Bunga Air Mata

Bunga Air Mata
Chapter 111


__ADS_3

Sejatinya perasaan seorang anak hanya ingin bersama kedua orang tua tercinta. Namun, kadang kala keadaan tidak mengizinkan yang membuat anak tumbuh berkembang seorang diri dan terkadang juga harus berpikir bijak sebelum bertindak.


Mereka didewasakan oleh keadaan dan dituntut untuk mengerti pada setiap keadaan. Itulah yang tengah dirasakan putri kedua Presdir Han, Sabina Barika Bose.


Di luar kantor kepolisian ia berdiri saling bersebelahan dengan Ayana. Setelah pertemuan beberapa saat lalu, keduanya mengasingkan diri di sana.


"Terima kasih," ucap Sabina singkat.


Ayana menoleh ke sebelah kanan melihat wanita berbeda usia dengannya enam belas tahun tengah memandang lurus ke depan.


Bibir ranum sang pelukis tersenyum lebar dan kembali mengikuti arah pandangnya.


"Em," jawab Ayana singkat.


"Akhirnya aku bisa melihat mereka bersama lagi. Selama ini Saida memang tidak pernah keluar dari tempat itu. Ia terus terkurung dan terikat hanya pada satu titik. Sebenarnya, aku sedikit iri padanya ... Saida, wanita yang luar biasa. Dia memiliki bakat luar biasa yang bisa menginspirasi banyak orang."


"Tanpa ia ketahui di luar sana banyak anak-anak khususnya para pemain biola yang sangat mengaguminya. Mereka ingin tahu siapa sosok di balik rekaman yang Saida kirimkan pada perlombaan. Namanya memang mengaum di dunia luar, tetapi keberadaannya tidak ada yang tahu."


"Aku juga sudah lama tidak bertemu dengan ibu. Karena beliau lebih banyak menghabiskan waktu bersama Saida. Aku bersyukur jika keadaan mereka baik-baik saja. Selama ini aku hanya bisa melihat mereka lewat pantauan CCTV saja yang terhubung ke ponselku."


"Aku tidak bisa mendekati mereka, sebab ... ayah melarang kami bertemu," tutur Sabina panjang lebar.


Ayana terkesiap, tidak percaya jika ternyata kehidupan seorang Sabina tidak begitu baik. Ia hanya beruntung bisa diketahui banyak orang, tetapi terkekang oleh keadaan.


"Em, saya mengerti. Saya harap setelah ini keluarga Nyonya muda Sabina dan Saida baik-baik saja ... dan menjadi keluarga utuh lagi dalam satu rumah," balas Ayana hangat.


Sabina kini menoleh menyelami sosok di sebelahnya.


"Kamu ... benar-benar wanita yang sangat baik, Ayana. Berkat keberadaan mu, kami bisa seperti sekarang dan ayah ... mau membuka hatinya lagi," ucap Sabina kemudian.


Ayana pun membalas tatapannya lekat. Kepala berhijabnya menggeleng beberapa kali seraya memberikan sorot mata lembut.


"Tidak, semua ini berkat takdir Allah. Semua yang terjadi atas rencana indah-Nya," balas Ayana singkat.


Sabina tercengang, manik bulannya melebar sempurna. Selama ini ia tidak begitu mengenal mengenai kepercayaannya sendiri.


Mendengar serta melihat ketegasan dan keseriusan dari wanita berhijab di sampingnya membuat Sabina tertampar keras.


"Bolehkah aku memelukmu, Ayana?" pintanya kemudian.


Tanpa menolak Ayana pun mengiyakan. Hingga kedua wanita berbeda usia pun saling merengkuh satu sama lain.

__ADS_1


Air mata mengalir tak tertahankan, Sabina berusaha menahan diri untuk tidak terisak. Namun, cairan bening itu terus menerus keluar tanpa henti yang semakin membuat dadanya sesak.


"Terima kasih ... terima kasih banyak." Ia terus mengucapkan terima kasih berulang kali dengan suara lirih.


Ayana hanya mengangguk dan membalas pelukannya seraya mengusap punggung ramping itu berkali-kali.


Selepas bertemu Sabina dan melaksanakan kewajibannya di sana, Ayana pun berjalan menuju parkiran berada untuk segera ke galeri.


Sebelum sampai, langkah kakinya terhenti. Tepat di depan mata kepalanya dengan jarak beberapa meter, ia menangkap satu sosok lagi yang tengah berdiri tegap memandanginya.


Perlahan kedua sudut bibir sang pria mengembang sempurna. Ayana hanya bisa mengulas senyum simpul dan berdiam diri di tempat.


Sedetik kemudian kedua kaki jenjang pria itu berjalan mendekat, tidak lama mereka saling berhadapan menatap satu sama lain.


"Kamu sudah memberikan yang terbaik, Sayang," katanya lembut.


Tangan tegapnya pun terulur memeluk hangat tubuh ramping sang pujaan. Ayana membalas erat menyalurkan segala beban dalam pundak dalam pelukan tersebut.


"Terima kasih, Mas," ucapnya singkat.


Zidan kembali tersenyum lebar dan semakin mengeratkan rengkuhan. Ia sangat kagum sekaligus terpesona akan aksi yang dilakukan sang istri.


Zidan kembali jatuh cinta semakin dalam pada pasangan halalnya.


"Aku sangat mencintaimu, Sayang," ungkapnya lagi lalu memberikan kecupan lama nan dalam di puncak kepala berhijab sang istri.


Ayana menutup mata merasakan sentuhan lembut yang tidak pernah dirinya rasakan.


Air mata kembali menitik tanpa bisa dicegah. Ayana semakin memeluk suaminya kuat dan menyembunyikan wajah berair di dada bidang itu.


...***...


Sidang Presdir Han pun akhirnya digelar. Pertemuan demi pertemuan berjalan lancar sebab sang pelaku bisa bekerja sama dengan baik.


Suasana di ruang sidang pun berkali-kali memanas dengan keberadaan keluarga korban yang merasa di rugikan.


Pria tua itu sama sekali tidak membela diri dan pasrah pada keadaan. Ia sudah sangat basah akan bukti-bukti bertebaran di sana.


Mulai dari beberapa tahun silam sampai kejadian yang menimpa Ayana. Hukuman pun seketika dijatuhkan, Presdir Han ditahan seumur hidup dan didenda dengan jumlah yang sangat besar.


Sabina, Saida, dan Yara yang terus menerus menyaksikan persidangan itu tidak kuasa menahan air mata.

__ADS_1


Mereka menangis mengetahui jika sang ayah dijatuhi hukuman seumur hidup. Namun, mereka tidak bisa berbuat apa-apa, sebab apa yang sudah Presdir Han tanam pasti akan menuainya juga.


Bersamaan dengan ditangkapnya Presdir Han, banyak orang-orang yang bekerja sama dengan pengusaha itu pun turut ditangkap dan berbuntut panjang.


Setelah persidangan panjang yang digelar terakhir kali, Presdir Han resmi ditahan.


Ayana, Zidan, Bening, Danieal, Gibran, dan Haikal yang menyaksikan itu pun lega dibuatnya.


Ayana melihat ketiga wanita yang ikut mendampingi Presdir Han keluar dari ruang sidang. Mereka ditahan untuk tidak mengikuti sang ayah lagi.


Haidan pun ikut keluar dan berjalan mendekati orang-orang yang ada di luar ruang sidang.


Ayana lalu melangkahkan kaki mendekati Yara, Sabida, dan Saida berada.


"Semua pasti ada hikmahnya, saya yakin semua ini adalah jalan terbaik untuk membuat Presdir Han sadar, sesadar-sadarnya," kata Ayana mengejutkan.


"Nak Ayana?" Panggil Yara membuat kedua putrinya pun memandang Ayana kompak.


Melihat itu sang pelukis itu pun mengulas senyum lembut dan memandangi ketiganya bergantian.


"Iya kamu benar, semoga dengan ditahannya ayah di penjara, bisa segera mendapatkan hidayah," balas Sabina.


"Beruntung ayah tidak dihukum mati, aku lega mendengarnya, meskipun harus mendapatkan hukuman seumur hidup, tetapi itu sudah cukup untuk membuat ayah sadar," lanjut Sabina yang diangguki ibu dan saudari kembarnya.


Ia pun menangis dalam diam, Ayana bersimpuh tepat di depan kakinya lalu menggenggam hangat jari jemari sang violin.


"Allah sangat baik, memberikan kesempatan pada beliau untuk berubah," ucap Ayana lagi.


Tanpa mengatakan sepatah kata Sabina melemparkan diri memeluknya erat.


"Terima kasih. Karena kedatanganmu semua ini bisa terjadi, terima kasih Ayana," ungkap Sabina berulang kali.


Ayana pun membalas rengkuhannya tak kalah erat dan hanya mengangguk singkat.


Pemandangan tersebut menjadi adegan mengharukan bagi orang-orang yang dikenalnya.


Haidan menyenggol lengan kekar Zidan membuat sang empunya menoleh.


"Kamu benar-benar beruntung mendapatkan istri sebaik Ayana. Dia benar-benar luar biasa," pujinya.


Zidan mengangguk bangga bangga. "Iya, aku sangat beruntung," balasnya lalu memandang sang istri yang masih bercengkrama bersama ketiga wanita di sana.

__ADS_1


__ADS_2