
Kebahagiaan tengah menyelimuti pasangan pelukis dan pianis di sana. Berita mengenai kehamilan sang istri seketika mengembalikan energi yang sempat terkuras.
Perjuangan selama ini akhirnya terbalas jua. Kehadiran sang buah hati yang telah lama dinanti-nanti memberikan harapan besar bagi keluarga.
Selepas memeriksa Ayana, dokter Bintang pamit untuk pulang. Mereka pun mengucapkan terima kasih dan berjanji hendak mengunjungi rumah sakit guna pemeriksaan lebih lanjut.
"Alhamdulillah, kita akan punya anak, Sayang," kata Zidan yang entah sadar atau tidak memeluk Ayana erat dan memberikan kecupan manis di wajah cantiknya.
Ia sama sekali melupakan keberadaan dua insan di sana yang terkejut melihat tindakannya secara tiba-tiba.
Baik Jasmine maupun Danieal yang masih berada di kamar mereka pun seketika canggung dibuatnya. Keduanya juga ikut senang atas berita kehamilan Ayana, dan tidak tahu harus berbuat apa setelah menyaksikan tindakan dilayangkan oleh calon ayah tersebut.
Diam-diam Jasmine mengulas senyum manis lalu memundurkan langkahnya ke belakang dan perlahan pergi dari sana.
Entah kenapa melihat keharmonisan keluarga Ayana membuat perasaannya tak karuan. Kemelut asing dalam diri memaksa ia untuk melarikan diri.
Ia benar-benar merasa terganggu atas pikiran negatif yang langsung datang menerjang. Ia merasa bersalah sudah memikirkan hal itu saat melihat kemesraan mereka.
Mendengar suara pintu yang tertutup seketika itu juga menyadarkan ketiganya. Zidan melepaskan pelukan sang istri dan mereka menoleh ke arah yang sama.
Ketiganya lalu saling pandang tidak mendapati Jasmine di sana lagi.
"Ke mana Jasmine pergi?" tanya Ayana pada kakaknya.
"Eh? Barusan dia masih ada di sini." Danieal pun ikut heran sekaligus tidak tahu jika Jasmine menghilang begitu cepat.
"Kamu sih Zidan pake acara meluk dan cium Ayana segala. Apa kamu lupa di sini masih ada orang? Oh ya Allah, kepalaku!" Danieal memijit keningnya berkali-kali melihat kelakuan adik iparnya.
Ia juga tahu pasti tidak mudah bagi Jasmine melihat kehangatan pasangan di depannya ini. Sebagai seorang dokter yang menanganinya, ia bisa memahami kemelut dalam diri Jasmine.
"Loh? Kenapa jadi aku yang disalahkan? Aku hanya bahagia mendengar berita istriku yang sudah hamil," kata Zidan membela diri.
"Apa mungkin Jasmine terkejut melihat tindakanmu, Mas? Ya Allah, sepertinya dia benar-benar canggung. Bukankah selama ini dia tidak pernah melihat hubungan harmonis? Ya Allah, aku merasa bersalah sekali. Mas, sih tidak lihat-lihat kalau masih ada orang di sini," racau Ayana teringat akan sesuatu dan ikut menyalahkan Zidan.
Sang pianis mengerucutkan bibir, merasa bersalah.
Danieal memandangi keduanya dalam diam. Ia mengerti dan paham apa yang tengah Jasmine rasakan. Memang tidak mudah melihat orang lain bermesraan tepat di depan mata kepalanya sendiri terlebih ada luka menganga dari masa lalu.
__ADS_1
Mungkin bagi Jasmine itu bukanlah kecanggungan semata, melainkan kengerian dalam bentuk lain.
"Jangan menyalahkan diri sendiri, aku yakin Jasmine akan baik-baik saja. Selamat atas kehamilannya adikku yang cantik." Danieal mencondongkan tubuh ke depan lalu mencubit kedua pipi bulat Ayana.
"Iya-iya, Mas. Terima kasih, tapi lepaskan, sakit tahu!" omelnya berusaha melepaskan tangan sang kakak.
Seketika Zidan pun turun tangan dan melepaskan cubitan kakak ipar di wajah istrinya. Danieal pun tergelak dan kembali menariknya lagi.
"Baiklah, kalau begitu aku pergi dulu. Kamu harus banyak istirahat, jangan banyak pikiran, dan harus selalu happy. Sampai jumpa lagi, assalamu'alaikum." Danieal mengacungkan sebelah tangannya singkat seraya mengembangkan senyum manis.
Tidak lama ia juga melangkahkan kaki dari sana memberikan kesempatan pada pasangan manis itu untuk menikmati waktunya.
"Wa'alaikumsalam, hati-hati di jalan, Mas," teriak Ayana selepas Danieal menutup pintu.
Dokter tampan itu berdiri di belakang pintu dengan menjatuhkan pandangan ke bawah. Lantai marmer di sana menyedot perhatiannya membuat bibir menawan Danieal kembali melengkung sempurna.
Setelahnya ia benar-benar pergi meninggalkan berjuta kebimbangan dalam hati.
...***...
Hari beranjak siang, sang raja sudah duduk nyaman di singgasana memberikan sengatan yang begitu terik.
Ia duduk sambil memeluk kedua lutut di sebuah kursi tunggal sembari mengamati awan. Kepala berhijabnya bersandar nyaman di atas lipatan tangan menikmati waktu sendirian.
"Lebih baik aku pindah saja dari sini... aku tidak ingin terus-terusan menyusahkan Ayana dan Zidan. Terlebih sekarang, mereka akan punya anak... aku takut-" Jasmine menghentikan celotehannya dan terkejut sendiri kala tanpa terasa setetes air mata berlinang begitu saja.
"Eh?" Jasmine mengusap pipi kanannya dan melihat cairan bening itu di telapak tangan.
"Kenapa aku tiba-tiba menangis? Apa yang aku rasakan ini?" celotehnya lagi.
Ia diam beberapa saat berusaha mencerna apa yang baru saja terjadi. Perlahan kedua irisnya melebar kala mendapatkan jawaban dari semua pertanyaan.
"Ternyata... aku tidak mau terluka lagi," ungkapnya kemudian.
Ia kembali menelungkup kan wajah di lipatan tangan seraya menekan segala perasaan.
Tidak lama setelah itu, Jasmine dikejutkan dengan dobrakan pintu kamar. Ia menoleh ke belakang melihat Ayana berjalan mendekat.
__ADS_1
Dengan dada naik turun seolah baru saja melakukan lari maraton Jasmine mendapati sang pelukis memandanginya lekat.
"A-Ayana?" Panggilnya terkejut.
"Kenapa? Kenapa kamu pergi begitu saja tanpa bilang-bilang tadi? Aku benar-benar khawatir." Ayana menjatuhkan diri di kursi sebelah Jasmine.
Ia menyembunyikan wajah di telapak tangan dan berusaha menenangkan diri.
Jasmine yang mendapati sahabatnya seperti itu pun benar-benar terkejut. Ia bangkit dari duduk dan bersimpuh di depannya.
"Ayana, hei Ayana." Panggil Jasmine lagi yang kini menangkup kedua bahu wanita di hadapannya.
Sedetik kemudian Ayana pun mendongak bertatapan langsung dengan iris keabuan bak boneka tepat di dekatnya.
"Aku... bukannya pergi tidak bilang-bilang, hanya saja... hanya saja aku tidak ingin mengganggu waktu bahagia kalian."
"Jujur-" Jasmine menjeda kalimatnya seraya menunduk ke bawah. "Aku sedikit iri dengan keharmonisan kalian dan... entah kenapa tiba-tiba saja perasaan asing itu datang membuatku... tidak ingin terluka lagi, Ayana."
"Aku minta maaf, jika-"
Belum sempat Jasmine menyelesaikan kalimatnya, Ayana lebih dulu menerjang tubuhnya erat. Jasmine terbelalak dan tercengang merasakan tubuh ramping sahabat baiknya bergetar.
Ia takut sesuatu telah terjadi dan semua itu adalah salahnya. Jasmine tidak akan memaafkan diri sendiri jika memang seperti itulah adanya.
Namun, semua pikiran negatif tadi hanyalah omong kosong belaka. Nyatanya Ayana sama sekali tidak apa-apa setelah mendengar apa yang dikatakannya.
"Aku yang harusnya minta maaf. Maaf sudah seperti itu di hadapanmu, mas Zidan juga merasa bersalah. Aku tahu dan paham apa yang saat ini kamu rasakan."
"Tidak mudah bukan melihat keharmonisan orang lain di atas luka yang masih basah? Memang perlu waktu yang tidak sebentar untuk memulihkan semuanya. Namun, yakinlah tidak akan selamanya luka itu menetap," kata Ayana melepaskan pelukannya.
Ia menangkup wajah cantik Jasmine memandanginya hangat dengan mata berkaca-kaca.
"Kamu juga akan mendapatkan kebahagiaan itu, Jasmine. Bersabarlah dan yakinlah Allah tidak pernah tidur. Dia senantiasa mengawasi kita dan tahu apa yang terbaik bagi setiap hamba-Nya. Kamu jangan pernah iri terhadap kehidupan orang lain. Karena... orang lain belum tentu sekuat kamu dalam menghadapi permasalahan yang sudah kamu lewati."
"Aku menyayangimu, Jasmine. Kamu sudah aku anggap seperti... saudari dan keluargaku sendiri. Terima kasih sudah datang ke kehidupanku," kata Ayana tulus.
Jasmine tidak kuasa membendung air mata mendengar semua perkataan Ayana. Ia menangis sesenggukan, merasakan perasaannya tiba-tiba saja menghangat.
__ADS_1
Ayana pun kembali memeluknya erat dan mengusap punggung Jasmine berkali-kali. Mereka sama-sama merasakan hal serupa dan saling menguatkan satu sama lain.