
Hidup selalu saja mendatangkan kejutan tak terduga. Allah sebagai pemilik skenario terhebat kadang kala memberikan misteri di dalamnya.
Namun, hal tersebut mengandung kebaikan seperti hilangnya kesedihan dan diganti kebahagiaan.
Di salah satu ruangan mansion megah milik sang tuan muda, keempat pria itu terdiam tanpa berkata-kata selepas menyaksikan tayangan menakjubkan.
Mereka tidak menyangka jika Ayana bisa melakukan pertunjukkan yang tak terduga. Zidan, Danieal, Gibran, serta Haikal hanya bisa saling menatap satu sama lain.
Zidan pun menggenggam erat ponsel miliknya kala keyakinan semakin datang menerjang.
"Aku akan memperlihatkan video ini kepada ayah dan ibu," katanya kemudian.
"Harus, Mas harus membersihkan nama baik mbak Ayana. Kalau perlu beberkan langsung saja pada media jika tuduhan wanita itu salah tentang mbak Ayana yang ingin mencelakai mu," timpal Gibran memandang sang kakak.
"Aku setuju ... aku yakin dalang di balik semua ini adalah Bella. Buat wanita itu jera dan tidak terus menerus mengganggu kehidupan adikku," ungkap Danieal dijawab anggukan Zidan dan Gibran.
"Saya benar-benar kagum atas tindakan yang dilakukan nona Ayana. Beliau benar-benar luar biasa," ucap Haikal masih menatap layar di depannya.
Ketiga pria itu pun mengangguk kompak, setuju pada ucapannya.
"Aku juga tidak menyangka. Bukankah beberapa hari lalu Ayana terlihat terpuruk bahkan enggan menemuimu?' tanya Danieal kembali.
Zidan yang menjadi atensinya pun mengiyakan. "Bahkan dia juga mengaku pada ayah dan ibu hendak membunuhku. Aku tidak tahu jika kini Ayana sudah berubah kembali."
"Mbak Ayana selalu memberikan kejutan tak terduga," ujar Gibran lagi.
"Begitulah adikku, dia ... benar-benar istimewa," ungkap Danieal yang mendapatkan anggukan setuju dari ketiganya.
"Mulai sekarang aku akan melindungi mu, Ayana. Aku akan berusaha menjadi suami dan pasangan yang bisa kamu andalkan," benak Zidan yakin. Sorot matanya serius sembari mengepalkan kedua tangan.
...***...
Seperti yang sudah Zidan katakan tadi siang, kini ia datang ke kediaman utama orang tuanya. Di sana ia melihat Lina dan Arshan tengah makan bersama.
Ia dikejutkan dengan keberadaan seseorang yang tidak diharapkan bisa dilihat di sana. Bella, wanita itu kembali datang dan disambut baik oleh orang tuanya.
__ADS_1
"Apa-apaan ini?" tanya Zidan seraya mendorong kursi rodanya.
Seketika itu juga ketiga orang di sana menoleh kompak, mereka senang melihat kedatangan Zidan. Bella pun beranjak dari duduk hendak membantu mendorongnya.
"Jangan lakukan apa pun, diam saja di sana," kata Zidan cepat membaca pergerakan wanita itu.
Bella pun terdiam kaku, menoleh pada Lina dan Arshan untuk meminta bantuan. Orang tua Zidan pun menatap sang anak lekat.
"Kamu seharusnya tidak usah menolak bantuan orang lain," kata Lina membuat Bella mengangguk beberapa kali.
"Itu benar, apa kamu sudah makan? Pas sekali kamu datang, Ayah dan Mamah sudah berkali-kali menghubungimu, tapi tidak diangkat juga. Kami ingin memberitahu jika Bella akan datang malam ini untuk makan bersama," lanjut sang ayah.
Zidan mendengus pelan menyaksikan bagaimana ayah dan ibunya sudah termakan hasutan seorang Bella. Ia juga tidak menduga orang yang dulu mereka tolak mentah-mentah kini duduk bersama di meja makan.
"Aku datang ke sini bukan untuk menikmati makan malam bersama kalian. Aku datang ke sini ingin menyadarkan Mamah dan Ayah lagi jika ... wanita itu benar-benar licik." Zidan menunjuk Bella menggunakan dagunya.
Orang tua itu pun kompak menautkan kedua alis. Mereka tidak mengerti apa yang hendak di sampaikan sang anak.
Melihat diamnya Lina serta Arshan, Zidan mengeluarkan benda pintar di balik saku celana. Ia mendorong kursi roda untuk mendekat pada mereka lalu menjulurkan ponselnya.
Lina dan Arshan pun menyaksikan tayangan di mana pada malam itu Ayana mengalami depresi lagi.
Berkat kejadian tidak diinginkan di mansion presdir Han, Ayana benar-benar tidak bisa mengendalikan diri sendiri.
Ia pun mengambil pecahan kaca lalu menargetkannya pada lengan sebelah kiri. Zidan yang waktu itu melihat pergerakannya pun langsung menerjang Ayana.
Ia menarik kaca tersebut yang tidak sengaja merobek telapak tangan Ayana. Pergerakan cepat itu juga mengenai lengan sebelah kirinya yang juga mendapatkan luka dalam.
Alhasil tangan mereka dijahit untuk mencegah kejadian tidak diinginkan.
"Dini hari itu Ayana berusaha mengakhiri hidupnya. Aku membantu istriku mencegahnya dari perbuatan terlarang," ungkap Zidan menggebu.
Beberapa saat keheningan melanda, Bella menatap kedua orang tua di hadapannya yang masih diam menyaksikan tayangan tersebut.
Sedetik kemudian, Lina dan Arshan mengangkat kepala. Mereka memberikan tatapan nyalang pada Bella yang kini sudah tidak berkutik.
__ADS_1
"Jadi kamu." Arshan menunjuk tepat di depan wajah Bella.
"Kamu sudah memfitnah Ayana?" lanjut Lina bangkit dari duduk. "Astaghfirullah, apa yang sudah kita lakukan?" lanjutnya mengusap wajah jengkel.
"Kita benar-benar sudah salah paham," kata Arshan lagi.
"Tunggu apa yang Om dan Tante katakan? Dan apa yang kalian lihat?" tanya Bella penasaran.
Seketika Lina memperlihatkan benda pintar itu padanya. Bella melihat jika rekaman tersebut memperlihatkan kejadian sebenarnya.
"Itu pasti bohong ... rekaman itu palsu. Om dan Tante jangan termakan kebohongan seperti ini." Bella berusaha membela diri dan meyakinkan mereka.
"Dan itu yang saat ini kamu lakukan, Bella. Kamu sudah memberikan pernyataan bohong kepada keluargaku sampai mereka benar-benar membenci Ayana. Kamu wanita licik, yang pandai memanipulatif," kata Zidan tegas.
"Itu tidak benar, Mas. Semua ini bohong." Bellah masih tetap pada pendirian.
"Sekarang kamu pergi dari rumah ini. PERGI!" Lina berteriak marah sembari memberikan gesture mengusir Bella.
Tidak sampai kedua kali perintah itu diberikan, Bella pun pergi dari sana sembari menghentakkan sebelah kaki.
Lina dan Arshan melihat dalam diam lalu menyesali apa yang sudah diyakini. Nyonya besar itu jatuh terduduk di kursi makan, menangkupkan kepala di telapak tangan.
"Apa yang sudah aku lakukan? Kita benar-benar termakan hasutan wanita itu," gumam Lina lirih.
"Ayah juga tidak percaya mempercayai perkataannya," lanjut Arshan.
"Tapi Ayana juga mengakui tuduhannya seolah dia benar-benar melakukan hal tersebut," kata Lina lagi.
"Ayana melakukan itu untuk menjauh dariku dan ... agar kalian membencinya. Seharusnya Mamah dan Ayah sadar, jika Ayana tidak mungkin mencelakai ku dan ... sekarang aku tidak akan pernah membiarkan dia pergi lagi."
Kata-kata Zidan seketika membuat orang tuanya benar-benar merasa bersalah. Mereka telah meyakini jika Ayana hendak membunuh Zidan.
Nasi sudah menjadi bubur, keadaan yang telah terjadi tidak bisa dikembalikan seperti semula. Ada kekecewaan di hati Ayana yang sulit untuk percaya pada orang yang sama lagi.
Saat ini ia sedang menata hati memperbaiki apa yang salah dalam diri. Kondisi mental yang masih belum stabil membuatnya lebih fokus kepada penyembuhan.
__ADS_1
Lina dan Arshan hanya bisa menelan penyesalan setelah apa yang sudah terjadi.