
"Saya ada di sana saat kalian dengan tega menghabisi nyawa Tuan Bagas. Apa Anda lupa saya selalu ada di ruangan itu dan terikat layaknya binatang buas?"
Perkataan Jasmine masih terngiang dalam pendengaran. Ayana diam seribu bahasa dengan liquid bening mengucur tanpa henti.
Sorot mata penuh luka sang kakak ipar juga ikut menyayat perasaan. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana Jasmine dalam melewati malam-malam penuh kengerian seperti itu, yang tidak hanya sekali, pasti bisa berkali-kali.
Lidahnya kelu bak ada segumpal daging menghalangi tenggorokan. Semua kata-kata yang hendak disampaikan menguap dalam bentuk kristal bening.
Mendengar semua penjelasan Jasmine membuat Bagus terdiam bak bongkahan es. Mulutnya pun mengunci rapat dengan mata bergetar memandang ke segala penjuru ruangan.
Sampai satu objek menghentikan pergerakannya. Wanita yang tengah duduk di kursi roda dengan seorang pria di belakangnya menjadi satu-satunya perhatian.
Pandangan mereka saling beradu menarik semua atensi Bagus Prakasa. Dia diam bak patung tidak bergerak sedikitpun.
Ayana dan Jasmine yang menyadari perubahannya itu mengikuti arah pandang Bagus. Mereka sama-sama terkesiap membiarkan hening mengambil alih.
Tidak ada satupun dari kelima orang di sana mengatakan sepatah kata. Mereka hanya saling pandang dan berbicara lewat sorot mata.
Di tempat berbeda, Bening masih diikuti oleh beberapa orang pria. Ia terus berlari dan berlari mengitari taman bunga tanpa arah tujuan.
Berkali-kali ia menoleh ke belakang dan berteriak heboh saat para pria berjas itu masih berlari cepat ke arahnya.
"Tidak! Jangan! Saya mohon jangan celakai saya!" teriak Bening heboh.
Sangking diburunya rasa takut, Bening sampai tidak memperhatikan keadaan sekitar dan terpeleset hingga membuatnya jatuh tersungkur.
Kedua kakinya seketika lemas dan langsung menoleh ke belakang di mana empat pria yang memburunya tadi berjalan perlahan layaknya sang pemburu tengah berhasil mendapatkan buruannya.
"Tidak! Jangan!" Bening menggeleng beberapa kali berusaha menghindari pria-pria itu dengan menutup mata rapat dan menunduk dalam.
"Mati aku! Aku tidak bisa berbuat apa-apa, dan tidak bisa bertarung juga. Apa di sini terakhir kalinya aku-"
Celotehan di dalam benaknya terhenti seketika. Bening terkejut saat mendengar pukulan demi pukulan terus berdengung.
Perlahan, ia membuka mata melihat ada seseorang yang sedang bertarung dengan keempat pria tadi.
Bening mundur ke belakang berusaha bangkit dari duduk masih mengamati seseorang yang datang membantunya.
"Siapa dia sebenarnya? Kenapa dia bertarung dengan mereka?"
"Tunggu! Sepertinya dia tidak asing. Tahi lalat di pangkal leher itu-"
Kedua manik bulan Bening melebar sempurna saat pertarungan tadi dimenangkan oleh pria tadi.
__ADS_1
Sedetik kemudian pria mengenakan toxedo abu tua dengan motif garis-garis dan tersemat pin rantai kecil di dada sebelah kiri menoleh ke belakang.
Bening tidak bisa berkata-kata saat pandangan mereka saling bertubrukan.
"Zi-Zidan?" tanyanya terkejut setengah mati.
Zidan berjalan mendekat setelah menghabisi keempat pria yang memburu Bening barusan.
Sang pianis berhenti tepat di hadapannya. Ia menghela napas kasar seraya menoleh ke samping sekilas.
"Di mana Ayana? Di mana istriku berada?" tanya Zidan, sorot matanya serius tidak ada keraguan sedikitpun.
Napasnya memburu hebat menahan segala emosi dalam benak.
"A-Ayana, dia-"
"AKU BILANG DI MANA AYANA?"
Untuk kedua kalinya Zidan menghela napas kasar dan menguap wajah gusar.
"Maaf... aku terbawa emosi. Aku sadar selama beberapa hari ini Ayana kembali ke galeri dan sikapnya itu seolah menunjukkan sesuatu. Apa ini ada hubungannya dengan Tuan Bagas?" tanya Zidan berusaha meredakan amarah.
"Apa Ayana tidak mengatakan apa pun padamu?" tanya balik Bening.
Zidan hanya menggeleng singkat. Kini giliran wanita informan tersebut yang menghela napas panjang.
Zidan diam beberapa saat tidak menggubris cepat perkataannya. Sampai anggukan kepala pun diberikan singkat.
"Sekarang lebih baik kita langsung ke tempat istrimu berada. Aku tahu di mana mereka," kata Bening lagi.
"Mereka?" tanya Zidan, bingung.
"Iya Ayana dan Jasmine sedang berada di lantai dua istana," jelas Bening lalu melangkahkan kaki bergegas menemui mereka.
Tanpa pikir panjang, Zidan pun mengikuti ke mana langkah wanita itu pergi.
...***...
"Di-dia? Apa dia Hana?"
Pertanyaan Ayana bergema di ruangan. Semua mata langsung tertuju padanya yang perlahan berdiri dari duduk.
Jasmine bergerak cepat membantu adik iparnya dan merangkul pinggang sang pelukis menyalurkan kekuatan.
__ADS_1
"Hana? Apa ini putri Anda, Tuan Bagus?" tanya Jasmine menatap pada pria tua itu lagi.
Bagus berjalan menuju wanita berambut panjang tengah duduk di kursi roda. Ia bersimpuh di sana menggenggam tangannya erat tanpa mengindahkan perkataan dua wanita itu.
Menyaksikan perlakuan Bagus yang berbanding terbalik dengan kenyataan, Ayana serta Jasmine tercengang.
Senyum yang mengembang di wajah tuanya nampak lembut dan hangat.
"Sayang, Ayah sudah membawa Ayana. Apa ada yang ingin kamu sampaikan pada dia?"
Sontak pertanyaan tadi sangat mengejutkan bagi Ayana dan Jasmine. Mereka saling pandang dengan manik melebar sempurna.
Keduanya tidak menyangka jika wanita yang saat ini sedang duduk di kursi roda dengan selimut menutupi kakinya adalah putri kandung Bagus.
"Bagaimana bisa? Bagaimana bisa ini terjadi? Dari awal aku sudah menyangka jika mereka berhubungan satu sama lain. Aku tidak menyangka jika... hubungan keduanya adalah ayah dan anak?" bisik Ayana yang masih bisa didengar oleh mereka.
Hana yang sedari tadi diam menyaksikan adegan demi adegan di hadapannya pun menggulirkan bola mata pada Ayana.
Wajahnya yang pucat menatap lekat sang pelukis dengan dalam dan penuh arti.
"Ayana? Tidak! Kenapa Ayah membawa wanita ini ke hadapanku? Bawa dia pergi! Bawa dia keluar dari sini."
"Karena wanita sialan ini sudah membuat mimpiku hancur. Aku tidak bisa memaafkannya... aku tidak bisa!" Hana murka menunjuk-nunjuk Ayana dengan mata melotot marah.
Ayana yang mendapatkan hal seperti itu pun mengerutkan dahi, bingung. Ia tidak tahu apa yang tengah Hana katakan.
Tidak sampai di sana saja, Ayana kembali dikejutkan dengan amukan Hana yang tiba-tiba saja memuncak.
Ia kembali meracau yang sepenuhnya tidak Ayana pahami. Namun, perkataan Jasmine di samping menyadarkan apa yang tengah Hana alami.
"Sepertinya wanita ini... menganggap kamu adalah dirinya. Dalam dunianya, kamu merebut apa yang menjadi milikmu. Dia mungkin bermimpi menjadi pelukis terkenal sepertimu."
"Bisa dibilang kamu saat ini adalah kehidupannya," jelas Jasmine membulatkan manik jelaga Ayana melebar.
Ia bungkam beberapa saat masih dengan memandangi Hana yang terus mengamuk tanpa henti.
Iris bulannya bergetar, tergerak atas apa yang dirinya lihat.
Ingatannya berputar jika Hana pernah mengidap skizofrenia. Setelah sekian tahun, Ayana pikir wanita itu sudah sembuh, tetapi nyatanya lebih parah.
"Hana Tsubasa... sayap bunga. Apa sayap itu sudah patah bersamaan dengan gugurnya kelopak bunga?"
Perkataan Ayana mengundang atensi Hana dan Bagus. Mereka sama-sama memandang ke arahnya yang tengah memberikan tatapan sulit ditebak.
__ADS_1
Saat kedua mata mereka bertemu, Ayana bisa merasakan senyum sendu yang tiba-tiba saja mengembang di wajah cantiknya.
Semua misteri yang kemarin membuat ia sangat penasaran terjawab sudah. Jika pesta tersebut hanya untuk Hana Tsubasa. Ia tahu masih ada rahasia yang belum terbongkar sepenuhnya.