Bunga Air Mata

Bunga Air Mata
Chapter 97


__ADS_3

Tidak ada yang salah dengan air mata, cairan bening itu pertanda sebagai bentuk berbagai macam perasaan.


Senang, sedih, kecewa, gembira, dan lain sebagainya menjadi perjalanan kehidupan.


Kejutan demi kejutan yang Allah datangkan, kehadirannya kadang kala tak terduga.


"Boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui." (Q.S. Al-Baqarah: 216)


Semua kisah mempunyai takdirnya masing-masing. Allah sebagai penulis skenario terhebat telah merancang-Nya dengan sebaik mungkin.


Jam menunjukkan pukul empat lima belas menit, sore menjelang, langit yang semula berwarna kelabu perlahan menampilkan lukisan Allah.


Senja hadir sebagai peneman kesendirian. Semburat merah jingga muncul di atas cakrawala memberikan efek penenang.


Di taman belakang rumah, seorang wanita berusia empat puluh lima tahun duduk sendirian di kursi roda.


Jaket tebal membungkus tubuh rampingnya, kedua kaki pun bersembunyi di balik selimut bulu yang ia kenakan.


Rambut hitam sepunggung menjuntai lurus di belakangnya. Sorot mata teduh memandang berbagai tanaman tumbuh subur di sana.


Dari jarak kurang lebih dua puluh lima meter, dua wanita berbeda usia tengah menatapnya lekat.


Ayana tidak menyangka jika saat ini melihat putri kedua pria tua yang sudah mencelakainya. Kedua tangan mengepal kuat menyaksikan sendiri seperti apa keadaan Saida.


"Setiap sore Saida selalu menghabiskan waktu di taman belakang. Ia senang melihat bunga-bunga yang kami tanam bersama," jelas Yara di sebelah.


"Beliau wanita yang luar biasa," ucap Ayana kemudian, Yara hanya mengangguk sebagai jawaban.


"Kalau begitu bisakah saya menemuinya?" tanya Ayana lagi.


"Silakan, tapi jika Saida tidak menerima kedatangan mu lebih baik segera tinggalkan," balasnya membuat Ayana mengangguk mengerti.


"Saya permisi dulu ingin mengambil sesuatu." Ayana pun bergegas keluar menuju kendaraannya berada.


Tidak lama berselang sang pelukis kembali, Yara yang menyaksikan kedatangannya seraya membawa barang-barang pun terkejut.

__ADS_1


Yara pun hendak membantunya, tetapi Ayana mengatakan tidak usah dan langsung berjalan mendekati Saida.


Di tengah kesendirian, wanita itu terkejut kala mendapati orang lain di kediamannya. Ia lalu memundurkan kursi roda seraya menatap nyalang pada Ayana.


Wanita berusia dua puluh sembilan tahun itu pun mengembangkan senyum manis. Ayana memasang dudukan kanvas lalu meletakan media lukisnya di sana.


Setelah persiapan selesai, Ayana duduk di kursi kayu yang sudah tersedia di taman tersebut.


"Assalamu'alaikum, Nyonya Muda, saya Ayana Ghazella. Senang bisa bertemu dengan Anda," ucap Ayana ramah masih dengan melengkungkan bulan sabit sempurna.


Mendengar nama Ayana Ghazella, seketika manik sayu Saida membola. Ia tidak percaya tepat di depan mata kepalanya melihat sosok yang selama ini dikagumi dalam diam.


"Gha-Ghazella?" gugupnya memanggil Ayana.


"Em, saya Ghazella. Ghazella Arsyad, apa Nyonya Muda mengenali saya?" tanya Ayana kembali mencoba untuk berinteraksi lebih jauh.


Perlahan Saida mengangguk, Ayana pun teringat akan ucapan Yara beberapa saat lalu.


"Dari lahir Saida sudah mengalami kelumpuhan. Sejak mendapatkan ejekan dari teman-temannya di sekolah menengah pertama, Saida menjadi tidak percaya diri ditambah dengan pengasingan ini dia ... menjadi lebih murung."


"Namun, setelah mendapatkan perawatan dari dokter, Saida mulai bisa menerima keadaannya. Dia menyukai permainan biola dan juga melukis, untuk itu saat melihat kamu di televisi Saida sangat senang. Seperti anak kecil yang mendapatkan sebuah harapan, Saida benar-benar mendapatkan kegembiraannya lagi. Karena sosokmu yang hadir di televisi waktu itu telah memberikan warna baru dengan semangat yang Nak Ayana berikan," tutur Yara membuat Ayana tercengang.


Saida memiliki tahi lalat di bawah mata sebelah kiri, irisnya berwarna cokelat terang yang saat ini tengah menatap Ayana tidak percaya.


"Halo, Kak. Saya Ayana," katanya lagi.


"Ke-kenapa ka-kamu ada di sini?" tanya balik Saida yang sedikit sulit berbicara.


Ayana menghadap sepenuhnya pada Saida.


"Saya datang ke sini untuk bertemu dengan Kak Saida. Saya dengar Kakak seorang violin yang luar biasa. Saya ingin melukis Kakak, apa boleh?" tanya Ayana mengembangkan senyum cerah.


Saida diam mencerna baik-baik perkataan wanita muda di depannya. Ia menangkap ketulusan serta kebaikan dalam diri Ayana.


Perlahan Saida menarik kursi rodanya lagi untuk mendekati sang pelukis dan menggenggam tangannya hangat.

__ADS_1


Ayana pun seketika tersentak dan berusaha bersikap tenang. Kehangatan dari jari jemari yang menempel di tangannya seketika merambat sampai ke hati.


Ayana bisa merasakan jika dirinya di terima di sana.


"Tangan pelukis yang sangat lembut. Nak Ayana, bisakah kamu melukis ku?" pinta Saida langsung.


Sepasang hazelnut itu pun melebar sempurna. Ayana mengangguk antusias mendengar permintaan tadi, ia senang Saida tidak menolak keberadaannya.


Dari arah belakang Yara terkejut kala mendapati sang putri secepat itu akrab bersama orang asing. Kedatangan Ayana memberikan pengaruh yang sangat positif.


"Aku belum pernah melihat dia tersenyum seperti itu. Bagaimana bisa nak Ayana meyakinkannya? Bahkan sudah banyak sekali dokter yang ingin mendekati Saida, tetapi anak itu menolaknya mentah-mentah. Semoga dengan keberadaan wanita muda ini bisa mengembalikan kepercayaan dirinya lagi," gumam Yara penuh harap.


Sebagai seorang ibu, ia ingin melihat semangat juang serta keceriaan putrinya lagi. Ia tidak bisa melihat Saida terus menerus menangis setiap malam menyalahkan keadaannya yang seperti itu.


...***...


"Allah, Sang Maha Pencipta ... pasti menciptakan sesuatu dengan sangat sempurna. Dia-"


"Tapi kenapa Dia membuatku menderita?" Ayana yang masih melukis Saida pun menoleh padanya lagi.


Senyum kembali mengembang di wajah cantiknya. "Itu karena Allah sangat menyayangi Kak Saida. Allah ingin menunjukkan betapa sempurnanya Kak Saida. Bukankah Kakak sangat menyukai biola? Tunjukkan pada dunia jika Kak Saida adalah seorang hamba pilihan Allah yang begitu sempurna di balik kekurangan yang kita miliki."


"Karena Allah sangat menyayangi setiap hamba-Nya. Ujian itu datang bukan sebab Allah tidak sayang, tetapi sebaliknya. Jika kita menerima kekurangan, Allah pasti akan memberikan kelebihan. Bukankah Kak Saida juga menyadari itu?" tutur Ayana kembali, kata-kataya yang lemah lembut menyadarkannya seketika.


Saida yang sedari tadi memainkan biola pun menghentikan permainan. Ia meletakkan alat musik tersebut di atas pangkuan dan melihat sepasang kaki yang sejak dulu tidak pernah digunakan berjalan.


"Bertahun-tahun aku duduk di kursi ini. Setiap hari hanya bisa iri melihat orang-orang berjalan menggunakan kedua kakinya, sedangkan aku? Hanya menanggung nasib, ejekan, cemoohan, tidak dianggap oleh ayah sendiri, sudah sangat menyakitkan," ucap Saida mulai membuka hati.


Ayana senang mendengarnya, ia benar-benar diterima oleh wanita itu.


"Apa Kak Saida pernah memikirkan jika banyak sekali hal yang menggoda di dunia ini? Seperti tempat-tempat yang seharusnya tidak kita datangi? Mungkin itu sebabnya Allah memberikan keistimewaan kepada Kak Saida untuk mencegah Kakak datang ke tempat-tempat seperti itu," balas Ayana lagi.


Saida mengangkat kepala membalas tatapan lembut sang lawan bicara. Ia terkesiap dan menyadari apa yang Ayana katakan tadi.


Ia teringat bagaimana ayah dan saudari kembarnya selama ini terjebak ke dalam dunia kelam. Ia melihat Sabina terus menerus terbawa arus dunia malam.

__ADS_1


Jauh dari lubuk hatinya, ia merasa iri dan ingin merasakan apa yang dilakukan Sabina. Namun, sekarang setelah mendengar perkataan Ayana, Saida pun tersadarkan.


"Iya, kamu benar," ucapnya.


__ADS_2