Bunga Air Mata

Bunga Air Mata
SEASON 3 CHAPTER 88


__ADS_3

Ikhlas melepas merupakan keadaan yang paling sulit dilakukan. Ridho menerima segala ketentuan menjadi satu sikap yang harus dimiliki.


Karena keduanya adalah hal terbaik yang bisa Allah berikan balasan. Allah tahu mana yang terbaik dan buruk bagi setiap hamba.


Kita hanya bisa berencana tanpa tahu seperti apa ke depannya, sedangkan Allah yang menentukan dan pasti itulah yang terbaik.


"Boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui." (Q.S. Al-Baqarah: 216)


Segala ketentuan yang terjadi kepada setiap hamba sudah menjadi rencana serta takdir Allah semata.


Ujian serta cobaan yang datang memang menjadi bagian kehidupan bagi masing-masing hamba. Seberat apa pun, sesulit bagaimanapun, serumit sekalipun, jika itu terjadi memang telah bagian dari kehidupannya.


Karena, "Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya." (Q.S. Al Baqarah: 286)


Percaya dan yakin segala ketentuan yang Allah berikan sudah pasti yang terbaik.


Maka jalani, syukuri, dan sabar di segala situasi apa pun.


Bersyukur saat diberikan kebaikan, dan bersabar saat menghadapi musibah. Karena di balik itu semua Allah pasti telah menyiapkan balasannya.


Beberapa hari berlalu, selepas Hana dan Ayana bertemu, wanita itu menampakkan diri ke publik.


Ia memberanikan diri melakukan jumpa pers setelah berdiskusi dengan Ayana, Jasmine, Bening, dikawal oleh Zidan serta Danieal.


Di sana pun ia juga ditemani oleh mereka yang dengan setia datang sedari awal.


Di aula istana putih, Hana berdiri di podium memandangi para awak media yang sibuk memandanginya.


Lensa kamera pun menyorot wajah putih Hana membuat ia gugup setengah mati. Bola mata karamelnya bergulir ke sana kemari melihat satu persatu orang hadir di sana.


Sampai pandangannya jatuh pada wanita berhijab yang tengah mengulas senyum hangat. Seketika itu juga perasaannya berangsur-angsur tenang.


Ayana Ghazella, wanita itu berada tepat di belakang para wartawan membuat Hana terpaku.


Bibir ranumnya terbuka memberikan isyarat agar dirinya tenang. Ia pun kembali menggulirkan bola matanya ke samping Ayana.


Di sana ia melihat Jasmine yang juga sedang melebarkan senyum. Bibirnya pun memberikan isyarat yang sama dengan Ayana.


Hana pun jadi teringat kata-kata Bening sebelum naik ke podium. Ia mengatakan, "jika kamu gugup tarik napas panjang dan hembuskan perlahan. Tenang dan berdoa kepada Allah minta dilancarkan."


Ia pun melakukan apa yang dikatakan Bening. Hana menutup mata beberapa saat seraya menarik napas dan menghembuskan nya perlahan. Ia melakukannya beberapa kali sampai perasaannya benar-benar tenang.

__ADS_1


"Ya Allah lancarkan lah," benaknya meminta pertolongan.


Sedetik kemudian kelopak matanya terbuka, menyelami kembali para wartawan yang masih menatapnya sedari tadi.


Sorot mata serius pun hadir menambah kecantikan Hana.


"Se-selamat siang semuanya, saya Hana Tsubaki. Saya anak kandung dari Bagas Prakasa, em, bukan... Bagus Prakasa."


Seketika itu juga wartawan semua mengajukan pertanyaan demi pertanyaan yang mengarah padanya juga sang ayah.


Hana kelimpungan, berusaha tenang menerima semua pertanyaan bertubi-tubi padanya.


Dengan sigap ia menatap mereka satu persatu seraya berusaha tenang dalam hingar-bingar lampu kamera.


"Alangkah baiknya jika kalian memberikan pertanyaan satu persatu agar saya tidak pusing," tegas Hana membuat mereka kelimpungan.


Ayana saling pandang dengan keluarganya, senang Hana sudah bisa lebih tenang dan percaya diri.


Para wartawan pun mulai memberikan pertanyaan secara bergiliran. Hana dengan sikap tegasnya menjawab mereka dan memberikan kebenaran yang terjadi.


"Saya sebagai anak satu-satunya dari Bagus Prakasa meminta maaf sebesar-besarnya kepada semua masyarakat. Karena kelakuan ayah saya di masa lalu memang tidak termaafkan. Saya-"


"Apa Anda ikut terlibat dalam kebohongan yang beliau lakukan?" Sela salah satu wartawan.


Hana semakin tegas dan hal itu memberikan kebanggan tersendiri pada Ayana dan orang-orang yang mengenalnya.


Sang pelukis sampai mengacungkan kedua ibu jari dan tersenyum sangat lebar. Hana mengangguk singkat pertanda dirinya mengerti.


"Saya... tidak ada hubungan apa pun dengan kebohongan yang beliau lakukan. Karena-"


Seketika Hana ragu untuk mengatakan apa yang sebenarnya terjadi. Ia masih punya hati nurani, takut hukuman sang ayah akan memberatkan dirinya.


Di saat pandangannya beradu dengan Jasmine, ingatan beberapa tahun silam hinggap kembali. Bagaimana dengan kejam dan teganya sang ayah menghabisi nyawa seseorang tanpa rasa bersalah.


Juga, bagaimana ia menyaksikan dengan bola mata kepalanya sendiri, tanpa perasaan sang ayah membantai kembarannya.


Terutama saat Bagus menyiksa sang ibu yang pada kala itu ketahuan berselingkuh. Juga seperti apa kejamnya ia dalam membunuh secara tak langsung seorang anak yang mempunyai mimpi besar.


Hana harus mengubur keinginannya dalam keegoisan sang ayah. Ia tidak boleh melakukan apa pun tanpa persetujuannya.


Bagus takut jika sampai Hana keluar, sang anak akan membocorkan identitas sebenarnya.

__ADS_1


Jadi, selama bertahun-tahun Hana Tsubaki dioper ke sana kemari hingga dikurung di istana putih.


Masa-masa sulit itu bagaikan terjadi kemarin. Semua rasa sakit, air mata yang tumpah ruah, menjadi saksi bisu seperti apa penderitaan seorang Hana.


Ia lahir dari pasangan yang memiliki ego besar terhadap dirinya masing-masing. Mereka tidak mempedulikan apa yang terjadi pada buah hatinya.


Membayangkan itu lagi, air mata menetes tak karuan. Semua orang yang melihat itu terkejut.


Terutama awak media yang masih buta akan masalah menimpa Hana. Mereka tidak pernah tahu jika selama ini ada seorang wanita, anak kandung dari orang nomor satu di negaranya. Karena mereka mengetahui jika sang pemimpin negara tidak mempunyai seorang istri maupun anak.


Bagus pernah mengatakan jika keduanya sudah lama meninggal akibat insiden kecelakaan pesawat.


Bagaikan mimpi, keberadaan Hana mencuat ke permukaan menjelaskan fakta yang ada.


"Karena selama ini saya tidak diperbolehkan hadir ke depan publik. Saya tahu... saya sangat paham siapa ayah saya sendiri, tetapi... saya tidak bisa menjelaskan seperti apa beliau sebenarnya."


"Semua orang mungkin sudah tahu siapa sebenarnya Bagus Prakasa. Iya, beliau adalah orang nomor satu di negara kita. Beliau menggantikan kembarannya yaitu Bagas Prakasa."


Penjelasan Hana kembali mengundang keriuhan. Keadaan di sana semakin tidak terkendali, membuat para anggota keamanan mencoba meredakan mereka.


Namun, suasana semakin memanas ditambah dengan adanya para warga yang sedari tadi mendengar secara langsung di luar ruangan.


Mereka geram dan langsung menerobos pintu masuk. Melihat itu Zidan dengan sigap melindungi Ayana dan membawanya ke ruangan yang lebih aman.


Begitu pula dengan Danieal yang memeluk istrinya mengikuti Zidan, disusul oleh Bening.


Hana pun turut dilindungi oleh beberapa anggota kepolisian dan membawanya ke ruangan lain.


Di sana semua orang terus menyeruakan suara agar Hana lebih jujur lagi. Beberapa warga pun bahkan ada yang melemparinya dengan telur busuk dan mengenai kepalanya.


Buru-buru Hana diasingkan lebih dulu agar tidak terjadi hal yang tak diinginkan.


Di ruangan lantai dua, mereka berkumpul bersama. Di sana Haidan pun hadir kembali.


Di segala situasi menegangkan jaksa tampan itu akan hadir bersama kembarannya, Haikal.


Mereka sama-sama mengikuti kasus yang menggemparkan dunia. Lagi dan lagi Haidan dan Ayana dipersatukan kembali dalam sebuah kasus besar.


Pria yang lahir dari kaki tangan keluarga Arsyad itu pun berjalan mendekati Ayana yang tengah duduk di sofa tunggal.


"Akhirnya kita bertemu lagi, Ayana. Kenapa kita terus bertemu dalam kasus-kasus besar?" tanyanya menyadarkan.

__ADS_1


Ayana mendongak bertatapan langsung dengan jaksa berbakat tersebut. Wajah tampannya tersenyum tulus membuat ia terperangah.


__ADS_2