
Seperti yang sudah Ayana rencanakan kemarin, sekarang ia sudah mengundang Bening serta Danieal di galerinya.
Mereka duduk melingkar bersama di sebelah ruangan kedap suara. Hari ini pun Ayana sengaja tidak membuka tokonya terlebih dahulu untuk mendiskusikan sesuatu.
"Tidak perlu berkenalan lagi, kan yah? Mas sudah tahukan beliau ini?" Ayana menengadahkan tangan ke sebelah kanan di mana Bening duduk di sana.
Danieal yang berada di seberangnya pun mengangguk. "Ibu Bening, kan? Ibunya Erina?"
"Iya Mas benar, tapi lebih baik panggil dia Mbak. Umurnya tidak jauh berbeda dengan kita Mas," jelas Ayana.
"Itu benar, aku masih berusia tiga puluh sembilan tahun," lanjut Bening membuat Danieal melongo.
"A-apa? Wah sungguh luar biasa," pujinya.
Ayana dan Bening saling pandang lalu tergelak bersama.
Setelah itu Ayana pun mengeluarkan beberapa dokumen tersusun rapih di map. Ia membuka resletingnya yang seketika atensi kedua orang di sana mengarah padanya.
"Seperti yang sudah aku katakan pada Mas dan Mbak dini hari tadi ... aku menemukan beberapa informasi penting." Ayana mengeluarkan kertas berukuran A4 yang disebarkan di tengah-tengah meja.
"I-ini, kan?" Danieal gugup menyaksikan penemuan sang adik.
"Benar, ini adalah sebuah dermaga atau pelabuhan miliki presdir Han," jelas Ayana kemudian.
"Apa hubungan dermaga ini dengan Bella?" tanya Bening.
Ayana beralih padanya dan mengeluarkan selembar foto dalam map yang ia cetak tadi pagi.
"Kemarin Mbak memberikan foto ini padaku, kan? Aku menelusurinya dan mendapatkan lokasi di mana tempat itu berada," ungkapnya memandangi mereka bergantian.
"Wah, MasyaAllah, kalian bergerak sangat cepat. Aku mendengar dari pelayan kafe jika ada beberapa orang yang mengawasi mu? Apa itu ada hubungannya dengan ini?" Danieal mengambil salah satu file di sana.
Ayana mengangguk tanpa celah. "Itu benar, mereka ada hubungannya dengan ini. Ternyata, Bella dan presdir Han bekerja sama."
"Apa?" Danieal terkejut bukan main.
"Em, sudah Mbak duga. Mbak mendapati foto itu dari seseorang yang menemukannya dari rekaman CCTV. Dia juga tidak tahu tempat apa itu dan Mbak ... tidak bisa memastikannya," lanjut Bening lagi.
"Aku mengerti, kita tidak bisa melepaskan jejak digital. Sebaik apa pun menyembunyikan sebuah tempat pasti bisa terdeteksi juga, aku berpikir untuk pergi ke sana," kata Ayana kemudian.
__ADS_1
"Hah? Apa yang kamu maksud dengan pergi ke sana? Tidak-tidak, Mas tidak akan mengizinkanmu pergi ke sarang harimau itu. Apa kamu lupa apa yang sudah dilakukan pria tua bangka itu?" Danieal menolaknya mentah-mentah.
"Tenang saja, Mbak akan menyuruh seseorang untuk mencari tahu tempat itu. Kita tidak usah bertindak gegabah dan membuat musuh menyadari rencana ini," ucap Bening menengahi.
"Jadi, apa rencananya?" tanya Danieal memandanginya lekat.
Bening menarik napas panjang dan menghembuskan perlahan.
"Kita harus bisa membongkar kedok presdir Han agar pria tua itu tidak semena-mena. Dia harus merasakan hasil dari perbuatannya sendiri, termasuk Bella. Mbak geram melihat wanita itu terus berkeliaran memfitnah Ayana, menyakitinya, serta mempermainkannya. Mbak tidak bisa terus diam saja setelah tahu kebenarannya," ungkap Bening menggebu-gebu.
Mendengar ucapannya membuat Ayana terharu. Ia menggenggam tangan Bening erat sembari berkaca-kaca.
Wanita itu pun mengembangkan senyum manis dan mengangguk singkat. Dalam diam Danieal juga merasakan hal yang sama.
Ia berharap permasalahan yang menimpa Ayana segera mereda dan sang adik bisa hidup damai.
...***...
"Sejauh ini target masih belum menyadari apa pun yang kita lakukan. Ayana masih sibuk di galerinya dan menjadi istri dari Zidan," jelas Bella melipat tangan di depan dada berjalan mengelilingi meja kerja sang presdir perusahaan.
Pria tua yang duduk di kursi kebesarannya pun menatap lekat wanita muda tersebut.
"Bisakah dipercepat? Saya tidak bisa menahannya lagi untuk segera menjadikan Ayana menjadi milik saya seutuhnya." Seringaian tajam hadir di wajah keriput Presdir Han.
Presdir Han berdecak kasar. "Saya tidak bisa melihat Ayana terus bersama pria itu. Saya harus menghilangkannya terlebih dahulu."
"Jangan! Maksud saya jangan dulu bertindak gegabah, bagaimanapun juga Zidan masih suaminya." Bella langsung menolak saat menyadari jika lawan bicaranya hendak bertindak.
"Bagaimanapun aku tidak bisa membiarkan mas Zidan terluka," lanjut benaknya.
"Tapi saya tidak bisa membiarkan mereka bersama. Tidak! Mereka tidak boleh bersama-sama lagi." Kedua tangan keriput itu pun mengepal di atas meja.
Sorot mata nyalang membuat Bella sadar jika pria tua ini benar-benar telah terobsesi pada Ayana.
"Gawat! Jika aku terus menerus membiarkannya, Presdir Han akan mencelakai mas Zidan," benaknya kemudian.
"Waktu itu juga dia sudah merusak rencana saya. Dia memukul habis anak buah kami dan wajah tampan saya ini." Presdir Han tebar pesona dengan mengelus pelan wajah yang sudah tidak kencang lagi itu.
Bella hanya menatapnya dalam diam dan menyeringai perlahan.
__ADS_1
Langit begitu mencekam malam ini, jam baru saja menunjukkan setengah tujuh. Namun, keadaan benar-benar hening layaknya dunia tak berpenghuni.
Ayana menjalankan kendaraan roda empatnya cukup kencang setibanya di arena perumahan. Ia menginjak gas kala di rasa sedari tadi ada seseorang membuntuti.
"Apa mereka sudah mulai beraksi?" gumamnya berkali-kali menatap ke kaca spion di atas mendapati dua mobil hitam benar-benar sedang mengikutinya.
"Ya Allah lindungilah hamba," lanjut Ayana yang semakin mempercepat laju kendaraan.
Kurang lebih lima belas menit kemudian, bangunan megah tertangkap pandangan. Ayana sedikit bernapas lega kala kejadian tak diinginkan tidak terjadi.
Buru-buru ia memarkirkan mobil sembarang dan bergegas masuk ke dalam.
Ia membanting pintu kayu jati besar itu kencang, dadanya naik turun saat tidak sengaja melihat siluet seseorang.
Seorang pria menyeringai lebar padanya seolah memberikan peringatan.
"Astaghfirullahaladzim ... Astaghfirullahaladzim ... Astaghfirullahaladzim." Ayana terus beristighfar menenangkan diri.
Ia kemudian melihat keluar dengan menyibakan gorden jendela lalu menyapukan pandangan dan tidak ada siapa pun di pekarangan.
"Alhamdulillah, syukurlah," gumamnya bernapas lega.
Tidak lama setelah ia menenangkan diri, suara dentingan piano mengalun. Ayana menoleh ke segala arah dari mana asal lagu tersebut.
Seketika kedua kakinya melangkah mendekat dan menyaksikan sang suami tengah duduk berhadapan dengan musk klasik.
Lantunan nada-nada indah menyapa kedatangan. Ayana terdiam tidak jauh dari Zidan seraya meremas tas kecilnya.
Merasakan kehadiran seseorang, sang pianis menoleh ke samping. Lengkungan bulan sabit terpendar di wajah tampannya membuat Ayana terpaku.
"Lagu ini aku persembahkan untuk istriku tercinta," kata Zidan hangat nan tulus.
Bak bongkahan es, Ayana terus diam tidak melakukan apa pun. Ia menyaksikan bagaimana pertunjukan sang suami yang khusus hanya untuknya.
Seketika ia melupakan permasalahan yang terus menerus hinggap dalam diri. Ia terlalu terbuai akan permainan yang diberikan Zidan.
"I love you, Ayana Ghazella."
Jelas nan lugas, kalimat tersebut menyapa indera pendengaran. Ayana masih menatap lurus ke depan di temani dentingan piano yang begitu lembut.
__ADS_1
Entah sadar atau tidak kini degup jantung bertalu kencang. Di bawah lampu terang sosok ZIdan begitu rupawan.
Seketika air mata mengalir tak tertahankan, Ayana menghapusnya kasar lalu menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan.