Bunga Air Mata

Bunga Air Mata
SEASON 3 CHAPTER 3


__ADS_3

Suara teriakan seorang wanita begitu melengking di keheningan malam. Napasnya memburu dan tersengal-sengal menghindari sesuatu.


Penampilannya begitu acak-acakan, sebagian pakaiannya terkoyak di sana sini, wajahnya tertutup noda tanah, dan ia terus berlari tanpa alas kaki.


Hal itu membuat telapaknya terluka berkat gesekan batu krikil yang terus menerus ia dapatkan.


"Jangan mendekat... aku mohon lepaskan," teriaknya seraya menoleh ke belakang beberapa kali.


Tepat dari jarak sepuluh meter darinya tiga orang pria berbadan kekar nan tinggi semampai mengejarnya sedari tadi, tidak memberikan kesempatannya untuk terus kabur.


"Berhenti kau sialan, jangan terus memberontak," ujar salah satu dari mereka.


"Berhenti!" lanjut yang lainnya.


Namun, ia tidak sedikitpun menyerah guna meninggalkan ketiga pria yang terus mengejarnya.


Peluh pun membasahi wajah sang wanita, rambutnya lepek akibat basah dari keringat dan juga debu.


Ia terus menghindar dari kejaran mereka, sampai keluar dari gang yang dilaluinya. Ia berhenti sejenak di sana melihat ke kanan-kiri memeriksa situasi.


Intuisinya bekerja, membuat kedua kaki itu kembali bergerak ke samping kanan. Ia terus melajukan larinya tidak mempedulikan napas yang sudah tersengal-sengal tak karuan.


Tidak lama setelah ia menubruk sebuah toko mengejutkan penghuni di dalamnya.


...***...


Setelah mendapatkan cuti selama lima bulan, sebab ingin fokus mengurus suami dan anak, hari ini Ayana kembali ke profesinya.


Sejak tadi pagi ia membuka galeri yang diberi nama magnolia menyambut para penikmat seni terus berdatangan.


Kesibukan yang kembali dilakukannya sedari tadi pun pada akhirnya mencapai titik akhir. Tepat pada pukul setengah sembilan malam ia menutup toko.


Dibantu oleh Seruni, satu-satunya pegawai di sana Ayana membereskan semua kekacauan yang ada.


Di tengah pekerjaan, keduanya pun dikejutkan oleh suara lengkingan seorang wanita yang begitu kontras dengan keheningan malam.


Mereka saling tatap menghentikan pergerakan tangan yang sedari tadi sibuk membersihkan peralatan melukis.


Karena di hari pertama Ayana kembali membuka galeri, ia sengaja mengajak para pengunjung untuk melukis bersama.


Siapa sangka momentum itu sangat menarik perhatian, banyak juga anak-anak yang datang untuk belajar bersama pelukis ternama tersebut.


"Suara siapa itu, Mbak?" tanya Seruni takut-takut.


Ayana yang sedang menggenggam kanvas berukuran kecil pun menggelengkan kepala. Ia lalu berjalan ke depan memantau situasi yang sudah sepi dari orang-orang.


"Tidak ada siapa-siapa, mungkin suara tadi hanya terbawa angin," jelas Ayana membuat pegawainya yang berada di belakang mengangguk.


Tepat setelah Ayana balik badan, terdengar suara bentuman di pintu kaca galeri. Refleks kedua wanita itu saling berteriak dan berpelukan satu sama lain.

__ADS_1


Ayana dan Seruni memanjatkan doa-doa guna mengusir rasa takut.


"A-apa itu Mbak? Mbak, apa itu? Apa itu manusia?" tanya Seruni beruntun mengatupkan mata kuat.


Ayana yang tidak beda jauh darinya pun menggeleng tak karuan.


"Aku tidak tahu... aku tidak tahu..." racaunya.


Mereka terus berpelukan dengan tubuh gemetar menahan takut.


Di tengah kengerian tersebut suara lirih seseorang semakin membuat keduanya tidak kuasa bergerak sedikitpun.


Ayana dan Seruni mengeratkan pelukan berpura-pura tidak mendengar.


"To-long, aku mohon, tolong aku."


Permintaan itu terus berdengung bersamaan gebrakan yang dilayangkannya pada pintu kaca berulang kali.


"Aku mohon tolong aku. Aku minta tolong," katanya lagi dan lagi.


Di rasa jika ada seseorang yang benar-benar minta tolong, Ayana pun melepaskan pelukan lalu berjalan menuju ke depan.


Kedua hazelnut nya menyipit berusaha fokus pada siluet seseorang tepat di depan pintu masuk.


Sedetik kemudian sang pelukis terbelalak melihat ada seorang wanita dengan penampilan acak-acakan bersimpuh di sana.


"Apa... Anda baik-baik saja?" tanya Ayana membantunya bangun.


"A-ku mohon izinkan... aku masuk," pintanya lagi.


Ayana mengangguk lalu menoleh ke belakang dan berteriak pada Seruni. "Tolong siapkan futon di ruang sebelah."


Seruni pun menyanggupi dan bergegas menjalankan apa yang sudah ditugaskan.


Ayana membawa wanita tadi masuk dan mengunci pintu galeri rapat serta menutupkan gorden agar siapa pun tidak bisa melihat ke dalam.


Ia merasakan sebuah firasat tidak mengenakan setelah melihat keadaan wanita asing itu.


Beberapa saat kemudian, Ayana dan Seruni merawat wanita tanpa identitas tersebut. Mereka memberikan minuman hangat serta kudapan ringan untuk mengembalikan staminanya.


Hanya dengan alas futon wanita berambut sepunggung, tengah mengenakan gaun putih yang telah terkoyak pun duduk aman di sana.


Ia memandangi Ayana dan Seruni bergantian lalu kembali menunduk.


"Terima kasih sudah menyelamatkanku," gumamnya lirih.


Kedua wanita itu pun saling pandang seolah memahami situasi yang terjadi. Terutama Ayana, ia sedikit merasakan ketakutan, kecemasan, serta kengerian yang dirasakan wanita di hadapannya ini.


Karena beberapa tahun lalu ia pun sempat mengalaminya.

__ADS_1


"Tidak usah sungkan, kamu aman di sini. Kalau boleh tahu siapa namamu dan dari mana asalmu?" tanya Ayana ramah.


"Aku-" jeda sejenak wanita yang masih belum diketahui namanya pun meremas kain di pangkuannya.


"Aku Jasmine," lanjutnya kemudian.


"Jasmine? Em, nama yang bagus seperti nama bunga, bukan?" Ayana menoleh pada Seruni untuk ikut ke dalam pembicaraan.


"Benar, nama yang sangat cantik. Kenalkan aku Seruni, em apa terdengar seperti nama bunga juga?" tanyanya mencoba mencarikan suasana.


Jasmine, wanita itu mendongak singkat lalu mengangguk pelan.


"Em, nama kalian memang terdengar seperti bunga." Ayana menghela napas kasar, "apa daya namaku tidak sebagus itu-"


"Siapa namamu? Siapa namamu?" tanya Jasmine dua kali memotong ucapan Ayana cepat.


Seulas senyum pun terpendar di wajah cantik nan ayu sang pelukis membuat Jasmine melebarkan mata tidak percaya.


"Ayana... Ayana Ghazella. Itu namaku, salam kenal," balas Ayana lagi ramah.


Seketika itu juga Jasmine terpaku, tidak percaya bisa mendengar nama tadi berdengung di indera pendengarannya.


Degup jantungnya bertalu kencang dengan keringat dingin bermunculan.


"Ayana? Ayana Ghazella?" ucapnya kembali.


Wanita berhijab mocca di sampingnya mengangguk berulang kali.


"Kenapa? Apa kamu belum pernah mendengar nama Ayana?" tanya Seruni memutuskan ketegangan dalam dirinya.


Jasmine menoleh padanya singkat lalu kembali ke Ayana.


"Iya, ini pertama kali aku melihat Ayana."


Jawaban itu mendatangkan tanda tanya di kepala kedua wanita bersisian tersebut. Baik Ayana maupun Seruni kembali saling pandang dan menyimpan segala rasa penasaran dalam diam.


Malam ini mereka dikejutkan dengan kedatangan seorang wanita bernama Jasmine.


Wanita itu bagaikan misteri yang di dalamnya mengandung teka-teki. Datang dengan penampilan acak-acakan, jauh dari kesan rapih mengejutkan mereka.


Namun, Ayana sadar di balik keberadaannya pasti mengundang kisah lain.


Ia tahu ceritanya tetap berlanjut sampai pada titik akhir. Ia kembali mengulas senyum pada Jasmine yang sedari tadi terus memperhatikannya lekat.


Seolah sorot mata berbicara, kedua wanita itu menyampaikan semuanya lewat pandangan.


Ayana memindai wajah kotor Jasmine yang memiliki bentuk muka oval dengan kulit putih.


"Wanita ini sangat cantik, bagaimana bisa dia sampai berakhir seperti ini?" benaknya terus memperhatikan Jasmine dalam diam.

__ADS_1


__ADS_2