
Setelah menikmati penyatuan yang begitu menggairahkan, pasangan suami istri itu pun saling melepaskan.
Keduanya memandangi kecantikan serta ketampanan satu sama lain. Tidak ada yang lebih membahagiakan selain mencintai dan dicintai seseorang.
Baik Ayana mau Zidan, mereka sama-sama bersyukur mendapatkan hati yang saling memahami.
Keduanya tidak akan membahas lagi masa lalu dan membiarkannya begitu saja.
Pasangan yang sempat dilanda goncangan itu kini ingin lebih fokus kepada kehidupan pernikahannya saja.
"Di mana Raima? Apa anak itu sudah tidur?" tanya Zidan sembari menghapus jejak lipstik yang belepotan di sekitar bibir sang pujaan.
"Raima baru saja mandi dan sekarang sedang main dengan pelayan di atas," jelas Ayana. Zidan hanya mengiyakan dan membiarkannya begitu saja.
"Apa Mas mau makan atau mandi dulu?" tanya Ayana setelahnya.
Namun, bukannya menjawab Zidan malah kembali memeluk pinggang kekasih hatinya, posesif. Dengan senyum di wajahnya ia memandangi wajah Ayana penuh makna.
"A-apa yang sedang Mas pikirkan?" tanya istrinya lagi, gugup.
"Kamu gugup... itu artinya kamu tahu apa yang sedang aku pikirkan," balas Zidan menggodanya dengan senang.
Ayana menautkan kedua alis seraya mengerucutkan bibir gemas.
Pemandangan itu, tentu saja membuat Zidan semakin tidak karuan. Ia terus memandangi sang istri penuh minat.
"Bagaimana kalau aku tidak ingin mandi atau makan, tetapi-" Ia sengaja menggantung ucapannya membuat Ayana semakin tidak mengerti.
Zidan lalu mendekatkan wajahnya ke samping telinga kanan wanita yang tengah dipangkunya dan kembali melanjutkan ucapannya tadi.
"Aku ingin kehidangan utamanya saja. Aku ingin memakanmu, Sayang," ujarnya lirih dan dalam.
Manik jelaga Ayana melebar sempurna, degup jantung bertalu kencang mendapatkan perkataan tak terduga itu.
Zidan terkekeh pelan mendengar detakkannya.
"Wah, suaranya kencang sekali. Apa kamu malu, Sayang?" Godanya lagi.
Semburat merah muda hadir di kedua pipi putih Ayana sampai ke telinga. Tiba-tiba saja suhu tubuhnya meningkat tajam menahan malu mendengar perkataan suaminya.
"Ja-jangan menggodaku."
Ayana bangkit dari pangkuan dan berjalan meninggalkan Zidan begitu saja.
__ADS_1
Namun, sang suami tidak membiarkannya dan langsung menyusul Ayana lalu menggendongnya cepat.
Pelukis itu pun terpekik, terkejut mendapatkan serangan secara tiba-tiba dan tanpa mengatakan apa pun Zidan membawanya ke kamar pribadi mereka.
Di sana entah apa yang terjadi, tetapi hal itu membuat Ayana pun bahagia.
Keduanya terlena akan sebuah kegiatan yang melenakan.
...***...
Keesokan harinya, mansion keluarga Zidan disibukkan dengan berbagai keperluan. Semua orang begitu sibuk menyiapkan ini itu guna menyambut para tamu undangan.
Ayana pun berjalan ke sana ke mari memastikan dekorasi yang terpasang sudah pas pada posisi.
Wanita yang kini menginjak usia tiga puluh satu itu, nampak cantik dalam balutan gaun brukat putih yang semakin mendulang penampilan dewasanya.
"Ayana, Raima sedari tadi terus menangis. Sepertinya anak ini tidak mau bersamaku." Helena datang seraya menggendong balita yang tengah menangis.
"Apa? Uh~ Sayang, kenapa kamu menangis, Nak?" tanya Ayana seraya mengambil alih putri angkatnya.
"Mungkin dia ingin bersama kamu, Ayana, ibunya. Inikan hari ulang tahun Raima ke satu," jelas Helena kemudian.
"Em, kamu benar. Mamah minta maaf yah, Sayang... dari tadi terus saja sibuk tidak sempat menggendong mu," kata Ayana mengecup pipi bulatnya dalam.
"Kalau begitu bisa kamu menyiapkan kuenya di sana?" pinta Ayana pada Helena.
Wanita itu pun mengangguk dan menyanggupinya.
Selang tidak lama setelah itu semua anggota keluarga berdatangan. Ayana, Zidan, serta Raima menyambut kedatangan mereka penuh suka cita.
Celia, Adnan, Danieal, Lina, Arshan, Gibran, dan beberapa anggota lainnya turut memeriahkan ulang tahun Raima.
Ia begitu cantik nan imut dalam balutan gamis serta hijab senada dengan sang ibu. Dalam gendongan Ayana, Raima tersenyum lebar merasakan ketulusan orang-orang yang sudah menerimanya.
Selesai menggelar acara syukuran sang putri, Ayana menepi di tepi kolam renang. Ia membiarkan sang suami mengambil alih acara menyambut para kolega yang masih percaya padanya.
Begitu pula dengan Raima yang kini bersama kedua nenek serta kakeknya. Mereka senang mendapatkan anggota keluarga baru, meskipun bukan darah daging anak dan menantunya.
"Kenapa kamu malah duduk di sini?" tanya suara yang sudah sangat dihapal.
Ayana menoleh meletakkan segelas teh hijau di meja samping.
"Mas Danieal? Aku sedang mencari udara segar," balasnya.
__ADS_1
Danieal duduk di kursi kosong, ikut memandang ke arah yang sama.
"Kamu bahagia dengan peranmu sebagai ibu?" tanya Danieal lagi.
"Em, tentu saja. Berkat keberadaan Raima aku bisa merasakan sebagai seorang ibu. Meskipun... yah, tidak menutup kemungkinan keinginan untuk mempunyai anak masih ada," akunya jujur.
"Em-" Danieal menganggukkan kepala beberapa kali. "Aku mengerti apa yang kamu rasakan, tapi, apa tidak masalah kamu menganggap anak Kirana seperti anakmu sendiri?"
Hening sejenak, Ayana tidak langsung menjawab pertanyaan kakaknya kali ini. Ia menarik napas panjang lalu menghembuskannya begitu saja, kemudian menoleh ke samping.
Seketika pandangan mereka bertemu, bibir ranum pelukis itu melengkung dengan sempurna.
"Lalu, bagaimana denganmu, Mas? Mempunyai keponakan dari wanita yang sudah mengkhianatimu dan adik kandungmu berkali-kali?" tanya balik Ayana.
Kini giliran Danieal yang bungkam tidak bisa langsung memberikan jawaban atas pertanyaan tadi.
Ia menarik dirinya lagi memandang riak air di depannya.
"Selagi kamu tidak masalah... maka tidak ada masalah denganku. Karena-"
"Mas, jangan terus memikirkan orang lain. Bagaimana dengan perasaanmu sendiri? Saat mengetahui Kirana mempunyai anak dari pria yang sudah menyakiti adikmu dan sekarang... anak itu berada dalam asuhan ku, bagaimana perasaanmu?" potong Ayana cepat, memberikan pertanyaan yang sama.
Danieal terkesiap lalu mendengus pelan.
"Jujur, memang tidak mudah, tetapi... aku mencoba menerimanya. Karena anak itu tidak salah apa pun, Raima... berhak tumbuh di keluarga baik-baik, contohnya-" Danieal menatap padanya lagi, "kalian."
Ayana terkesima melihat ketulusan terpancar dari sorot mata sang kakak. Ia kembali tersenyum lebar lalu menunduk pelan, kemudian berkata, "Aku harap Mas mendapatkan sosok pendamping yang sangat baik. Mas layak mendapatkan wanita yang bisa mencintaimu dengan tulus. Karena Mas adalah satu-satunya perantara dari Allah yang bisa menyembuhkan ku dari kejadian hari itu."
"Terima kasih, sudah menarikku dari kegelapan. Jika takdir tidak mempertemukan kita, mungkin... aku sudah tidak ada di dunia ini dengan cara yang salah," lanjut Ayana kembali menoleh pada sang kakak.
"Tidak Ayana, Allah pasti memberikan rencana yang lain. Kamu harus banyak bersyukur," balas dokter tampan itu lagi.
Ayana pun mengangguk setuju dan Danieal kembali mengulas senyum, ikut senang dan bahagia atas pencapaian yang dilakukan Ayana.
Ia senang dan tidak menduga bisa menjadi bagian kisah perjalanan rumit yang dilalui Ayana. Sebagai saksi yang sudah mendampingi sang pelukis dari saat-saat terpuruk, Danieal lega melihat keberhasilan sang adik.
Ia beruntung bisa menjadikannya keluarga yang mana hal itu juga merubah kehidupannya. Ia bisa lebih menerima keadaan dan bersyukur atas apa yang terjadi.
"Aku harap keinginanmu tercapai," kata Danieal lagi.
"Aamiin, aku ingin segera bertemu dengan kakak iparku," balas Ayana melebarkan senyum.
Keduanya lalu tertawa begitu saja, bahagia mendapatkan hari tanpa adanya kepelikan.
__ADS_1
Di bawah langit cerah siang ini, kehidupan Ayana beserta keluarganya terjalin harmonis. Keinginannya untuk mendapatkan keluarga cemara hampir terlaksana.