
"Apa katamu? Ayana pergi sejak tadi? Ke mana dia pergi? Apa dia memberitahumu?" Zidan terkejut mendapati istrinya tidak ada di galeri.
Sore ini rencananya ia ingin mengajak Ayana makan malam bersama. Ia ingin memberikan kelonggaran pada istrinya agar jangan terlalu memaksakan diri menghadapi kenyataan.
Namun, faktanya ia tidak tahu ke mana Ayana pergi dan langkah apa yang hendak dilakukannya.
"Saya tidak tahu ke mana mbak Ayana pergi, Tuan," balas Seruni menjelaskan.
"Baiklah, terima kasih." Zidan pergi membawa kehampaan.
Baru saja ia membuka pintu kaca galeri, tatapannya langsung beradu pandang dengan Kirana yang tengah menggendong Raima.
Zidan berjalan mendekat dan mengambil alih putri angkatnya.
"Bagaimana bisa kita selalu berpapasan?" tanya ZIdan, heran.
"Mungkin karena kita berjodoh?" ucap Kirana tanpa malu.
"A-APA?" tanpa sadar Zidan berteriak membuat Raima menangis kencang.
"Kamu menakuti anak ini." Kirana pun kembali mengambil alih, "Uh Sayang, kamu terkejut yah dengar teriakan Ayah?" lanjutnya menimang-nimang Raima.
"Tadi, sebelum pulang aku melihat pengasuhmu dan sekalian saja membawa Raima, dan sekertaris mu bilang... kamu pergi ke galeri Ayana. Itu sebabnya aku ada di sini," jelas Kirana.
Mendengar itu Zidan terpaku dan sadar dari kesalahan lalu mengangguk paham. Tangan kanannya terangkat, mengusap lembut surai tipis Raima sayang.
"Maaf, Ayah tidak sengaja," jawabnya merasa bersalah.
Kirana yang menyaksikan itu pun mengembangkan senyum, perasaannya membaik sekaligus menghangat.
"Maafkan Mamah yah, Sayang. Mamah harus melakukan ini, semoga kamu mengerti," benaknya dalam diam seraya memandangi Raima di gendongannya.
Tidak lama berselang, ponsel di saku jas Zidan bergetar. Buru-buru sang empunya merogoh dan mengeluarkan benda pintar itu melihat nama sang nenek di layar.
Ia langsung menjawab panggilan tersebut dan mengiyakan ucapannya.
"Nenek memintaku untuk makan malam bersama di mansion. Aku harus membawa Raima pulang," jelasnya berusaha mengambil alih anaknya lagi.
"Apa ada orang yang menggendongnya di mobil? Anak berusia lima bulan pasti tidak nyaman jika harus berbaring di jok," ungkapnya membuat Zidan menggeleng.
__ADS_1
"Kalau begitu izinkan aku ikut. Aku akan membantu membawa Raima dan setelah itu pergi," jelasnya. Mau tidak mau Zidan pun mengiyakan.
Ia juga tidak bisa menolak bantuan orang lain untuk kebaikan putrinya. Mereka pun masuk ke dalam mobil dan pergi bersama menuju mansion utama keluarga Ashraf.
...***...
Di bawah langit senja yang terlihat jelas di jalanan salah satu daerah Kota V, sepasang insan tengah memandang satu sama lain.
Banyak orang-orang hilir mudik sebagai backround pertemuan. Keduanya memandang ke bola mata masing-masing dan sedetik kemudian sadar dari lamunan.
"Ah, saya minta maaf," kata Ihsan memulai.
Wanita berhijab yang tidak lain dan tidak bukan adalah Ayana mengangguk sembari melepaskan permen loli sedari tadi diemutnya.
"Em, tidak masalah Tuan Ihsan," balasnya membuat pemilik nama terkejut.
"Eh, Anda tahu saya?" tanyanya balik.
Tanpa ragu Ayana mengangguk lalu kembali memasukan permen ke dalam mulut. Ia kemudian merogoh saku mantel mengeluarkan teether berbentuk kupu-kupu sama persis yang tadi diterima oleh Ihsan.
Seraya sibuk dengan kegiatannya ia kembali berkata, "siapa yang tidak tahu Anda, Tuan. Apa Anda suka hadiahnya?" tanya Ayana lagi menjulurkan benda itu seraya kembali mendongak.
"Siapa kamu sebenarnya? Apa yang kamu inginkan dariku?" tanyanya menggebu melepaskan formalitas.
Ayana melangkah sedikit ke depan, mengangkat kepala membalas tatapan pria di hadapannya.
"Kirana Mahesa, apa Anda tahu wanita ini?" ucapnya pelan berusaha tidak menarik perhatian.
Mendengar nama wanita itu disebut, Ihsan menegang seketika. Ia terbelalak dan mengunci mulut rapat, tidak bisa mengatakan sepatah kata membuat Ayana menyeringai, puas melihat reaksinya.
"Jika ingin tahu lebih jauh, Anda bisa pergi ke tempat ini." Ayana menjulurkan teether tadi di mana di sana tersemat selembar kertas kecil yang digulung.
Ihsan menerimanya dan setelah itu Ayana pun pergi begitu saja.
"Siapkan semuanya," gumamnya pada orang di seberang sana.
Ihsan mematung di tempat membuka gulungan kertas kecil tadi dalam diam. Di sana ia melihat sebuah alamat yang tidak jauh dari keberadaannya.
Ia kembali memandangi sekitar berharap bisa menemukan wanita itu lagi. Sayang, sosok berhijab tadi sudah menghilang.
__ADS_1
Tanpa menyianyiakan waktu, Ihsan pun langsung mendatangi tempat tersebut. Ia tidak ingin sampai posisinya saat ini terancam.
Ia tidak ingin usaha yang susah payah didapatkan lenyap begitu saja.
Di tempat berbeda, kurang lebih tiga kilo meter dari sana Bening memperhatikan layar dalam mobil van. Ia bersama rekan-rekan lain mengikuti setiap pergerakan Ayana.
Tidak lama berselang ia melihat mobil hitam mendatanginya. Ia keluar dari kendaraan itu berdiri menunggu seseorang selesai parkir.
Beberapa detik berlalu, sosok Ayana pun muncul langsung melebarkan senyum. Bening berjalan mendekat menyerahkan dokumen yang diperlukan.
"Kerja bagus, Ayana. Aku suka saat bagian kamu menyeringai sambil makan permen loli ini." Bening tertawa sesaat memperlihatkan makanan manis itu, "kamu terlihat nyeleneh," lanjutnya.
Kini giliran Ayana tertawa membayangkan dirinya barusan. "Aku juga tidak menyangka harus melakukan ini. Ayo cepat tamu istimewa kita akan segera tiba," ajaknya, Bening pun mengangguk dan mereka berdua melangkah beriringan memasuki sebuah gudang kosong.
Bangunan itu sudah lama ditinggalkan, beberapa minggu lalu Bening bersama ketiga rekannya mendatangi kota tersebut untuk kepentingan pribadi.
Ia ingin membantu Ayana sepenuhnya dan menyerahkan semua yang dirinya bisa. Melalui jaringan satu ke jaringan lain, Bening menemukan gedung itu selepas mengumpulkan informasi.
Pintu geser pun dibuka perlahan, bau besi usang terendus pelan. Ayana terkejut melihat isi di dalamnya, di mana di sana terdapat sebuah meja berbentuk bulat berukuran besar dengan kursi kerja disekelilingnya.
Di atas meja itu juga terdapat sekitar lima komputer yang Ayana yakini sudah disiapkan oleh Bening.
Ia menoleh ke samping takjub pada persiapan sang kakak.
"Mbak yang menyiapkan semua ini? MasyaAllah, terima kasih banyak, Mbak," balasnya menerjang Bening begitu saja.
"Apa pun akan Mbak lakukan untukmu, Ayana. Karena bagiku kamu adalah satu-satunya keluarga yang berharga. Mbak tidak ingin siapa pun mengusik kehidupanmu lagi, termasuk keluarga suamimu. Kita harus menegakan kebenaran," ungkapnya membuat Ayana terharu.
Ia sangat senang trauma dan depresinya waktu itu berhasil mempertemukannya dengan Bening. Ia terharu benar-benar terharu mendapatkan seseorang yang kasih sayangnya begitu tulus.
Ia pun sangat bersyukur Allah mempertemukan mereka, walaupun lewat luka. Namun, nyatanya luka itu bisa mengantarkan pada kebaikan.
Setelah mengungkapkan rasa terima kasihnya, Ayana dan Bening memasuki lantai satu bangunan tersebut. Mereka duduk menunggu seseorang yang diyakini akan datang.
Keyakinan itu pun membawa kebenaran, suara langkah seseorang dari luar gedung membuat keduanya mempersiapkan diri.
Hingga sedetik kemudian pintu digeser menampilkan seorang pria tampan yang menjabat sebagai wali kota di Kota V.
Ayana tersenyum manis ke arahnya seraya beranjak dari duduk. Ihsan pun melangkahkan kaki masuk lalu kembali menutup pintu rapat.
__ADS_1