku berikan?" tanyanya membuat langkah Ayana terhenti.


"Berhenti mengirimkannya padaku. Aku tidak suka kedua bunga itu," balas Ayana tanpa menoleh sedikit pun.


"Bukankah kamu paling suka bunga mawar? Dulu kamu senang aku memberikannya," ucap Zidan mengingatkan Ayana pada masa itu.


Masa di mana Zidan membelikan ia bunga mawar merah sebagai ungkapan cinta. Ia berpikir jika sang suami tulus mencintainya.


Namun, semua itu dilakukan hanya untuk menutupi kebohongannya saja dan ia melakukannya pun jika ada orang tuanya datang berkunjung.


Ayana menyadari jika hal tersebut palsu belaka. Ia begitu mudah dibohongi dan dimanipulasi dengan permainan mereka.


"Aku sangat membencinya. Aku tidak suka melihat bunga itu lagi. Silakan kamu bawa karangan bunga hari ini dan jangan pernah memberikannya lagi padaku."


Setelah mengatakan itu Ayana pergi tanpa mendengar jawaban Zidan. Sang pianis menoleh ke belakang di mana bunga yang ia kirim hari ini tergeletak di depan toko begitu saja.


Namun, sebelum Ayana mencapai parkiran langkahnya di hentikan oleh cengkraman di pergelangan tangan. Ia menoleh ke belakang dan tatapan mereka saling bertubrukan. Zidan bergegas menyusul dan tidka membiarkannya lolos.


"Lepaskan, apa yang kamu inginkan? Lepaskan aku." Ayana berusaha melepaskan cengkraman tangan Zidan yang begitu kuat.


"Aku tidak akan melepaskannya sampai kamu mau menerimaku lagi," kata Zidan begitu saja.


"Kamu gila. Aku ingin berpisah denganmu, sudah tidak ada yang bisa kita pertahankan lagi." Ayana masih berusaha melepaskannya.


Belum sempat Zidan membalas perkataan Ayana, tangan lain pun mencengkram pergelangannya kuat. Mereka memandang ke arah yang sama di mana CEO sekaligus pelukis itu menatap pianis tersebut nyalang.

__ADS_1


"Lepaskan tanga Ayana." Suara beratnya membuat mereka terkejut.


__ADS_2