
Pertanyaan dari seorang nyonya yang baru ditemuinya, membuat Ayana dan Zidan terperangah.
Mereka saling pandang lalu tersenyum kaku dan kembali pada nyonya tadi yang masih ada bersama keduanya.
Ini pertama kali bagi Kanaya maupun Zidan mendengar seseorang berbicara perihal kandungan.
Apa mungkin bobot sang jabang sebesar itu? Pikir keduanya sama.
Ketiganya lalu berbincang-bincang singkat seputar profesi Ayana maupun Zidan.
Nyonya tadi terus memuji kepiawaian Zidan maupun Ayana dalam bermain piatu ataupun melukis.
Ia juga mengatakan jika pasangan pelukis dan pianis itu merupakan pasangan serasi serta sempurna.
Tidak lama kemudian, barang belanjaan pasangan suami istri itu pun selesai dibungkus.
Zidan pun membayarnya lalu membawa Ayana pergi dari sana dan berpamitan pada sang nyonya.
"Sayang, kenapa nyonya tadi berpikir kalau aku hamil sembilan bulan? Apa perutku sebesar itu?"
Ayana menunduk memandangi perut buncitnya. Zidan pun mengikuti arah pandang sang istri dan sama-sama memperhatikannya dalam diam.
Sembari berjalan pelan, kedua insan itu terus mengamati perut berisi janin mereka.
Pergerakan demi pergerakan kecil diberikan sang jabang bayi menyambut kedua orang tuanya.
"Apa yang sedang kalian lakukan?"
Suara berat seseorang di depan mengejutkan mereka. Ayana dan Zidan kompak mengangkat pandangan lalu beradu tatap dengan dokter tampan itu.
"Mas Danieal?" Ayana berjengkit kaget mendapati kakak dan kakak iparnya di sana.
"Perhatikan jalannya kalau sedang berjalan," jelas Danieal lagi yang hanya dijawab anggukan mereka saja.
"Kalian sudah selesai berbelanja?" tanya Ayana kemudian.
Jasmine memperlihatkan jinjingan di kedua tangan sembari tersenyum lebar.
"Wah, kalian pasti mengeluarkan uang banyak?" timpal Zidan melihat barang bawaan keduanya.
"Iyah... cukup menguras rekening saldo kami," balas Danieal.
Ayana tergelak, memandangi kakak sambungnya dengan melebarkan kedua sudut bibir, senang mendengar semua jawaban itu.
"Mas pasti sangat menyayangi keponakannya, kan?" ucap sang pelukis sambil mengusap perutnya berkali-kali.
"Kalau begitu bisa belikan aku makanan di sana? Aku ingin sekali makan roti dan es krim itu." Ayana menunjuk tepat ke arah depan.
Seketika itu juga Ayana menggandeng sang kakak lalu menyeretnya mendekati food court tidak jauh dari keberadaan mereka.
Zidan dan Jasmine memandangi mereka dalam diam lalu menggeleng kompak melihat kelakuan ibu hamil satu itu.
Keduanya saling pandang dan mengulas senyum simpul.
...***...
"Apa kamu bahagia dengan pernikahan kalian?"
__ADS_1
Pertanyaan Zidan di saat mereka hendak menyusul Ayana dan Danieal pun membuat Jasmine terpaku.
Ia diam beberapa saat tidak langsung menjawab pertanyaannya.
Sesekali Zidan pun memperhatikannya takut salah bicara.
"Em... selama enam bulan pernikahan kami, aku menemukan sesuatu luar biasa."
"Melihat hubungan Ayana dan Mas Danieal seperti itu membuatku senang. Ternyata hubungan keluarga bisa terjalin tanpa adanya ikatan darah sekalipun."
"Bahkan terkadang... hubungan darah bisa saling menjatuhkan, juga menyakiti satu sama lain. Ibarat orang asing menjadi keluarga dan keluarga sendiri menjadi orang lain, iya... mungkin seperti itu yang aku rasakan."
"Juga aku sangat bersyukur bisa bertemu Ayana. Dia mampu memberikan dampak positif pada orang-orang di sekitarnya. Kamu tahu sendiri sudah berapa banyak orang yang terpengaruh olehnya," tutur Jasmine sambil memandangi kakak beradik tidak sedarah di sana tengah tertawa bersama.
Zidan pun melihat ke arah yang sama sambil menyelami kata-kata Jasmine barusan.
"Kamu benar-benar beruntung bisa mendapatkan istri sebaik Ayana," lanjut Jasmine lagi.
Untuk kesekian kali Zidan mendengar seseorang mengatakan jika ia sangat beruntung bisa bersanding dengan Ayana.
"Iya, kamu benar. Aku sangat-sangat beruntung bisa mendapatkannya kembali."
"Aku terlalu bodoh, pernah menyia-nyiakannya. Membuang berlian hanya untuk batu kerikil," ungkap Zidan.
Jasmine tidak kuasa menahan tawa dan tergelak begitu saja.
Sebagian besar ia sudah mendengar masa lalu mereka. Kehidupan Ayana serta Zidan saat ini tidak terlepas tertimpa masalah besar.
Hadirnya orang ketiga, Bella membuat pernikahan mereka berantakan.
Jasmine tidak bisa membayangkan seperti apa rasa sakit yang pernah Ayana tanggung di masa itu.
"Beruntung, Ayana bisa memberikan kesempatan kedua untukmu, Mas. Aku harap kalian bisa terus selamanya seperti ini, saling mencintai dan mengasihi," kata Jasmine berharap.
"Em, insyaAllah, aku akan membahagiakannya sepanjang hidup kami," ungkap Zidan serius.
"Aku senang mendengarnya," balas Jasmine lagi.
Keduanya pun diam sama-sama melihat kakak beradik itu lagi.
"Hai, kalian berdua ayo makan sini!" Ayana melambai mengejutkan mereka.
Zidan dan Jasmine pun bergegas mendekat lalu menikmati makanan ringan di sana.
Di temani obrolan-obrolan ringan dua pasangan suami istri itu pun bersama-sama menghabiskan waktu di sana.
Di temani orang-orang sekitar keempatnya menambah keakraban satu sama lain.
Malam menjelang, Ayana, Zidan, Danieal, serta Jasmine baru pulang ke kediaman orang tua mereka.
Baru saja keempatnya keluar dari mobil, Ayana maupun Zidan dikejutkan dengan keberadaan Lina dan Ashraf.
"Papah, Mamah." Panggil Ayana, terkejut.
"Astaghfirullahaladzim, dari mana saja kalian? Kenapa baru pulang jam segini?"
Lina mendekati sang menantu, mengusap perut buncitnya berkali-kali.
__ADS_1
Beberapa kali pula janin di dalam perut Ayana berontak, dengan menendang-nendang sang ibu.
"Bayinya aktif sekali," kata Lina yang juga merasakan.
"Aw... pelan-pelan sayang," kata Ayana merasa ngilu.
"Kalau begitu ayo cepat masuk, tidak baik angin malam untuk ibu hamil," ajak Celia mengingatkan.
Buru-buru sang ibu mertua membawa Ayana ke dalam.
Setibanya di sana wanita yang tengah berbadan dua tersebut duduk di ruang tamu di kelilingi keluarga inti.
"Bagaimana perkembangan bayi kalian?" tanya Lina lagi, kembali mengusap perut buncit menantunya.
"Alhamdulillah, dia baik-baik saja," balas Ayana senang.
"Syukurlah, Ayah senang mendengarnya. Semoga ibu dan bayinya sehat selalu, dilancarkan segalanya sampai lahiran nanti," timpal Ashraf kemudian.
Ayana menolehkan pandangan ke arah sang ayah mertua dan mengaaminkan ucapannya.
"Aamiin, Yah. Terima kasih," balas Ayana hangat.
"Tapi, kenapa perut kamu besar sekali Sayang?" tanya Celia yang duduk di sisi lain putri sambungnya.
Semua perhatian tertuju pada perut Ayana semata. Begitu pula dengan pelukis itu sendiri.
Ini kedua kali ia mendengar jika perutnya lebih besar.
"Benarkah sebesar itu?" tanya Ayana memastikan.
"Oh benar juga apa kata Mamah. Mas perhatikan perut mu lebih besar dari usia kandungan yang sebenarnya," jelas Danieal ikut menimpali.
"Apa jangan-jangan-"
Suara Jasmine mengalihkan semua atensi, mereka memandang ke arah yang sama.
Jasmine yang menjadi objek perhatian pun dibuat gugup seketika.
"A-apa? Kenapa kalian melihatku seperti itu?" tanyanya memandangi mereka satu persatu.
"Apa yang kamu katakan sebelumnya, Sayang? Jangan-jangan apa?" tanya Celia beralih ke menantu wanitanya.
"Iya, apa yang kamu katakan, Sayang?" lanjut Danieal.
Semua orang penasaran akan perkataan Jasmine barusan. Mereka masih menatap wanita itu menunggu jawaban selanjutnya.
"Jangan-jangan... Ayana mengandung bayi kembar?"
"Apa?" Zidan mencela, bangkit dari duduk seraya melebarkan pandangan, tidak percaya.
"Apa mungkin aku mengandung bayi kembar? Kenapa setiap kami melakukan USG hanya terlihat satu? Apa itu masuk akal?" tanya Ayana memandangi mereka satu persatu.
"Iya bisa saja bayi kalian ingin memberikan kejutan?" tanya balik Danieal.
"Apa bisa seperti itu?" Kini giliran Zidan yang bertanya.
"Kemungkinan bisa saja terjadi, tidak ada yang tidak mungkin," jawab Celia kemudian.
__ADS_1
Ayana dan Zidan saling pandang dengan sorot mata penuh makna. Ucapan demi ucapan yang datang membuat keduanya penasaran teramat dalam.