Bunga Air Mata

Bunga Air Mata
Chapter 88


__ADS_3

Fajar menyingsing memberikan kehangatan untuk mengawali hari baru. Kemarin menjadi sebuah cerita tidak bisa diulang lagi.


Misteri akan selalu ada sebagaimana kisah terus berlanjut. Tidak ada yang tahu akan ada apa terjadi di depan sana, hanya bisa pasrah kala dirundung sebuah musibah.


Ayana kembali melanjutkan aktivitasnya seperti kemarin. Ia hendak membuka galeri dan saat ini masih berkendara.


Di tengah jalan, tiba-tiba saja ia melihat sebuah gambar yang menarik perhatian. Namun, ia berusaha fokus untuk tidak terkecoh.


Ayana tahu perbuatan siapa itu. "Apa dia menggunakan foto tadi untuk mengelabui ku?" gumamnya melewati foto usg yang mirip seperti miliknya.


Melihat jika sang target tidak terpancing, dua mobil yang berada tidak jauh dari sana pun bergegas menyusul.


Seketika Ayana menyadari keberadaan mereka dan kemudian menepikan kendaraan roda empatnya.


Dua mobil di belakang pun mengikuti, tidak lama setelah itu dua orang di masing-masing kendaraan itu pun keluar.


Ayana masih memperhatikan mereka dalam mobil dan terus memantaunya dari kaca spion.


"Apa ini akhirnya?" ujarnya lagi.


Tidak lama setelah itu jendela mobil diketuk salah satu dari mereka. Ayana enggan membukanya hanya terus memperhatikan.


Dua orang lain pun berjalan ke depan dan seketika naik ke atas mobil. Ayana semakin terbelalak kala salah satu dari dua pria tadi mendekati jendela.


"Apa yang kalian inginkan?" tanya Ayana tanpa gentar.


"Buka, Anda harus ikut bersama kami," jawab orang yang bertengger di sana.


"Pergi! Katakan pada tuan kalian kalau saya tidak sudi pergi ke tempatnya," balas Ayana sengit.


Namun, keempat pria itu tidak mudah menyerah. Mereka menggunakan berbagai cara untuk membuka pintu mobil.


Merasakan situasi semakin gentar, Ayana langsung menginjak gas dan melajukan kendaraannya kencang.


Seketika keempat pria tadi terhempas, berguling-guling di jalanan beraspal. Entah kenapa tempat itu sangat sepi tidak ada kendaraan lain berlalu lalang.


Ayana berusaha berpikir positif, tetapi nyatanya rencana Bella dan presdir Han terus berseliweran. Ia yakin seyakin-yakinnya jika jalanan yang dilewatinya sekarang pun sudah menjadi bagian dalam rencana mereka.


Di tengah kelimpungan itu, Ayana berusaha menghubungi seseorang, tetapi selalu gagal kala tangannya gemetaran hebat.


Ia berteriak kesal memukul pelan stir mobil. "Astaghfirullahaladzim," lirihnya mencoba tenang.


Ia pun mendial salah satu nomor yang entah siapa itu kala terus fokus pada jalanan dan menyadari jika ada beberapa mobil lagi yang mengikuti.

__ADS_1


"Astaghfirullahaladzim, mereka benar-benar tidak mudah menyerah," ucapnya kesal.


Ayana membanting stri ke sebelah kiri di mana itu menuju ke kota lain. Ia tidak peduli, baginya sekarang adalah untuk pergi sejauh mungkin dari mereka.


Namun, sayang seribu sayang bahan bakar kendaraannya pun seketika menipis. Ayana kembali melampiaskan kekesalan pada stir tidak bersalah itu.


Tidak lama berselang mobilnya pun berhenti di tengah-tengah. Ayana duduk diam menunggu apa yang hendak terjadi selanjutnya.


"Baiklah, hamba pasrahkan pada-Mu ya Allah," lirihnya.


Bersamaan dengan itu panggilan di ponsel pun tersambung. Seseorang di seberang sana sedari tadi terus memanggil-manggil namanya, tetapi tidak ada jawaban. Ayana hanya fokus kepada mobil-mobil di belakang yang masih membuntuti.


Beberapa menit berlalu, terdengar suara tembakan mengarah pada kendaraanya.


Ayana seketika langsung membuka pintu dan menghadapi sepuluh orang pria tepat di depannya. Ia tidak menyangka jika kedua orang itu mengarahkan banyak pria sekaligus untuk menjemputnya paksa.


Mereka mengenakan jas serba hitam, kacamata senada, dan di masing-masing telinga terpasang earphone untuk tersambung dengan seseorang.


Ayana membanting pintu mobil kasar lalu berdiri tegak seraya melipat tangan di depan dada.


"Apa yang kalian inginkan? Apa kalian mau membawaku ke tempat tuan kalian?" tanya Ayana memandangi mereka satu persatu.


Ia lalu menelan saliva kasar saat menyaksikan masing-masing orang memegang senjata api.


"Seperti dugaan Nona, kami datang untuk menjemput Anda," jawab salah satu dari mereka sebagai pemimpin.


Perlahan-lahan Ayana melangkahkan kaki ke belakang saat sebuah firasat berkata untuk lari menjauh.


Sedetik kemudian Ayana pun berlari sekencang mungkin membuat para pria itu terkejut.


Secepat kilat mereka pun menyusulnya dengan beberapa kali tembakan dilayangkan.


"Hei, jangan menembak!" ucap sang pemimpin yang seketika membuat tembakan berhenti.


Ayana terus berlari hingga merasakan sakit di telapak kaki. Ia berusaha melepaskan sepatu heels, tetapi belum sempat melakukannya ia tersandung dan jatuh.


Kedua telapak tangannya mengenai aspal dan terluka, dagunya pun terantuk menghasilkan robekan memar keunguan.


Kepala berhijabnya menoleh ke belakang di mana kesepuluh pria tengah berlari mendekat. Buru-buru Ayana bangkit tidak mempedulikan jika kaki kanannya terkilir.


Kecepatan pria dan wanita pun tidak sebanding, beberapa detik berselang Ayana sudah dikepung lagi oleh mereka.


Ia berdiri di tengah-tengah para pria yang melingkar di dekatnya tidak memberikan akses sedikit pun.

__ADS_1


Dalam diam Ayana mengatur napas dan kembali memandangi mereka satu persatu.


"Apa kalian tidak malu melawan seorang wanita? Apa kalian benar-benar seorang pria?" ujar Ayana kesal.


Ia mengepalkan kedua tangan tidak mempedulikan rasa sakit.


"Kami minta maaf, tetapi ini adalah tugas yang harus dilaksanakan," jawab pemimpinnya lagi.


Ayana mendengus kasar sembari menoleh ke samping sekilas.


"Tugas yang tidak masuk akal, bagaimanapun saya tidak akan pernah ikut bersama kalian." Ayana masih kukuh pada pendirian, lalu melepaskan sepatunya hingga menyisakan kaos kaki sebagai pelindung.


Ia berusaha untuk kembali kabur dengan berlari menerjang mereka. Namun, ketiga pria yang berusaha ia terjang pun menangkapnya cepat.


Ayana berontak, melawan, dan terus berusaha melepaskan diri dari cengkraman kuat itu.


"Lepaskan! Kalian tidak bisa menyentuhku sembarangan seperti ini. AKU BILANG LEPASKAN! LEPASKAN BAJINGAN!" Kata-kata pamungkas yang tidak ingin Ayana sebutkan pun tercetus jua.


"Maaf Nona, tetapi kami benar-benar harus membawa Anda," jelasnya lagi.


"TIDAK! KALIAN TIDAK BISA MEMBAWAKU KE MANAPUN! APA KALIAN LUPA? KALIAN JUGA PUNYA IBU YANG HARUS DI JAGA, BAGAIMANA JIKA ADA SESEORANG YANG MEMPERLAKUKAN IBU KALIAN SEPERTI INI?" Ayana terus berteriak sampai membuat pita suaranya serak.


Namun, usahanya gagal. Mereka tidak bergeming sedikit pun dan semakin mempererat pegangannya di pergelangan tangan.


Ayana mendengus sekali lagi dan menggigit kuat tangan yang bertengger padanya. Salah satu pria sebagai sasarannya pun mengaduh kesakitan dan refleks melepaskannya.


Mendapatkan celah Ayana pun kembali berusaha kabur dari situasi genting tersebut. Namun, lagi-lagi pergerakannya terbaca hingga perkelahian pun tidak bisa diindahkan.


Ayana berusaha melawan dengan menjegal tangan-tangan mereka yang hendak menerjangnya lagi.


Keadaan itu terus berlanjut sampai beberapa menit ke depan, sampai tanpa Ayana sadari dari arah belakang pemimpin kesepuluh pria tersebut berjalan mendekat.


"Aku minta maaf harus melakukan ini," gumamnya.


Ia memberikan pukulan telak di pangkal leher Ayana membuat sang empunya terkejut dan seketika tumbang.


Perkelahian pun berakhir, mereka bergegas membawa Ayana ke sebuah tempat di mana di sana sudah ada sang tuan menunggunya.


Kejadian di pagi hari itu memberikan catatan kelam pada kehidupan Ayana. Ia lagi-lagi harus di hadapkan pada situasi mendebarkan.


Tidak ada yang tahu apa dan bagaimana misteri itu datang di keesokan hari. Kedatangannya kadang kala memberikan kebahagiaan ataupun sebaliknya.


Langit kelabu pagi itu menjadi saksi bisu seperti apa perjuangan Ayana untuk melawan ketidakadilan datang pada dirinya.

__ADS_1


__ADS_2